
"Put!.... " Erly langsung menghampiri dan melindungi kepala sahabatnya, ketika akan membentur dinding.
Setelah mendengar kabar jika ayahnya kecelakaan, Putra langsung jatuh pingsan, bersamaan dengan ponselnya yang mati, karena daya batre telah habis.
"Put.... kamu kenapa?" Erly masih memandangi wajah putra yang kini berada di dekapannya, setelah berhasil ia selamatkan dari benturan.
Erly perlahan menurunkan kepala sahabatnya, seraya membaringkannya di atas ranjang. Ia kemudian mengecek denyut urat nadi, serta saluran nafas Putra.
"Syukurlah!" Erly bernafas lega, setelah memastikan kondisi Putra, ia mengira jika Putra keblabasan, mengingat kondisi Putra sebelumnya.
"Ngapain sih, loe teriak-teriak!" tiba-tiba Lyli sudah berada di ruangan Erly, dia tadi kaget saat mendengar suara Erly yang menjerit memanggil nama Putra.
"Putra kak, Putra pingsan," jawab Erly sambil menatap ke arah kakanya.
"Emang habis loe apain?"
Pertanyaan Lyli membuat Erly bingung, dia berusaha menerka kalimat kakanya, namun tetap tidak tahu maksud dari ucapan tersebut. Erly hanya diam dengan wajah kaku kebingungan.
"Lupakan! Loe cepet tidur sono! Nanti juga dia bakalan siuman, nggak usah khawatir gitu!" Lyli menyuruh adiknya untuk tidur, karena waktu sudah menjelang pagi.
"Aku nggak ngantuk!" Erly menjawab dengan nada sedikit kasar.
"Loe mau nentang Kaka?!" Lyli memelototkan matanya, dia menatap tajam wajah adiknya, tatapan garang mengintimidasi.
Erly bergidik melihat hal itu, meskipun hal tersebut sudah sering ia dapatkan sehari-hari, namun kemarahan kakanya memanglah hal yang paling ia takutkan. Erly menunduk, tidak berani lagi menyahut ucapan kakanya.
"Cepat tidur!" bentakan Lyli membuat Erly berjingkat karena kaget.
"I-Iya ka." Erly langsung bangkit dari tempatnya, mematuhi perintah kakanya. Sebelum keluar dari ruangan, dia masih sempat melihat kearah Putra, dia sangat khawatir dengan keadaan Sahabatnya.
"Udah, cepetan!" bentak Lyli. Erly pun segera melanjutkan langkah, menuju kamar tidurnya.
Lily menjambak rambutnya sendiri, setelah tubuh adiknya lenyap di balik dinding.
Maafkan Kaka.... bukannya aku tidak sayang padamu, tapi ini demi kebaikanmu.
Lyli bersikap keras kepada adiknya bukanlah hal yang dia inginkan, karena pada dasarnya ia sangat menyayangi adiknya. Ia bersikap demikian, agar adiknya tidak menjadi orang yang cengeng dan berjiwa kerdil.
Lyli ingin adiknya menjadi sosok gadis yang tangguh, tidak cengeng, dan selalu tegar menghadapi segala tantangan dan ujian, mengingat mereka hidup hanya berdua, tanpa ada orang tua ataupun saudara yang melindungi, menyayangi, serta mengasihi, seperti anak pada umumnya.
*******
Pagi hari....
Erly terbangun dari tidurnya, saat alaram ponselnya berdering menderru tidak berhenti. Setelah melaksanakan sholat subuh, Erly memasak, kemudian membersihkan badan, lalu bersiap untuk berangkat ke sekolah, setelah sarapan secukupnya.
Sebelum berangkat, ia sempat memasuki kamar tempat Putra terbaring. Erly mengecek keadaan Putra, menempelkan punggung telapak tangannya di kening Putra.
Udah turun suhu badannya, sepertinya dia sedang tertidur.
Erly memandang lekat wajah Putra.
"Cup." Entah kenapa, ia justru ingin sekali mencium wajah sahabatnya. Karena Putra sedang tertidur, dia begitu berani mencium pipi Putra, kemudian dia tersenyum memandangi pria di depannya. Setelah merasa puas melihat wajah sahabatnya, ia pun segera bergegas pergi ke sekolah.
__ADS_1
Erly bukanlah anak seperti siswa pada umunya, dia bukan gadis yang biasa bermalas-malasan, dan suka shoping menghabiskan uang di mall. Jangankan pergi shoping, sekolah saja, ia jarang membawa uang jajan, dia hanya akan bisa jajan, saat kakanya memberinya uang.
Erly bersemangat pergi ke sekolah, dia berjalan menyusuri luasnya jalan yang masih sedikit sepi. Erly memang lebih sering berjalan, saat pergi ataupun pulang dari sekolah, dia akan memakai jasa ojek, ketika memang sudah sangat mendesak. Seperti saat bangun kesiangan, dan akan terlambat jika ia berjalan.
"Akhirnya sampai juga," Erly tersenyum puas, setelah sampai di depan gerbang sekolah, langkahnya pun sangat bersemangat menuju ruangan kelasnya.
Saat jam istirahat, Erly hanya berdiam diri di kelas, dia tidak mood untuk pergi ke mana-mana, pikirannya selalu tertuju pada sahabatnya, dia cemas dengan kondisi Putra.
Hem.... bosan juga kalo berlama-lama seperti ini.
Erly merasa jenuh, karena tidak ada teman untuk mengobrol.
Ke perpus laah....
Karena tidak ada kegiatan, dia berinisiatif untuk mencari buku sebagai bahan bacaan, untuk mengisi waktu luangnya.
Erly beranjak dari tempatnya, dia berjalan melewati beberapa gedung, untuk sampai ke ruangan perpustakaan sekolah.
Ruangan perpus berada di gedung yang berbeda dengan ruangan kelas. Untuk sampai ketempat itu, harus melewati kantin sekolah, taman, dan juga beberapa gedung kosong yang tidak terpakai. Tempat perpustakaan berada di ujung, gedungnya terpisah dari gedung belajar.
Itu bukannya Alex dan teman-temannya? Tumben sekali mereka seperti ini? Biasanya juga malakin anaknlain.
Erly berhenti melangkah, saat melewati sebuah ruang kosong, dia melihat segerombolan sosok yang sudah tidak asing lagi baginya, mereka adalah Alex dan para pengikutnya.
Perlahan Erly mendekat ke ruangan tempat mereka, dia penasaran dengan pembahasan yang sedang mereka bicarakan.
"Gue tidak mau tahu! Jangan sampai hal seperti ini terulang kembali!" Alex marah-marah kepada empat orang pengikutnya.
"Tapi Lex.... kita nggak tahu dia siapa...." Anton menyanggah ucapan Alex.
"Karena belum tahau, kalian harus carai tahu! Kalau sudah tahu, kenapa aku suruh kalian cari tahu?! Hah!"
"Bruak!" Alex mengangkat lalu membuang tubuh Anton ke atas meja.
Ada apa dengan mereka? Sepertinya Alex sangat marah.
Erly menguping dan mengintip pembicaraan mereka, dari balik pintu ruangan.
"Kalau kalian tidak bisa diandalkan, gue mau cari orang lain!" mata Alex terlihat merah padam. Sambil berkacak pinggang, tangan kanannya menunjuk-nunjuk Hendrik, Anton, Takiya, dan Riyo. Alex sedang marah besar kepada mereka.
"Saya sanggup!" jawab Takiya dengan mantap.
"Kami sanggup!" jawab Hendrik dan Anton bersamaan. Hanya Riyo saja yang tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri menyandar pada dinding, sedang kedua tangannya, ia masukkan kedalam saku celan.
Wajah Takiya lebam? Hendrik dan Anton juga! Sepertinya mereka habis dihajar oleh seseorang, tapi.... kenapa Riyo tidak? Dia kelihatan biasa-biasa saja.
Erly semakin penasaran, saat melihat wajah tiga orang anak buah Alex babak belur.
"Baiklah! Gue nggk mau hal ini terulang lagi! Secepatnya kalian selesaikan masalah ini! Cepat cari tahu, siapa orang misterius yang telah menyelamatkan Putra.
"Baik bos!" jawab Hendrik dan Anton spontan. Sebelum pergi meninggalkan anak buahnya, Alex sempat melirik ke arah Riyo, kemudian pergi dari ruangan.
Erly beranjak pergi, agar tidak diketahui oleh Alex, dia pergi bersembunyi di balik pohon-pohon kecil di depan gedung tersebut.
__ADS_1
Erly merasa ada yang aneh dengan mereka, ini tidak seperti mereka biasanya, yang suka pergi bersama memalaki siswa lain, bagi yang tidak bersedia memberi, makan akan jadi korban aniayanya.
Setelah terasa aman, Erly lebih memilih kembali kedalam kelasnya, ia tidak jadi pergi ke perpus.
*********
Di rumah Erly....
"Kruuuk.... " Putra menegangi perutnya, saat alaram konsumsi berteriak minta diisi. Putra telah sadar kembali, dia tersadar saat di rumah sudah tidak siapapun, karena penghuninya sedang sekolah.
Putra memegangi perutnya, saat rasa lapar tidak lagi tertahankan.
Beberapa saat kemudian, dia berusaha bangkit, untuk mencari ruang makan di rumah tersebut. Putra berjalan sambil memegangi dinding sebagai bantuan, karena kaki kirinya terasa sakit, dan sulit untuk digerakkan.
"Ceklek...."
Heem.... kamar. Gumam Putra setelah melihat isi dalam ruangan.
Karena belum tahu letak ruang makan, Putra membuka ruangan asal, untuk mencarinya.
Putra akan menutup kembali pintu tersebut, namun niatnya ia urungkan, saat matanya menangkap sebuah foto berukuran besar, yang terletak di atas nakas, fotonya pun dibingkai dengan rapih.
"Foto siapa?" Putra penasan dengan gambar 2 sosok balita tersebut. Karena penasaran, dia pun akhirnya masuk ruangan untuk mengetahui nama yang tertera di sana.
Putra mengambil foto itu, lalu duduk di atas ranjang. Ia tidak bisa berdiri lama-lama, karena rasa sakit di kaki kirinya.
"Sherliyana, Sherliyani?" mata Putra terbelalak sempurna, saat membaca nama dari kedua gambar balita di foto tersebut, ia terkejut melihat hal itu. Putra semakin terkejut, saat membaca tanggal lahir kedua balita itu, karena keduanya lahir pada hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama.
"Mereka kembar? Kenapa wajahnya tidak mirip?" Putra masih kurang yakin dengan data kelahiran kedua balita itu, karena dia tahu, foto tersebut adalah foto Erly dan Lyli, sewaktu kecil.
Tidak. Tidak mungkin mereka kembar, sifatnya saja berbeda. Erly gadis yang lembut, penyayang, dan ramah, sedang Lyli lebih arogan dan keras kepala. Ini pasti salah, mereka tidak mungkin kembar, wajahnya saja tidak mirip.
Putra tertegun memandangi foto 2 balita yang mengenakan pakaian yang sama, gadis imut dan lucu. Satunya sedang tersenyum menghadap tepat ke arah kamera, sedang satunya sedang berkacak pinggang, kepalanya sedikit miring, matanya melirik tajam ke arah sebelahnya.
"Yang satu terlihat sangat bersahabat, berbeda satunya, terlihat sangat angkuh dan sombong," komentar Putra, melihat ekspresi dari kedua gadis kecil itu.
"Kreeeek...." Putra berjingkat kaget, saat pintu ruangan, tiba-tiba terbuka.
"Prak!" karena kaget, ia sampai berjingkat hingga melemparkan foto tersebut. Alhasil, foto itu jatuh, dan bingkainya pun pecah berhamburan di lantai.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...