Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Sosok di Balik Penyergapan


__ADS_3

"Ayo maju loe! Dasar banci! Cuuh!" Erly sengaja, ingin membuat pria tersebut marah, agar mau menerima tantangan nya. Andai Lily bisa mengalahkan pria yang merupakan pimpinan dari mereka itu, mungkin akan ada kesempatan, untuk menumbangkan mereka semua, dan menyelamatkan adiknya. Karena Lily yakin, kalau hanya pria itu saja, yang terlihat mempunyai tenaga di atas rata - rata, sedang yang lain, Lily tidak perlu khawatir, ia yakin bisa membereskan sisanya.


Lily tidak terlalu jelas dengan sosok orang yang ia anggap sebagai pemimpin itu, karena wajahnya sedikit terhalang oleh pepohonan, dari sinar lampu, namun ia sedikit familiar dengan sosok itu.


"Prok... prok .... prok ..." orang tersebut bertepuk tangan, sambil melangkah, mendekati Lily, setelah menyerahkan Erly, ke teman nya. para anggotanya pun mulai melangkah mundur, memberikan ruang untuknya.


"Bagus, bagus bagus. Ternyata kamu punya beberapa kemampuan," ucapnya sambil tersenyum menata Lily.


"Takiya?!" ucap terkejut Lily, saat wajah takiya terkena sorotan sinar lampu, hingga wajah nya dapat terlihat jelas. Lily sedikit mengernyitkan dahi, lalu melihat lambang dari jaket yang dipakai takiya, kemudian memerhatikan semua orang yang mengelilinginya. Ia dapat melihat lambang yang sama, yakni tengkorak kepala, bersilang pedang.


"Kalian dari geng setan hitam?" tanya Lily lagi.


Lily sedikit tau dengan geng naga hitam, karena dia sendiri bekerja untuk naga hitam, sebagai wanita penghibur. Ia tau, kalau geng naga hitam memiliki 3 geng cabang di bawah nya. Geng setan hitam, Geng naga junior, dan Geng bulan sabit. Geng setan hitam, berlambang tengkorak, bersilang pedang. Geng naga merah, memiliki lambang ular berkepala tujuh. Geng bulan sabit, memiliki lambang, bulan purnama, bersilang sabit. oleh karena itu, ia dapat mengetahui identitas, setelah melihat lambang di baju orang orang tersebut.


"Hahahha... tidak ku sangka, dapat mengenalinya," ucap takiya tertawa.


"Cih! kalian hanya dari geng cabang Naga Hitam, jika saya melaporkan ini pada ketua Bram Adi Warta, nasib kalian tidak akan baik. Asala kalian tau, saya bekerja langsung untuk nya," jawab Lily, seakan merasa jijik, karena anak cabang dari Geng Naga Hitam berani menyerang nya.


"Hahaha.... apa kamu pikir beliau akan peduli pada wanita peliharaan nya seperti mu?" Takiya tidak terkejut dengan pengakuan Lily, karena dia sudah tahu, kalau Lily bekerja sebagai wanita penghibur yang memang bisnis itu milik geng Naga Hitam.


Lily terdiam, dia juga tau, meski ia melaporkan ini pada ketua geng Naga Hitam, semuanya juga sia sia. Ia tahu jika Bram bukan orang yang akan peduli dengan hal kecil, lagi pula ia jarang bertemu wajah ketua itu. Lily hanya sekali melihat nya, saat ia kehilangan keperawanan nya. Karena ketua geng Naga Hitam lah yang mengambil keperawanan nya. Bukan hanya Lily, hampir semua wanita penghibur di tempat geng Naga Hitam, sebelum diperjual belikan pada orang lain, pertama kali akan dinikmati lebih dulu, oleh ketua geng Naga Hitam, Bram Adi Warta.


"Bangsat! Maju kau kalau memang memiliki kemampuan!" ucap Lily dengan sangat marah.


"Hey, aku bisa melepaskan kalian berdua, namun kalian harus mau bekerja sama dengan gue," ucap takiya sambil tersenyum.


"Cih! Hentikan basa basi nya. Apa lu cuman jago bersilat lidah?" Lily tidak sabar untuk menghajar Takiya, dan segera membebaskan adik nya, dia juga takut kalau masih ada orang tambahan, jika menunda waktu.


"Sabar lah. Gue belum mengutarakan kerjasama kita. Gue bisa lepasin kalian berdua setelah target kita dapatkan. Kita hanya butuh memancing Putra datang, jika kita berhasil menangkap nya, lu dan adik lu bakal kita lepasin. Gimana?" ucap Takiya, sambil menyilang kan tangan di depan dada.


"Em... emmm... em ..." Erly, yang mendengar percakapan itu, langsung memberontak, dia tidak mau membahayakan Putra.

__ADS_1


"Diam lu!" bentak orang yang memegangi Erly.


Erly tidak mempedulikan nya, dia tetap berteriak dan memberontak, berusaha melepaskan diri, mengisyaratkan kepada kakak nya, agar tidak menyetujui hal itu.


"Brug!"


orang tersebut menghantam tengkuk Erly, karen kesal dengan tingkah nya. Seketika itu, badan nya lemas, ia pingsan karena hantaman tersebut.


Lily hanya melirik adik nya itu, ia yakin kalau Erly baik baik saja, jadi dia tidak bertindak gegabah.


'Maafkan gue lyk, ini demi kebaikan mu,'


Gumam Lily, laku merenung sejenak untuk mempertimbangkan tawaran Takiya.


"Apa ucapan lu dapat dipercaya?" tanya Lily menyelidik.


Takiya mengangguk sebentar, sebelum lanjut berbicara, "Itu syarat yang pertama. yang ke dua, kalian berdua bisa memuaskan kita, semalaman, maka semuanya akan baik baik saja,"


"Hey, mengapa begitu kasar? Bukan kah pekerjaan mu seperti itu? Menurutku itu hal yang mudah," ucap Takiya.


Kalau itu hanya dirinya, mungkin Lily masih bisa menyetujui nya, karena ia telah terbiasa bermain dengan berbagai macam pria, dengan ukuran yang berbeda beda, bahkan tak jarang ia harus melayani beberapa pria dalam waktu yang bersamaan. Namun mendengar ucapan Takiya, itu bukan hanya diri nya saja, tetapi juga adik nya. Lily tidak mau hal itu terjadi pada adik nya.


Se-rusak rusak nya Lily, dia tidak mau melihat adik nya juga menjadi sepertinya. Itulah alasan Lily, mengapa ia terus menjalani kehidupan sebagai wanita penghibur. Hanya sesuatu tujuan dalam hidup nya ini, setelah ia bertekad menjual diri, setelah kehilangan keperawanan nya kala itu. Yakni bisa memberikan kehidupan yang layak untuk adik nya dari segi ekonomi. Bisa menyekolahkan nya, dan menjadikan nya wanita sukses nantinya, dan tidak ingin adik nya menjalani kehidupan sepertinya.


Lily mungkin bisa mengabaikan dirinya, namun tidak dengan adik nya. Ia bahkan dulu berniat berhenti sekolah, setelah bisa menghasilkan uang dari jual diri, ia hanya ingin membiayai hidup adik nya. Namun Erly memaksanya untuk tetap melanjutkan pendidikan nya, bahkan ia tidak mau lanjut sekolah, jika kakak nya tidak lanjut. Itulah mengapa Lily tetap melanjutkan pendidikan dikala siang, dan malam akan menjadi penghangat ranjang untuk para pria yang haus akan belaian kasih sayang.


Lily akhirnya tidak berpikir panjang, ia langsung datang menerjang lawan.


"Dasar keras kepala." Takiya, tersenyum tipis, dihadapkan dengan serangan Lily yang mengarah kepadanya. Tubuhnya tetap berdiri kokoh, tanpa bergeser, dengan ekspresi tenang menunggu serangan datang.


"hiiyat!" Lily melompat tinggi menuju ke arah Takiya, lalu mengarahkan dua kakinya ke arah dada lawan.

__ADS_1


Takiya tidak mengalihkan fokusnya, menatap pergerakan Lily. Setelah jarak kaki Lily dan dada nya hanya berjarak 30cm, ia segera menggeser keki kirinya kebelakang, lalu memutar tubuhnya ke samping, sehingga serangan Lily meleset.


Melihat bahwa Takiya akan menghindarinya, Lily langsung merubah arah serangan, dengan memiringkan tubuhnya, lalu menekuk lutut kaki kanan, berencana menendang nya.


Namun lagi lagi, Takiya merespon dengan cepat, ia segera mengangkat tangan kiri, memblokir tendangan Lily.


Lily mendengus kesal saat serangan nya berhasil di blokir, ia segera mengayunkan lengan, berencana menonjok wajah lawan, tapi Takiya adalah orang yang berpengalaman dalam pertarungan. Takiya segera mengangkat tangan kanan nya, lalu memberi sikutan yang keras ke dada lawan, sebelum Lily bisa melepaskan serangan nya.


"Bug!" suara benturan sikut Takiya, yang tepat mengenai patu dara Lily bagian kanan.


"Arg!" pekik Lily, saat merasa gunung kembarnya seakan mau meledak karena serangan Takiya. Tubuh nya, pun segara jatuh ke bawah. Namun, sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Takiya mengangkat kaki kanan nya sambil menekuk nya, menyambut tubuh Lily dengan lutut.


"Arg!" suara erangan kembali muncul dari mulut Lily, setelah iya merasakan sakit pada punggung nya.


Takiya sedikit menurunkan tubuhnya sampai berjongkok, dan dengan cepat kedua tangan nya bergerak. Seketika itu, lengan atas nya telah menekan leher Lily, sedang tangan kiri bagian atas menahan paha Lily, lalu jari jemari nya menelusup masuk ke baju Lily, dan mulai meremas pepaya Thailand itu.


"Berhentilah melawan. Jika kamu menurut, kita tidak akan kasar kepadamu," ucap Takiya, sambil memainkan ujung pepaya itu.


Lily tidak bisa bergerak lagi, karena posisi nya kali ini. Punggung nya ditahan oleh lutut, sedang paha ditekan ke bawah dengan lengan kiri, dan leher pun ditekan kebawah dengan lengan kanan Takiya.


.


.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2