
Sinta hanya bisa meringis, menahan rasa sakit di ke-dua lengannya, ditambah, ia harus menahan berat badan Bram, yang sedang duduk di atas tubuhnya.
"Tuan... mohon lepaskan aku, aku akan patuh padamu. Seluruh tubuhku adalah milikmu. Aku berjanji, tidak akan pernah lagi berani padamu..." Sinta memohon, agar Bram mau mengampuninya.
"Krak!"
Bram menarik paksa, penutup payudara Sinta hingga putus, lalu memainkan pepaya thailan milik Sinta.
"Kau memang mempunyai tubuh yang indah, tapi.... bukan berarti, aku bisa kau taklukkan dengan tubuh seksimu ini,"
"Aakh...."
Bram, meremas pepaya thailan milik Sinta, hingga membuat sang empuh mendesah.
Karena masih merasa kurang puas, dengan jatah yang Sinta berikan hari ini, Bram kembali menikmati tubuh wanita itu, dengan sangat agresif. Sinta hanya bisa diam, menerima perlakuan Bram, karena ia sedang menahan rasa sakit, akibat peluru yang menembus ke-dua pundaknya.
*******
Setelah berlalu lalang di jalanan, para orang suruhan Sinta tetap saja, tidak bisa melacak keberadaan Putra.
"Bagaimana ini bro? Kita tidak bisa menemukan mereka," ucap salah satu orang di dalam mobil.
"Kita laporkan saja pada bos, kalau kita tidak bisa menemukan mereka,"
"Apa! Apa kau bodoh?! Hem? Kau mau menyerahkan nyawa?" sanggah salah seorang temannya, dia tidak mau mati konyol, karena gagal menjalankan tugas.
"Tapi...."
"Dert.... dert.... dert...."
Mereka terdiam, kala ponsel milik salah satu dari mereka berdering.
"Halo Bos," setelah komunikasi ponsel terhubung, orang tersebut langsung berbicara dengan sopan.
"Kembalilah! Lepaskan mereka,"
"Tapi Bos..."
"Apa kau masih sayang nyawamu?" kalimat ini menghentikan perbincangan, saat itu pula, sambungan telepon telah diakhiri secara sepihak.
"Siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Bos Besar," jawab orang yang telah menerima telepon tadi.
"Maksud loe.... Bos Bram?"
"Emang siapa lagi.... ****!"
"Emang apa perintahnya?"
"Putar balik! Kita kembali ke markas," tanpa ada yang menolak, mereka pun segera memutar balik, untuk kembali ke markas mereka.
Tidak jauh dari mobil yang mereka tumpangi, ada sepasang mata, yang memerhatikan, saat mobil berhenti.
"Untung aja, mereka tidak menemukan rumahku. Sepertinya mereka akan kembali," saat beberapa mobil hitam melintas di depannya, Lily langsung bersembunyi, di balik tembok bangunan.
Lily tahu, kalau deretan beberapa mobil hitam tersebut, adalah orang-orang yang mengejar Putra. Lily mengenali huruf terakhir pada plat kendaraan mereka, yang menandakan mobil tersebut, adalah mobil milik gangster terbesar di kota tersebut.
Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Lily segera bergegas, untuk pulang ke rumahnya.
*******
Setibanya di rumah, Lily langsung bergegas, menuju kamar Putra, ia membawa beberapa lembar baju, serta obat-obatan untuk Putra.
"Kreeek...." Lily, membuka pintu kamar secara pelan.
"Udah pulang kak?" Erly segera melihat ke sumber suara, saat mendengar pintu ruangan terbuka.
"Hem... Nih! Aku belikan beberapa baju, serta obat-obat luka untuknya. Kau sudah selesai membersihkan tubuhnya?" Lily memberikan beberapa barang pada adiknya.
"Sudah kak," Erly segera, meraih barang dari kakanya, lalu memasukkan baju pada almari, dan obat-obat di laci meja, dekat ranjang.
"Gantikan pakaiannya! Aku akan pergi kerja." Lily hendak bergegas, keluar dari kamar.
__ADS_1
"Aku?! Tidak, tidak, tidak!" Erly menolak, untuk menggantikan pakaian Putra. Lily pun membalikkan badan, menatap adiknya.
"Kalau begitu, biar aku yang gantikan, kamu keluar kamar sekarang!" Lily kembali, berjalan mendekati tubuh Putra, yang masih terkulai lemah.
"Eh! Tunggu, tunggu, tunggu...." Erly menghadang kakanya, menghentikan langkah Lily.
*Bagaimana ini.... masa aku yang mengganti pakaian Putra? Aku kan... belum pernah melihat pria telanjang. Entar mataku jadi ternodai dong. Tapi.... aku nggak rela, kalau kak Lily, yang mengganti baju Putra. Enak aja....*
"Kamu kenapa?" Lily, bingung dengan tingkah adiknya. Bukannya tadi tidak mau mengganti pakaian Putra, lalu kenapa sekarang mencegah kakanya, saat hendak mengganti pakaian Putra.
"Em... tidak. Hehehe...." Erly tersenyum, sambil menggelengkan kepala.
"Sudah sana keluar! Aku akan mengganti pakaian Putra," Lily menyuruh adiknya untuk keluar kamar.
"Kaka, akan melepas pakaian yang dipakai Putra?" tanya Erly dengan polosnya. Lily hanya menganggukan kepala.
"Semuanya?" tanya Erly penasaran. Lily pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Tanpa terkecuali? tanya Erly lagi, dan Lily hanya menjawab dengan anggukkan.
"Kenapa?" tanya Lily heran.
*Kenapa, kenapa.... emang nggak anu apa.... lihat pria telanjang di depan mata. Tapi kalau dia sih.... udah biasa,*
"Enggak! Enggak kenapa-napa," jawab Erly terbata-bata, ia tidak mungkin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ya udah! Keluar sana!" usir Lily, pada adiknya.
Erly menganggukkan kepala, sambil melangkahkan kakinya secara perlahan.
*Entar, kalau tubuh Putra diapa-apain gimana? Aku nggak rela! Pokoknya aku nggak rela!*
"Tenang aja, aku udah puas dengan laki-laki di luar sana, aku tidak akan menyentuh milikmu," ucap Lily, sambil menepuk pundak adiknya, lalu bergegas menghampiri tubuh Putra.
"Nggak! Nggak boleh!"
Sepontan, Lily menoleh, saat mendengar teriakan suara adiknya.
"Ya udah! Kamu yang gantiin pakaiannya Sono! Aku mo mandi, mau berangkat kerja," Lily pun berbalik arah, ia hendak keluar dari ruangan.
"Eem... kak!" panggil Erly, saat kaka nya hendak keluar dari ruangan, Lily pun menoleh, menatap wajah Erly.
"Apa?" tanya Lily heran. Erly menundukkan kepala, ia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya, Erly tak rela, bila kakanya yang mengganti pakaian Putra. Tapi, ia juga tidak berani membuka pakaian Putra.
"Emm...." Erly menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, sambil cengengesan menatap wajah kakanya.
"Apa?" tanya Lily lagi, karena Erly hanya bergumam.
"Hehhee.... tidak. Ya udah, kaka keluar sana. Saya akan mengganti pakaian Putra," Erly segera membalikkan badan, membelakangi kakanya.
Lily menggelengkan kepala, melihat tingkah adiknya.
*Dasar aneh!* decak Lily, ia pun segera keluar dari ruangan.
*Waduuuuh.... ngomong apa, aku barusan.... nih mulut, sukur jeplak aja deh,* gerutu Erly, sambil memukul mulutnya sendiri.
Erly, segera menutup pintu kamar, dan menguncinya, lalu menyandarkan punggung pada pintu tersebut.
*Gimana nih.... Apa aku bisa mengganti pakaiannya? Terus, kalau dia bangun, pas aku buka pakaiannya gimana?*
Erly kemudian berpikir, bagaimana caranya mengganti pakaian Putra. Beberapa saat lamanya, ia hanya menyandarkan tubuhnya pada pintu ruangan, lalu beranjak dari tempat tersebut, mendekat pada tubuh Putra.
Perlahan, Erly mendekatkan wajahnya pada wajah Putra, ia memerhatikan mata pria di hadapannya itu.
*Kamu kenapa sih, harus pingsan segala? Bangun dong.... Ganti baju sendiri,* gerutu Erly sambil menatap lekat wajah Putra.
Perlahan, Erly menaruh tangannya di atas wajah Putra, lalu menggerakkannya.
"Put! Put! Putra.... Beneran pingsan yah?" Erly mengecek, apakah Putra, benar-benar tidak sadar, kemudian mendekatkan wajahnya pada tubuh Putra, seraya menempelkan telinga pada dada bidang milik sahabatnya.
*Jantungnya berbunyi pun....*
Namanya juga orang hidup, ya pasti berdetak lah jantungnya.... kalau nggak berdetak, berarti udah jadi mayat. Dasar Erly!
__ADS_1
Perlahan, Erly menjauhkan tubuhnya, dari tubuh Putra, lalu berjalan mondar-mandir, di dekat ranjang.
*Mudah-mudahan, dia nggak bangun, pas aku gantiin pakaiannya. Ayolah.... aku pasti bisa.* Erly menyemangati diri sendiri, ia pun menatap wajah Putra.
Setelah memantapkan niat, akhirnya ia mendekat pada tubuh Putra, lalu dengan hati-hati, mulai melepas baju Putra.
"Maaf yah Put...." Erly melepas baju, sambil memejamkan matanya, ia tidak berani melihat tubuh Putra.
"Tok! Tok! Tok...." pintu kamar tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
Erly segera menurunkan baju Putra, mengurungkan niatnya. Lalu menjauh dari ranjang.
"Lyk! Kok dikunci sih pintunya!" Teriak Lily dari luar ruangan.
"Oh! Bentar kak!" Lily segera lari, untuk membuka pintu ruangan.
"Kok dikunci sih pintunya?!" tanya Lily heran, karena biasanya, Erly tidak pernah mengunci pintu.
"Anu kak.... tadi nggak sengaja. Hehehe...." Erly cengingisan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Nih! Tadi aku pesenin makanan, biar kamu nggak repot-repot masak. Aku pergi dulu. Oh iya! Obati luka-lukanya! Jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela rumah! Jangan membukakan pintu, jika ada orang asing yang datang! Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku!" Lily memang bersifat arogan, tapi ia sebenarnya sangat peduli sama adiknya, bahkan sangat menyayanginya. Karena Erly lah, satu-satunya saudara yang ia miliki. Erly dan Lily, hidup berdua semenjak kecil, setelah kedua orang tuanya mati kecelakaan.
Setelah memberikan kotak makanan, Lily segera bergegas pergi.
Erly pun, segera mengunci pintu, lalu kembali mendekat pada tubuh Putra.
*Mudah-mudahan dia tidak terbangun,* gumam Erly. Perlahan, ia melepas baju Putra, namun ia tidak berani melihat tubuh pria di depannya itu.
*Yes! Berhasil,* gumam Erly kegirangan.
Karena penasaran, perlahan Erly melirik tubuh Putra.
*Tubuhnya keren banget.... ternyata, dia terlihat seksi, saat tidak memakai baju,* Erly merasa takjub, melihat tubuh Putra, saat tidak memakai baju. Erly pun terpaku menatapnya.
*Heem... Coba kalau kacamatanya di lepas, pasti terlihat tampan,* Erly segera menyingkirkan kacamata di wajah Putra, lalu menaruhnya di atas meja.
*Tuh kaan... apa kubilang.... dia memang sangat tampan. Sayangnya, dia cupu,*
Erly menatap lekat wajah Putra, ini pertama kalinya, ia melihat Putra tidak memakai kacamata dan bertelanjang dada. Putra memang terlihat sangat tampan, jika melepas kacamata dan berpakaian layaknya pria pada umumnya.
*Tampannya.... Coba aja, dia bisa nikah ma aku,*
Erly tersenyum sendiri, ketika berangan, ia menghayal jika Putra menjadi suaminya.
*Ah! Ngelamun apa sih aku. Sebaiknya, aku cepat-cepat mengganti pakaiannya, sebelum ia sadar dan terbangun,*
Erly segera mengambil handuk kecil dan air hangat, ia mencelupkan handuk tersebut pada air hangat, lalu mengelap tubuh Putra.
*Aku kok jadi deg-degkan yah.... mana badanku terasa gerah lagi,* dengan telaten, Erly membersihkan tubuh Putra. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Erly segera mengambil baju yang dibelikan oleh kaka nya, lalu memakaikan ke tubuh Putra.
*Hem.... terlihat makin tampan,*
Erly, terus saja memuji ketampanan Putra, karena kali ini, Putra terlihat sangat berbeda, dari hari-hari biasanya.
*Hem.... baju udah. Sekarang... tinggal celana. Ganti enggak yah? Kalau nggak aku ganti....*
Erly melirik celana yang dipakai Putra.
*Celananya sangat kotor, masa nggak aku ganti, tapi....*
Erly merasa bingung, haruskah ia mengganti celana yang Putra pakai, atau tidak. Erly juga merasa gugup, jika harus membuka celana Pria.
*Entar, kalau dia bangun, gimana? Ah! Anggap aja aku lagi ngelindur. Kasian juga, kalau dia memakai celana yang kotor,*
Erly memantapkan niatnya, dia berinisiatif untuk melepas celana Putra. Erly memalingkan wajah, saat melepas kancing celana itu, ia tidak berani melihatnya, meski sekedar melirik.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSANBUNG....