Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Benih Rasa


__ADS_3

*Kenapa susah banget sih!* gerutu Erly kesal, saat kesulitan melepas kancing celana Putra.


*Apa aku lihat aja yah? Nggak papa kan, sekali-kali....*


Erly mencoba melirik, untuk melihat, apa yang bikin sulit untuk melepas sebuah kancing.


"Ka-kamu, mau ngapain aku?"


"Tidaaak!"


Seketika Erly menutup wajahnya, ia terkejut, saat melihat Putra telah terbangun.


"Kenapa kamu diam saja!" Seketika, Erly memukuli dada Putra, ia merasa sangat kesal, karena Putra tidak bilang, kalau ia telah bangun.


"Argh!"


Putra memekik kesakitan, karena Erly terus memukulinya.


"Kamu sengaja yah! Dasar mesum!" Erly terus saja memukuli Putra, "Bag! Bug! Bag! Bug!"


"To-tolong hentikan! Uhuk, uhuk, uhuk!"


Erly menghentikan aksinya, kala Putra batuk-batuk, sambil memegangi dadanya.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


"To-tlong.... ambilkan aku, air minum," Putra merasa kesulitan untuk bernafas, dadanya terasa sakit, nafasnya terasa sesak.


Saat melihat kondisi Putra, Erly pun segera mengambilkan air putih, lalu menyodorkan pada mulut Putra, membantunya untuk minum.


Putra segera meneguk air tersebut, hingga habis, "te-terimakasih," ucap Putra, sambil menatap wajah Erly.


Putra menarik tubuhnya, untuk bersandar di bahu ranjang, Erly pun segera membantunya, karena Putra sedikit kesulitan.


"Udah mendingan?" tanya Erly khawatir. Putra hanya menganggukkan kepala, menjawabnya.


Erly menaruh gelas kosong tersebut, pada tempatnya, lalu kembali menghampiri Putra, duduk di bangku dekat ranjang.


"Kamu mau makan?" Erly segera mengambil makanan yang telah dibelikan kakak nya, lalu membawa kepada Putra.


"Buka mulutmu!" Erly bermaksud menyuapi Putra.


"A-aku nggak lapar!"


Erly bingung harus berbuat apalagi, untuk menghilangkan rasa canggung, ia merasa malu, karena dipergoki sedang membuka celana Putra.


*Ngapain lagi yah....*


Wajah Erly nampak gelisah, ia bingung harus ngelakuin apa.


"Ka-ka..."


"Aku keluar..."


Keduanya sama-sama akan berbicara, namun akhirnya menghentikan secara bersamaan.


"Kamu duluan!" Keduanya mengucapkan kalimat yang sama, dan secara bersamaan.


Erly dan Putra saling memandang, "Baiklah! Kamu duluan," ucap Erly, menyuruh Putra lebih dulu berbicara.


Putra menggelengkan kepala, "Ka-kamu aja dulu," lalu Putra menundukkan kepala.


*Kenapa balik nyuruh aku?* gerutu Erly, menatap wajah Putra.


"Maaf.... Aku tadi, tidak bermaksud macam-macam. Aku hanya ingin mengganti pakaianmu yang kotor, dan ternyata.... kamu terbangun, saat aku akan mengganti celanamu,"


*Semoga aja, dia nggak salah paham,*


Erly masih saja menatap wajah Putra, hingga membuat Putra merasa risih.


"I-Iya.... terimakasih. Ka-kamu selalu peduli ama aku," Putra semakin menundukkan kepala, karena Erly terus saja menatapnya.


"Karena kamu, adalah sahabatku," jawab Erly penuh semangat.


Keduanya lalu terdiam untuk beberapa saat lamanya. Putra hanya terus menundukkan kepala, sedang Erly masih saja betah melihat wajah Putra. Erly merasa takjub, melihat Putra yang tidak mengenakan kacamata, hingga membuat dia enggan untuk memalingkan pandangannya.

__ADS_1


*Coba aja.... dia berpenampilan seperti ini setiap hari. Pasti banyak wanita yang menyukainya,* tanpa sadar, Erly tersenyum sendiri, terbawa lamunannya.


"Bi-bisa minta tolong?" tanya Putra dengan ragu-ragu.


"Apapun permintaanmu, akan aku turuti, dengan sepenuh hati," Erly menjawabnya, tanpa berpikir. Ia masih saja, terbawa pikiran halusinasinya. Erly, menjawab pertanyaan Putra sambil tersenyum.


Putra terkejut tatkala melihat ke arah Erly.


*Apakah dia waras?* gumam Putra, saat melihat Erly senyum-senyum sendiri, dengan tatapan mata kosong.


Putra melambaikan tangan di depan mata Erly, "Hey!" Putra mengernyitkan dahinya, karena Erly masih saja tersenyum.


"Hey!"


Erly tersentak kaget, saat mendengar teriakan Putra, "I-iya.... ada apa," ia langsung kelabakkan, lalu membenarkan posisi duduknya.


"A-apa kamu baik-baik saja?" tanya Putra.


"A-aku, baik-baik saja kok. Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Erly merapikan bajunya, untuk menghilangkan rasa kecanggungan.


*Kenapa aku jadi ketularan gagap sih!* gumam Erly, menyadari dirinya yang jadi ikutan gagap.


"A-aku mau mandi. Tu-tubuhku terasa gerah," Putra kembali menundukkan kepalanya, melihat sekujur tubuhnya.


"Ikut!" Erly langsung menutup mulutnya yang salah bicara. *Ini mulut kenapa sih! Kok jadi eror gini!*


Putra kaget, ia pun langsung menatap wajah sahabatnya itu.


"Maksud aku.... jangan dulu mandi. Kondisi tubuhmu masih belum sehat. Jadi, ganti pakaian saja. Hehehehe...." Erly cengingisan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"A-aku.... tidak punya pakaian lain, selain yang aku pakai," Putra, lagi-lagi menundukkan kepalanya.


"Ooh iya!" Erly langsung berdiri, berjalan menuju lemari pakaian, lalu mengambilkan celana ganti untuk Putra.


"Nih! Kamu ganti dulu. Kakak sudah membelikan beberapa pakaian ganti untukmu. Kalau kamu ingin ganti baju, tinggal pilih aja di dalam lemari," Erly memberikan celan ganti untuk Putra.


"Em... tapi...." Putra merasa tidak enak hati, dengan kebaikan Erly dan Lily padanya.


"Sudahlah! Jangan terlalu berpikir yang macam-macam. Aku mau ke dapur dulu yah." Erly langsung beranjak pergi, meninggalkan Putra di dalam kamar.


Erly bergegas menuju dapur, ia berinisiatif membuatkan teh hangat, dan bubur untuk Putra.


Setelah Erly keluar dari kamar, Putra hanya seorang diri, ia masih terdiam, bergumul dengan pikirannya.


*Sekarang, aku sudah tidak memiliki apapun, dan siapapun. Bagaimana hidupku selanjutnya? Apakah aku bisa melanjutkan sekolahku? Jangankan memikirkan sekolah, tempat tinggal saja.... aku tidak punya. Tidak mungkin, aku tinggal di rumah Erly terus-menerus, dan menggantungkan hidupku padanya.*


Putra memikirkan nasibnya, ia tidak begitu terpuruk dengan meninggalnya ke-dua orangtuanya, ia hanya memikirkan cara, untuk mengatasi situasinya saat ini.


"Bang Ben!"


Putra teringat pada sopir pribadinya, ia beranjak dari ranjang, lalu melihat seluruh ruangan.


*Ponselku di mana?* Putra, bermaksud menghubungi Bang Ben, namun ia tidak melihat ponselnya di manapun.


Putra pun kembali duduk, di atas ranjang.


*Tamatlah riwayatku, berakhirlah cerita hidupku. Kakak.... kamu di mana? Kapan kau akan menemui ku? Sekarang, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa,*


Hanya teman, yang telah ia anggap saudaralah, yang dapat ia harapkan. Putra berharap, jika temannya datang membawanya, karena ia sudah tidak memiliki apapun, dan siapapun. Tidak mungkin juga, ia terus-menerus tinggal bersama Erly, dan menggantungkan hidup bersamanya.


*Tabungan!* Putra segera merogoh saku celananya, kala teringat kartu ATM miliknya, *kok nggak ada?* na'as, kartu ATM nya pun tidak ada, padahal ia telah merogoh semua saku celananya.


"Cari apa?" tanya Erly. Ia membawakan bubur, dan teh hangat untuk Putra.


Karena panik mencari kartu ATM nya, Putra jadi tidak menyadari kehadiran Erly di sampingnya, ia pun kaget saat Erly bertanya kepadanya.


Setelah menaruh makanan di atas meja, Erly beralih, mendekat pada Putra.


"Ti-tidak.... "


Putra, segera membenarkan posisi duduknya.


"Katanya mau ganti pakaian.... kok belum ganti," tanya Erly, saat melihat Putra masih mengenakan celana yang sama.


"Em... iya." Putra segera berdiri, beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Argh!" Karena kakinya masih belum sembuh total, jadi ia terjatuh, karena tidak mampu menahan tubuhnya. Beruntung, Erly sempat menahannya, namun Erly pun tidak kuat untuk menahan berat badan Putra, merekapun terjatuh. Erly jatuh terduduk, sedang Putra jatuh terbujur, kepalanya jatuh tepat di pangkuan Erly, lalu keduanya pun terdiam.


Putra mendongakkan wajahnya menatap wajah Erly *Ternyata ia perempuan tercantik, yang pernah aku temui,* baru kali ini, Putra bisa melihat gadis cantik, biasanya ia selalu cuek pada siapapun, makanya tidak pernah tergoda dengan kecantikan wanita. Bukan hanya Putra, Erly pun menatap wajah Putra, *Tampan, dia memang tampan!* ia pun mengagumi ketampanan Putra.


Keduanya terjebak dalam pandangan, mereka saling memuji satu sama lain, hingga beberapa saat lamanya, mereka tetap dalam posisi yang sama.


Mungkin.... 'cinta pada pandangan pertama,' itu memang benar adanya. Karena, meski mereka sering bersama, baru kali ini mereka terjebak dalam pandangan yang sama, bahkan saling memuji dalam hatinya. Atau mungkin... 'cinta datang, bersama mengalirnya sang waktu?' Entahlah! Yang pasti, mereka kini saling mengagumi.


"Ma-maf.... setelah cukup lama terdiam dalam posisi yang sama, akhirnya Putra tersadar dari lamunannya, dan segera bangkit, "Argh!" karena kakinya terasa sakit, ia jadi kesulitan untuk berdiri.


Erly segera membantu Putra untuk bangkit. "Nggak papa kok," Erly merangkul bahu Putra, *Nggak papa meski kamu terus berada dalam pangkuanku. Aku betah kok,* gumam Erly, sambil mengangkat tubuh Putra, membantunya untuk berdiri, lalu mendudukkan tubuh Putra di atas ranjang.


"Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja. Aku kan membantumu," ucap Erly, lalu ia duduk, pada kursi di sebelah ranjang.


"A-aku.... ingin ke kamar mandi, ta-tapi.... kakiku terasa sakit," Putra menundukkan kepala, tidak lagi menatap wajah Erly.


Erly segera bangkit, lalu mendekati Putra, "Sini aku bantu!" ia bermaksud memapah Putra, ke kamar mandi.


Putra mendongakkan wajahnya, menatap Erly.


"Udah sini.... aku akan terus membantumu, sampai kamu sembuh. Ayok aku antar!" Erly merangkul kedua pundak Putra. Putra pun segera bangkit, ia berjalan dibantu oleh sahabatnya.


*Selain cantik dan baik.... dia juga sangat perhatian,* gumam Putra dalam hati.


*Setiap hari berada di sampingmu.... aku merasa betah kok. Mudah-mudahan kamu nggak cepet sembuh, biar kita bisa sering seperti ini,* gumam Erly, sambil berjalan memapah Putra.


Mereka berdua berjalan beriringan, namun pikirannya melayang, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga tidak mempedulikan tempat sekitar, dan... "Argh!" Erly memekik kesakitan, saat tubuhnya menabrak pinggiran pintu, namun ia tetap merangkul tubuh Putra, mengabaikan kepalanya yang terasa sakit.


Mendengar benturan tersebut, Putra langsung melihat ke samping, memerhatikan sahabatnya, " Ka-kamu nggak papa?" Putra langsung merapikan rambut yang menutupi wajah Erly, lalu mengusap dan meniup kening Erly.


"Nggak papa kok Put," ucap Erly berbohong, padahal ia merasa kesakitan. *Nggak papa kok, asal kamu tetap berada di sampingku,* gumam Erly, sambil menatap wajah Putra. Ia tersenyum kegirangan dengan perlakuan Putra.


"Ma-masih sakit?" tanya Putra, lalu menatap wajah Erly.


Erly hanya diam, sambil terus tersenyum, ia tidak mendengar pertanyaan Putra, karena pikirannya sedang melamun. *Saat berdekatan seperti ini.... aku merasa nyaman,*


"Ka-kamu kenapa?" putra heran melihat ekspresi yang Erly tunjukkan, bukannya menjawab pertanyaannya, Erly malah tersenyum menatapnya, hingga membuat Putra salah tingkah.


"Ah iya! Aku nggak kenapa-napa kok, cuman benturan kecil. Ayok masuk!" Erly melanjutkan langkahnya, mengantar Putra masuk, kedalam kamar mandi.


"Su-sudah. Kamu keluar saja!" ucap Putra, saat mereka sudah berada dalam kamar mandi.


"Kamu mengusirku?" tanya Erly spontan.


"E-emang.... kamu akan tetap di sini, menungguku mandi?" tanya Putra heran.


"Ah! Ma-maksudku.... kamu bisa sendiri?" Erly langsung salah tingkah, karena salah bicara.


"A-aku.... bisa kok,"


"Oh... ya udah. Aku keluar, aku tunggu di luar. Kalau butuh bantuan, bilang aja." Erly segera meninggalkan Putra, keluar dari dalam, lalu menutup pintu kamar mandi.


*Ini mulut kenapa jadi sering eror sih!*


Erly memukuli bibirnya sendiri, ia berjalan menuju ranjang, hendak merapikan temapat tidur Putra.


"Lah! Ini handuk dan celananya tidak ia bawa? Dasar aneh! Emang dia mau keluar tidak pakek celana?" gerutu Erly saat melihat handuk dan celana ganti Putra, tergeletak di atas ranjang.


Erly segera menyambar handuk dan celana tersebut, berinisiatif untuk memberikan kepada Putra.


Tanpa mengetuk pintu, Erly lansung nyelonong masuk, dalam kamar mandi.


"Aaaaa!" Erly berteriak, saat melihat Putra sudah melepas pakaiannya, hanya menyisahkan celana dalamnya.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2