
Lauren dan kedua pekerja rumah tangganya telah keluar dari gedung bandara, tidak lama mereka menunggu, sebuah mobil mewah berdesain klasik berhenti di depan mereka.
Mercedes-Mybach Exelero berwarna hitam, berhenti tepat di depannya. Lauren mengerjapkan matanya, bagaimana tidak... karena dia tahu, kalau mobil di depannya adalah salah satu mobil termahal di dunia. Mobil tersebut diproduksi secara terbatas, dan tidak sembarang orang bisa memilikinya. Mobil yang mampu menembus top speed 350km/jam ini, memiliki harga kurang lebih, USD 8 juta, atau setara Rp.119.106 miliar, harga yang sangat fantastis bukan?
Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil tersebut. Ia mengenakan setelan jas warna hitam, dasi berwarna merah, dan kacamata hitam.
"Apakah anda yang bernama Nyonya Lauren?" Lauren tersadar dari lamunannya, ketika mendengar namanya di sebut.
"Iya, saya. Siapakah tuan ini?" Lauren mengernyitkan dahinya saat menatap lelaki di depannya, karena dia merasa tidak mengenali pria tersebut.
"Saya utusan tuan king. Apakah anda yang bernama Lauren?" pria bertubuh kekar dan gagah tersebut memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"King?" ucap Lauren sambil mengernyitkan dahi.
"Dert... dert... dert... " Lauren tidak melanjutkan ucapannya, karena ponselnya tiba-tiba berdering, dia segera menggeser ikon hijau, setelah tahu siapa penelepon tersebut.
"Halo ka, saya sudah di bandara Osaka, bisakah Kaka menjemput ku?" Lauren langsung bicara pada inti, saat tahu kaka iparnya yang menelepon.
"Apa kamu melihat Merce berwarna hitam? Naiklah! Ikut saja dengan mereka." Malik lalu mematikan sambungan telepon. Lauren pun hanya diam.
"Gimana Nya?" tanya mang Setto ragu-ragu
"Nyonya Lauren, akan saya antar ke tempat tuan king, dan kedua pengikut anda, biar diantar ke apartemen, sebentar lagi teman kami akan datang," sang pria tadi memberi tahu Lauren untuk ikut bersamanya.
Belum sempat Lauren menjawab, sebuah mobil mewah berwarna hitam logam telah terparkir di hadapan mereka, kali ini Lamborghini Veneno Roadster yang hadir di hadapan mereka.
"Nyonya silahkan, Anda bersama saya. Kedua orang anda naik mobil yang itu." pria tersebut segera meminta Lauren untuk masuk, karena dari tadi mereka hanya berdiri, diam di tempat.
"Bik.... kamu sama mang Setto ya.... saya mau menemui kaka terlebih dahulu." Lauren segera beranjak.
"Nya... Nya... tunggu nya... " bik Inah menghentikan langkah Lauren.
"Ada apa bik?" Lauren menatap wajah bik Inah.
"Sa-saya, naik mobil itu Nya?" tanya bik Inah malu-malu.
"Iya, sama mang Setto. Apa bik Inah keberatan?"
Pertanyaan Lauren malah membuat bik Inah gugup.
"Oh tidak Nya, tidak.... kami tidak keberatan kok Nya. Monggo silahkan meneruskan perjalanan." Mang Setto segera mendekati bik Inah, dan menjawab pertanyaan, yang seharusnya bukan dia yang menjawab.
"Ya udah, saya duluan ya...." Lauren segera masuk kedalam mobil Merce, pria tadi langsung menutup pintu mobil, lalu memutar, memasuki mobil dari pintu sebelah.
Mobil yang membawa Lauren pun segera melaju di jalanan, tinggallah mang Setto dan bik Inah yang masih berdiri di sana. Tanpa sadar, tangan dari kedua orang tersebut bergandengan.
"Weleh, weleh.... saudaranya Nyonya orang kaya to...." komen mang Setto sambil menatap ke arah mobil yang sudah pergi.
"Mang...." panggil bik Inah lirih.
"Apa to yem," sahut mang Setto namun tidak melihat kearah lawan bicaranya.
"Mang...." panggil bik Inah lagi.
"Apa to, kok panggil-panggil aja, aku denger loo... gak budek!" mang Setto lalu menatap wajah bik Inah.
Mang Setto mengernyitkan dahinya saat melihat mata bik Inah berkedip tanpa henti.
"Wooh! Matamu mulai rabun to? Pantasan aku di samping kamu, masih dipanggilin aja." mang Setto heboh, logat jawanya pun masih kental dalam setiap kalimat yang terucap.
__ADS_1
"Tangan sampean dodol....! Tangan!" bik Inah melotot menatap mang Setto.
"Uwalah! Virus iki." Mang Setto berjingkat sambil mengibas-ngibas kan tangannya, saat menyadari, jika dia menggandeng tangan bik Inah.
"Ekhem!" seorang pria berdehem keras, hingga membuat mang Setto dan bik Inah terdiam tanpa ucap, mereka tertunduk malu, karena tingkahnya sendiri.
"Mari saya antar ketempat anda." ucap pria tersebut dengan sopan
"Ba-baik tuan." Jawab bik Inah disertai tindakan. Mereka pun masuk kedalam mobil dan meneruskan perjalanan menuju tempat peristirahatan.
Sementara itu di lain tempat....
Erli mengerjapkan mata, lalu mengucek kedua matanya, dia merasa kepalanya sedikit pusing, perlahan dia bangkit dari tidurnya.
"Ini di mana?" Erly berbicara sendiri, dia merasa tempatnya saat ini, seperti tidak asing, tapi dia tidak bisa mengingatnya.
"Kamu sudah Sadar?" Seorang gadis memasuki ruangan, membawa makanan, lalu dia menaruhnya di atas meja di kamar tersebut.
"Kaka?!" teriak Erly sambil mengingat kembali kejadian yang telah menimpanya. Yups, Erly sekarang telah berada di rumahnya.
"Iya ini aku. Kamu dari mana saja, dan apa yang terjadi pada kalian?" sang kaka mengintrogasi adiknya.
"Kalian?.... " Erly kembali bingung dengan pertanyaan kakanya.
"Iya, kamu dan pacar kamu,"
"Pacar.... ? Sejak kapan aku punya pacar?" Erly semakin tidak mengerti dengan ucapan kakak nya, namun ia kembali mengingat kejadian tadi sore yang telah menimpanya.
"Udah, nggak usah ngeles! Kaka tidak suka kamu berbohong! Kaka juga tidak melarang kamu pacaran! Tapi saya paling benci dibohongi!" sang kaka langsung saja tensi, kala adiknya tidak menjawab pertanyaannya.
"Kak Lily!" Erli berteriak, seakan dia menolak tuduhan kakak nya, karena memang itu kenyataannya, antara Putra dan dirinya hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
"Apa?! Kamu mau membantah Kaka?!" Lily semakin geram, kala adiknya meninggikan suara.
Erlily perlahan menundukkan kepala, dia tidak mau melanjutkan perdebatan itu. Lebih baik dia menerima tuduhan yang tidak sesuai, daripada harus bertengkar dengan Kakak nya, keluarga satu-satunya yang ia miliki, dan orang yang selalu bersamanya, semenjak kematian kedua orang tuanya.
"Maaf... " ucap Erly lirih.
"Heem... " Lily hanya berdehem membalasnya.
"Lalu Putra gimana?" Erly memberanikan diri untuk menanyakan keadaan sahabatnya.
"Di kamar sebelah!" jawab Lily ketus.
"Boleh aku melihat keadaannya?" tanya Erly ragu-ragu.
"Heeemm..." respon Lily, dia kemudian duduk di meja rias, untuk berdandan.
Erly menurunkan kaki dari tempat tidur, dia akan segera beranjak untuk pergi.
"Lain kali kabari Kaka, kalau kalian ada apa-apa. Beruntung, kalian ditolong oleh orang baik. Kalau terjadi apa-apa sama tubuhmu, aku tidak akan memaafkan mu!" ancam Lily kepada adiknya.
"I-iya ka," Erly pun segera bangkit, lalu menuju kamar sebelahnya, di mana Putra berada.
Apa yang telah Lily katakan memang benar, entah siapa yang telah menolong mereka, Lily sendiri tidak tahu orang tersebut. Yang ia tahu, ada seorang pria memakai masker, dan berkacamata, mengantar Putra dan adiknya ke rumah. Lily juga lupa menanyakan identitas orang tersebut, karena panik mengkhawatirkan kondisi adiknya.
Erly membuka pintu perlahan, mengintip dari luar ruangan.
Dia belum bangun? Gumam Erly dalam hati.
__ADS_1
"Kalau mau masuk, masuk aja! Nggak usah ngintip-ngintip!" Sindir Lily ketika melihat tingkah adiknya.
"Ka-kaka mau kemana?" Erly gelabakan, saat ketahuan sedang mengintip Putra.
"Mau keluar. Entar kalo pacarmu udah siuman, beri dia makan. Tadi udah Kaka panggilkan dokter, dia hanya butuh istirahat." Lily segera membalikkan badan untuk beranjak pergi, tanpa memerhatikan ekspresi adiknya.
Erly hanya menggepalkan jari-jari kedua tangan, sambil menggigit bibir bawah, saat mendengar ucapan kakak nya.
Erly mengintip ke arah luar, ingin tahu kakak nya pergi kemana. Perlahan mata Erly berkaca-kaca, sebuah air berharga berhasil lolos dari pelupuk mata indahnya.
Kaka.... Gumam Erly sambil menggigit bibir bawahnya.
Beberapa saat kemudian dia kembali menuju ke ruangan tempat Putra terbaring.
"Ceklek...." Erly membuka pintu perlahan, kemudian melangkah pelan-pelan, mendekat ke arah Putra.
"Putra...." Erly menatap wajah Putra dengan penuh rasa iba.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Apa mereka lagi?" ucap Erly pelan, dia mengelus pipi Putra yang terlihat membengkak hingga matanya terlihat begitu sipit.
Erly memeriksa seluruh luka di tubuh Putra, ada beberapa cidera yang cukup serius di bagian wajah. Pandangan mata Erly terhenti, saat tertuju pada kepala Putra, sebuah jahitan lumayan panjang telah menempel di sana, sepertinya kepala Putra mengalami cidera bocor.
"Putra..... kasihan sekali nasibmu.... "
Erly memang gadis yang baik, ia bahkan sering merasa sesak di dadanya, kala melihat orang lain menderita, meski ia tidak mengenalnya.
Waktu terus bergerak, hari pun semakin malam, Erly masih setia menunggu sahabatnya siuman, sementara itu di tempat lain...
Bang Ben mondar mandir dengan wajah penuh ketakutan.
"Sampean kenapa to bang.... kok dari tadi, mondar mandir kayak tikus habis dikejar kucing!" celetuk seorang wanita, saat melihat bang Ben mondar mandir tidak jelas.
"Oh! Anu.... "
Gimana nih? kasih tahu nggak ya? Gumam bang Ben dalam hati.
"Anu apa? Hayo... bang Ben melakukan kesalahan apa sama den Putra?" semua orang di rumah Putra tahu, kalo bang Ben merupakan sopir sekaligus pendamping khusus untuk Putra, dia hanya mengerjakan apa yang Putra inginkan, jadi kalau ada masalah dengannya, sudah pasti itu menyangkut tentang Putra.
Gimana nih, udah malam gini, den Putra belum balik. Mana Ponselnya nggak bisa dihubungi, kalau sampai besok nggak balik, aku bisa dipecat nih. Gaswat nih, gaswat... Gumam bang Ben dalam Hati.
"Hayoooo... bang Ben melakukan kesalahan apa sama den Putra?" pembantu yang satu ini memang sedikit cerewet, namanya Sri Wahyuni, atau biasa akrab disapa mbak Sri. Dia di panggil mbak, karena usianya yang masih muda dibanding pembantu yang lainnya di rumah Putra.
"Den Putra hilang!" bang Ben sebenarnya agak ragu untuk mengatakan, tapi dia tidak bisa merahasiakan ini, dan kalau sampai tuannya tahu, itu bisa mengancam kelanjutan hidup masa depannya, karena hidupnya hanya bergantung pada keluarga Lauren.
"APA!?" Mbak Sri langsung berteriak histeris, mendengar pernyataan dari bang Ben.
"Bruuk!" mbak Sri langsung jatuh pingsan karena terkejut.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.