Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Pencarian Putra dimulai.


__ADS_3

"Den Putra hilang..."


“APA!?” Mbak Sri langsung berteriak histeris, mendengar pernyataan dari bang Ben.


"Bruuk!" mbak Sri langsung jatuh pingsan karena terkejut.


"Mbak Sri!" dengan sigap, bang Ben langsung lari dan menangkap tubuh yang akan jatuh kelantai.


"Untung saja masih sempat. Kalau enggak, udah Benjut badanmu Sri.... Sri!" dumel bang Ben, sambil memandangi wajah wanita yang kini berada dalam bopongan tangannya.


"Walah! Kalian pacaran ya?" suara dua orang bersamaan mengagetkan bang Ben.


"Eh, ada mas-mas scurity!" karena terkejut dan kaget, bang Ben melepaskan tubu mbak Sri tanpa sadar.


"Awaaaas!.... " dengan cepat dua orang scurity tersebut lari dan menjatuhkan tubuhnya, tepat sebelum tubuh mbak Sri jatuh ke lantai. Tubuh kedua scurity tersebut telah berada di bawahnya, dan menjadi ganjal empuk bagi tubuh mbak Sri.


"He`eek!" pekik kedua scurity bersamaan, kala tubuh mbak Sri mendarat di tubuh mereka.


"Weleh, weleeh.... kalian jadi rebutin tubuh Sri ku to...." komen bang Ben melihat tragedi di depan matanya.


"Enak aja!" karena tidak mau dikatain, kedua scurity itu langsung menyingkirkan tubuh mbak Sri, dan langsung berdiri tegap. Tubuh mbak Sri pun jatuh menggelinding ke lantai.


"Sriiii!..." ban Ben mendekat dan memegang tubuh mbak Sri.


"Kalian jahat sekali. Udah ngerasain ditidurin, malah dibuang-buang!" bang Ben menatap kedua scurity tersebut dengan tatapan sinis.


"Ditidurin?.... " ucap kedua scurity bersamaan, lalu mereka saling memandang, karena tidak tahu apa maksud dari ucapan bang Ben.


"La itu barusan! Kalian berlagak jadi superhero depanku to!? Aku juga ya bisa kayak gitu! kayak drama-drama Korea gitu!" ucapan bang Ben membuat kedua scurity tersebut melotot terkejut, lalu mereka saling memandang tidak mengerti.


"Hay Ben! kita itu nggak ada maksud buat itu. Lagian loe yang salah! Kenapa jatuhin Sri ke lantai? Kita kan jadi kasihan," ucap salah satu scurity lalu menoleh ke arah scurity satunya. "Iya nggak coy?!"


"Yo'i brother!" kedua scurty tersebut mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Halah! Bilang aja kalau cari kesempitan dalam kesempatan!" sanggah bang Ben masih tidak terima, dia marah kepada scurity tersebut, sampai melupakan mbk Sri yang sedang pingsan tak sadarkan diri.


"Kesempatan dalam kesempitan kalick.... ngomong kok terbalik!" ucap kedua scurity bersamaan.


"Iya itu pokoknya! Udah Sono pergi! Pergi kalian!" bang Ben menggerakkan tangannya, sebagai isyarat mengusir mereka.


"Woy Ben! Jangan salah tanggap, kita tadi itu kesini karena khawatir. Saya kira sedang ada bahaya, makanya kesini. Kita bermaksud mengecek situasi, dan kondisi. Eh.... malah lihat kalian bermesraan," jawab scurity tersebut dengan jujur. Mereka memang ditugaskan menjaga pintu gerbang, dan saat mbak Sri teriak, mereka langsung berlari mencari tempat kejadian, mereka cemas jika terjadi masalah. Akhirnya mereka terlibat dalam tragedi yang sedang berlangsung.


"Iya lah! Terserah kalian! Pokoknya kalian pergi! Tempat kalian tuh di post depan sana! Bukan di sini," bang Ben kekeh untuk mengusir kedua scurity tersebut.


"Huuu!" sorak kedua scurity tersebut bersamaan. Lalu mereka pergi menuju tempat post penjagaan.


"Huuu.... dasar pengganggu!" gerutu bang Ben, menatap kepergian mereka, lalu dia teringat pada wanita yang ada di depannya.


"Sri! Bangun Sri! Sri!" bang Ben menepuk-nepuk pipi mbk Sri pelan, berharap wanita tersebut membuka mata.

__ADS_1


"Sriii.... jangan mati dulu! Aku kan belum menyatakan perasaanku.... " ucap bang Ben sambil menggoyang tubuh wanita di depannya.


"Loh! loh! Loh.... bang Ben kenapa?" ketika membuka mata, mbak Sri dikejutkan dengan raut wajah bang Ben yang sedih, sambil ngomel-ngomel tidak jelas. mbak Sri telah sadar dengan sendirinya.


"Jangan tinggalkan aku Sri..." bang Ben masih belum menyadari, kalau mbk Sri telah siuman, karena dia sendiri asyik ngerunyam tidak jelas.


"Bang.... bang.... " mbak Sri masih terbaring di atas lantai, sedang bang Ben duduk di sampingnya sambil ngeroweng.


"Baaaang.... Beeeen! Bisa diam ngak?!" teriakan mbak Sri membuat bang Ben terlonjak karena kaget, diapun langsung berdiri, menjauh dari tubuh mbak Sri.


"Looh wes sadar to? Kirain tadi bakal bablas," ucap bang Ben senang, melihat mbak Sri telah sadar.


"Enak aja! Bang Ben do'ain Sri mati?!" gerutu mbak Sri kesal, kemudian dia berusaha bangkit.


"Ya bukan begitu.... kamu perlu bantuan?" bang Ben langsung mendekat, ia berinisiatif membantu mbak Sri untuk berdiri.


"Nggak usah! Sri bisa sendiri!" mbak Sri langsung menepis uluran tangan bang Ben, lalu berdiri dan membersihkan debu yang menempel pada bajunya.


"Hehehe.... kali aja perlu bantuan, aku akan melakukannya dengan ikhlas, sepenuh hati, tanpa pamrih," ucap bang Ben sambil pringas pringis.


"Seharusnya bang Ben itu sadar! Kalau sekarang ini dalam bahaya!" ucap mbak Sri.


"Bahaya apa to... la wong kamu udah sadar, kan sudah tidak ada yang dikhawatirkan," bang Ben mentoel pipi mbak Sri pelan lalu tersenyum kikuk.


"Iiih! Bang Ben ya! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan den Putra, Nyonya Lauren pasti akan memecat, dan bik Inah pasti akan membencimu! Saya juga akan mengutukku!"


"Gleg!" bang Ben menelan ludahnya sendiri kala mendengar kalimat ancaman mbak Sri.


Para pekerja di rumah tersebut, lebih takut dan patuh pada Lauren, ketimbang Smith. Lagi pula, Smith tidak pernah ikut campur urusan di rumah, semuanya hanya Lauren yang menangani.


Bang Ben terdiam saat mendengar kalimat Ancaman dari mbak Sri, dia takut, jika apa yang diucapkan mbak Sri akan benar-benar terjadi.


Bang Ben berdiri mematung tak bergeming, wajahnya kini terlihat pucat Pasih, bag mayat yang akan dikremasi.


"Saya tidak mau tahu! Malam ini juga, bang Ben harus menemukan Den Putra! Kalau terjadi sesuatu, Sri nggak mau ikut-ikut! Sri masih pengen kerja di rumah ini." Mbak Sri kemudian beranjak pergi.


Bukan cuma bang Ben yang merasa ketakutan, mbk Sri pun merasakan hal yang sama, dia takut kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada anak tuannya. Selain hal tersebut, mereka juga sangat nyaman bekerja di rumah Lauren, karena gajian mereka tidak pernah telat ataupun kurang, malah sering mendapatkan bonus uang tambahan.


Gimana niiih.... saya harus cari di mana? Mana nomer Den Putra nggak bisa dihubungi.


Bang Ben menggerutu karena panik, dia tidak tahu harus mencari putra di mana.


Apa kasih tahu Nyonya aja ya? Biar nanti dilaporin ke polisi. Kalau saya cari sendiri.... mana mungkin bisa ketemu....


Ban Ben masih saja mondar mandir, dia bingung harus berbuat apa.


"Kenapa tidak pergi mencari Den Putra!? Apa bang Ben sudah bosan kerja di rumah ini?!" teriak mbak Sri, yang tiba-tiba sudah ada di samping bang Ben.


Bang Ben sedikit terjingkat karena kaget.

__ADS_1


"Anu.... saya harus cari kemana?"


"Ya nggak tahu! Pokonya harus cari" mbk Sri nampak begitu marah. Memang benar, posisinya hanya pekerja, namun mereka merasa sangat sayang kepada Putra.


"Anu... gimana kalo kita laporin ke Nyonya aja?" bang Ben bermaksud mengutarakan pendapatnya.


"Bang Ben tidak tahu? Kalau Nyonya sedang berduka?! Apa bag Ben sengaja menambah beban kesedihan Nyonya?!" sahut mbak Sri dengan kesal.


"Berduka? karena Apa? Bukannya Nyonya pergi ke butik cabang di pulau sebrang?" maklum saja jika bang Ben tidak tahu, karena saat sekretaris Lauren memberi kabar, bang Ben sedang menjemput Putra di sekolahnya.


"Tuan Smith itu kecelakaan di Jepang, dan Nyonya tadi siang langsung kesan bersama bik Inah dan mang Setto! Kalau Bang Ben memberi kabar pada Nyonya, yang ada makin menambah masalah...." tanpa ia sadari, air jernih menetes melalui sudut matanya, mbak Sri merasa sangat sedih, atas apa yang menimpa keluarga tuannya.


"Lah! Nyonya ke-Jepang? Sejak kapan? Katanya lagi mau urusin butik cabang?" bang Ben masih terkejut, mendengar kalimat penjelasan dari mbak Sri, karena dia tidak tahu apa yang sudah terjadi.


"Jangan banyak tanya! Cepat Cari Den PUTRA!" bentak mbak Sri, kemudian mulai terdengar suara isakan.


"Ba-baik! Saya akan cari Den Putra! SE-KA-RANG." ucap bang Ben dengan suara lebay, namun bicaranya begitu kental dengan logat Jawa, "Tapi di mana?" imbuh bang Ben.


"Bang Beeeeen!" teriak mbak Sri kesal.


"I-i-iya.... saya cari sekarang." Bang Ben langsung beranjak pergi, walau tidak tahu harus pergi kemana.


Rumah kediaman Erly....


Malam semakin larut, Erly tetap setia menemani sahabatnya yang masih terkulai lemas.


"Put.... bangun dong Put.... temani aku makan yuk...." ucap Erly sambil mengelus pipi Putra yang bengkak dan ada beberapa cidera.


"Put.... bangun dong.... kamu mau sampai kapan sepeti ini?" Erly berharap jika sahabatnya cepat siuman, agar bisa makan dan minum obat.


Beberapa saat kemudian, Erly beranjak dari tempatnya, dia pergi ke kamarnya, lalu kembali dengan membawa beberapa obat luka.


"Cepat siuman ya Put, semoga lukamu lekas kering," dengan telaten, Erly mengoleskan saleb pada luka di wajah Putra, ada rasa sedih, saat melihat kondisi orang di depannya.


Siapa yang sudah berani melakukan ini padamu Put? Kalau memang mereka yang melakukan, lantas apa alasan mereka? Kesalah apa yang telah kau lakukan, sampai mereka membuat dirimu seperti ini?


Karena hatinya sedang sedih, ia jadi tidak merasa lapar, meski sedari siang belum mengisi perutnya sama sekali.


Erly merasa tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, dia merebahkan kepalanya di samping pundak Putra. Pikiran Erly melayang, seakan menjauh dari tingkat kesadaran.


Beberapa saat kemudian, Erly telah tertidur dalam keadaan duduk pada kursi di samping ranjang, kepalanya bersandar di samping punggung Putra, sedang tangannya yang semula berada di wajah Putra, kini telah turun melemas, seraya memeluk tubuh Putra.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2