Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Bangkit Melawan


__ADS_3

Sinta berdiri tepat di hadapan Putra, lalu menodongkan pistol tepat di jidat Putra.


"Apakah kamu tahu, bagaimana rasanya mengharapkan janji yang tak kunjung ditepati?" Sinta tersenyum sinis melirik manik mata Putra.


Putra tidak bisa menjawab ataupun membantah, karena dia sendiri tidak pernah tahu menahu masalah orang tuanya.


"Baiklah! Lupakan masa lalu!" Sinta menurunkan tangan, lalu melangkah menuju sebuah almari di ruangan tersebut. Sinta mengambil tumpukan kertas lalu kembali menuju tempat Putra duduk. Sinta melempar kertas tersebut di meja, tepat di depan Putra.


Putra yang semula menunduk, mengangkat wajah, mencoba melirik pada tumpukan kertas yang berada di depannya.


Sinta perlahan duduk pada kursi yang berhadapan dengan Putra.


"Silahkan tanda tangan di sini!" Sinta menunjuk tempat untuk Putra tanda tangani di lembaran itu, kemudian menaroh bolpoin di atas kertas.


"A-apa, maksudnya i-ini?" Putra bertanya-tanya, tentang apa yang diinginkan oleh wanita di hadapannya.


"Silahkan baca! Jika tidak mau, silahkan langsung tanda tangan." Sinta menyilangkan kedua lengan di dadanya.


Putra penasaran dengan keterangan di kertas itu, dia mencoba membaca untuk mengetahui maksud dari Sinta.


Putra membulatkan matanya kala mengetahui isi dari lembaran-lembaran penting di depannya.


Dari mana dia mendapatkan?


Putra tidak menyangka, jika seluruh harta orang tuanya telah beratasnamakan dirinya, hanya tinggal memberi coretan di bawah namanya, maka semua harta itu langsung menjadi hak miliknya. Namun sayangnya, ada selembar kertas yang juga telah menanti, yakni surat pernyataan pengalihan hak kepemilikan harta kekayaan beratas nama Sinta. Putra tidak menyangka jika Sinta benar-benar ingin merebut seluruh harta orangtuanya.


"Apa kamu terkejut? Aku hanya minta kamu tanda tangan, untuk mengalihkan semua harta milik Smith dan Lauren berpindah kepadamu! Setelah itu, kamu harus menyerahkannya kepadaku! Hahahaha..."


Sita menatap tajam wajah Putra, kemudian tertawa terbahak-bahak, ada seribu kebahagiaan atas kemenangan yang ia sedang rasakan.


Sinta memang telah merencanakan semuanya. Bertahun-tahun dia merayu Semith dan Lauren, untuk mewariskan semua harta kepada Putra, karena Putra adalah anak tunggal penerus keluarga Semith. Namun di balik itu, ada sejuta rencana busuk yang tengah ia rencanakan. Kini, dia sedang menjalankan akhir dari rencana yang telah lama ia lakukan, dan tinggal menunggu hasilnya.


Sinta merasa senang, saat mendengar kabar jika Semith kecelakaan di Jepang, lalu Lauren pun menyusul ke sana untuk menjenguk suaminya.


Vokum Off Pawwer. Sinta menyebutnya demikian. Saat Semith dan Lauren tidak berada di Indonesia, adalah waktu yang tepat untuk meluncurkan peluru misinya, yang telah ia simpan selama bertahun-tahun, dan kini telah tiba waktunya.


Berkat kelincahannya dalam bergaul di dunia hitam, dia bisa dengan mudahb menemukan orang bayaran, untuk masuk kedalam rumah Semith, dan mengambil berkas-berkas yang ia butuhkan. Salah satunya adalah Putra, aset paling berharga dalam misi tersebut.


Orang-orang bayaran Sinta memang bisa diandalkan, dengan cepat mereka menyusup, setelah berhasil membunuh penjaga rumah Semith, tidak terkecuali mbak Sri, sang pembantu muda di rumah tersebut.


Setelah membersihkan mayat mereka, orang suruhan Sinta menggeledah isi rumah megah berlantai tiga itu, lalu membawa berkas yang dibutuhkan, bahkan mereka dengan mudah, berhasil membawa Putra ke hadapan orang yang membayarnya.

__ADS_1


Mereka sengaja menggunakan seragam kepolisian, untuk mengelabuhi kecurigaan orang sekitar.


"Ka-kamu...." Putra menatap wajah Sinta geram, namun apalah daya, dikondisi yang seperti ini, Putra hanya akan menjadi segumpal daging tak bernyawa, jika ia berani melawan.


"Hahahaha.... " Sinta tertawa puas, lalu menatap tajam mata Putra. "Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu, TUAN MUDA!" sorotan matanya bak harimau lapar dan haus akan darah, dia nampak seperti manusia tanpa rasa dan hati. Putra bergidik ketakutan, lalu menundukkan kepala


"Jika kamu tidak mau melakukannya, maka pistol ini yang akan memaksa." Sita meraih gagang pistol dari balik bajunya, lalu mengangkat setara wajah dan meniup ujung pistol, kemudian melirik ke arah Putra.


Lebih baik aku menurutinya, setidaknya aku bisa berharap, jika hari esok aku masih bisa melihat sinar mentari.


Putra tidaklah keberatan jika harus hidup miskin, dan kehilangan semua harta yang akan menjadi miliknya. Ia berpikir, jika ia masih bisa hidup, itu sudah lebih dari cukup, mengingat semua pekerja di rumahnya telah menjadi mayat.


Putra segera melakukan apa yang diingin sekretaris kepercayaan mamanya, dan untuk setelahnya, dia tidak tahu langkah apa yang akan diambil.


Bukan cuman butik tempatnya bekerja yang Sinta ambil, coffe shop, rumah beserta isinya, kendaraan, bahkan perusahaan milik Smith pun dia incar. Sinta benar-benar merampas habis harta milik keluarga Semith.


"Di ma-mana mamaku?" putra mendongakkan kepalanya saat akan menandatangi pengalihan butik mamanya.


Putra yakin, kalau Sinta ada kaitannya dengan kepergian orang tuanya, jika tidak, mana mungkin Sinta berani melakukan aksinya.


"Ayahmu kecelakaan di Jepang, dan beberapa jam yang lalu telah menjadi bangkai tak bernyawa, sedang mamamu...." Sinta melirik Putra lalu tersenyum dingin. "telah menyusul ayahmu ke alam baka,"


Mata Putra terbelalak tidak percaya, ribuan kesedihan menyeruak di dalam hati meronta, menangis pun tiada guna. Jantung Putra berdesir hebat, bagai tersambar petir di siang hari, kesedihan yang paling mendalam ia rasakan, saat mendengar orang tuanya telah tiada, apalagi dengan ucapan yang tidak pantas untuk dikeluarkan.


"Bruak!" Putra mengamuk, dia tidak terima atas kalimat yang barusan ia dengar, Putra membalikkan meja di depannya.


Keluarga Putra memang tidak ada kata harmonis di dalamnya, namun keluarga, tetaplah keluarga. Sedingin apapun, secuek apapun, sebenci apapun kita kepada orang tua, pasti ada rasa tidak rela, saat mereka meninggalkan dunia.


Putra tidak pernah merasa marah, semarah ini. Meski sering mendapat perlakuan buruk dari orang lain, ia hanya pasrah menerima. Namun kali ini beda cerita. Putra berdiri lalu menghampiri Sinta degan tubuh yang bergetar.


Sinta haya diam, dia sedang duduk manis melihat tingkah Putra, bahkan bibirnya tersenyum lebar menanggapi amarah Putra.


Putra hendak memenyambar kerag baju Sinta, namun Sita dengan mudah menepisnya, lalu menjegal kaki Putra yang berada di depannya. Putra pun langsung jatuh tersungkur di depan Sinta.


"Dor!" Satu tembakan pistol melayang, kaki kiri Putra berlubang tertembus peluru.


Putra hendak bangkit untuk menghajar wanita iblis itu, "Dor!" namun Putra tidak bisa bangkit, karena tangan kirinya pun telah berlubang akibat peluru pistol Sinta selanjutnya.


Sinta menginjakkan kakinya di punggung Putra, lalu menendangnya, sehingga tubuh Putra berbalik, telentang.


Perlahan Sinta berdiri. Setelan jas hitam, Rok mini yang hanya sejengkal, dengan kacamata hitam yang ia kenakan, Sinta nampak wanita ****** yang penuh ambisi.

__ADS_1


Sinta berhenti melangkah saat berada di dekat tubuh yang terkulai lemas di lantai, Putra hanya bisa mengernyitkan dahinya menahan sakit pada jiwa dan raganya. Bukan hanya sedih yang ia rasakan, namun badan yang terasa remuk pun jadi pelengkap penderitaan.


Sinta berdiri di samping leher Putra, lalu satu kaki melangkahi leher Putra. Sinta memamerkan anunya yang tidak tertutup CD, dia memang benar-benar wanita ****** yang tidak berkemanusiaan.


"Ini adalah balasan, atas apa yang ayahmu lakukan padaku!" Sinta duduk berjongkok di atas dada Putra, dengan posisi seperti ini, anunya terlihat jelas karena tanpa penutup apapun.


Putra mengalihkan pandangan, karena merasa jijik dengan wanita yang bera di atas tubuhnya.


Sinta mencengkram rahang Putra, lalu membuka paksa mulutnya.


"Jika tidak mau menandatanganinya, lebih baik kamu menyusul orang tua dan pekerja di rumahmu itu."


Sinta memasukkan pistol kedalam mulut Putra, lalu menekan pelatuk untuk mengeksekusi Putra.


"Em...! Emm....! Em...!" Putra menggelengkan kepalanya, dan tangan kanannya menepuk lantai berulang kali. Sinta lalu menarik pistol dari mulut Putra, seakan memberi kesempatan untuk berbicara.


"Bagaimana? Apa kamu mau berubah pikiran?" Sinta tersenyum sinis menatap wajah tak berdaya, yg kini berada di bawah tubuhnya.


"Ba-baiklah! Sa-saya, akan melakukannya," Putra berbicara terbata.


"Bagus.... Jadilah anak yang Penurut." Sinta berdiri, lalu menyingkir dari atas tubuh Putra, di berjalan hendak menuju kursi tempat duduk.


Rasa perih dan skit ia abaikan, Putra mencoba bangkit dengan satu tangan, lalu melirik patahan kayu dari meja yang tadi dia banting.


Putra mengambil potongan kaki meja, ia bermaksud memukul tengkuk Sinta, dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, mungkin melawan adalah jalan satu-satunya. Putra tidak terima atas ucapan Sinta yang mengatakan orang tuanya telah menjadi bangkai.


Sinta berjlan santai membelakangi tubuh Putra, dia tidak menyadari apa yang akan Putra lakukan.


Jika aku bisa mengenai tepat sasaran, ini akan mengakhirinya. Aku yakin dia akan terkapar, lagian dia hanya seorang wanita.


Putra berjalan pincang mendekati tubuh Sinta, potongan kayu telah diangkat tangan kanannya, ia telah siap menyerang wanita iblis itu,Putra mengincar tengkuk yang merupakan kelemahan manusia.


.


.


.


.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen, dan vote. Jika ada typo mohon dikoreksi.


__ADS_2