
"Pokok nya, secepatnya, kalian harus nikah!" bentak Lily.
Lily hanya ingin yang terbaik untuk adik nya, ia tidak mau, jika sampai terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Nikahkan aja! Bodoh amat!
Masa remaja, biasa manusia akan mengalami masa puber, dimana hormon mulai berkembang. Terkadang, ada yang mengalami masa puber berlebihan, sampai ingin menikah, tanpa harus memikirkan kehidupan setelah menikah, atau masa depan nya. Begitulah Erly berpikir, ia tidak berpikir panjang ke depan nya, kalaupun hidup bersama bisa bahagia, mau gimana pun, di mana pun, ia akan bersedia.
Putra terdiam, menundukkan kepala, selain usia yang masih dini, status pelajar juga menjadi pertimbangan, untuk mengambil keputusan.
Merasa geram, karena tidak ada jawaban, Lily, menarik kasar lengan adiknya, membawanya masuk ke dalam rumah. Putra hanya diam, menatap punggung mereka. Karena merasa khawatir dan bersalah, Putra pun beranjak, mengikuti mereka, masuk ke dalam rumah.
*******
"Pokoknya kalian harus cepat nikah! Aku tidak membutuhkan alasan, untuk penolakan." Lily, membawa adik nya masuk ke dalam kamar.
"Biar pun kakak, nggak pakai marah marah, aku juga mau kok, nikah sama Putra. Wleek." Erly menjulurkan lidahnya, menatap wajah kakak nya.
"Erly! Kamu yah! Kamu itu masih pelajar. Kamu itu harus sekolah yang bener! Biar suatu saat, kehidupanmu itu tidak menderita!" Lily kesal, karena atas jawaban adik nya, yang malah bersedia menikah.
Lily sebenarnya hanya ingin mengancam, berharap adiknya takut, lalu menjauhi Putra, dan hanya fokus untuk sekolah, sebagaimana mestinya, hingga lulus dengan bangga, agar masa depan nya menjadi lebih baik. Mengingat, mereka telah lama, hidup menderita, faktor ekonomi.
"Emang kalau masih pelajar kenapa? Lagian di novel novel itu, banyak tuh, yang menikah muda. Kalaupun masalah bahagia dan tidak nya, tergantung, bagaimana kita menyikapi kehidupan ini," ucap Erly, seakan malah ingin segera menikah.
"Ini dunia nyata Er! Pikirkan masa depan mu! Jangan terlalu menghayal, dengan otak kosong mu!" Lily menunjuk jidat adik nya.
"Emang kenapa? Kakak pikir, kehidupan kakak sudah benar? Kakak malah mengotori tubuh, hanya demi harta benda," Erly mengungkit, status kakak nya.
"Erly!"
Rasa geram tidak lagi tertahankan, "Plak," hingga tangan Lily, mendarat di pipi adik nya, ia menampar, karena Erly menyinggung pekerjaan nya. Erly memegangi pipi nya, yang terasa perih.
"Asal kamu tahu! Semua ini demi kamu!" Lily menunjuk jidat adik nya, "Kamu pikir aku bahagia, dengan kondisi seperti ini? Kamu pikir aku senang, menjual tubuhku pada lelaki belang? Kamu pikir aku tidak menderita? Aku ngelakuin ini semua, demi kehidupan kita, demi kelangsungan hidupmu, demi menyekolahkan mu, agar kamu kelak, menjadi wanita berkarir yang sukses! Bukan malah jadi wanita berpikiran dangkal seperti ini." Lily menatap tajam wajah Erly, kobaran api telah menyala dalam sorot pandang mata nya, pipi nya pun terlihat memerah, menahan amarah.
Mungkin ini, adalah hal yang wajar, ketika terjadi pada keluarga, atau saudara kalian. Karena selain usia, mereka masih sama sama pelajar, tentu masalah ekonomi, akan menjadi pertimbangan paling utama, karena orang hidup berumah tangga, tidak cukup, hanya dengan cinta. Rumah tangga itu membutuhkan banyak biaya.
Erly beralih menatap kakak nya, "Kak, aku mau kok, hidup menderita, asal bisa selalu bersama Putra," jawab Erly dengan polosnya.
__ADS_1
Memang sifat mereka begitu berbeda, bertolak belakang, atau berlawanan. Begitupun dengan cara pola berpikirnya, Erly tidak seperti kakak nya, yang memikirkan segala sesuatu, sebelum mengambil keputusan. Erly hanya memutuskan apapun itu menurut perasaan, kalau perasaan nya menginginkan, dia akan lakukan, kalau perasaan nya tidak, maka ia akan menolak. Begitulah Erly, lebih suka menggunakan perasaan daripada pemikiran.
Sebenarnya Lily sangat marah, andai bukan adiknya, mungkin ia akan membuat tulang, orang di depan nya patah. Namun ia jadi merasa gemas, saat adik nya, mengikuti kemauannya, dengan begitu polos nya.
"Erly! Iiih.... Argh!" Lily mengepalkan tangan di depan wajah adiknya, lalu berteriak keras, sambil menghentakkan tangan nya yang terkepal. Ia sangat merasa gemas, marah, jengkel, tapi tidak bisa mengekspresikan nya.
*******
Putra, menguping pembicaraan mereka, dari luar ruangan, di balik pintu.
Bukan hanya Erly yang mempunyai pikiran pendek, ternyata Putra juga demikian, Le-lebih baik, aku menikahinya. La-lgian, dia itu peduli sama aku, se-selalu mengerti perasaan ku, sel-selalu ada untuk ku. Tidak seperti ayah, dan mama ku. Putra menguping, sambil berpikir.
Putra melihat tempat sekitar, lalu berhenti saat mendapati ponsel yang tergelak, di atas meja, di ruangan itu. Putra pun segera beranjak, berinisiatif mengambil ponsel tersebut.
Karena ponsel tidak menggunakan kode keamanan, jadi Putra dengan mudah menggunakan nya.
Setelah menekan beberapa angka, Putra menekan ikon hijau, untuk menghubungi seseorang.
"Halo!" sapa seseorang dari seberang telepon, saat sambungan telepon terhubung.
"Tuan muda? Halo Tuan muda, apa kabar? Selama ini, Tuan muda ke mana saja? Kenapa tidak ada kabar?" orang yang berbicara dengan Putra, begitu antusias, saat mengetahui, Putra yang menghubunginya.
"Jangan panggil aku Tuan muda. Semua harta orang tuaku, telah berpindah tangan ke orang lain, dan tidak ada kaitan nya dengan ku," Putra berbicara tegas.
"Ba-baik Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Bagaimana cafe dan tambang batu bara yang kamu kelola?" tanya Putra.
"Semuanya berjalan lancar Tuan. Perusahaan semakin berkembang pesat, sekarang telah membuka beberapa cabang, di pulau yang berbeda, di Indonesia. Ini akan bisa menyaingi, Perusahaan keluarga Wijaya, milik ayah Tuan." ucap seseorang menjelaskan.
"Bagus kalau begitu. Aku membutuhkan bantuan mu. Tolong Carikan beberapa cincin berlian, untuk pernikahan, secepatnya. Bawakan serta, kartu ATM milik ku." Putra, langsung mematikan sambungan telepon, setelah memberi tahu pada orang kepercayaan nya.
Setelah mematikan telepon, Putra membuka aplikasi WhatsApp, lalu mengirimkan alamat pada orang kepercayaan nya. Putra segera menghapus riwayat panggilan, pesan di WhatsApp, serta nomor orang tersebut, lalu kebali meletakkan ponsel di atas meja.
*******
Di balik penampilan yang cupu, Putra bukanlah anak biasa, seperti pada umumnya. Putra, menabung uang jajan yang diberikan orang tuanya, semenjak ia masih sekolah, di Taman Kanak Kanak, lalu membuka nya di saat ia lulus Sekolah Dasar.
__ADS_1
Mungkin bagi kita, uang jajan tidaklah seberapa. Namun perlu di ketahui, bahwa orang tua Putra, merupakan orang terkaya di negri ini.
Karena orang tua Putra selalu sibuk dengan pekerjaan, maka mereka menggantinya dengan memberikan apa pun yang Putra inginkan. Uang jajan Putra sehari, tidak kurang dari Rp. 1000,000. Bahkan, di ulang tahun nya yang ke-12, Putra mendapatkan hadiah villa dari ibunya, yang telah resmi atas nama Putra.
Ada pepatah mengatakan, kalau buah jatuh, tidak jauh dari pohon nya. Mungkin itu pribahasa yang tepat untuk Putra. Dari cicit, kakek, nenek moyang Putra, semua adalah pengusaha sukses di usia muda, dan ini terus menurun sampai ke Putra. Ia menggunakan uang hasil tabungan nya, untuk membuka usaha sebuah cafe, dan selalu menabung hasilnya, tanpa menggunakan nya.
Hasil tabungan selama 6 tahun lebih, ternyata tidak sia sia, setelah cafe berhasil ia kembangkan, setahun kemudian, Putra berencana mendirikan perusahaan. Putra mendirikan sebuah perusahaan, dibantu oleh seseorang, yang sebelumnya bekerja sebagai kariawan di perusahaan ayah nya. Bermodalkan sisa tabungan, penghasilan cafe, dan meminjam uang di bang, dengan villa sebagai jaminan nya, ternyata cukup untuk modal, mendirikan sebuah Perusahaan.
Berkat kemampuan yang dimiliki orang tersebut, Putra berhasil mendirikan Perusahaan manufaktur, pengolahan batu bara. Namun setelah Perusahan berjalan stabil, Putra tidak pernah lagi menghubungi orang tersebut, ia mempercayakan semuanya pada orag kepercayaan nya itu. Hal ini pun tidak ada yang mengetahui, selain mereka berdua. Semuanya bersifat rahasia.
****
Sepertinya, Putra berniat menikahi Erly. Itu terbukti dengan keseriusan nya, hingga menghubungi orang kepercayaan nya, yang sebenarnya, tidak ingin ia hubungi, samapai dia selesai menempuh pendidikan, di bangku perkuliahan.
Ap-apakah ini, tidak terlalu cepat?
Putra berjalan, mendekat ke arah dinding penyekat ruangan, berinisiatif, kembali menguping pembicaraan Lily dan Erly.
*******
"Kamu tahu? Hidup ini butuh banyak biaya. Dan kamu, mau menikah di usia sekarang, dengan pria yang belum bisa bekerja, bahkan, belum bisa mengurus dirinya sendiri." Lily masih saja memarahi adik nya.
"Emang kenapa? Kita saja, yang hidup dari kecil, tanpa ada orang tua yang membiayai, ternyata bisa. Aku tahu, kalau Putra, pasti orag yang tepat, untukku," ucap Erly penuh percaya diri.
Lily semakin geram, mendengar bantahan adiknya, "Itu semua karena Aku! Gue yang bekerja keras banting tulang, hingga mengorbankan diriku sendiri! Apa kamu lupa? Hah! Loe pikir, loe akan bisa hidup, tanpa gue?!" nada bicaranya semakin meninggi, ia benar benar marah pada adik nya.
"Bisa. Aku yakin bisa hidup tanpa kakak. Namun aku ragu, untuk tetap bisa hidup, tanpa ada Putra di sampingku," ucap Erly dengan santainya.
"Apa?" Apa loe pikir, selama ini yang memberimu makan, yang memberimu uang jajan, yang membiayai sekolah adalah Putra? Huh? Loe itu cuman gadis kecil yang belum bisa apa apa!" Lily kembali menunjuk kepala Erly, dengan telunjuk jarinya.
"Kehidupan ini tidak ada yang tahu kak. Apa kakak pikir aku jauh lebih muda? Kita seumuran kak, hanya saja kamu lebih cepat beberapa menit dariku. Kita sama sama masih bocah, kita sama sama makan nasi, dan kita, sama sama mempunyai anggota tubuh yang lengkap. Kakak punya otak, aku juga punya, kakak bisa berpikir, aku juga bisa. Begitupun dengan Putra. Jangan memandang enteng orag lain kak," sahut Erly,memperingatkan.
Memang susah ya? Dalam dunia wajar, tidak lah mungkin, anak seusia mereka dinikahkan, dan itulah yang ada di pikiran Lily. Namun Erly berpikir tidak demikian. Entah apa yang membuatnya seperti ini, namun ia yakin, jika akan hidup bahagia, bersama Putra, ia telah siap menikah, meski di usianya yang masih terbilang kurang dari cukup.
Begitulah mereka, meski saudara kembar, namun semuanya berbanding terbalik. Ini yang menyebabkan kakak beradik ini, jarang akur dan damai. Mereka akan selalu bertengkar, berselisih pendapat, dan berdebat. Padahal mereka saudara kembar, namun semuanya bertolak belakang, bisa di sebut kembar tidak identik, meski keduanya sama sama wanita.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1