
"Kamu kenapa?" tanya Erly, dia mendekat ke ranjang tempat Putra dduduk bersandar, lalu duduk pada kursi di samping ranjang.
Putra melihat Erly sekilas, lalu menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kamu mau pulang?"
Putra langsung mengangkat wajahnya saat mendengar pertanyaan tersebut, dia menatap wajah sahabatnya. Nampak kepanikan seketika muncul di wajah Putra yang sembab dan beberapa hiasan luka.
"Kalau bisa kamu tinggal di sini dulu untuk beberapa hari, sampai lukamu benar-benar sembuh," saran Erly, dia juga khawatir kalau ucapannya tadi menyinggung sahabatnya.
Putra mengernyitkan dahinya, dengan panik dia meraba saku di pakaiannya.
"Cari apa?" Erly langsung berdiri, berinisiatif untuk membantunya.
"H-Hp.... "
"Ooh.... tunngu bentar!" Erly beranjak dari tempat duduknya, keluar ruangan, lalu kembali sambil membawa ponsel digenggaman tangannya.
"Nih!" Erly memberikan ponsel tersebut, dan langsung diterima oleh Putra.
"A-apa kamu punya pengecasan?" tanya Putra setelah mengecek keadaan ponselnya.
"Ada kayaknya. Sini biar aku caskan." Erly mengambil kembali ponsel tersebut, bermaksud mengisikan daya batre, kemudian kembali dan duduk pada tempat semula.
"Kamu kenapa?" tanya Erly saat melihat kegusaran di wajah Putra.
"A-aku takut dicari orang rumah.... mungkin mereka sedang mengkhawatirkan aku," Putra nampak begitu gelisah, dia tljuga belum tahu kalau ayahnya telah mengalami kecelakaan, dan ibunya telah menyusul ke Jepang. Putra berpikir kalau keadaan di rumahnya seperti biasanya.
Erly beranjak, berinisiatif duduk di samping Putra, untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Lyk!.... " suara teriakan keras dari kejauhan terdengar sampai ke dalam kamar tempat Erly dan Putra. Erly pun langsung kaget, dan mencari arah sumber suara.
"Lyk!.... "
"Iya ka!...." sahut Erly, dia tahu kalau suara tersebut milik kakak nya.
"Tunngu bentar ya Put.... aku mau nemuin Kaka ku. Kalau kamu merasa ngantuk, tidur aja dulu." Erly langsung beranjak pergi memenuhi panggilan Kaka nya. Putra hanya diam sambil menatap punggung Erly yang kemudian lenyap di balik pintu.
Kalau sampai mereka mencariku gimana? Mana aku belum gabarin mereka.... kalau ditanya nanti.... aku harus jawab apa?
Putra nampak gelisah, dia takut kalau orang rumah mencarinya. Seumur-umur, baru kali ini dia pergi tanpa sepengetahuan orang rumah, tanpa kabar ataupun pesan, sudah pasti dia sangat takut dengan situasinya saat ini.
Putra bermaksud mengecek ponselnya, berharap ada sisa daya untuk menghidupkan, meski hanya untuk mengabari orang rumah.
"Brugh!"
"Putra...." Erly langsung berlari kearah sahabatnya, karena bersamaan waktu Putra jatuh, Erly masuk kedalam ruangan.
"Kamu kenapa?" Erly panik memegangi tubuh Putra yang jatuh lemas di lantai.
"A-aku.... aku pusing," Putra memegangi kepalanya yang terasa keram, sedang kakinya terasa berat, sehingga sulit untuk digerakkan.
"Ya udah, aku bantu ya," Erly langsung membantu Putra berdiri, lalu membantu untuk kembali naik ke atas ranjang.
"Kamu mau kemana? Kenapa turun dari ranjang?" Erly menatap penuh selidik ke wajah Putra.
"A-aku.... mau ambil ponsel. A-aku belum ngabarin orang rumah. A-aku takut mereka menghawatirkan keadaanku." Putra tertunduk sambil meremas bajunya.
__ADS_1
Sejak kapan bajuku diganti?
Putra baru sadar, kalau pakaiannya sudah diganti.
"Anu...."
"Apa?" tanya Erly sangat antusias.
"Si-siapa yang mengganti pakaianku?" tanya Putra ragu-ragu.
"Nggak tahu. Mungkin Kaka ku, sepertinya ini baju milik Kaka," Erly memang tidak tahu, karena dia sendiri tersadar, setelah berada di dalam rumah, dalam keadaan tertidur di atas ranjang kamarnya, dan saat mengecek keadaan Putra, pakaian yang dikenakan telah berbeda dari sebelumnya, tubuhnya juga sudah bersih.
Putra pun diam tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
"Bo-boleh minta tolong...." Putra menatap wajah Erly dengan pandangan memohon.
"Apa?"
"To-tolong ambilkan ponselku, aku ingin menghubungi orang rumah,"
"Baiklah." Erly langsung mengambilkan ponsel putra, lalu memberikannya. Putra segera mencari nomor bang Ben, karena dia lebih dekat dengan sopir pribadinya, dibanding orang tuanya sendiri. Ia segera menghubungi sopir pribadinya, setelah memukan nomor ponsel bang Ben.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi! Tut!"
"Coba sekali lagi!" saran Erly, setelah mendengar suara dari ponsel Putra. Putra pun mengikuti saran sahabatnya, namun hasilnya tetap sama, nomor bang Ben tidak bisa dihubungi.
"Coba yang lain!" saran Erly. Putra pun segera mencari kontak orang rumah untuk dihubungi.
"Tuuut.... tuuuut.... tuuut.... "
"Ti-tidak diangkat," Putra tertunduk lemas karena panggilannya tidak tersambung.
"Ma-mamaku," jawab Putra singkat.
"Coba sekali lagi! Mungkin mama kamu sedang tertidur," saran Erly. Maklum kalau dia berkata demikian, karena waktu memang sudah larut malam, waktunya orang istirahat.
Putra pun mengulangi panggilannya, namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Coba aja lagi! Ini kan tengah malam, jadi tidak mungkin langsung diangkat."
Putra mengikuti saran sahabatnya, dan berulang kali menghubungi, namun tidak satupun panggilan yang terjawab.
"Coba nomor lain! Mungkin mama kamu kecapean, jadi tidak mendengar suara ponsel berbunyi," Erly tetap menyemangati Putra, agar terus mencoba.
Putra membaca nama satu persatu di daftar kontack, lalu menekan satu kontak yang tertera nama Rumah. Putra menhubungi nomor telephon rumah.
"Tutt... tuut... tuuut.... halo" sapa seorang wanita di seberang telepon, membuat Putra bernafas lega.
"Halo.... selamat malam, dengan saudara siapa? Ini di kediaman Nyonya Lauren. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ha-halo! Ini aku, Putra," Putra segera memberi tahu identitasnya pada orang yang berbicara dengannya melalui ponsel.
"Den Putra! Hiks... hiks... hiks...." orang tersebut langsung terkejut, lalu terisak, setelah mengetahui siapa lawan bicaranya di telephon saat ini.
"Ma-maf.... ini dengan siapa?" tanya Putra balik, dengan suara sedikit lemah, karena kondisinya masih belum membaik.
"Ini mbak Sri, Den.... hiks... hiks... hiks... Den Putra kemana saja? Kami mengkhawatirkanmu. Hiks... hiks... hiks..." mbak Sri memang masih terjaga, karena dia sangat mengkhawatirkan tuan mudanya, dan saat mendengar telephon rumah berbunyi, mbak Sri langsung lari ke tempat telepho, lalu mengangkat mengangkatnya.
__ADS_1
"Ma-maaf mbak.... Put-putra tidak bilang dulu sama orang rumah. Sa-saya sekarang di villa," ucap Putra berbohong.
"Den Putra pergi ke villa? Sendirian? kenapa tidak pulang dulu dan minta antar bang Ben? Den Putra sudah makan? Den putra baik-baik saja kan?"
Mbak Sri langsung membombardir pertanyaan, setelah mendengar penjelasan dari tuan mudanya, dia tahu kalau villa yang di maksud adalah villa milik Putra. Villa tersebut di bangun atas permintaan Putra, dia suka pergi ke sana saat liburan sekolah, dan kadang menginap sampai beberapa hari. Namun ditemani oleh sopir pribadinya, bang Ben, dan bik Inah, sebagai juru masaknya.
"I-Iya mbak Sri, aku ingin tinggal di sini untuk beberapa hari, tolong beritahu mama ya mbak. Sa-saya baik-baik saja, jadi bilang sama bang Ben, supaya tidak menyusul," Putra berbohong, agar orang rumah tidak mengkhawatirkannya.
"Iya Den, nanti mbak sampaikan, tapi...." mbak Sri ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Ta-tapi apa?" tanya Putra antusias.
"Tapi.... Nyonya sedang tidak ada di rumah Den. Nyonya pergi ke Jepang menyusul tuan. Tuan kecelakaan Den...." dengan ragu-ragu,mbak Sri mengatakan apa adanya.
"A-apa? Ayah kecelakaan?!" meski keluarga Putra tidaklah senormal keluarga yang lain, namun namanya ayah, tetaplah ayah. Seorang anak pasti akan bersedih, saat mendengar orang tuanya kecelakaan. Tidak ada manusia di dunia ini, yang mampu menahan rasa sedih, saat keluarganya dalam situasi tersebut, meskipun hubungannya tidak begitu dekat dan harmonis.
Keluarga ataupun saudara, terkadang memang sering tidak akur, namun lain ceritanya saat kondisi sedang tidak baik. Terkadang saudara itu tega di saat sehat, namun tidak tega di saat sakit. Terkadang tega di saat sakit, namun tidak akan tega, di saat telah tiada. Namanya keluarga, tetaplah akan ada rasa keterikatan, apalagi sosok seorang ayah, siapa sih yang ingin orang tuanya celaka? Kan tidak ada.
Mungkin banyak permusuhan antara anak dan orang tua yang terjadi, namun itu akan sia-sia, karena hanya akan meninggalkan sedih, luka, rasa bersalah, dan penyesalan, saat orang tua telah tiada. Yah... meskipun itu, orang tua yang salah.
"Tut, tut, tut..."
"Den.... Den Putra!...." mbak Sri bingung sendiri, saat sambungan telephon terputus secara tiba-tiba.
"Waduh! Kenapa saya bilang seperti itu! Kalau Den Putra syok dan terjadi sesuatu gimana nih... " mbak Sri menggerutu sambil menepuk jidatnya sendiri, setelah menyadari apa yang diucapkan. Semestinya hal tersebut tidak terucap.
Mbak Sri mencoba menghubungi nomor Putra, namun nomornya sudah tidak aktif. Namun dia tidak menyerah, mbak Sri kembali menghubungi Putra, tapi hasilnya sama saja. Akhirnya dia menyerah, setelah mencoba berulang kali, dengan hasilnya yang sama, nomor Putra sudah tidak bisa dihubungi.
"Gimana Nih!" setelah menaroh telephon rumah pada tempatnya, mbak Sri mondar-mandir kebingungan, dia panik mengkhawatirkan tuan mudanya.
"Bang Ben! Aku harus menghubunginya." mbak Sri segera mengambil ponsel di sakunya, setelah berpikir apa yang harus ia lakukan.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan. Cobalah, beberapa saat lagi!"
"Lah! Kok nggak bisa dihubungi sih!" gerutu mbak Sri kesal, dia pun mencoba kembali menghubungi bang Ben, namun hasilnya tetap sama.
Mbak Sri semakin kesal, setelah berulang kali mencoba, namun yang menjawab hanya suara merdu dari sang operator. Mbak Sri pun mengurungkan niatnya, dia memasukkan ponsel kedalam sakunya kembali.
"Aku nggak bisa tinggal diam! Den Putra butuh seseorang saat ini!" mbak Sri bermaksud pergi ke Villa, menyusul tuan mudanya. Dia tahu tempat tersebut, karena Putra pernah mengajaknya ke sana, beberapa waktu lalu.
"Dor! Dor! Dor!" suara letusan tembakan, terdengar berulang kali, di halaman depan. Mbak Sri sempat kaget, kemudian penasaran dengan apa yang terjadi. Mbak Sri melangkah, berinisiatif melihat apa yang telah terjadi di depan rumah mewah, yang kini hanya ada dia dan kedua security penjaga.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Hay para readers tercinta!😘 Maaf kalau saya jarang up. Mohon dukungannya, meski hanya like, komentar dan vote.🤗
Jangan lupa mampir juga ke novel Cinta Bersemi di Ujung Musim, dan Nyanyian takdir Aisyah, karya Fitri Rahayu.