Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Bocah Mesum


__ADS_3

"Dor!"


Suara letusan pistol, memenuhi seluruh ruangan. Setelahnya, tidak ada lagi suara yang terdengar, yang ada hanya keheningan.


Bram beranjak dari tempatnya, hendak keluar dari ruangan. Setelah membuka pintu, nampak dua orang pria bertubuh kekar, mereka adalah penjaga ruangan, ke-duanya langsung membungkukkan badan, saat melihat bos mereka keluar dari ruangan.


"Bawa tubuh wanita di dalam, ke ruang bawah tanah, bersihkan tubuhnya, obati luka-lukanya, kenakan ia gaun terbaik, lalu masukkan kedalam peti! Masukkan ia dalam ruangan 209!"


"Baik Bos!"


Setelah memberikan perintah, Bram melanjutkan langkahnya, menuju ruangan pribadinya.


Bram merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel, ia hendak menghubungi seseorang.


"Perintahmu sudah aku laksanakan Tuan! Aku sudah membereskan wanita itu," Bram langsung bicara pada intinya, saat sambungan telepon terhubung.


"........."


"Terimakasih Tuan!" Bram pun mengakhiri sambungan telepon, lalu mengantongi ponselnya kembali.


*******


Waktu menunjukkan 04:04 dini hari, Lily baru sampai di rumahnya, ia segera membuka pintu, lalu masuk kedalam kamarnya.


"Lelah banget rasanya.... badan gue gerah banget," Erly segera menyambar handuk, lalu masuk kedalam kamar mandi, ia akan membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, ia pun keluar dari dalam kamar mandi, dengan keadaan tubuh yang segar bugar.


"Heem... seger banget. Kok jadi laper yah, nih perut!" Lily megangi perutnya yang terasa keroncongan. Ia pun segera memakai baju, dan merapikan rambutnya.


"Lyk! Buka pintunya dooong...." Lily berteriak memanggil adiknya, karena ia sudah mengetuk pintu berulang kali, namun tidak ada respon. *Tumben banget dia mengunci pintu,*


Karena pintu tidak kunjung dibuka, Lily pun membalikkan badan, beralih ke tempat lain.


"Kreeek...." Lily bermaksud menengok Putra, untuk melihat kondisinya.


"Kampret! Bocah tengik! Pantes aja, pintu kamar dikunci," Erly menggelengkan kepala, saat melihat adiknya sedang berada di dalam kamar Putra.


*******


Setelah tertidur cukup lama, tubuh Erly tergeser, ia tidur di samping Putra, namun masih tetap memeluknya. Bahkan, kini kaki satunya telah melingkar, menindih tubuh Putra.


"Anak kurang ajar! Aku suruh gantiin bajunya, malah cuman dilepasin doang. Dasar bocah mesum!" Erly mendekat pada mereka, ia berdiri tepat di samping ranjang.


*Ini selimut, ngapain ada di bawah? Pasti ulah bocah satu nih! Bocah idiot! Tidur kek rusa,* gerutu Erly kesal, saat melihat selimut yang tergeletak di lantai.


Lily terus mencibir adiknya, ia mengira bahwa adiknya sengaja tidur bersama putra. Sebenarnya Lily ingin sekali membangunkan adiknya, dan memarahinya, namun ia takut mengganggu ketenangan Putra. Lily juga tidak tega mengusik tidur adiknya, yang terlihat begitu pulas.


Erly mengambil selimut yang berada di lantai, lalu menyelimuti mereka berdua.


"Awas aja besok pagi loe! Anak kampret! Udah berani tidur sama pria! Gue nikahin, baru tahu rasa Lo!"


Erly menggerutu kesal, karena adiknya yang terlihat polos selama ini, sudah berani tidur dengan pria, ia berinisiatif menikahkan adiknya, sebelum terjadi sesuatu yang lebih dari itu.


Setelah cukup lama di ruangan tersebut, ia pun memutuskan keluar. Erly berjalan menuju dapur. Sebenarnya, ia tadi ingin meminta adiknya, untuk memasak untuknya, namun ia tidak tega, saat melihat adiknya yang begitu nyaman berada dalam dunia mimpi.


*Masak apa gue? Gua kan nggak bisa masak!* Lily bingung harus memasak apa? Karena ia sendiri tidak pernah memasak, selama ini, hanya adiknya lah yang memasak.

__ADS_1


"Bodoh amat! Yang penting matang, pasti bisa dimakan," Lily pun memasak alangkadarnya.


Setelah matang, ia menyantap hasil karyanya sendiri, *Kok nggak enak sih? Mana ada rasa pahit-pahitnya lagi?!* meski tidak terasa enak, karena hasil masakan sendiri, akhirnya Lily memakannnya. Setelah perutnya terisi, ia membereskan sisa makanan, lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


*******


Waktu semakin bergerak, langit yang semula gelap, kini sedikit terang, di ufuk timur telah nampak cahaya kemerah-merahan, menandakan sang mentari akan muncul.


Putra mulai membuka matanya, ia mengernyitkan dahi, saat merasakan sakit di bagian kepala, ia hendak meraba kepalanya, namun akhirnya ia urungkan. Putra tidak jadi mengusap kepalanya, karena tidak bisa menggerakkan lengannya. Putra penasaran, apa yang menahan lengannya, sehingga tidak bisa digerakkan.


Betapa terkejutnya Putra, saat mengetahui bahwa ia sedang dipeluk oleh seorang wanita, ia pun menoleh ke samping, melihat siapa yang kini ada di sampingnya, *Erly?* Putra menatap heran, melihat sahabatnya tidur bersamanya.


*Kenapa dia bisa tidur di sini?* Putra menatap lekat wajah sahabatnya.


Beberapa saat lamanya, Putra masih saja menatap wajah Erly tanpa berkedip. Perlahan, ada rasa aneh yang timbul dalam tubuhnya.


*Kamu lebih cantik, saat sedang tertidur,* Putra meniup wajah Erly, seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sahabatnya.


Erly terbangun dari tidurnya, saat merasakan hembusan angin di wajahnya, namun ia enggan untuk membuka mata.


Beberapa saat kemudia, Erly merasakan hal yang aneh, ia merasa asing dengan tempat tidurnya. Sebelum sempat ia membuka mata, ia mengernyitkan dahi, saat merasakan ada benda yang bergerak di bagian bawah pahanya.


Karena penasaran, ia meraba di bagian bawah pahanya. Erly semakin merasa heran, saat memegangnya. *Ini apaan yah? Gulingku kok ada tonjolannya? Benda apaan yah?*


Erly masih belum sadar, kalau ia tidur memeluk Putra, sedang salah satu pahanya menindih tubuh sahabatnya, tepat di atas otongnya Putra.


Putra merasakan jantungnya semakin berdetak cepat. Perasaan aneh semakin menguasai otaknya, kala Erly meremas ***********, hingga membuat dirinya menegang.


Erly penasaran dengan benda yang ia remas-remas dari tadi, perlahan ia mulai membuka matanya.


"Argh!" Putra berteriak, karena Erly semakin meremas otongnya dengan kuat.


Erly mengangkat wajah nya, saat mendengar teriakan dari samping telinganya.


"Putra?!" Erly langsung loncat dari atas ranjang, menjauh dari tubuh Putra. "Haaaa!" Erly segera menutup matanya, saat melihat tubuh polos Putra.


Putra mengernyitkan dahi, melihat ekspresi sahabatnya, lalu ia melirik ke sekujur tubuhnya.


"Haaah!" Putra terkejut, saat menyadari dirinya tidak memakai baju, ia segera menarik selimut, menutupi tubuhnya sampai ke dada.


"Ka-kmu.... habis apain aku?" tanya Putra dengan nada polosnya.


Erly mengernyitkan dahi, mendapat pertanyaan dari Putra, *Kok malah aku sih?!* ia bingung maksut perkataan Putra.


"Kamu kenapa ada di kamarku? Kenapa kamu tidak memakai baju?" Erly malah balik bertanya.


*Kok malah aku?!* Putra pun bingung mendengar pertanyaan Erly.


"Cepat pakek bajumu!" Perintah Erly, ia masih menutup rapat wajahnya, dengan kedua telapak tangannya.


Putra melihat di sekitarnya, "Ba-bajuku nggak ada," ia bingung harus pakai baju yang mana, masalahnya tidak ada baju di sekitarnya.


Erly mengernyitkan dahi, lalu mencoba mengingat-ingat kembali, kejadian sebelum ia tidur.


*Waduh! Berarti gue yang salah dong? Kan semalam gue yang tertidur, setelah memindahkan tubuh Putra,* gumam Erly, setelah mengingat kembali, kejadian sebelum ia tidur.


Perlahan, Erly membuka mata, "Hehehe...." Erly cengingisan melihat ke arah Putra, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Erly mengambilkan pakain ganti untuk Putra.

__ADS_1


"Nih! Kamu ganti dulu gih!" Erly memberikan pakaian kepada Putra, lalu membalikkan badan, membelakangi Putra sambil tersenyum malu.


*Dia kenapa?* gumam Putra, yang merasa aneh dengan sikap sahabatnya.


Putra segera mengganti celana dalamnya, lalu memakai pakaian yang diberikan Erly, di dalam selimut.


"Udah belum?" tanya Erly, setelah ia menunggu cukup lama. Erly tidak keluar dari kamar, ia hanya membalikkan badan, membelakangi tubuh Putra, menunngu Putra selesai memakai baju.


"U-udah," jawab Putra pelan.


Erly kembali menghadap tubuh Putra, lalu mendekat padanya.


"Maaf.... semalam.... aku yang salah. Aku tertidur, setelah memindahkanmu dari kamar mandi. Abis aku lelah! Badanmu berat banget! Aku tidak sadar, jika semalam, aku masih bersamamu. Abis nyaman banget sih," Erly mengakui kesalahannya, ia meminta maaf pada sahabatnya, atas kecerobohan dirinya.


Putra menundukkan kepala, ia teringat, jika dialah yang telah merepotkan Erly. *Jika semalam aku tidak pingsan, pasti ini tidak terjadi,*


Erly bingung, karena Putra hanya menundukkan kepala, tidak mau berbicara.


"Kamu marah ya?" tanya Erly tanpa basa-basi.


Putra hanya menjawabnya, dengan gelengan kepala.


"Kok kamu diam aja sih? Ini gara-gara aku kok. Maafin aku yah," Erly tahu, jika sahabatnya pasti merasa bersalah. Karean Erly tahu, jika Putra orang yang suka menyalahkan diri sendiri


Perlahan, Erly mendekat pada Putra, duduk di sebelahnya. "Maafin aku yah..." Erly memegang ke-dua lengan Putra.


"Ma-maf..." ucap Putra pelan, ia masih tetap menundukkan kepala.


"Kok malah minta maaf sih.... kan aku yang salah,"


Sebenarnya Erly engggan, untuk berdekatan dengan Putra, karena ia masih canggung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, Erly tahu, jika ia menjauh dari Putra, maka Putra akan semakin merasa bersalah, karena Putra memiliki kelaianan mental, tidak seperti manusia pada umumnya.


Erly mengalah demi kebaikan hubungan mereka, ia menepis rasa malunya, membuang rasa canggungnya, agar Putra tidak terpuruk dengan pemikiran pesimisnya.


"Tunggu bentar yah! Aku mau buatin bubur ayam buat kamu. Kamu pasti sangat lapar." Erly lansung beranjak berdiri, mengambil nampan diatas meja. Ia membawa bubur yang semalam tidak tersentuh, untuk membuatkannya yang baru.


Selang beberapa saat kemudian, Erly masuk sambil membawa semangkuk bubur ayam, dan segelas susu yang masih panas. Erly menarok nampan di atas meja, lalu mendekat pada putra, sambil membawa bubur tersebut.


"Kamu makan yah!" Erly meniup bubur tersebut, lalu mengambilkan sesendok, menyodorkan pada Putra, " Aaaa'..." Erly bermaksud menyuapinya.


Perlahan, Putra membuka mulutnya. Ia menerima suapan Erly, karena merasa tidak enak hati, kalau sampai menolaknya.


"Nah! Gitu dong.... makan yang banyak yah, biar kamu cepet sembuh," dengan telaten, Erly menyuapi Putra, layaknya anak kecil.


Putra tersenyum menatap wajah sahabatnya, Erly pun membalas dengan senyuman pula.


Erly mendekatkan wajahnya pada wajah Putra, dan Putra pun melakukan hal yang sama, sambil memejamkan mata.


"Kalau makan yang bener.... nih sampai belepotan," Erly mengusap ujung bibir Putra dengan ibu jarinya.


Putra membuka matanya, lalu menundukkan kepala.


Erly tersenyum melihat sahabatnya salah tingkah, *Dia lucu. Mudah-mudahan aja, dia nggak ingat, kalau sedang tidak memakai kacamata!Itu lebih baik,*


Erly memang lebih suka, saat melihat Putra, tidak memakai kacamata. Baginya, hal itu membuat Putra, nampak lebih tampan.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2