Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Serangan Dadakan


__ADS_3

"Arrrgh!"


"Erly?" Lily beranjak berdiri, saat mendengar suara teriakan yang tidak asing di telinga nya. Lily yakin, kalau itu, adalah suara adiknya.


Lily segera beranjak dari tempatnya, lalu berlari ke arah pintu keluar rumah, hendak mencari sumber suara berasal.


Meskipun habis bertengkar keras, saling membentak dan berkata kasar, tetap saja Lily merasa khawatir, saat mendengar teriakan histeris, dari adiknya. Karena walau bagaimanapun, Erly masihlah tetap adiknya, bahkan saudara kembarnya.


****


"Lyk," Karena pintu rumah telah terbuka, Lily pun segera keluar, mencari adiknya.


"Lyk..... Erly," Lily terus memanggil nama adiknya, mencari keberadaan nya.


Lily semakin jauh dari rumah, hendak mengelilingi halaman rumah, karena ia belum menemukan sosok adik nya. Karena sibuk mencari adik nya, ia jadi tidak menyadari, kalau banyak pasang mata, yang sedang tertuju pada nya.


"Lyk.... Erly.... kamu di mana sih? Kamu masih marah sama kakak?" Lily terus menyusuri halaman rumah, menuju halaman samping.


"Serang!"


Lily langsung mengambil sikap sigap, saat terdengar suara teriakan seseorang. Lily terkejut, saat melihat banyak orang yang kini tengah mengelilinginya.


Lily mengambil sikap pasang, bersiap untuk menyerang, ataupun diserang. Ia melihat orang sekeliling, yang kini tengah mengepungnya


'Mereka banyak sekali? Apa aku sanggup melwan mereka semua?' batin Lily


Meski ia mempunyai ilmu beladiri, namun ia merasa ragu apakah mampu mengalahkan mereka, karena orang yang mengelilinginya begitu banyak, sedang dia hanya sendirian.


"Serbu...."


Seketika, enam orang maju bersamaan dari setiap sisi yang berbeda.


Lily masih diam, dan saat orang - orang tersebut telah dekat, ia menjatuhkan diri, lalu memutar tubuh menggunakan punggung, sedang kedua kakinya aktif menyerang, hingga beberapa orang tersebut jatuh. Saat salah satu dari mereka hendak jatuh ke arah Lily, ia segera meraih kerah baju orang tersebut, lalu menarik ke bawah, sambil memantulkan tubuhnya menggunakan punggung, hingga tubuh Lily terpental ke udara. Lily melepaskan cengkraman di kerah baju orang tadi, lalu menendang punggung pria tersebut dengan telapak kaki.


"Bruk,"


Orang tersebut jatuh tengkurap, sedang Lily, mendaratkan kakinya di atas punggung pria tersebut, dengan posisi sigap. Enam orang yang menyerangnya telah tumbang, namun enam orang pada lingkaran berikutnya, telah siap menyerang.


"Hiyak!" sebelum diserang, Lily lebih dulu menyerang.


Lily melakukan rolling di udara, lalu me-mentalkan tubuhnya, saat akan menapak tanah, sehingga ia kembali terbang melenting di udara, lalu mendarat pada salah satu orang, yang tadi akan menyerangnya.


Lily, mendaratkan tubuh, pada bahu musuh, kedua tangan telah siap, mencengkram dagu dan kepala bagian atas orang tersebut. Lily kemudian menjatuhkan tubuhnya dan memutar, "Krak," suara tulang leher telah patah. Sedang Lily, telah berdiri membelakangi orang tersebut. Para teman nya pun segera maju, menyerang Lily, namun Lily selalu siap.


Lily, menarik tubuh orang yang telah ia patahkan lehernya, lalu melemparkan ke arah musuh yang hendak menyerangnya, hingga membuat dua orang terpental bersamaan. "Bag, bug, bug, bug," sebelum kedua musuh tadi jatuh, Lily segera meraih kerah baju orang tersebut, lalu menahannya, tetap berdiri di sampingnya.


*Hiyaaak!" Lily memutar kedua orang di tangan nya, layaknya gasing. Setelah terputar, Lily pun melemparnya ke arah musuh, membuat empat orang jatuh ke tanah. Lily pun tidak memberi ampun, sebelum empat orang tersebut bangkit, Lily lebih dulu mendekat, lalu menghajarnya. "Bug, bug, bugh.... hiyaaak! bugh, bug, bug, hiyak.... bug, bug..." keempat orang tersebut pun berhasil ia lumpuhkan.

__ADS_1


Lily kembali mengambil posisi sigap, sambil menarik nafas. Sudah dua belas musuhnya telah berhasil ia lumpuhkan. Namun itu belum seberapa, lingkaran baris berikutnya, juga telah bersiap menyerang.


Tidak jauh dari arena Lily bertarung, ada seorang pria yang sedang menyaksikan aksinya.


'Ternyata, dia cukup kuat. Gue nggak nyangka, kalau dia jago berantem,'


****


"Hiyak!" Lily kembali mulai menyerang, berlari ke arah musuhnya.


"Brug, bug, bug, bugh!"


Beberapa jurusnya, telah berhasil melumpuhkan empat orang berikutnya. Lily pun kembali mengambil posisi sikap, sambil mengambil nafas.


'Gila! Mereka terlalu banyak,' batin Lily.


Meski ia lincah dalam melancarkan serangan, ataupun menghindar, tapi ia juga mempunyai batas tenaga, apalagi dia seorang wanita.


Nafas Lily sedikit tersengal, padahal, ia telah berusaha mengatur ritme nafas, serta tenaga yang ia keluarkan. Mata Lily fokus mengawasi musuh yang mengelilinginya.


"Hiyak!" tiga orang maju secara bersamaan. Lily pun dengan cepat menghindar, lalu melancarkan serangan, saat mendapatkan celah.


"Whus, Whus, brugh, brugh, bregh," setelah berhasil menghindari dua serangan, Lily segera meraih kerag baju orang di depan nya, menarik, menjatuhkan ke tanah, lalu menendang punggung orang tersebut, dengan tumitnya. Lily berdiri, bertumpu pada punggung musuh yang terjatuh, lalu menggerakkan kakinya, menendang musuh di samping kanan, sambil menggerakkan kedua tangan nya yang terkepal rapat, ke arah samping kiri. Tendangan dan pukulan Lily, mendarat tepat, di dada musuh. Sedang tubuh Lily membentuk huruf T, karena kaki kanan bersarang di dada musuh satu, dan kedua tangan menyerang musuh lain, ia berdiri hanya menggunakan kaki kiri.


Karena Lily masih terlihat mampu meladeni musuh - musuhnya, akhirnya mereka mempersempit lingkaran, mendekati Lily. Pergerakan Lily pun semakin sempit, hanya berjarak beberapa tapak saja, dengan musuh - musuhnya.


"Whus... brugh, Whus brugh... Argh!"


Lily memang sangat lincah, Dalam melancarkan serangan ataupun menghindar, namun pergerakan yang sempit, dan serangan yang bertubi - tubi, sangat menguras tenaganya. Lily pun terkena beberapa pukulan, karena kewalahan.


"Whus.... brugh! Argh! Whus... brugh, brugh! Argh," Lily berulang kali mendapat pukulan, karena tenaganya juga sudah mulai terkuras habis.


"Argh! Arrrgh...!" Lily hanya bisa berteriak, karena tubuhnya telah terkancing, kedua tangan nya, telah dicengkeram erat, oleh dua orang yang mengapitnya.


"Akhirnya, kena juga," ucap salah satu orang dari mereka.


"Lepasin gue! Jangan cuma berani main keroyokan!" Lily meronta, namun usahanya sia sia, karena kedua orang yang menahannya cukup kuat.


"Hahhaha.... melepaskanmu?" orang tersebut melihat kearah teman di sekelilingnya, sambil menaikkan alis nya, *Hahahaha...." lalu mereka tertawa bersama.


"Kita tidak akan melepaskan mu, sayang," orang yang berada di hadapan nya, mendekat ke arah Lily, lalu mencengkram rahangnya.


"Le... le... lepas...kan," Lily kesulitan untuk berbicara, karena pria di depannya, mencengkram rahangnya sangat kuat.


Sekuat tenaga ia meronta, sekuat tenaga ia menahan sakit di rahangnya, namun tidak ada tindakan yang berarti. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Hahaha... Hah!" pria di depan Lily, kemudian melepaskan cengkraman nya dengan kasar, lalu tertawa puas.

__ADS_1


Lily menatap wajah pria di depan nya, dengan sorot mata penuh kebencian. Saat pria di hadapan nya melihat teman lain nya, Lily segera menghentakkan kaki ke bumi, lalu meloncat, menendang dada pria tersebut, kemudian melentingkan tubuh ke atas. Kedua kali Lily berada di atas udara, melewati dua pria yang mengapitnya, Lily segera menarik kedua tangan, sehingga terlepas dari cengkraman, lalu menggunakan kedua kakinya untuk menendang punggung dua pria tersebut.


Sebelum tubuhnya terjatuh, Lily telah menyiapkan punggungnya, untuk berbenturan dengan tanah, lalu menghentakkan punggung, membuat tubuhnya kembali terlempar ke atas, seraya memantul. Lily menekuk tubuh, sampai wajahnya mencium lutut, sehingga tubuhnya kembali tegap, sebelum kedua kaki mendarat di tanah, "Hap!" Lily menapak tanah, dengan posisi yang telah memasang sikap.


Lily kembali mengambil nafas, mengatur pernapasan. Ia telah siap, untuk melanjutkan pertarungan.


"Cih! Sial! Dasar wanita tidak tahu diuntung!" ucap pria, yang semula mencengkram rahang Lily, "Serang dia!"


"Hiyak... brugh, brag, brugh!"


Lily berusaha keras, menggunakan tenaganya, untuk menyerang dan menghindar. Terkadang, ia harus kayang, demi menyerang lawan bagian belakang, menjatuhkan tubuh, untuk menghindari serangan, serta meloncat, demi menghindari serangan, sekaligus menyerang balik.


Meski tenaganya mulai terkuras, namun ia masih bisa mengatasinya, bahkan telah berhasil menumbangkan sebagian dari musuhnya. Lily semakin merasa kesulitan untuk bergerak, karena nafasnya yang tersengal, serangan nya pun semakin lemah, karena tenaganya, semakin terus berkurang.


"Hiyak! Whus.... Brugh! Brugh!"


"Hentikan!"


Pergerakan Lily terhenti, semua mata tertuju pada orang yang menyuruh mereka berhenti.


"Menyerah lah! Nyawa adikmu, ada di tangan ku." Seorang Pria, datang dari balik rerimbunan bunga, sambil menarik gadis yang dalam keadaan kedua tangan terikat, dan mulut dilakban.


"Em...em..emm..." tidak akan ada yang bisa gadis itu katakan, karena lakban di mulut nya begitu rapat.


"Erly...." Lily terkejut, saat melihat gadis malang tersebut, "lepasin adik gue!" teriak Lily, menatap ke arah orang, yang membawa Erly.


"Gue akan lepasin, kalau kalian mau menurut, menjadi gadis baik -baik," ucap pria itu tersenyum sinis.


"Apa maksud lo?! Gue tidak ada urusan dengan kalian," ucap Lily.


"Ikat dia!" perintah seorang pria yang berada di samping Erly.


Lily tidak mau tinggal diam, saat beberapa orang mendekat padanya. Erly langsung memberi hadiah tendangan pada wajah pria tersebut, "Brugh! Brugh! Brugh!" tiga orang yang mendekatinya pun jatuh tersungkur, Lily hendak melakukan serangan kembali, "Hiyak...."


"Hentikan! Atau gue bakal pecahin kepala adik loe!" teriak pria yang berada di samping Erly, sambil menodongkan pistol ke arah kepala Erly.


Andai Erly seperti Lily, mungkin bisa saja ia bekerjasama dengan kakak nya, untung melawan. Namun apalah daya, Erly hanya bisa menangis, saat dirinya dalam bahaya.


"Cih! Dasar bajingan!" decak Lily.


"Kalo loe berani, lawan gue! Nggak usah jadiin dia sebagai tameng! Loe laki kan? Ayo maju! Jangan cuman berani keroyokan kalian!" Lily menantang pria yang menodongkan pistol ke arah adiknya. Ia merasa geram, karena dibuat tidak berkutik, lantaran mereka menyandra Erly.


Pria tersebut, mudah tersinggung. Lihat saja wajahnya, seketika memerah, menahan amarah. Ia menatap tajam ke arah Lily, tatapan tajam, layaknya harimau yang akan memangsa.


"Ayo maju loe! Dasar banci! Cuuh!" Erly sengaja, ingin membuat pria tersebut marah, agar mau menerima tantangan nya. Andai Lily bisa mengalahkan pria yang merupakan pimpinan dari mereka itu, mungkin akan ada kesempatan, untuk menumbangkan mereka semua, dan menyelamatkan adiknya. Karena Lily yakin, kalau hanya pria itu saja, yang terlihat mempunyai tenaga di atas rata - rata, sedang yang lain, Lily tidak perlu khawatir, ia yakin bisa membereskan sisanya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2