Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Pria Berjubah Hitam


__ADS_3

Putra semakin bernafsu menikmati permainan Sinta, namun tiba-tiba Sinta mendorong tubu Putra, lalu berdari.


"Apakah kamu mau ini?" Sinta mengarahkan **** nya pada mulut Putra. Sepontan air ludah Putra tertelan sendiri, mulutnya terbuka hendak nyekek **** Sinta.


"Eits.... tunggu dulu!" Sinta langsung menjauhkan tubuhnya, dan membuat Putra menelan ludahnya seketika. "Ada syaratnya!"


Sinta berjalan menjauh dari Putra, lalu kembali dengan membawa tumpukkan kertas, dan menaruhnya di meja depan Putra. Sinta kemudian duduk di samping Putra, tangannya mengelus paha Putra, untuk merangsang pria di sampingnya.


"Jika kamu selesai menandatanganinya, tubuh ini akan menjadi milikmu, kamu bisa berbuat apapun kepadaku," Sinta tersenyum manja pada Putra sambil memamerkan payudaranya.


Lagi-lagi Putra menelan ludahnya sendiri. Sepertinya, keindahan tubuh Sinta telah berhasil menghipnotisnya.


Jika dengan kekerasan tidak bisa, maka harus menggunakan cara lain. Sinta menggunakan tubuhnya, untuk melancarkan rencananya.


Tanpa banyak bicara, Putra langsung menyatut bolpoin dan menandatangani lembaran-lembaran di depannya. Tanpa sadar, Putra telah menyerahkan semua harta kepada Sinta, yang seharusnya menjadi haknya. Sepertinya alkohol tadi telah mempengaruhi otaknya, karena Putra belum pernah meminum minuman beralkohol.


Sinta tersenyum puas, akhirnya rencananya telah berhasil, misi yang telah ia jalankan selama bertahun-tahun, kini telah mencapai puncaknya.


Akhirnya aku berhasil juga! Aku harus menghabisinya setelah ini, agar tidak ada yang menggangguku suatu saat nanti.


"Sudah!" ucapan Putra membuyarkan lamunan Sinta.


"Oooh.... Pintarnya...." Sinta mengelus pipi Putra dengan manja, kemudian mengalungkan kedua lengan pada leher Putra, sinta tersenyum menatap wajah pria di depannya, yang membuat Putra gugup seketika.


Sinta menarik kasar kepala Putra, menyandarkan pada dadanya, hingga membuat wajah Putra terbenam diantara kedua pepaya thailan miliknya.


Sinta melambaikan tangan pada anak buahnya yang menjaga pintu ruangan, seraya memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Anak buah Sinta pun mendekat, lalu memberikan sebuah belati, seakan ia tahu apa yang Sinta inginkan.


Sinta meraih belati itu dengan pelan, sambil melirik leher Putra.


"Aah .... ayolah sayang...." Sinta mendesah, berpura-pura merasakan kenikmatan, karena mulut Putra mulai ******* ujung anunya.


Ayolah! Nikmati sisa waktu ini, sebelum nyawamu melayang.


Sinta tersenyum gembira, karena Putra tidak menyadari jika ia dalam bahaya. Belati mengkilat kala terkena sinar, menandakan senjata itu sangat tajam. Perlahan Sinta mendekatkan belati ke leher Putra, tinggal satu hentakan saja, maka leher Putra akan terputus.


"Bruak!"


Pintu ruangan terbelah seketika, karena didobrak keras dari arah luar.


Putra dan Sinta kaget, dan langsung beralih dari posisinya. Belati yang semula tergenggam pun terlempar saat tubuh Sinta berjingkat.


"Jauhi dia!" Entah sejaka kapan dia masuk, namun bersamaan dengan pintu yang hancur, seseorang langsung berada di antara Putra dan Sinta.


Mata Putra terbelalak, saat melihat belati yang tergelat di lantai, ia baru sadar, kalau dirinya tengah berada dalam bahaya, andai saja orang tersebut lambat sedikit, mungkin nyawanya telah melayang dari raga.


"Ba-bang Ben!?" Putra terkejut, saat melihat orang yang masuk dari luar ruangan, dia adalah bang Ben, supir pribadinya.


Bang Ben tersenyum ia berjalan mendekat ke arah Putra, dia merasa bahagia, karena tuan mudanya masih bernyawa. Putra pun tidak kalah senang, dia bersyukur, karena sopir pribadinya masih berwujud manusia.


Sinta tidak menyangka, jika ada orang yang berhasil menemukan tempat persembunyiannya, dan berhasil masuk dalam ruangan, padahal penjaga dinluar rumah, ada 10 orang bayaran.

__ADS_1


"Cepat kau bawa, Putra keluar dari rumah ini!" seseorang memakai jubah, dengan pakaian serba hitam, memakai masker, serta topi, mengisyaratkan bang Ben, untuk membawa kabur Putra.


Siuwiiit.....


Sinta hanya sekali bersiul, puluhan orang bayarannya pun langsung datang. Pria berjubah, bang Ben, dan Putra terkepung anak buah Sinta.


Bang Ben nampak terkejut.


Lah ini.... bisa mati aku kalau begini. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.... waduh... banyak banget dah. Gimana ini....


Bang Ben menghitungi anak buah Sinta yang mulai muncul satu persatu, ada sekitar 25 orang, yang kini telah mengepung mereka.


"Tangkap mereka!" perintah Sinta pada orang suruhannya, kemudian segera mengambil berkas yang telah ditandangani Putra, untuk diamankan.


Orang-orang tersebut pun langsung mendekat untuk menangkap mangsanya.


"Bang Ben!" panggil pria berjubah hitam berbisik.


"I-Iya saya! Ada yang bisa dibantu?" bang Ben sok menawarkan bantuan, padahal tubuhnya kini, sedang bergemetar karena takut.


"Saya akan memberikan celah untuk kalian kabur. Tolong bawa Putra ketempat pertemuan,"


Mereka bicara berbisik, agar tidak didengar oleh anak buah Sinta.


Bang Ben hanya mengangguk, pertanda setuju.


Seluruh anak buah Sinta menyerang secara bersamaan, namun dengan sangat tenang, pria berjubah hitam itu mengawasi pergerakan mereka, menunggu waktu yang tepat.


"Hiyaaak!..." saat para anak buah Sinta sudah benar-benar dekat dan hendak menyerang, pria berjubah itu langsung memegang pundak bang Ben dan Putra bersamaan, lalu mengangkat tubuhnya sendiri sampai titik vertikal, lalu dengan cepat, kedua kaikya menendang orang-orang tersebut bergantian.


Secara bergantian, orang-orang bertubuh kekar itu terpental, mereka berjatuhan kebelakang.


Pria berjubah menurunkan kakinya, setelah berhasil menumbangkan musuh-musuhnya, namun lingkaran kedua telah siap, mereka dengan serempak pun akan menyerang.


"Bang Ben!" teriak pria berjubah itu sambil berlari ke arah pintu.


Bang Ben segera memapah tubuh Putra berjalan mengikuti langkah pria itu, karena bang Ben tahu, maksudnya barusan adalah memberi kode untuk kabur.


Pria berjubah itu langsung menjatuhkan tubuh, dengan posisi kaki meluncur kedepan, dua musuh di hadapannya pun jatuh tersungkur, sehingga membuka celah menuju pintu keluar. Bang Ben segera bergegas, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, dia sedikit berlari melangkahi musuh yang tergelat di lantai.


Pria berjubah itu memang bisa diandalkan, semua gerakannya menggunakan seni bela diri, dengan santainya, dia menghadapi semua musuh, tangan dan kakinya selalu aktif menangkis dan menyerang. Gerakan yang sangat lentur namun memberikan efek yang luar biasa, sekali terkena pukulan atau tendangannya, musuhnya langsung terpental jauh, seakan terlempar.


Bang Ben bernafas lega, karena berhasil keluar dari rumah tersebut, di halaman depan, nampak belasan orang suruhan Sinta yang telah terkapar, tubuh mereka pun dipenuhi darah karena sayatan.


Sedang di dalam ruangan, pria berjubah itu masih aktif melancarkan serangan, dia terlalu menikmati perkelahian ini. Sesekali tubuhnya melenting terbang ke udara, setelah kakinya menapak pada benda yang ia jadikan tumpuan, tak lepas beberapa kepala musuhnya pun jadi pijakan.


"Dor!" suara pistol meletus. Karena terlalu asyik bermain dengan musuh-musuhnya, dia jadi tidak waspada. Pria itu terkena peluru pistol.


Pria berjubah mendaratkan tubuhnya, berpijak pada lantai dengan posisi berjongkok, ia melirik pada lengannya.


Untung saja meleset.

__ADS_1


Sorot matanya begitu tajam menatap musuh-musuhnya, kemudian dia mencari arah peluru yang hampir saja menembus lengan kirinya.


Di pojok ruangan, Sinta berdiri berkacak pinggang, sedang tangan kanannya memegangi pistol, mengarah pada pria berjubah.


Sinta memakai baju alangkadarnya, setelah mengamankan berkas-berkas berharganya, lalu ikut turun tangan, untuk membantu orang suruhannya.


"Dor!" letusan pistol kembali berbunyi, namun dengan cepat pria berjubah menghindari, sehingga peluru hanya mengenai lantai, tepat bekas pria itu berpijak.


"Dor! Dor! Dor!" Sinta menembak beruntun mengarah pada pria itu, dia selalu mengalihkan tembakannya, karena targetnya terus bergerak aktif menghindari peluru-peluru yang ia lepaskan.


Bukan hanya sekali dua kali, tapi berulang kali, pria itu menghindari peluru yang tertuju padanya, dia terus berpindah dari satu tempat ketempat lain, bagaikan burung yang meloncat Apria itu selalu mendekat pada anak buah Sinta saat berpindah tempat, lalu menjadikannya sebagai tameng. Tidak sedikit orang-orang bayaran Sinta pun terkapar akibat ulahnya.


"Cih Sial!" Sinta berdecak kesal, karena tembakannya selalu meleset, dan malah menjatuhkan korban di pihak sendiri.


Karena merasa kesal, ia membuang pistolnya, lalu mengganti dengan senjata Laras panjang sejenis AK-47.


Sinta menyerang pria itu secara brutal, dia tidak peduli meski pelurunya mengenai orang-orang bayarannya.


Karena merasa kewalahan menghindari peluru yang bertubi-tubi, pria tersebut berinisiatif kabur, dia melakukan roll belakang, sampai tubuhnya berhasil keluar dari rumah itu. Pria itu berjongkok menghadap pagar halaman sambil mengambil ancang-ancang, dia memberatkan beban tubuh pada tumpuan kakinya, lalu meloncat tinggi, hingga tubuhnya melenting, melayang di udara, samapai ia berhasil melewati pagar halaman. Tubuh pria itupun lenyap di balik semak-semak belukar.


"Cih! Kampret! Sial! Huaaa!" Sinta meraung karena marah, mukanya merah padam, karena mangsanya telah berhasil kabur, hanya karena bantuan 2 ekor sosok yang tidak ia kenal.


"Bruak!" Sinta melempar senjatanya ke dinding penyekat ruangan, lalu menatap orang bayarannya yang telah banyak terkapar di lantai, dengan tubuh mengalir darah segar akibat terkena peluru.


"Kalian yang masih punya tenaga, cepat kejar dia! Dan yang yang lain cepat urus bangkai-bankai tak berguna ini!" Sinta menatap para anak buahnya, dengan telunjuk tangan menunjuk pada anak buahnya yang terkapar.


"Bos.... dia masih hidup, tapi pelurunya telah masuk ke dalam dada, ini perlu dioperasi," salah satu anggota Sinta merasa iba melihat kondisi temannya yang kesulitan untuk bernafas.


"Tanam dia hidup-hidup! Nanti juga bakalan mati!" ucap Sinta mendengus kesal.


"Tapi bos...."


"Duar!"


Tanap rasa belas kasih, Sinta menembak orang yang ingin menyelamatkan nyawa temannya, dan membuatnya merenggang nyawa, karena peluru mengenai tepat di kepalanya.


Suasana ruangan pun Hening seketika, mereka semua menunduk, takut jika menjadi korban selanjutnya.


"Yang masih bisa berlari, cepat kejar mereka!" Sinta mengarahkan senjatanya kepada anak buahnya yang tengah berkerumun, suara amarahnya begitu jelas, hingga membuat mereka kabur terbirit-birit.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Maf kalau penyusunan kalimat kurang benar, atau ada kata-kata yang kurang anda pahami, karena saya lebih banyak memakai bahasa jadul.🙏


__ADS_2