Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Kau Hanyalah Pion


__ADS_3

"Lah! Ini handuk dan celananya tidak ia bawa? Dasar aneh! Emang dia mau keluar tidak pakek celana?" gerutu Erly saat melihat handuk dan celana ganti Putra, tergeletak di atas ranjang.


Erly segera menyambar handuk dan celana tersebut, berinisiatif untuk memberikan kepada Putra. Tanpa mengetuk pintu, Erly lansung nyelonong masuk, dalam kamar mandi.


"Aaaaa!" Erly berteriak, saat melihat Putra sudah melepas pakaiannya, hanya menyisahkan celana dalamnya, "Kamu ngapain telanjang!" Erly segera menutup ke-dua matanya.


Karena kaget dengan teriakan Erly, Putra langsung membalikkan badan melihat arah sumber suara. Karena kakinya terasa begitu sakit, Putra tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, lalu terjatuh, "Arrrgh!" Putra memekik kesakitan, karena kepalanya terbentur bak mandi.


"Putra!" Erly langsung membuka matanya, saat mendengar Pria berteriak, ia terkejut, saat melihat tubuh Putra telah tergelatak di lantai. Tidak lagi sempat berpikiran negatif, Erly langsung menghampiri tubuh sahabatnya.


"Put... bangun Put...." Erly menggoyang-goyang tubuh Putra, ia makin panik, saat Putra tidak merespon.


"Put.... bangun Put!" Erly bingung, karena Putra tidak jua memberi respon, *Apa aku siram air aja yah, biar dia bangun,* Erly berinisiatif untuk mengguyur air tubuh Putra.


*Tapi.... Kasihan juga,* Erly pun mengurungkan niatnya.


Putra pingsan, akibat mengalami benturan di kepalanya, sedang kondisi sebelumnya saja, ia masih belum pulih.


"Darah?!" Erly terkejut, saat melihat darah segar mengalir dari bagian kepala Putra.


"Aduh... gimana nih.... mana dia pakek pingsan segala lagi!" Erly berputar-putar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus berbuat apa.


"Betadin!" Erly langsung lari, ia mencari obat-obatan yang Lily belikan. Setelah mendapat apa yang ia cari, Erly segera kembali menghampiri Putra, lalu mengoleskan obat merah, pada bagian luka.


*Mana darahnya banyak banget lagi!*


Erly membersihkan darah yang mengalir di kepala Putra. Putra mengalami luka bocor, akibat benturan keras.


Erly menutup luka dengan kapas, lalu melakban kepala Putra.


"Put... bangun Put...." Erly menepuk pipi Putra berulang kali, namun tetap tidak ada respon.


*Minyak kayu putih!* Erly kembali berlari, mencari minyak kayu putih, untuk membangunkan Putra, *Tarok di mana sih!* gerutu Erly kesal, karena tidak juga menemukannya, ia menggeledah setiap laci yang ada. Setelah menemukan, ia kembali ke-dalam kamar mandi, ia berusaha membangunkan Putra.


Erly membuka penutup botol tersebut, kemudian mengoleskan minyak, pada bagian hidung Putra, *Apa kurang banyak kalick yah,* Erly mengoleskan minyak kayu putih lebih banyak lagi, karena Putra belum tersadar juga.


"Bangun dong Put..." Erly kebingungan, karena usahanya masih saja tidak berhasil.


*Masa iya, aku biarin dia terbaring di dalam kamar mandi,* Erly memandangi tubuh Putra, *Pasti berat," lalu mencoba, mengangkat tubuh Putra.


"Berat banget badanmu Put!" Erly kesulitan untuk mengangkat tubuh Putra. Karena mengangkat tubuhnya, akhirnya Erly mendudukkan tubuh tersebut, lalu menyandarkan pada dinding penyekat.


*Gimana nih! Mana berat banget lagi badannya. Kalau aku biarin di sini.... nggak tega juga aku,*


Erly berpikir, mencari cara untuk memindahkan tubuh Putra, dari dalam kamar mandi.


*Gimana yah?* Erly bingung bagaimana caranya memindahkan tubuh sahabatnya dari dalam kamar mandi, karena ia tidak kuat mengangkat tubuh tersebut.


Erly beranjak keluar dari kamar mandi, menuju ranjang, tempat tidur Putr, ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


*Hem.... ya sudahlah,*


Erly kembali ke kamar mandi dengan membawa selimut tebal.


Erly menghentikan langkahnya, setelah berada di depan tubuh Putra, ia terpaku menatap tubuh itu.


*Lucu juga kalau lagi telanjang. Ternyata, tubuhnya lumayan atlis. Coba aja.... dia itu laki gue,* Erly menelan ludahnya sdndiri, saat melihat tubuh polos itu, yang hanya menyisahkan celana dalamnya.


*Aish.... kok jadi menghayal sih!* Erly mengutuk dirinya sendiri. Ia pun segera mendekat puda tubuh Putra, membuang pikiran anehnya.


Erly menggelar selimut yang ia bawa, tepat di samping tubuh Putra, lalu merebahkan tubuh sahabatnya itu, di atas selimut tersebut.


*Ini pasti bisa!*


Setelah membalut tubuh sahabatnya dengan selimut, Erly memegang ujung selimut erat-erat. Perlahan, Erly menarik ujung selimut, menyeret keluar dari dalam kamar mandi.


*Ternyata masih berat juga,* dengan sekuat tenaga, Erly menariknya. Erly menyeret keluar tubuh Putra, menggunakan selimut.


Erly menghentikan aksinya, saat sampai di dekat ranjang, "Huh! Akhirnya, berhasil juga!" Erly mengusap keringat yang keluar di keningnya, ia bernafas lega, karena berhasil memindahkan tubuh sahabatnya.


Setelah menghilangkan rasa lelahnya, Erly duduk berjongkok di samping tubuh Putra, lalu menyusupkan lengan kirinya di bawah pungung Putra, dan menyusupkan lengan kannya di bawah pinggang Putra, seraya memeluknya.


Perlahan, Erly mengangkat tubuh Putra, memindahkan ke atas ranjang.


*Tubuhmu berat banget sih Put! Apa kebanyakan dosa kalick yah!* Meski terasa berat, Erly terus memaksa kemampuannya, untuk memindahkan tubuh Putra ke atas ranjang.


"Yaaak.... huh!"


Erly masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan, *Huh! Nyaman banget yah,* ia tersenyum senang, karena hatinya merasa begitu tenang.


Erli masih betah dengan posisinya, menyandarkan kepala di atas dada sahabatnya, sebagian tubuhnya menindih tubuh Putra, sedang sebagian kakinya, menggantung di samping ranjang.


Karena merasa nyaman dengan posisinya, perlahan Erly memejamkan matanya, memanjakan pikiran liarnya. Rasa lelah dan letih pun, telah menghipnotis tubuhnya, menimbulkan rasa mager untuk waktu yang lama. Akhirnya, Erly terlelap dengan posisi yang sama.


*******


Di tengah lebatnya hutan, terdapat sebuah bangunan megah berlantai tiga. Pagar setinggi tiga meter mengelilingi bangunan tersebut, halamannya depannya yang luas, dipenuhi dengan tananman bunga yang tertata rapih, warna coklat tua yang mendominan, seakan menambah elegan banguna tersebut.


Bangunan megah tersebut, tidak lain adalah milik Bramax Antonio, ketua mavia terbesar di kota ini.


Di sebuah ruangan di dalam kastil....


Bram, dengan setelan jas hitam, sedang duduk di sebuah kursi. Salah satu kakinya menopang kaki satunya, sedang kedua tangannya terpaut pada lutut, menyela-nyela di antara jari-jemari.


Tidak jauh dari Bram, ada seorang wanita, yang sedang menahan rasa sakit di tubuhnyaa.


Bram tersenyum, melihat pemandangan di hadapannya.


Setelah menyetubuhi Sinta berulang kali, Bram membawa Sinta ke kastilnya, ia mengikat tubuh Sinta di sebuah tiang khusus, ke-dua tangannya diikat dengan posisi terentang.

__ADS_1


Sinta, wanita iblis itu, kini disalip dalam keadaan telanjang.


"Tok... tok... tok...." pintu ruangan diketok beberapa kali.


"Masuk!,"


Seseorang bersetelan jas hitam memasuki ruangan, setelah mendapat izin masuk dari Bram. Ia membungkukkan badan, saat berada di depan Bram, lalu kembali berdiri tegap.


"Lapor Bos! Kelompok hitam telah tiba. Anggota mati 15 orang, dan terluka 25 orang,"


"Berikan waktu untuk mereka beristirahat!"


"Siap Bos!"


"Hem...." Bram bergumam sambil menganggukkan kepala, lalu menggerakkan tangan kanannya, mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk pergi. Anak buah Bram beranjak pergi, setelah membungkukkan badan, sebagai salam hormat.


"Sinta! Hem...." Bram menghela nafas, lalu beranjak berdiri.


"Sinta.... Akibat ulahmu, 15 bawahanku telah tewas, sedang 25 terluka. Sebenarnya.... Saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang jadi masalah adalah.... kecerobohanmu!"


"Be-berikan... a-aku waktu.... a-aku.... ma-masih ingin.... hidup," Sinta bicara terbata-bata, karena tubuhnya terasa remuk, seakan tulangnya telah terpisah dari tubuhnya. Bram memang manusia bertenaga kuda, ia menggempur Sinta habis-habisan.


Sinta yang sedang terluka, tidak sedikitpun bisa melakukan penolakan. Ia hanya bisa diam, saat Bram berulang kali menikmati tubuhnya, hingga ia merasa tenaganya telah hilang sepenuhnya, untuk berdiri saja ia tidak bisa, bahkan tubuhnya bergetar karena kelelahan.


"Hem... Sinta...."


Bram beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Sinta. Tangan krinya ia masukkan kedalam saku, lalu tangan kanannya mengambil pistol dari balik bajunya. Bram berjalan mondar-mandir di depan Sinta, sedang tangan kanannya memainkan pistol berwarna kuning keemasan, ia memutar-mutar pistolnya.


"Sebenarnya aku kasihan padamu, aku masih ingin kau tetap hidup, tapi.... aku hanyalah boneka. Ketika tuanku menyuruhku membunuhmu, aku bisa apa?"


"A-aku mohon.... a-aku.... a-akan.... se-setia padamu. Be-berikan aku.... ke-kehidupan... a-aku... mohon...." Sinta sangat sulit untuk bicara, karean tenaganya benar-benar terkuras habis, bahkan suaranya saja sangat pelan.


"Kau tahu kedudukanmu? Kau itu hanyalah pion!" Bram menempatkan ujung pistol pada dagu Sinta, lalu mendorongnya ke atas, hingga Sinta mendongakkan wajahnya. "Pion itu, hanya bisa maju tanpa bisa mundur, dan hanya menjadi umpan. Kau itu tidak berhak meminta! Apalagi mengatur! Paham!"


Brem menatap bengis, wanita di hadapannya, bahkan ia hanya menganggap tubuh itu, layaknya sampah.


"A-aku... mohon.... ber-berikan aku... ke-kesempatan. A-aku.... ma-masih.... ing-ngin hi-dup..."


Sebenarnya, Sinta sudah tidak takut mati, namun ia berharap, jika ia masih bisa hidup. Tanpa ia sadari pun, air matanya telah mengalir deras membasahi pipi.


"Apa yang bisa kau lakukan, jika aku mengampuni nyawamu? Hah?!" tangan kiri Bram menjambak kasar rambut Sinta, sedang tangan kanannya menidongjsn pistol, tepat di dagu Sinta, "Jawab!" Bram menghentakkan jambakkannya, dan membentak Sinta. Ia merasa geram, karena Sinta hanya diam, tidak mau menjawabnya.


"Apakah tubuh seksimu ini, yang kau jadikan andalan? Hah?!" Bram menggerakkan pistolnya di tubuh Sinta secara perlahan, dari dagu, turun ke dada, perut, dan berhenti tepat pada kewanitaan Sinta.


"Aku bisa mendapatkan banyak wanita sepertimu dengan sangat mudah," Bram melirik tubuh Sinta, dari atas sampai ke bawah.


Sinta tidak lagi mampu untuk bicara, mulutnya bergerak, namun tidak menimbulkan suara. Suaranya telah benar-benar habis, tenaganya pun sudah tiada sisa, hanya deraian air mata yang terus mengalir, membanjiri pipi indahnya.


"Dor!"

__ADS_1


Suara letusan pistol, memenuhi seluruh ruangan, setelahnya tidak ada suara yang terdengar, yang ada hanya keheningan.


Bersambung....


__ADS_2