
Lyli membaringkan tubuh Putra di atas ranjang, ia menaruh Putra di kamar kosong, sebelah kamar Erly.
"Aku ikut prihatin, atas nasib yang menimpa keluargamu. Semoga kamu bisa menerima kenyataan ini." Lily mendekatkan bibirnya ke-wajah Putra, lalu mengecupnya cukup lama, seakan merasa iba atas semua derita yang Putra alami.
"Ceklek."
Lily segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Putra, saat mendengar pintu kamar terbuka, lalu melihat ke arah pintu.
"Kamu jaga dia, aku akan menyiapkan air hangat, untuk membersihkan tubuhnya." Lily segera berjalan, hendak keluar dari kamar.
Tanpa berkata sepatah kata, Erly pun mengiyakan perintah kakak nya. Ia segera mendekati tubuh Putra, lalu duduk pada kursi yang terletak di sebelah ranjang. Erly tidak tahu, jika kakak nya tadi sempat mencium Putra. Erly menatap melas tubuh Putra yang penuh luka lebam, hatinya merasa terluka, melihat keadaan sahabatnya, seakan ikut merasakan derita yang Putra rasakan.
*Kasihan sekali kamu Put, harus menanggung luka hati dan jiwa. Tapi aku yakin, kamu pria yang kuat, kamu pasti bisa melalui semua masalah ini,*
Erly, mengusap lembut wajah Putra, matanya berkaca-kaca menatap tubuh lemah tak berdaya, yang penuh dengan luka.
"Ceklek."
Lily datang membawa loyang beirisikan air hangat.
"Nih! Kamu bersihin tubuhnya, aku akan membelikan pakaian ganti untuknya," Lyli menyerahkan loyang tersebut kepada adiknya.
"Baik kak," Erly segera mengambil alih loyang tersebut, menaruhnya di samping tubuh Putra, lalu mengambil handuk kecil di dalam almari. Sedang Lily, segera pergi meninggalkan adiknya , ia pergi untuk mencarikan pakaian ganti untuk Putra.
Erly segera membersihkan tubuh Putra. Ini ke-dua kalinya ia merawat tubuh Putra, di rumahnya sendiri.
"Yang tabah yah Put, kamu pasti bisa! Kamu pasti bisa lalui semua ini. Cepat sembuh yah," Erly mencelupkan handuk kecil kedalam air hangat, lalu mengelap tubuh Putra dengan telaten.
*******
Segerombolan orang suruhan Sinta bingung, mereka tidak tahu harus pergi kemana untuk mencari Putra, karena mereka telah kehilangan jejak Putra.
"Tut.... Tuut.... Tuuut.... "
Salah satu orang dari mereka, segera memencet ikon hijau di ponselnya, saat melihat nama sang pemanggil.
"Halo Bos," semua orang di dalam mobil pun diam tidak ada yang berani bicara, kala temannya memanggil bos, saat berbicara melalui ponsel tersebut.
"Tidak usah basa-basi! Cepat laporkan hasil kerja kalian!" suara teriakan dari seberang telephon, membuat penumpang di mobil itu, tertunduk takut. Mereka tahu, kalau itu adalah suara milik Sinta, bos mereka.
"Maaf Bos, kami kehilangan jejak mereka,"
"Apa!"
Seketika, mereka berjingkat mendengar suara teriakan itu, yang berbicara dengan Sinta pun langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Dasar tidak becus! Saya tidak mau tahu! Pokoknya kalian harus bisa membawa Putra kehadapanku! Hidup ataupun mati!"
"Baik Bos! Pasti kami laksanakan!" Jawab orang tersebut dengan tegas.
"Bos, halo, halo...." orang tersebut melihat layar ponselnya, ternyata Sinta telah memutuskan sambungan telephon secara sepihak. Orang tersebut pun segara mengantongi ponselnya, mereka semua diam, sambil mengawasi tempat yang dilalui, berharap menemukan mangsa yang telah lepas.
*******
"Dasar tidak becus! Tidak berguna!"
"Dor! Dor! Dor!"
Sinta mengamuk tidak jelas, ia menembak kesembarang arah, untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
"Hay, hay, hay.... Jangan narah-marah dong...." Seorang pria bertubuh kekar, baru turun dari ranjang.
"Diam kau Bram!" Sinta beralih menodongkan pistol, kearah pria tersebut.
*******
Pria bertubuh kekar itu adalah, bos mavia di kota tersebut. Bramax Antonio, atau kerap disapa Bram, adalah salah satu direktur, di salah satu kantor cabang yang Smith miliki, namun itu hanya sebagai kedok. Pekerjaan utama Bram adalah, sebagai bos mavia geng Naga Hitam, sebuah organisasi mavia terbesar di Indonesia, wilayah kekuasaannya pun, hampir memenuhi seluruh pulau jawa.
Karena kekuasaannya itulah, wanita ******* berwajah malaikat itu, mau menjadi kekasih gelapnya, dan menjadi pemuas birahi Bram. Sinta melakukan itu, bukan secara cuma-cuma, ia ingin memanfaatkan kekuasaan Bram, untuk mencapai keinginannya. Sinta ingin mengendalikan anak buah Bram.
*******
"Wow! Wow! Wow.... Kenapa kau jadi memarahiku sayang...." Bram terlihat santai, menanggapi emosi Sinta, ia hanya tersenyum sambil melangkah mendekati Sinta. Perutnya terlihat kotak-kotak, karena kemejanya tidak ia kancing, dadanya yang bidang pun terlihat sangat jelas, sedang tato bergambar kala jengking, menjadi penghias di kulit putihnya.
"Seharusnya kau ikut turun tangan! Seharusnya mangsaku tidak terlepas! Ini semua salahmu!" Sinta kini telah berani memarahi Bram. Padahal, ia hanyalah seekor kucing, yang berhasil kumpul dengan gerombolan singa, tidak dimangsa pun, itu sudah sebuah keberuntungan. Namun Sinta, bagai kacang yang lupa akan kulitnya, ia tidak ingat statusnya di mata Bram.
"Hey, coba tenangkan dirimu! Ini cuman masalah kecil...." Bram tidak sedikitpun gentar, menghadapi sikap Sinta. Ia terus berjalan mendekati Sinta, sambil membuka lebar kedua tangannya.
"Berhenti kau di situ! Aku muak denganmu! Aku sudah tidak membutuhkanmu!" karena emosilah, ucapannya tidak terkendalikan, Sinta memaki Bram, layaknya barang yang sudah ia butuhkan.
Bram menghentikan langkahnya, mendengar ucapan Sinta, ia mengernyitkan dahi, penuh keheranan, lalu menurunkan kedua lengannya.
"Dasar tidak berguna!"
"Dor! Dor! Dor!"
Pistol Sinta pun melepaskan pelurunya berulangkali.
Bram bukanlah orang biasa, statusnya sebagai bos mavia itu, bukanlah hanya sebuah isapan jempol belaka.
Ketika mengetahui, jika Sinta akan menarik pelatuk pistolnya, ia pun segera mengambil ancang-ancang. Bram melakukan rolling depan, lalu menyambar tangan Sinta yang memegang pistol, memutarnya ke kanan, lalu mengapitnya diantara kedua paha.
"Krak!"
"Argh!"
Sinta berteriak kesakitan, kala merasa tulang lengannya telah patah.
"Dor! Dor!"
Bram, merebut pistol dari tangan Sinta, lalu menembak bahu lengan kiri dan kanannya.
"Argggh!"
Sinta, menahan sakit yang teramat sangat, karena peluru telah menembus bahu kiri dan kanannya, sehingga ke-dua tangannya telah lumpuh, tidak bisa digerakkan.
"Arrgggh!" Sinta, lagi-lagi berteriak kesakitan, karena Bram, menginjak tangan kiri dan kanannya. Bram menyunggingkan bibir, tersenyum puas. Bram, merendahkan badan, seraya berjongkok di atas tubu Sinta, lalu tangan kirinya mencengkram mulut Sinta, sedang tangan kanannya mengarahkan pistol ke wajah Sinta, lalu memasukkan ujung pistol, kedalam mulut Sinta.
"Hay, rusa kecil. Jangan terlalu berlagak di depanku. Kau itu, hanya sebatas wanita penghibur di mataku. Tidak lebih!" Bram tersenyum menyeringai, suaranya yang terdengar berat, seakan menambah wibawa kesangarannya. Sorot matanya terlihat tajam, bagaikan seekor harimau yang akan menerkam mangsanya.
Bram mendudukkan pantatnya di atas tubuh wanita itu, Sinta tak lagi berdaya dengan semua ini, jangankan melawan, menahan rasa sakitnya saja, ia merasa kesulitan, ia hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Dert.... dert.... dert...."
Bram mengalihkan pistol ke tangan kirinya, melepaskan cengkraman pada leher Sinta, tangan kanannya merogoh saku, hendakengangkat gelepon yang terus bergetar di saku celananya.
"Halo Tuan...." sapa Bram, setelah ponsel berhasil tersambung dengan si penelepon.
"Bagaimana tugasmu Bram?" terdengar suara berat milik seorang pria, dari seberang telepon. Karena Bram, melost spiker ponselnya, Sinta pun bisa mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Oh.... Semuanya berjalan lancar Tuan. Tuan tidak perlu khawatir," Bram begitu sopan berbicara dengan si penelepon, Sinta berusaha menyimak pembicaraan mereka.
"Bagus, bagus, bagus! Kau memang bisa diandalkan. Bagaimana dengan anak itu? Kau tidak melukainya bukan?"
Sinta mengernyitkan dahinya, kala mendengar pertanyaan dari orang di seberang telephon, ia penasaran, siapakah orang yang kini berbicara dengan Bram tersebut.
"Dia, baik-baik saja Tuan. Kami mana berani, mencelakainya, tuan,"
"Baguslah, kalau begitu. Bagaimana dengan wanita ****** itu? Apakah kau sudah menghabisinya?"
Bram melirik kearah Sinta, kala mendapat pertanyaan tersebut.
"Saya masih dalam proses tuan. Nyawanya hanya ibarat telur di ujung tanduk," Bram tersenyum menyeringai menatap wajah Sinta, wanita yang mereka maksud, tidak lain adalah Sinta.
"Segera kau bunuh Sinta! Singkirkan wanita ****** itu!"
Sinta membelalakkan matanya, kala mendengar ucapan pria di seberang telephon. Ia tidak tahu, jika nyawanya sebenarnya telah berada di ambang pintu kematian.
"Baik tuan king! Segera saya laksanakan."
Perbincangan mereka pun terhenti, saat sambungan telephon telah terputus. Kali ini, tubuh Sinta gemetar, dia takut, jika Bram benar-benar menghabisinya kali ini.
"Kau dengar itu Sayang? Aku telah mendapat perintah dari atasanku. Aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa menghianati tuan king,"
"Em.... em.... em...." Sinta meronta, ia menggelengkan kepalanya. Bram memang iblis berhati dingin, posisinya sebagai ketua geng, memang pantas ia sandang. Bram perlahan mengangkat pistolnya, mengeluarkan dari mulut Sinta.
"Sepertinya, ada kalimat terakhir, yang ingin kau sampaikan padaku. Hem? Bicaralah!" Bram masih memberi kesempatan Sinta, untuk berbicara.
"Maafkan aku Bram.... aku tadi cuman terbawa emosi. Aku tidak bermaksud melawanmu. Aku...." ucapan Sinta terhenti, kala Bram menempelkan jari telunjuknya, pada bibir Sinta.
"Jangan panggil namaku. Panggil aku Tuan...." Bram tersenyum, melihat wajah Sinta yang mulai pucat, karena ketakutan.
Sinta memang bodoh! Beraninya dia menentang Bram. Padahal, selama ini hidupnya berlindung di bawah kekuasaan Bram, andai tidak.... maka semua tindak kejahatannya, akan cepat terbongkar. Sinta hanyalah seorang wanita penghibur, yang kebetulan menjadi kekasih gelap seorang ketua geng terbesar di negri ini.
"Ba-baik, Tuan. Tolong jangan bunuh saya.... saya akan...." Bram, kembali menempelkan jari telunjuknya di bibir Sinta, sehingga Sinta, kembali menghentikan ucapannya.
"Aku tidak akan menghabisimu, asal kau mau menurut kepadaku. Aku bisa melaporkan berita kematianmu pada Tuan King, untuk melindingimu, asal dengan syarat...." Bram, membelai lembut wajah Sinta, merapikan rambut yang menutupi wajahnya, lalu mengusap bibir indah milik Sinta.
Sinta tidak lagi berani meronta, setelah tahu, bahwa ada King yang berdiri di balik Bram. Golongan mavia pasti tahu, siapa yang dimaksud King.
King, merupakan ketua kelompok yakuzza, gangster terbesar di Jepang, bahkan bukan hanya di Jepang, di beberapa negara pun, ia memiliki banyak kaki tangan, yang dapat dipercaya. Yakuzza, tidak akan segan-segan membunuh siapa saja, yang mengganggu ketenangannya.
Bram membelai lembut wajah Sinta, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Sinta, lalu mengecup, dan **********, kemudian melepaskannya.
Sinta hanya diam, dia meneriam apapun yang Bram lakukan, asal ia masih bisa menikmati hidupnya. Sinta berharap, Bram tidak membunuhnya.
Sebenarnya Bram tidak tega, untuk menghabisi nyawa Sinta. Karena Sinta adalah gadis tercantik, dari beberapa gadis simpanan, yang ia miliki. Bahkan, Bram merupakan orang pertama, yang menjamah tubuh Sinta, bebrepa tahun lalu. Sifat manja dan agresifnya, merupan nilai plus di mata Bram.
Tapi, Bram juga tidak bisa menentang perintah dari King. Kalau itu terjadi, maka Bram, tidak akan sanggup menerima akibatnya. Sebesar-besarnya geng yang dikuasai oleh Bram, itu hanya sekumpulan lalat, di mata King.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....