
Brak!
Sebelum pukulan Putra mendarat mengenai sasaran, anak buah Sinta tiba-tiba datang dari belakang dan menghantam tubuh Putra, Putra pun jatuh pingsan.
"Heem... ternyata dia punya nyali," Sinta berbalik, lalu melihat tubuh Putra yang telah terkulai lemas di atas lantai.
"Maaf bos, saya terpaksa." ucap anak buah Sinta.
"Heem.... temani aku," Sinta berjalan menuju kamar kecil di ruangan itu.
******
Malam semakin larut, di sebuah kamar yang berdominan warnana merah muda, seorang gadis tengah gelisah. Sudah berulangkali memejamkan mata, namun ia tidak bisa, Erly masih memikirkan sahabatnya.
"Kamu di mana Put?" Erly menatap boneka yang berada dalam pelukannya, dia berbicara layaknya boneka tersebut adalah Putra.
Erly masih merasa bersalah dengan ucapannya, dia menyesal telah berkata kasar pada sahabat lugunya.
"Maafkan aku Put... Aku telah berkata yang tidak-tidak." Perlahan Erly menutup mata rapat-rapat, pikirannya telah berkeliaran menghayal berbagai hal. Tidak lama kemudian, nafas Erly telah beraturan, dia telah terlelap dalam dunia mimpi yang tidak bertepi.
********
Sang mentari mulai memancarkan sinarnya, pagi ini, tidak seperti pagi biasanya. Lyli menggerutu kesal, saat melihat meja makan belum ada apapun yang terhidang, karena ia terbiasa sarapan pagi.
"Nih anak tumben nggak masak," Lily kemudian beranjak untuk mengecek adiknya.
Ceklek....
Lily memasuki kamar Erly, adiknya.
Tumben sesiang ini belum bangun.... biasanya dia bangun pagi.
Lily mendekati tubuh adiknya yang masih terbalut selimut di atas ranjang.
"Putraaaaa!"
Lyli berjingkat kaget, karena Erly tiba-tiba berteriak keras.
Plak!
Lyli memukul jidat adiknya, yang membuat Erly langsung terbangun.
"Kenapa kaka memukulku...." rengek Erly sambil memegangi jidatnya, dia duduk bersandar pada sandaran ranjang menatap kakanya.
"Kenapa loe teriak-teriak nggak jelas?" Lily menyilangkan lengan di depan dada.
"Teriak?...." Erly nggak mengerti maksud ucapan kakanya.
"Loe teriak-teriak menyebut nama Putra. Emang mimpi apa loe?!"
Erly lansung menundukkan kepala, teringat pada mimpinya.
"Sepertinya, Putra dalam bahaya kak. Aku bermimpi dia terjatuh kedalam jurang," Erly tertunduk, dengan wajah penuh kecemasan, ada kesedihan yang tengah ia rasakan.
"Putra udah balik ke-rumahnya, nggak usah loe khawatirin!"
"Kaka tahu dari mana?" Erly langsung mendongakkan wajah menatap kakanya, berharap apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.
"Nebak aja!" Lily menurunkan lengannya dari dada, lalu berbalik badan, hendak keluar dari ruangan.
Lyli tertunduk lemas karena kecewa, ternyata Kaka nya hanya berbicara asal.
"Nggak usah lemah jadi wanita. Ini udah jam berapa? kenapa loe nggak masak?" ucap Lyli sebelum meninggalkan kamar adiknya.
__ADS_1
Erly terperanjat, dia melihat jam yang menempel di dinding, jarum telah menunjukkan 07:00.
"Astaga.... ini udah siang, aku akan terlambat."
Erly meloncat dari ranjang, segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
*******
Erly berjalan cepat menuju ruang kelasnya, suasana halaman sekolah begitu ramai, karena para guru tidak ada yang masuk kelas, mereka mengadakan rapat untuk ujian kenaikan kelas.
Erly bernafas lega, setidaknya.... dia tidak ketinggalan materi pelajaran. Setelah masuk ke dalam kelas, dia duduk di kursinya.
Putra nggak sekolah? Apa dia masih belum sembuh ya....
Erly celingukan mencari sosok sahabatnya, dia tidak menemukan Putra di dalam kelas. Karena penasaran, Erly berinisiatif mencari keberadaan Putra, berharap ada di tempat lain di sekolahan itu. Erly berharap jika Putra hadir di sekolah hari ini.
Erly berjalan menuju taman sekolah. "Di sini juga nggak ada, apa di perpus ya...."
Setelah tidak menemukan Putra di taman sekolah, Erly bermaksud mencari sahabatnya di perpustakaan sekolah.
Erly berjalan melewati beberapa gedung, karena letak perpustakaan berada di bangunan paling ujung.
Hem... tumben perpus rame yah....
Erly memasuki perpus dengan sedikit berdesakan, lalu berjalan di lorong lorong rak buku yang berbaris rapih, setelah berhasil masuk dalam ruangan.
Sudah berjalan mondar mandir, menyusuri seluruh lorong di ruang perpus, namun Erly tidak menemukannya. Erly berinisiatif meninggalkan ruangan perpus, setelah memastikan Putra tidak ada di sana.
Putra! Erly mempercepat langkahnya, saat melihat postur tubuh yang tidak asing lagi baginya, dia yakin kalau orang yang beradacukup jauh di depannya adalah Putra, sahabatnya.
Karena terburu-buru, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf.... aku sedang buru-buru," ucap Erly terbata, namun ia sangat terkejut, saat melihat orang yang telah ia tabrak.
Erly mebulatkan matanya, lalu dengan cepat memalingkan wajah, menyembunyikan kegugupan dan ketakutan yang terlintas di wajahnya.
Takiya hanya memperhatikannya sekilas, kemudian berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, ternyata dia berjalan satu arah dengan jalan yang akan Erly lalui.
Erly pun segera bergegas, ia berjalan di belakang Takiya.
Erly clingukkan memerhatikan di segala penjuru.
Kemana perginya, tadi aku lihat di sini, tapi sudah tidak ada. Apa aku salah lihat ya? Tapi aku yakin, dia pasti Putra.
Erly berhenti melangkah, dia sedang mencari sosok yang sangat ia kenali, meski hanya melihat bagian belakang orang tersebut, namun ia yakin dengan fhillingnya, dia yakin kalau itu adalah Putra, sahabatnya.
Ya sudahlah, mungkin mataku salah lihat.
Setelah tidak berhasil menemukan sosok yang ia yakini sebagai sahabatnya, Erly pun menyerah, dia berinisiatif kembali ke kelasnya. Erly berjalan melewati beberapa gedung tua yang tidak terpakai.
"Bagaimana?! Apa loe sudah mendapatkan Putra?"
Secara samar-samar, Erly mendengarkan percakapan yang menyinggung nama sahabatnya. Erly pun penasaran, dia berniat mencari asal sumber suara, yang sepertinya berasal dari salah satu ruangan gedung kosong itu.
Erly berjalan mengendap-ngendap di samping tembok ruangan.
"Be-belum Lex, kami kehilangan jejak. Rumahnya juga nampak kosong tidak berpenghuni, di seluruh lingkungan sekolah juga kami tidak mendapatkannya, sepertinya dia tidak datang sekolah hari ini."
Bruak!
Erly berjingkat kaget, ia kini telah berada di depan pintu ruangan.
Ternyata Alex dan teman-tannya. gumam Erly mengintip dari celah dua pintu yang sedikit terbuka, dia berada di ruangan yang sama, saat menguping perbincangan mereka beberapa hari yang lalu. Sepertinya tempat itu mereka jadikan markas saat berada dalam sekolah.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Apa kota ini begitu luas, sampai kalian tidak bisa menemukan bocah idiot itu! Ha?!" Alex memarahi para pengikutnya, yang tak lain adalah, Riyo, Hendrik dan Anton. Kali ini, hanya Takiya yang tidak berada bersama mereka.
Setelah merasa puas menguping, Erly pun meninggalkan tempat tersebut, dia melanjutkan langkahnya menuju gedung kelasnya. Tanpa ia sadari, ada 2 pasang mata yang sedang memperhatikannya dari kejauhan, dengan tempat yang berbeda.
*******
Tepat lewat siang hari, waktunya orang-orang istirahat siang, Putra membuka matanya saat perutnya terasa perih, karena terakhir terisi saat berada di rumah Erly, tepat dua hari yang lalu.
Semalam Putra jatuh pingsan karena hantaman anak buah Sinta, lalu terbalas tidur karena rasa lelah dan letih yang ia rasakan.
Pangdangan Putra terasa buram, kepalanya terasa pusing, karena sudah dua hari dua malam ia tidak mengisi perutnya dengan apapun, tenggorokannya pun terasa kering, karena haus. Bukan hanya itu, kaki dan tangannya terasa sakit tak bisa digerakkan, akibat tertembus peluru pistol.
Samar-samar, Putra mendengar suara yang sangat asing di telinganya. Suara desahan wanita dari dalam kamar kecil di ruangan itu. Sepertinya, Sinta membayar orang-orang suruhan dengan tubuhnya.
Perlahan Putra mencoba untuk bangkit, karena tubuhnya sedang terbaring di lantai. Dari saat ia pingsan semalam, tubuh Putra dibiarkan tergeletak begitu saja. Sinta tidak mengikat atau membekap Putra, karena kondisi tubuh Putra, tidak memungkinkan untuk melakukan pemberontakan ataupun kabur dari tempat itu.
Putra menahan rasa sakit yang amat dahsyat, untuk bisa berdiri. Setelah berhasil berdiri, Putra mendudukkan tubuhnya pada kursi di sampingnya.
Putra beranjak dari tempatnya, saat melihat botol di atas meja. Ia mengambil salah satu botol yang masih tersisa isinya, lalu membuka tutup botol, dan meminumnya.
"Huek.... huek... huek..." perut Putra langsung terasa mual, setelah meneguk air tersebut, yang ternyata adalah Wine sisa orang-orang semalam.
Piar...
Botol yang semula ia genggam, langsung jatuh ke lantai dan pecah, sehingga menimbulkan suara yang keras.
Sinta yang baru saja selesai berbuat anu, langsung beranjak mendengar suara tersebut, karena pintu kamarnya tidak ia tutup.
"Ooh.... kamu sudah bangun tuan muda?" Sinta menghampiri Putra dengan penampilan yang tidak pantas dilihat oleh mata bocah.
Sinta keluar dari kamar hanya menggunakan Celana dalam, sedang dadanya masih dalam keadaan terbuka, tanpa baju ataupun bra, karena tadi terburu-buru saat mendengar pecahan botol di luar kamarnya.
Putra membulatkan matanya melihat penampilan Sinta yang seperti itu, namun ia sempat memuji tubuh wanita itu. Putra memalingkan wajahnya untuk menepis perasaan aneh yang mulai timbul di pikirannya.
Sinta semakin dekat pada Putra, lalu mendorong tubuh Putra, hingga terpental dan jatuh pada sofa yang terletak di ruangan itu.
Perlahan Sinta mendekat, lalu duduk di pangkuan Putra.
"Jangan memalingkan wajahmu tuan muda...." Sinta mengelus pipi Putra dengan lembut, lalu menarik dagu Putra, agar mau melihat ke arahnya. Sinta mencoba menggoda Putra.
"Entah lantaran pengaruh Wine atau apa, namun kali ini, tubuh Putra merespon melihat wanita tanpa busana di depannya.
Putra menelan ludahnya, melihat payu dara Sinta yang berada tepat di depan wajahnya.
Sinta tersenyum penuh arti, setelah melihat respon Putra kepadanya.
Nafas Putra mulai memburu, jantungnya mulai berdegup kencang, ada rasa aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Putra merasa bernafsu dengan wanita yang sedang berada di pangkuannya.
Ini tidak seperti Putra yang sebenarnya, Putra yang tidak pernah bernafsu pada wanita, meski wanita itu bertelanjang sekalipun, kali ini Putra benar-benar bernafsu.
Sinta mendekatkan bibirnya pada bibir Putra, lalu mulai ******* bibir Putra, saat bibir mereka saling bertautan. Sinta menjulurkan lidah, meminta masuk pada mulut Putra.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, saat ini Putra langsung mengikuti kemauan Sinta, dia membuka mulutnya, lalu membiarkan lidah Sinta bermain di dalam mulutnya, bahkan ia mencoba mengikuti meski terasa kaku, karena ini pengalaman pertamanya.
Nafasnya mulai menggebu, detak jatung berdegup tidak beraturan, nafsu Putra benar-benar berkobar, saat Sinta menuntun tangan Putra untuk memainkan payu dara miliknya.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG....