Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Meninggal?


__ADS_3

Putra kini sedang berada di tengah jalan menuju ke-sekolahan, dia duduk di kursi depan, bersampingan dengan sopir pribadinya. Bang Ben, menghentikan laju kendaraannya sebelum mereka sampai di depan gerbang sekolah, Putra pun segera turun, kemudian berjalan menuju ke sekolahnya. Sedang bang Ben, memutar setir arah balik, kembali ke rumah, dia akan datang lagi saat jam pulang sekolah tiba.


"Hay Put." Tepat waktu yang hampir bersamaan, Erly juga tiba saat Putra baru akan melangkah memasuki gerbang sekolah.


"Ha, hay... hay juga Er." Putra terbata-bata, kepalanya berputar 180° mencari pemilik suara. Setelahnya... ia menundukkan kepalanya kembali.


"Jangan gugup gitu dong, aku kan sahabatmu. Yok masuk." Senyum ceria, layaknya senyum bidadari tanpa dosa, itulah gambaran dari manisnya senyuman di wajah Erly saat ini.


Gadis cantik itu, tanpa merasa malu langsung meraih tangan Putra, memasukkan jari jemarinya di sela-sela jari Putra, dia menggandeng tangan Putra layaknya pasangannya.


Putra sedikit kaget, namun ia membiarkan saja, yang dia tahu, saat ini tangannya telah bergandengan dengan tangan Erly, sahabat barunya.


"Udah, ayok... " Erly menarik tangan Putra saat Putra hanya terdiam di tempatnya.


"I, i, iya... ayok. " Putra pun mengikutinya, membiarkan Erly menuntunnya. Mereka menuju ruangan yang sama, karena mereka memang berada satu kelas.


Erly melepaskan genggaman tangannya, saat mereka telah berada di dalam ruangan. Erly duduk di baris depan, sedang putra di baris ke-3, dengan deretan yang sama. Putra dan Erly duduk di tempat mereka masing-masing.


Setelah menunggu beberapa puluh menit, seorang guru pun datang memasuki ruangan, kemudian memulai pelajaran setelah selesai mengabsen semua siswanya.


"Pak... " Dengan sedikit ragu-ragu, putra memberanikan diri memanggil gurunya.


"Iya. Ada apa? Apa ada yang mau ditanyakan?" Guru ini bernama pak Seto, atau akrab di sapa Pak To.


"Bo-bo, boleh minta izin pak?" Kalau berbicara lancar bukan putra namanya, karena Putra memang sulit untuk bicara. Sebenarnya bukan lidahnya yang bermasalah, namun mentalnya yang lemah, membuatnya merasa takut kepada semua orang, hingga ia akan gugup saat mengeluarkan suaranya.


"Mau kemana?" Pak To sedikit menurunkan kacamatanya untuk menatap Putra. Pak To memang tidak bisa terlepas dari kacamata bulatnya, katakanlah dia katarak, namun masih bisa melihat dengan baik.


Guru berpostur tinggi, berkulit hitam, berkumis tebal dan panjang ini, mempunyai selera penampilan yang cukup moderen. Cara berpakaian yang rapih, kemeja yang tak pernah ketinggalan dasi, dengan setelan jas hitam di tubuhnya, ia nampak lebih pantas jadi pegawai kantor, bukan guru sekolah, kaca mata yang dia gunakan pun berwarna hitam.


"Ke-ke... toilet pak."


"Silahkan. Saya tidak pernah melarang kalian untuk pergi ke toilet saat akan buang air, meski itu saat ujian. Karena saya tidak mau bertanggung jawab, bila ada yang buang air di tempat, kecuali yang gadis." Sontak beberapa siswa tertawa. Selain orang yang unik, pak seto pun suka melawak,walau kadang garing. Pak seto mempersilahkan kembali kepada Putra, agar cepat ke kamar mandi.


Dengan cepat, Putra pun berlari keluar ruangan mencari toilet.


Di mna toiletnya?


Putra celingukan mencari keberadaan toilet.


mencari keberadaan? Ah, aku rasa akan ada pada tempatnya, lagian mana ada toilet berjalan.


Mungkin sebelah sana.


Putra mempercepat langkahnya, menuju tempat yang menurutnya adalah Toilet. Dengan segera dia masuk ke-dalam dan melakukan ritwalnya.


"Plaap... " Lampu penerang tiba-tiba mati, namun Putra tidak menghiraukan, dia segera menyelesaikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Brak!" Baru saja Putra menyelesaikannya, kini ia dikejutkan dengan Hadirnya beberapa orang yang tidak asing baginya. Mereka adalah Alex, Riyo, Anton, Hendrik, dan Takiya.


Beberapa saat, sebelum mereka maauk.


Alex dan kawan-kawan sempat melihat Putra yang berlari ke arah toilet, dan tentu mereka mengikutinya. Karena pintu tidak Putara kunci, maka mereka dapat dengan mudah memasukinya.


Putra hanya tertunduk pasrah saat mengetahui pintu toilet telah dikunci, melawan mereka pun tidak ada kekuatan baginya, jadi putra hanya memilih menunggu apa yang akan terjadi dengan dirinya.


"Takiya." Alex memanggil anak buahnya dan tersenyum aneh, sepertinya dia sedang memberikan kode pada Takiya.


Takiya merupakan anak buah Alex yang paling setia, masalah keberingasannya tidak perlu ditanyakan lagi, bahkan ia tidak akan pernah puas berkelahi, jika blum bisa menghabisi nyawa musuhnya.


Takiya hidup seorang diri di apartemen milik mendiang ibunya, dia bisa melanjutkan sekolah karena Alex yang membantunya. Alex selalu memberikan uang kepada takiya untuk kebutuhan hidupnya.


Takiya mencengkram kerag baju Putra, mengangkatnya keatas, hingga membuat Putra harus menjinjit kan kakinya.


"A-a-apa yang kamu inginkan?" Seluruh badan putra bergetar ketakutan, matanya tertunduk kebawah, lidahnya terasa begitu kaku, namun dia tidak bisa diam saja. Susah payah Putra mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menanyakan kemauan mereka, lidahnya yang terasa pendek jadi semakin sulit untuk berucap.


"Breeg!" Takiya menghentakkan badan Putra kebelakang, hingga tubuhnya menempel pada dinding.


"Masih mau bertanya?!" Takya semakin merasa geram, sedang Alex dan ketiga temanya tertawa kecil, namun suara tawanya terdengar mengandung hawa - hawa negatif.


"Ma, ma, maaf... tapi saya tidak tahu maksud kalian." Putra tertunduk kebawah tidak berani menatap mereka, karena Putra yakin, jika wajah mereka sekarang, terlihat lebih menakutkan dibanding singa yang tengah kelaparan.


Takiya semakin geram mendengar jawaban Putra, cengkraman tangan kirinya semakin kuat, sedang jari-jari tangan kanannya kini telah tergepal rapat, keratan giginya terdengar begitu menakutkan.


"Haa!" Teriak Takiya keras.


"Tidak usah berbelit-belit, kami hanya meminta jatah kami." Riyo mendekat ke arah Putra, meski ucapannya terdengar datar, namun tetap saja menyimpan banyak makna.


Riyo adalah orang yang paling ramah di antara yang lainnya, namun sifatnya terbilang misteri, karena dia orang yang sulit untuk ditebak. Riyo tidak pernah menampakkan wajah emosinya meski sedang berkelahi, tidak begitu banyak bicara, namun keahliannya dalam berkelahi patut diperhitungkan, kekuatannya pun tidak perlu diragukan.


Putra masih diam tidak bergeming, dia tahu kalau ini semua akan terjadi, bahkan yakin, jika dia pasti akan merasakan siksaan.


"Takiya, lepaskan tanganmu..." Riyo memegang lengan Takiya yang sedang mencengkeram kerag Putra, dia menatap wajah Takiya seraya memberi isyarat bahwa dia yang akan mengurusnya.


Takiya menghentakkan kasar tubuh Putra, lalu melepaskan cengkeramannya.


"Putra... putra. Aku yakin, kamu pasti tahu apa yang kami inginkan, jadi... jangan membuat kami berbuat kasar padamu." Riyo sedikit membungkukkan badannya agar bisa menatap mata Putra, namun Putra hanya diam tak bergeming.


Riyo tersenyum dingin melihat Putra, kemudian dia meraih dagu Putra pelan, seraya mendongakkan wajah Putra.


"Ayolaaah... jangan terlalu berlebihan, kami tidak akan menghabisi mu di tempat ini. Jadi, berikan apa yang kami inginkan." Putra masih saja diam.


Putra diam bukan berarti tenang, tapi dia benar-benar tidak tahu apa yang mereka inginkan, karena dari tadi tidak memberi penjelasan, hanya melakukan penekanan, lantas Putra bingung. Apa yang mereka inginkan, dirinya harus melakukan apa, agar mereka puas.


Kalau mereka hanya memberikan kode, jangan harap mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena Putra bukan orang yang sepintar itu, selain culun, dia juga pria yang polos, jadi wajar kalau Putra tidak memberikan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Bug! Bug! Bug! Bug! Bug! Bug! Bug!" Riyo tertawa gemas sambil memberikan Putra seribu pukulan. Seribu pukulan? Ah, anggap saja sebanyak itu, karena aku tidak bisa menghitung berapa banyak pukulan yang telah mendarat di wajah Putra.


Hendrik dan Anton mencoba menahan pergerakan Riyo, namun itu sia-sia saja, karena Riyo, jauh lebih kuat dari mereka berdua.


Tubuh Hendrik dan Anton terhempas menghantam tembok, padahal Riyo hanya menepis keduanya saat akan menahan pergerakannya.


Inilah yang paling menakutkan dari Riyo, ketika dia sedang marah, maka kekuatannya tidak lagi terkontrol, dan jika ada yang akan menghentikannya, itu hanya akan bernasib buruk.


"Hahaha... hahahaa... huaahahaha...." Riyo tertawa senang sambil melayangkan pukulannya. Kedua tangan Riyo aktif maju mundur dengan begitu cepat. Hantaman tanpa jeda bertubi-tubi tiada henti, ini sangat, sangatlah brutal. Darah mulai keluar bercucuran dari hidung Putra, namun Riyo tetap melayangkan pukulan tanpa ada jeda.


"Hahaha..." Tawanya semakin terdengar menakutkan.


"Bag! Big! Bug! Bag! Big! Bug!" Entah berapa ratus kali yang telah Putra terima, namun pukulan itu terus menghujaninya tanpa henti.


Darah segar terus mengalir memenuhi wajah Putra, kini pandangannya telah benar-benar buram, hingga semua tubuhnya terasa lemas tidak berdaya.


Air mata keluar bercampur darah segar, bukan sakit yang kini ia rasakan, tapi kebahagiaan yang kini ia dapatkan, dalam bayangan Putra, kini ia tengah bermain bercanda bersama teman yang telah ia anggap saudara.


"Hahahha. Bug! Bag! Big! Bug!" Kira-kira demikianlah paduan suara tawa Riyo dan suara pukulan yang mendarat di wajah Putra, entah berapa ribu pukulan yang diberikan, Riyo tidak peduli. Dia merasa jengkel karena tidak kunjung mendapatkan apa yang ia inginkan.


Mereka sebenarnya hanya ingin memalak Putra, berharap agar Putra dapat memberikannya uang, namun kemarahan yang hanya didapatkan, karena Putra tidak mengerti kemauan mereka.


"Huahahahahha... huaahahahha... huaahaaa..." Jurus seribu pukulan tanpa bayangan, mungkin demikian julukannya, karena banyaknya pukulan yang melayang dengan kecepatan tinggi, hingga tidak terlihat begitu jelas. Mana yang memukul, kapan saat menarik tangan, dan kapan mendaratkan nya, semuanya hanya terlihat semu, mata hanya mampu melihat hasil dari pukulannya. Yups, wajah Putra, kini sudah tidak seperti wajah manusia.


Erly begitu gelisah ketika menyadari, jika Putra tidak kembali ke-kelasnya. Sekolah sudah terlihat sepi, semua siswa sudah pulang ke rumah masing - masing.


Put... kamu di mana?


Erly mondar mandir merasa tidak tenang, dia sedang mengkhawatirkan sahabatnya. Lihat saja bagaimana ekspresinya saat ini, dengan bibir mengerucut, muka was - was, dan jari telunjuknya mengetuk - ngetuk kepalanya.


Udah jam tiga... Gumam Erly setelah melihat jam yang melingkar di lengannya.


Apa gue cari aja yah. Begitu bodohnya gadis ini, setelah menunggu berjam - jam, baru sekarang ia kepikiran.


Dengan cepat, Erly mengambil barangnya, dan barang Putra, lalu bergegas pergi mencari Putra.


"Put... kamu di mana sih... " Erly berlari ke sana kemari mencari keberadaan Putra, dia berlari seorang diri di gedung bertingkat tersebut.


Toilet! Gumamnya dalam hati.


Erly mempercepat langkahnya menuju toilet.


"Putra?!" Erly berteriak kencang saat mendapati sosok yang tidak asing baginya, dia terkejut seakan tidak percaya, apa yang kini ada di hadapannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2