Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Gadis malang.


__ADS_3

"Mari ikut kami ke kantor kepolisian, kita selesaikan msalah ini secara bersama."


Putra hanya diam tidak berani berkata apapun.


Segerombolan polisi itu lalu meraih tangan Putra dan membawanya.


Putra hanya diam, dia mengikuti perkataan segerombolan orang tersebut, menuju mobil yang berada di seberang jalan rumahnya. Putra dibawa masuk kedalam mobil, lalu mobil tersebut melaju meninggalkan halaman rumah Putra.


Putra memandang keluar kaca mobil, dia memerhatikan tempat sekitar yang ia lalui.


********


Di lain sisi.... Erly mengendarai motornya dengan sangat pelan, matanya clingukkan, mencari sosok sahabatnya, berharap dapat menemukannya.


"Kamu kemana sih Put...." Erly bingung harus mencari sahabatnya kemana lagi, karena ia telah berputar-putar berulang kali menyusuri jalan yang sama, namun tidak juga menemukan sosok Putra.


Waktu bergerak cepat, tidak terasa hari mulai gelap, bulan pun telah muncul menggantikan posisi sang surya.


Setelah merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk pulang, karena perutnya pun sudah terasa sangat lapar.


Beberapa menit kemudian, Erly telah kembali memasuki halaman rumahnya, setelah memasukkan motor ke garasi, ia segera masuk kedalam rumah.


"Udah pulang?" tanya Lyli saat melihat adiknya memasuki rumah, dia sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Iya," Erly tertunduk lesu berjalan menghampiri kakanya, lalu duduk di sebelah Lyli.


"Ketemu?" tanya Erly penasaran sambil menatap wajah adiknya.


Erly menatap balik kakaknya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Loe kok perhatian banget sama dia? Emang dia siapa kamu?" Lyli penasaran dengan kedekatan adiknya dengan Putra.


"Aku tuh kasian ma dia kak.... dia itu orang yang memiliki ciri mental, di sekolah, dia hanya jadi bahan cacian dan aniaya siswa lain," Erly lalu bercerita pada kakanya.


"Gue tahu. Lagian gue udah pernah ketemu dia." Lyli mengambil air meneral yang ada di depannya, lalu meminumnya samapai habis.


"Kaka udah kenal Putra?!" tanya Erly antusias.


"Iya. Gue ketemu ama dia di kamar mandi." Lyli kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan adiknya.


Di kamar mandi? Gumam Erly menerka ucapan kakanya.


"Maksud Kaka?" Erly menoleh mencari sosok kakanya, namun tubuh Lyli telah lenyap di balik dinding penyekat.


Apa yang Lyli ucapkan adalah kebenaran, dia bertemu Putra di kamar mandi. Lyli lah wanita yang pernah berada satu ruangan dengan putra saat sedang berganti pakaian, dia lah wanita yang meminjamkan celana kepada Putra, yang sampai saat ini masih berada di tangan Putra.


*******


Mobil Jhep berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Putra mengernyitkan dahinya saat mobil yang ia tumpangi melintasi jalan yang tidak ia kenal.


Kenapa jalannya semakin sepi dan kecil? Rumah juga udah mulai jarang.... ini mau kemana?"

__ADS_1


Ada rasa was was dalam hati Putra, karean jalan yang dilalui semakin sempit dan sepi, kini mereka melintas pada jalan berbatu, sedang kanan kirinya hanya ada pepohonan yang rindang.


Mobil Jhep yang membawa Putra, kini berhenti di sebuah bangunan tua di atas tempat yang berbukit.


"Ayo keluar!" Orang berpakaian seragam itu menarik kasar tubuh Putra, lalu menyeretnya ke arah bangunan tua di depan mereka.


Putra bukanlah Pria seperti pada umumnya, meskipun tahu dirinya berada dalam bahaya, ia tidak ada niatan meski hanya untuk membela diri, yang ia tahu, hidup ini adalah takdir. Apapun yang terjadi, sudah kehendak takdir, dia tidak mau melawan takdir, itulah yang ada dalam pikiran Putra.


Bukan Putra namanya kalau berani melawan atau membantah, karena jiwa kerdilnya telah mendarah daging semenjak kecil, hingga ia selalu merasa, dirinya pantas mendapat perlakuan yang tidak layak dari siapapun.


Putra meringis menahan sakit di kakinya, karena luka yang ia dapatkan sebelumnya dari Alex dan kawan-kawan. Luka yang kemarin masih belum sembuh, kini ia harus mendapat perlakuan yang tidak kalah kasar.


Yah.... Putra berhasil dikelabui oleh segerombol orang yang mengaku sebagai petugas kepolisian, padahal mereka adala orang-orang suruhan, yang ditugaskan untuk menculik Putra.


"Bruak!" tubuh Putra terkulai lemas jatuh di lantai dalam ruangan.


Putra meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang terasa lumpuh, kaki yang sebelumnya hanya terasa sakit, kini sudah nampak membengkak bak kaki gajah.


"Halo, Bos!" salah seorang berbicara melalui ponsel.


"..................."


"Beres, Bos. Kami telah berhasil menemukan berkas-berkas yang anda inginkan. Dan anak Lauren sudah berada di tangan kami," sepertinya orang tersebut sedang berbicara dengan atasannya, dan penculikan serta tragedi yang terjadi memang sudah direncanakan.


"............."


"Siap, Bos! Kami akan segera menyelesaikannya!" setelah mengetahui hasil kerja anak buahnya, sang atasan mematikan sambungan telepon.


Setelah mendapat instruksi, 2 orang bertubuh kekar menarik tubuh Putra, menghimpitnya membawa ke sebuah ruangan. Tanpa mengeluarkan suara, tanpa ada tindakan melawan, Putra menuruti semua kemauan mereka.


"Permisi.... kami membawa target, meminta izin masuk," orang yang membawa Putra kini berdiri di depan pintu, dia meminta izin sebelum memasuki ruangan.


"Masuk!" setelah mendapat izin masuk, orang yang membawa Putra membuka pintu ruangan, lalu mendudukkan tubuh Putra di salah satu kursi dalam ruangan.


"Keluar!" 2 orang bertubuh kekar itu langsung keluar, setelah mendapat perintah.


Putra membulatkan matanya saat melihat orang yang kini berada di depannya.


"Halo tuan muda, Putra.... apa kamu terkejut melihatku?" orang tersebut duduk sambil menyilangkan kakinya, sedang tangannya memegang rokok yang sesekali ia hisap.


"Ka-ka-kaka, Sinta?!" Putra benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi, dia tidak menyangka jika pelaku di balik penculikan ini adalah Sinta Sekretaris kepercayaaan Lauren.


"Bagus.... kamu masih mengenaliku,"


Putra sangat mengenal wanita di depannya, karena Sinta sering berkunjung ke rumahnya, mengingat ia adalah sekretaris Lauren, orang tua Putra.


"A-ada masalah apa, sampai kamu membawaku ke sini?" Putra penasaran dengan apa yang Sinta inginkan.


"Tidak perlu terburu-buru begitu tuan muda...." Sinta lalu bangkit mendekati Putra.


"Aku hanya ingin meminta hak ku tuan..." Sinta bergelayut manja, merangkul leher Putra dari belakang, lalu menyandarkan dagunya pada bahu Putra.

__ADS_1


Putra merasa risih mendapat perlakuan seperti itu, namun apa yang bisa ia lakukan? Putra bukan tipe jiwa yang berani menolak, apalagi saat mendapat perlakuan kekerasan. Putra bergidik, namun tetap membiarkan apapun yang Sinta lakukan kepadanya.


"Asal kamu tahu tuan muda.... aku adalah istri simpanan ayahmu yang tidak kunjung disahkan, dia hanya menikahiku secara sirih," pernyataan Sinta membuat Putra kaget kepayang.


"A-apa?!" Putra kaget, lalu ia menoleh, melihat wajah Sinta. Karena wajah Sinta berada di sampingnya, saat Putra menoleh otomatis wajah mereka saling menempel.


"Ah! Apakah tuan muda menyukai wanita dewasa?" ucap Sinta saat tanpa sengaja bibir mereka saling menempel.


Putra langsung memalingkan wajahnya dan tertunduk. "Ma-maaf... aku tidak sengaja."


"Hahaha... sengaja pun tidak masalah. Aku akan melayani anak dari suamiku yang tidak mau bertanggung jawab," Sinta menarik dagu Putra ke samping, hingga pandangan mereka saling bertemu.


"Asal tuan muda tahu.... Ayahmu menikahiku karena terpaksa, dia takut jika bayi yang aku kandung terlahir," Sinta beralih tempat lalu duduk di samping Putra.


"Ayahmu menyetubuhiku sebelum kami menikah karena terpaksa, dia memperkosaku, padahal usiaku dan anaknya hanya terpaut 4 tahun,"


Apa yang Sinta katakan memang benar, dia dan Putra hanya berselisih umur 4 tahun, lebih tua Sinta. Putra lambat masuk sekolah karena cacat mental, sehingga di usianya yang ke-20, ia masih duduk di kelas x SEMEA.


Flashback on.


Sinta melamar kerja di butik Putra Ganda, setelah menyelesaikan masa putih abu abunya, dia terpaksa bekerja karena orang tuanya tidak mampu membiayai kuliah. Sinta akhirnya bisa kuliah setelah diterima bekerja di butik tersebut, ia kuliah sambil bekerja.


Sinta terkenal dengan orang yang rajin dan cekatan, gadis ini mudah akrab sama orang karena sikapnya yang ramah, gadis cantik bertubuh mungil dengan hidung mancung ini, sangat populer di tempat kerjanya.


Smith mengenal Sinta karena ia sering berkunjung ke butik Putra Ganda yang tak lain adalah butik istrinya, Lauren.


Seiring berjalannya waktu, Smith semakin dekat dengan Sinta, karena Lauren sering mengajaknya kemanapun ia pergi, meski Lauren sedang pergi bersama suaminya. Kehadiran Sinta di tengah-tengah pasangan suami istri ini membawa dampak yang cukup signifikan, dari Lauren yang sering mengajaknya, lalu ia sering menemani Smith saat Lauren sedang sibuk, hingga terjerat pada posisi yang rumit.


Kecantikan Lauren akhirnya membuat Smith terpesona, hingga suatu saat, Smith kelepasan. Sinta menjadi korban pelampiasan, saat rumah tangga Smith sedang ada masalah.


Singkat cerita.... Sinta jadi sering melakukan hubungan seksual dengan Smith di belakang Lauren, karena iming-imingan yang menggiurkan. Smith menjanjikan akan menikahi Sinta, menjadikan istri ke-2 dan akan memberikan 50% harta kekayaannya. Namun janji hanyalah janji, ucapannya tak kunjung ditepati, sampai akhirnya Sinta hamil dan orag tuanya memaksa Smith untuk menikahinya.


Sinta menikah sirih dengan Smith karena desakan orang tuanya.


Kedua orang tua Sinta mati kecelakaan seminggu setelah pernikahan putri satu-satunya. Kematian orang tuanya, membuat Sinta mengalami guncangan jiwa dan depresi, hingga membuat kandungannya keguguran. Kini, ia tidak punnya siapa-siapa, Sinta hanya hidup seorang diri, dia memilih tetap bekerja di butik Lauren untuk menopang biaya hidupnya.


.


.


.


.


.


BERSAMBJNG..


Nb:


Mohon koreksi jika ada typo.

__ADS_1


__ADS_2