
Lily, dan Erly terkejut, karena orang yang culun itu, telah berusaha hidup mandiri, sejak lama. Mungkin ini terbilang jarang, untuk anak seusia Putra, yang sudah memiliki usaha.
Namun buah, memang tidak jatuh jauh, dari pohon nya.
****
Suasana ruangan menjadi dingin, saat penghuni ruangan itu, terdiam tanpa kata. Erly, dan Putra, hanya menundukkan kepala, sedang Lily menatap keduanya bergantian, lalu membenarkan posisi duduknya.
Lily kembali menyandarkan punggungnya di bahu kursi, mendongakkan kepala, menatap langit langit ruangan. Andai saja.... masih ada papa dan mama. Pasti, aku tidak perlu pusing pusing, memikirkan ini semua. Lily jadi teringat dengan kedua orang tuanya. Bayangan orang, yang telah melahirkan nya di dunia ini, tiba tiba melintas, di benak nya. Sebuah senyuman indah ditampilkan oleh ayah dan ibunya, namun tiba-tiba, ada sosok seseorang yang terlihat samar-samar, datang menghampiri mereka, lalu membunuh mereka, dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Hingga membuat, Lily tersadar, "Arrgh!" lalu berteriak histeris, berjingkat kaget, lalu menundukkan kepala.
Putra dan Erly pun ikut kaget, lalu menatap ke arah Lily.
"Kenapa kak?" tanya Erly, heran.
Lily hanya menggelengkan kepala menjawabnya, membuat Erly dan Putra, saling tukar pandang, lalu mengangkat bahu, secara bersamaan.
Lily masih menunduk, menyandarkan wajah, di antara paha, lalu menangkupkan dengan kedua tangan nya. Rasa sedih dan amarah, seakan bercampur, berpadu menjadi satu. Kesedihan yang mendalam, rasa dendam yang terpendam, membuat air mata keluar tanpa seizin tuan nya. Lily tidak serapuh itu, membiarkan air mata terus mengalir, layaknya anak kecil. Lily, menahan air mata, mengubah rasa sedih dalam hatinya, menjadi rasa amarah dan dendam, hingga air matanya pun takut, tidak berani kembali keluar.
Lily mengangkat wajah lalu menatap Putra, dengan sorotan mata yang tajam, tidak bersahabat.
"Kapan kamu akan melamar adik ku?"
Bukan bermaksud mendesak, namun Lily ingin tahu, sejauh mana keseriusan Putra. Erly terkejut mendengar kalimat pertanyaan kakak nya, ia tidak menyangka, jika kakak nya menanyakan hal itu, secepat ini. Namun tidak dengan Putra, ia nampak santai, biasa bisa saja.
"Nanti malam," jawab Putra dengan mantap, penuh keyakinan.
Erly terbelalak, mendengar ucapan sahabatnya, ia tidak menyangka, jika Putra seantusias itu. Erly, dan Lily, menatap wajah Putra, namun mereka tidak menemukan ekspresi apapun, selain ekspresi datar, tanpa ada keraguan, ataupun gentar.
"Apa kamu yakin?" tanya Lily memastikan.
"Tidak!" Erly, dan Lily pun bingung, "Aku tidak yakin, jika harus menunggu untuk waktu yang lama. Jadi, aku akan melamarnya secepatnya, nanti malam," imbuhnya, sebelum dua orang di depan nya sempat berbicara.
__ADS_1
Erly bernafas lega, mendengar penjelasan dari Putra. Sedang Lily, membuang muka malas.
Tumben dia bicara dengan lancar? Apa aku yang salah dengar? Erly merasa ada yang aneh dengan Putra, karena baru kali ini, Putra bicara tidak terbata-bata.
Lily berdiri, kemudian beranjak pergi. Tinggal lah dua orang di ruang itu. Putra hanya diam tak bergeming, sedang Erly, menatapnya dengan tatapan, yang sulit diartikan.
*******
Di suatu tempat...
Segerombolan pemuda, sedang berkumpul di sebuah bangunan tua yang tidak terpakai. orang-orang tersebut, mengenakan jaket Levis berwarna hitam, dengan lambang tengkorak kepala, bersilang pedang. Mereka adalah sekumpulan gangster.
"Ton! Gimana? Apa loe sudah menemukan keberadaan nya?"
"Belum Lex. Gue sudah mencarinya, namun belum bisa menemukan nya,"
"Loe Drik?" tanya Alex, beralih pada Hendrik.
"Gue juga belum. Anak buah gue sudah melacak nya, namun tidak menemukan jejak sama sekali. Kami sudah mengunjungi rumahnya, namun sepertinya, sudah bukan dia lagi penghuninya. Dia telah hilang, bagai tertelan bumi," jawab Hendrik, yang juga gagal, melaksanakan tugas.
"Kalian benar benar bodoh! Hanya mencari seekor tikus saja, tidak becus!" Alex nampak mulai marah, karena dua orang bawahan nya, tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, "Takiya," Alex beralih menatap wajah Takiya.
Takiya, membalas tatapan nya, sebelum menjawab, "Putra Aldi wijaya, atau biasa dikenal dengan nama Putra, adalah anak tunggal dari keluarga Adam Smith Wijaya, bersama Lauren Sintia Putri, atau cucu dari Wulan Putri Wijaya, atau cicit dari Hendro Arip Wijaya, pengusaha sukses di usia muda, tanpa mengecam pendidikan, yang sempat menjadi salah satu pengusaha muda terkaya, se-dunia, di zaman nya. Hendro Arip Wijaya, mewariskan harta kekayaannya kepada putri tunggalnya, yaitu Wulan Putri Wijaya. Selanjutnya, Wulan Putri Wijaya, mewariskan harta kekayaan tersebut, kepada anaknya, yaitu Adam Smith Wijaya. Menurut info yang saya dapat, Harta kekayaan keluarga Wijaya, mampu untuk membeli ratusan pulau, bahkan bisa untuk membangun sebuah negara dari nol..." ucapan Takiya di potong.
"Langsung pada intinya," ucap Alex, karena merasa bosan dengan cerita Takiya.
"Baiklah. Harta keluarga Wijaya begitu melimpah, hingga akhir akhir ini, ada gangster ternama, yang sedang mengincarnya. Adam Smith Wijaya, berhasil dijebak oleh kelompok gangster tersebut, di negara Jepang, beserta istrinya. Menurut kabar yang beredar di kalangan dunia gelap, gangster tersebut berhasil membunuhnya, dan dalam proses pengambilan alih, semua aset, kekayaan Wijaya. Putra, yang merupakan keturunan keluarga Wijaya, diincar oleh semua anggota gangster tersebut, namun berhasil melarikan diri, berkat bantuan pria misterius berjubah hitam. Dan sampai saat ini, belum ada yang berhasil menangkap Putra, meski anggota gangster itu telah menyebar, di seluruh negri ini. Setelah beberapa hari tidak menemukan keturunan Wijaya, akhirnya gangster itu memutuskan untuk menarik anak buahnya, setelah mereka tahu, kalau Putra, adalah orang yang tidak normal, seperti manusia pada umumnya. Jadi, mereka yakin, kalau Putra, tidak akan bisa merebut kembali, harta kekayaan keluarga Wijaya, yang diturunkan secara turun-temurun, dari leluhurnya itu." Takiya mengambil nafas, untuk kembali melanjutkan ceritanya.
Semua orang di tempat tersebut, sangat antusias, mendengarkan cerita Takiya, mereka tidak menyangka, jika Putra adalah keturunan dari keluarga Wijaya, yang merupakan salah satu pengusaha terkaya, di dunia. Berbeda dengan Alex, ia tidak begitu tertarik, dengan cerita masa lalu, yang hanya membuatnya mengantuk, "Loe bisa bicara pada intinya?!" Alex menatap tajam wajah Takiya, yang membuat suara bisik bisik anak buahnya, menghilang seketika, mereka takut, jika Alex, sampai marah.
"Hem...." Takiya membakar sebatang rokok, lalu menghisap, dan menghembuskan nya secara kasar, ia nampak santai, tanpa merasa takut dengan Alex, "Putra bersembunyi, di bantu oleh seorang wanita," ucap Takiya, menatap wajah Alex.
__ADS_1
"Maksud loe?" tanya Alex belum mengerti maksud nya.
"Ada beberapa orang, yang menyelamatkan nya. Putra, berhasil kabur dari anak buah gangster, berkat bantuan seorang gadis, lalu menghilang, hingga saat ini. Kemungkinan besarnya, Putra disembunyikan oleh gadis tersebut. Gadis yang membantunya kabur, bernama Erly, dan sepertinya, Erly menyembunyikan Putra, di rumahnya," ucap Takiya menjelaskan.
"Erly?" Alex mengernyitkan dahi, seakan sedang mengingat sesuatu.
"Sepertinya, gue pernah denger nama Erly," sambung Anton.
"Iya. Kalian pasti tahu, murid tercantik di SMA yang sama, dengan tempat sekolah kita. Dia adalah adik dari Lily, wanita kupu kupu malam, yang hidup tanpa orang tua, ataupun saudara, selain adik nya. Alamat rumah mereka telah gue selidiki, dan semuanya gue pastikan, kalau informasi ini, memang dapat dipercaya." ucap Takiya.
Alex langsung menyunggingkan bibir, tersenyum senang, mendengar penjelasan Takiya. "Bagus, bagus, bagus. Ini yang tidak ada, pada diri orang lain. Lo adalah orang yang dapat diandalkan. Gue bangga, dengan hasil loe." Alex, menepuk-nepuk pundak Takiya, karena bangga.
Itulah alasan Alex, mau membiayai hidup, dan sekolah Takiya. Selain tenaganya, otaknya pun sangat cerdas, gesit, dan selalu detail dalam mencari informasi. Orang orang, menganggap Takiya, sebagai tangan kanan Alex.
Hanya Riyo, yang tidak di tanyai oleh Alex, karena semuanya telah dijelaskan secara detail oleh Takiya. Riyo pun hanya diam, dengan ekspresi datar, tanpa mengucapkan sepatah kata.
Alex, Riyo, Takiya, Hendrik, dan Anton, duduk melingkar, di sebuah meja berbentuk lonjong. Tidak jauh dari mereka, puluhan orang pun berkumpul, dengan jaket yang berlambang sama. Mereka adalah bawahan dari, teman teman Alex.
Anton, pegang anggota sebanyak 9 orang. Hendrik, memegang anggota, sebanyak 25 orang. Takiya, memegang anggota, sebanyak 70 orang, sangat jauh dibandingkan Hendrik, apalagi Anton. Alex, menegang anggota, sebanyak 50 orang, lebih sedikit dari Takiya, namun jabatan nya, sebagai kepala leader mereka, orang nomer 2 di gang Naga Hitam, yang dipimpin oleh mister X.
Takiya, adalah yang paling dominan, di antara mereka. Semua teman Alex, mempunyai bawahan atau anggota, meski mereka lebih sering berkumpul bersama Alex, daripada, bersama bawahan nya. Hanya Riyo, satu satu orang, yang bergerak seorang diri, karena dia lebih suka sendirian, sikapnya yang dingin pun, membuat orang, akan takut, jika harus menjadi bawahan nya.
"Bersulang." Alex mengangkat gelas minuman nya, lalu mengangkatnya, para teman nya pun ikut mengangkat gelas, lalu menempelkan nya satu sama lain. Alex, kemudian berdiri, menatap kerumunan orang yang tidak jauh darinya, mengangkat gelas, kemudian menyodorkan ke depan. Para orang yang berkerumun itu pun, mengangkat gelas mereka masing-masing, menyodorkan ke depan, mereka bersulang, sebelum meminumnya.
Alex kembali duduk, lalu meletakkan gelas nya di atas meja, "Kita Harus membalas perbuatan Putra, beberapa waktu lalu. Anak itu harus mati! Karena telah berani, membuat masalah dengan kita," ucap Alex, dengan wajah merah padam, ada kebencian yang begitu besar yang kini ia rasakan.
"Iya. Kami tidak boleh tinggal diam. Dia telah mencemari gang Naga Hitam. Pastikan, dia menerima akibatnya." imbuh Anton.
"Benar. Kita memang harus menghabisinya, namun kita butuh rencana. Aku rasa, Pria berjubah hitam itu, akan selalu menjaganya, mengingat, Putra adalah keturunan, dari keluarga Wijaya," ucap Hendrik.
"Untuk itu lah, kita harus bisa menggunakan ini." Alex menunjuk kepalanya sendiri, dengan jari telunjuk, mengisyaratkan pada mereka, untuk berpikir dahulu, sebelum bertindak, "Apa kalian punya rencana selanjutnya? Hem?" tanya Alex, menatap wajah Riyo, Takiya, Hendrik, dan Anton, secara bergantian.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....