Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Teman Baru


__ADS_3

"Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana." Ucap Erly, lalu pergi meninggalkan Putra sendirian di tempat tersebut, Putra hanya diam dan mengangguk pelan.


Kaka. Gumam Putra, dia teringat masa kecilnya.


Putra memiliki teman yang sebaya dengannya, tapi Putra menganggapnya seperti saudaranya sendiri, dan juga sebaliknya. mereka seperti layaknya kaka beradik, sering bermain bareng dan tidur bersama, tidak jarang, Putra mendapat perlindungan darinya, saat Putra diejek dan dimaki, selalu saja dibela oleh teman yang sudah dianggapnya saudara. Mereka hidup di kota yang sama, bahkan rumah mereka tidak begitu jauh, jadi Putra sering berkunjung ke rumahnya, dan juga sebaliknya, Putra benar-bnar menyayangi temannya itu, dia masih ingat saat temannya rela berkelahi demi membelanya. Putra menganggapnya kaka, karena temannya itu pemberani, selalu menyayangi, dan sikapnya yang lebih tegas darinya. Tapi itu dulu, sejak kepergian temannya itu, Putra merasa kesepian, tidak ada teman untuk mengobrol, tidak ada yang melindunginya seperti dulu, tidak ada yang bisa membuatnya tertawa. Kedua orang tua Putra? Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing masing, seakan tidak begitu peduli dengan Putra, apalagi sang ayah, Putra tidak pernah melihat wajah sang ayah, karena saat ayahnya pulang kerja, Putra telah tertidur, dan saat Putra bangun, ayahnya telah berangkat kerja. Sungguh jiwa yang merasa kesepian, karena dari kurangnya perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Akibatnya, Putra menjadi jiwa yang pendiam dan cacat mental.


Putra membuka tasnya, dia mengeluarkan sebuah buku yang tadi dia baca, dipeluknya buku tersebut erat erat, tidak terasa air matanya jatuh, Putra menangis layaknya anak kecil.


"Hei, kenapa menangis?" Putra berjingkat saat merasakan bahunya disentuh seseorang, dia menoleh dan menatap orang tersebut, "Tidak kok, aku tidak nangis" cepat-cepat, Putra menghapus air matanya.


Kamu lucu. Gumam Erly dalam hati, dia tersenyum melihat tingkah putra.


"Nih, aku bawa es cream, kamu mau?" Erly memberikannya satu, dan langsung diterima oleh Putra.


"Kamu kenapa?" Erly mengelus pundak Putra lalu duduk di sebelahnya. Pelan-pelan, Putra menggeser tubuhnya, dia tidak biasa berdekatan dengan orang lain, selain teman yang sudah dia anggap saudaranya, kedua orang tua Putra pun, jarang berkumpul atau menemuinya.


"Gak papa kok." Putra tertunduk menatap buku di pangkuannya, sedangkan es krem nya hanya dipegang saja, dia tidak segera memakannya.


"Cepat, makan es krem nya, kamu gk suka ya?" Erly menatap Putra lekat lekat.


"Suka kok, suka." dengan cepat, Putra melahap es tersebut, bahkan hampir saja dia menelan semuanya sekaligus, ini makan es apa minum obat ya? hahaha.


Erly lagi lagi tersenyum melihat tingkah Putra, baru kali ini dia menemukan pria semacam itu.


"Oh iya, nama kamu siapa?" Erly baru menyadari kalau dia belum mengetahui nama pria yang sedang bersamanya.


"Em ... na, na, namaku Putra." Rasanya berat sekali, untuk sekedar memberi tahu namanya pada Erly.


"Gak usah sungkan atau malu padaku, aku tidak akan mengejek mu." Erly berkata jujur, dia tidak akan mempermalukan Putra yang mempunyai kelainan itu.


"Enggak, a, a, aku enggak malu kok." Jawab Putra sambil menggelengkan kepalanya. dia tetap saja tertunduk, pandangannya hanya tertuju pada buku yang dipangkunya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu seperti risih kalau duduk dengan ku?." Tanya Erly penasaran.


"Aku ... aku hanya tidak biasa berdekatan dengan orang, ayah dan ibuku saja, jarang bersamaku, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Saat aku pulang dari sekolah, aku hanya sendirian, di rumah hanya ada beberapa orang pekerja rumah tangga, aku tidak pernah mengobrol sama siapa-siapa." Tidak sadar, Putra mengeluarkan unek uneknya, dia menceritakan kehidupannya yang terasa kesepian.


"Saudara?" Erly bertanya lagi.


"Tidak Punya." Putra menjawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Kalau teman?" Erly kembali bertanya, seakan ingin tahu kehidupan Putra.


"Teman ... aku punya teman, tapi dulu, saat aku masih kecil, dia sudah aku anggap sebagai kakakku, dia selalu melindungi ku, menyayangiku, dia selalu perhatian kepadaku, kami sudah seperti saudara, kemanapun pergi, kita selalu bersama, bahkan kita sering tidur bareng. Tapi ... dia pergi meninggalkanku, saat kami masih duduk di bangku Sekolah Dasar, waktu itu aku masih kelas 3, dia pergi karena diajak pindah rumah oleh ayahnya." Putra menjawab pertanyaan Erly panjang lebar, dia menceritakan teman baiknya, dengan bercerita seperti itu, terlihat jelas, kalau dia membutuhkan seseorang yang bisa bersamanya, Putra menginginkan seorang teman, dan sebenarnya, Putra merindukan teman di masa kecilnya itu.


Mata putra berkaca kaca, dia menatap lekat buku di pangkuannya.


"Sepertinya Buku itu sangat penting bagimu, emang buku apa?" Putra terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


"Ini Novel pemberian kaka ku." Jawab Putra singkat.


"Katanya tidak punya kaka?" Tanya Erly, dia ingin tahu siapa kaka yang dimaksud Putra.


"Terus sekarang dia tinggal bersamamu?" Erly masih saja penasaran dengan kehidupan Putra, dia merasa nyaman bersama Putra, padahal dia baru saja mengenalnya, menurut Erly, Putra sangat lucu dan unik.


"Tidak. Tapi aku yakin, kalau suatu saat, dia pasti menemui ku, aku yakin dia merindukanku seperti aku merindukannya. Aku yakin, dia akan merasakan apa yang sedang aku rasakan, aku sangat kenal siapa dia. Kakak ku tidak akan mengingkari kata katanya, dia tidak akan membuatku kecewa. Aku tahu, dia sangat menyayangiku seperti aku menyayanginya." Putra mengatakannya dengan penuh keyakinan, dia percaya kalau teman nya itu, suatu saat akan menemuinya dan kembali hidup bersama-sama.


"Bagaimana kalau dia tidak datang menemui mu, bukankah seharusnya sekarang dia sudah datang?" Erly ingin Tahu, sejauh mana Putra beharap pada teman yang sudah dianggapnya saudara.


"Aku akan mencarinya." Tiba-tiba saja Putra berbicara tegas sambil menatap wajah Erly dengan tatapan tajam. Putra meninggikan suaranya, seakan tidak senang kalau ada orang yang mengatakan, bahwa teman nya itu membohonginya.


"Maaf, aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya tidak suka kalau ada orang yang menganggap kaka ku pembohong" Putra kembali menundukkan kepala, dia merasa bersalah atas sikapnya barusan.


"Iya, nggak papa, Seharusnya aku yang minta maaf, karena telah meremehkan kakamu" Erly pun merasa bersalah, karena ucapannya telah menyinggung Putra.

__ADS_1


"Eng, Eng, Enggak apa apa kok, aku yakin, kakak ku tidak mau membuatku kecewa, dia pasti punya alasan, kenapa sampai sekarang belum menemui ku" Putra menunduk menatap buku novel pemberian kakak nya, dia sangat yakin kalau kakaknya pasti datang, walau dia tidak tahu, entah kapan waktunya, yang dia tahu, dia hanya perlu menunggu.


Sebegitu percayanya kah kamu? Kasihan sekali kamu Put, hanya butuh teman saja kamu sampai harus menunggu, apakah hidupmu bergantung padanya, apa kamu tidak punya teman lain? Apa kamu sangat merasa kesepian tanpanya?


Erly melamun, dia bergumam dalam hati. Erly sangat kagum dengan sifat Putra yang sangat mempercayai seorang teman.


"Bay the way, aku boleh nggak,jadi teman kamu?" Erly bermaksud ingin berteman dengan Putra, menurutnya Putra sangat cocok untuk diajak berbagi cerita.


"Ka, ka, kamu, mau berteman denganku?" Putra mengatakannya terbata bata, dia merasa gugup, dia tidak percaya kalau ada orang yang mau berteman dengannya, selain teman masa kecilnya. Putra menatap lekat wajah Erly.


"He'em, mau ya?" Erly menatap wajah Putra sambil tersenyum padanya.


Putra langsung menundukkan kepalnya, Putra tersenyum kegirangan, dia tidak menyangka kalau akan memiliki teman lagi, masalahnya, selama ini tidak ada orang yang mau berteman, bahkan berdekatan dengannya, dia hanya jadi bahan ejekan dan aniaya.


"Dil yah, kita berteman" Ucap Erly yang lalu menyodorkan jari kelingking tangannya. Putra menoleh menatap Erly, kemudian dia juga menyodorkan jari kelingking tangannya, jari kelingking mereka saling bertautan, mereka saling beradu pandang, keduanya tersenyum penuh ketulusan.


"Sekarang kita sudah jadi teman, jadi jangan malu atau sungkan lagi padaku, aku pun begitu, aku tidak akan sungkan padamu, kita akan membagi cerita bersama, saling percaya, dan saling menjaga satu sama lain, jika ada yang ingin diceritakan, bercerita lah kepadaku, aku pun akan membagi cerita denganmu, jangan ada yang ditutupi di antara kita." Erly mengeluarkan kata-kata yang seolah menjadi sebuah perjanjian diantara keduanya.


Putra tersenyum mendengar kalimat yang terucap dari mulut Erly, dia sangat senang, akhirnya dia mempunyai seorang teman, senyuman di bibirnya membias tak kunjung sirna, kedua jari tangan mereka masih saling bertautan.


Hidup memang demikian.


Terkadang orang yang mulanya tidak kenal, malah menjadi teman, bahkan seperti saudara, dan terkadang saudara malah menjadi orang saing yang tidak saling kenal, bahkan ada juga saudara yang menjadi musuh. Bagiku, saudara bukan hanya orang yang keluar dari rahim yang sama, tapi mereka yang selalu ada saat kita suka maupun duka, yang selalu mengerti dan percaya satu sama lain. So... carilah saudaramu di manapun kamu berada, karena tidak sedikit orang yang mau berteman dan menjadi saudara, tanpa ada hubungan darah.


Mereka melepas tautan jari kelingking masing masing, setelah cukup lama mereka saling memandang dan tersenyum bahagia, kini mereka telah mengikat hubungan pertemanan.


"Udah waktunya pulang nih, kita pulang yuk." Erly mengajak Putra pulang saat melihat jarum jam di lengannya, "Sepertinya kita cukup lama di sini, tidak terasa udah waktunya pulang." Erly beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Ayuk." Jawab Putra singkat, lalu dia ikut berdiri. keduanya pun beranjak pergi, dan pulang ke rumah mereka masing masing.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2