
"Apa?" Apa loe pikir, selama ini yang memberimu makan, yang memberimu uang jajan, yang membiayai mu sekolah adalah Putra? Huh? Loe itu cuman gadis kecil yang belum bisa apa apa!" Lily kembali menunjuk kepala Erly, dengan jari telunjuk nya.
*******
Lily begitu geram dengan adiknya yang terus saja membantah. Sedang Erly pun masih kekeh, teguh pada pendirian. Entah apa yang membuatnya begitu yakin, jika Putra mau menikahinya, padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Putra, terhadapnya.
Mereka terus berdebat, sedang Putra, mendengarkan pembicaraan mereka, dari balik pintu, luar ruangan.
****
"Ting, tung... ting, tung...."
Putra, segera berjalan menuju pintu, ketika mendengar bel rumah berbunyi. Sedang Erly dan Lily, masih saja berdebat, jadi tidak mendengar suara bel, meski berulang kali berbunyi.
"Tuan," nampak seseorang dengan setelan jas hitam berdiri tegap di depan rumah, setelah Putra membukakan pintu.
"Sssst! Jangan kencang-kencang!" Putra memberi isyarat pada orang tersebut, sambil menoleh ke belakang, dan melihat tempat sekitar, "Mana pesanan ku?" tanya Putra to the points.
Yang datang saat ini adalah Pak Handoko, orang kepercayaan Putra, yang selama ini mengelola, harta pribadi Putra.
"Ini Tuan." Pak Handoko, menyodorkan koper kecil berwarna hitam, yang langsung di terima oleh Putra.
Putra segera membuka koper tersebut, lalu melihat isinya, memerhatikan dengan seksama, "Ini terlalu mahal, aku tidak ingin mereka curiga," komen Putra, setelah memeriksa beberapa cincin, dengan ukuran dan model yang berbeda.
Pak Handoko tidak hanya membawa satu saja, melainkan banyak model dan ukuran, karena ia belum tahu, selera dan ukuran jari, orang yang akan memakai.
"Ini Tuan." Pak Handoko, segera menyodorkan koper kecil selanjutnya, Putra pun langsung menerimanya, dan memberikan kembali koper yang pertama, kepada Pak Handoko.
"Nah, ini sederhana. Jadi mereka tidak akan curiga," ucap Putra, dengan wajah sumringah.
Pak Handoko terlihat senang, melihat respon yang Putra tunjukkan. Ia sengaja, membawa dua pilihan, antara yang berharga mahal, dan yang sederhana, lalu memilihkan motif dan ukuran yang berbeda-beda, supaya Putra bisa memilih salah satunya. Jadi, ia tidak perlu bolak balik, karena pesanan tidak sesuai.
Putra, mencoba beberapa cincin bergantian. Ia mencoba memasukkan cincin di jari kelingkingnya, karena ia tahu, kalau jodoh, maka jari manis wanita, akan sama dengan jari kelingking pria. Artinya, jika cincin itu pas di jari kelingking Putra, maka akan pas pula, di jari manis Erly.
Putra mengambil salah satu cincin yang sederhana, lalu memakainya, "Ini cocok kayaknya," ia memandangi cincin yang melingkar di jari kelingkingnya.
"Apakah sudah, Tuan?" tanya Pak Handoko kemudian.
Putra menatap Pak Handoko, " Sepertinya ini cocok." Putra memberikan koper yang semula ia pegang, kepada Pak Handoko, dan langsung diterima.
"Memang nya, siapa yang mau menikah, Tuan?" tanya Pak Handoko penasaran.
Pak Handoko sebenarnya bingung, karena disuruh membelikan cincin pernikahan, tapi tidak tahu untuk siapa.
"Saya," jawab Putra tersenyum.
"A-apa? Maksud nya, Tuan akan menikah?" tanya Pak Handoko terbata, karena terkejut.
__ADS_1
"Iya. Sudahlah, jangan banyak bicara. Mana kartu ATM saya?" Putra kemudian berekspresi datar, menatap orang kepercayaan nya itu.
Pak Handoko langsung meletakkan koper yang semula ia pegang, lalu merogoh saku celana, mengambil dompetnya, "Ini Tuan." Lalu memberikan, apa yang Putra inginkan. Putra, menerimanya, lalu mengantongi, "Terimakasih paman. Oh iya, tolong cari kan ponsel buat saya. Ponsel sya hilang," ucap Putra, ketika teringat, kalau ponselnya telah hilang.
"Baik, Tuan," pak Handoko masih tidak begitu fokus, karena terkejut, mendengar ucapan Putra, yang mengatakan, bahwa dirinya akan menikah.
"Apakah perlu yang Tuan butuhkan? Saya akan segera menyiapkan keperluan, Tuan?" tanya pak Handoko.
"Tidak ada. Semuanya akan saya selesaikan dengan caraku sendiri. Kamu jangan ikut campur! Saya akan memanggil mu, saat saya membutuhkan mu." ucap Putra dengan ekspresi datar, membuat Pak Handoko, mengerti dengan maksud Putra.
Putra berbicara dengan tegas, normal seperti manusia pada umumnya, entah karena sudah terbiasa berkomunikasi dengan pak Handoko, di masa lalu, atau karena alasan lain. Namun Putra, berbicara secara normal, tanpa terbata bata.
"Baiklah. Saya mohon pamit."
Pak Handoko segera pergi dari tempat tersebut, setelah Putra menganggukkan kepala. Putra pun segera menutup pintu, lalu beranjak, berjalan menuju ruang televisi, kemudian duduk di sofa.
Putra, melepas cincin yang ia pakai, lalu mengantongi di saku celananya.
Baiklah. Aku sudah siap, dengan segala yang akan terjadi. Putra menundukkan kepala, berdiam diri.
*******
"Sudahlah! Gue nggak akan peduli lagi sama loe. Terserah loe mau lakuin apa aja." Lily membalikkan badan, hendak beranjak pergi.
"Tunggu," Erly mencegah kakak nya yang hendak keluar dari ruangan, "Bukankah sebelumnya, kakak yang ngotot menyuruh ku menikah dengan Putra? Kenapa ketika aku bersedia kakak malah mencegah?" ucap Erly, yang membuat Lily membalikkan badan, menatap wajah adiknya.
"Huuh! Terserah loe deh! Mungkin aku yang salah," Lily mengangkat kedua bahunya, lalu membalikan badan, beranjak pergi.
Lily membelok, berganti arah, saat melihat Putra di ruang televisi, ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar, beralih mendekati Putra, lalu duduk di sofa lain, di depan Putra.
Erly menghela nafas, lalu menyandarkan kepala, pada bahu kursi, mendongakkan kepala, menatap langit langit ruangan. Sedang Putra hanya diam, tidak berani menatap wajah wanita di hadapan nya.
****
Setelah Lily keluar, Erly masih berdiam diri di kamar, beberapa saat, lalu beranjak pergi, keluar dari ruangan itu, hendak menemui Putra.
"Eh, kamu di sini?" tanya Erly, saat melihat Putra, sudah berada di ruang televisi.
Lily memiringkan kepala, melirik ke arah sumber suara, Putra pun mengangkat kepala, melihat ke arah Erly berada.
Erly pun segera menghampiri Putra, lalu duduk di samping nya. Sedang Lily, masih melirik, mengikuti pergerakkan adik nya, sampai Erly duduk di kursi.
Lily membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Erly dan Putra bergantian.
"Heem... Put," panggil Lily. Putra pun beralih menatap wajah Lily.
"Apakah loe bersedia, jika menikah dengan adik gue?" Lily nampak begitu serius, karena ini menyangkut masa depan adik satu satunya.
__ADS_1
"I-iya. A-aku, bersedia menikahi Erly," ucap Putra bersungguh sungguh, lalu kembali menundukkan kepala.
Lily, dan Erly, langsung menatap wajah Putra, mengernyitkan dahi. Ternyata, pria yang terlihat culun pun, punya perasaan terhadap lawan jenisnya, bahkan bersedia untuk menikah. Apakah ini hanya karena rasa takut kepada Lily, atau hanya sekedar menjawab, berdasarkan apa yang ingin ia jawab? Namun ia bersungguh sungguh, bersedia untuk menikah.
Lily menghela nafas, sebelum kembali berbicara, "Apa kamu tahu? Kalau kalian menikah, maka kalian tidak akan bisa melanjutkan sekolah? Dan menikah itu, membutuhkan banyak biaya?" Lily tidak melepaskan pandangan, menatap wajah Putra.
"Iya. A-aku tahu," seperti biasa, Putra tidak akan menatap lawan bicara nya, saat berbicara, ia tetap menunduk.
Erly menundukkan kepala, tersenyum bangga, mendengar ucapan Putra menjawab pertanyaan kakak nya.
Syukur deh, kalau dia bersedia. Tidak perlu pacar pacaran, aku bisa nikah, dan memilikinya seutuhnya. Erly masih senyum senyum sendiri, karena harapan nya, sepertinya sesuai dengan ekspetasi.
"Menikah itu bukan lelucon, atau untuk main main belaka. Gue tidak ingin, adik gue tersia-sia nantinya. Apa lo bersedia, menemaninya, di saat suka maupun duka, selalu menjaganya, dan menafkahinya?" tanya Lily kemudian.
Sebenarnya, Lily merasa ragu, kalau mereka benar-benar segera menikah, karena merasa khawatir, apakah Putra bisa menafkahi Erly nantinya atau tidak. Karena yang Lily tahu, Putra hanyalah Pria culun, yang berstatus pelajar. Bukan nya Lily memandang harta sebagai patokan, namun paling tidak, harus ada jaminan, agar ia percaya, jika adik nya nanti, tidak akan hidup sengsara, seperti yang ia alami beberapa tahun silam. Keuangan, memang merupakan masalah utama, saat membicarakan masalah rumah tangga.
"A-aku akan selalu siap menjaganya, me-menemaninya, di saat suka, ma-maupun duka, dan akan menafkahinya, me-menyayanginya, dengan se-sepenuh hati," ucap Putra dengan percaya diri.
Lily mengernyitkan dahi, menatap wajah Putra, merasa tidak percaya, jika Putra, ternyata benar benar serius. Namun masih ada hal yang kurang baginya, Lily pun segera mengucapkan pertanyaan selanjutnya.
"Lalu bagaimana cara lo menafkahi adik gue? Apakah loe akan menjadi pekerja keras? Apakah loe akan menjadi kuli? Apakah loe bisa bekerja? Bagaimana cara lo mencari uang, untuk menghidupi keluarga, menafkahi adik gue?" wajarlah bertanya demikian, karena status Putra, masihlah pelajar. Lalu bagaimana cara seorang pelajar mendapatkan uang? Mencari nafkah demi keluarga? Bukan bermaksud memandang harta, karena Lily sendiri bukanlah orang kaya. Namun ini demi menjamin kehidupan selanjutnya, karena memang hidup membutuhkan banyak biaya, tidak hanya untuk makan saja.
Erly, menatap wajah kakak nya, lalu beralih menatap wajah Putra. Kalimat itu mungkin lebih terdengar merendahkan, menganggap enteng orang lain, namun ini memang penting, Putra pun tidak mempermasalahkan hal itu.
"A-aku.... mempunyai sebuah cafe, yang dikelola oleh seseorang, dan su-sudah berjalan se-sejak tiga tahun lalu. A-aku menggunakan u-uang tabunganku, un-untuk mendirikan nya. Mu-mungkin tidak begitu menjamin, ta-tapi.... setidaknya cukup, un-untuk biaya hidup, mes-meski hanya secara sederhana," memberitahu bahwa ia memiliki usaha lah, agar Lily mau merestui, dan mempercayai nya.
Lily, dan Erly terkejut, karena orang yang culun itu, telah berusaha hidup mandiri, sejak lama. Mungkin ini terbilang jarang, untuk anak seusia Putra, yang sudah memiliki usaha, namun buah, memang tidak jatuh jauh, dari pohon nya.
Erly menatap wajah Putra. Ada rasa bangga dalam hatinya, meski hanya seorang pria culun, tapi pemikirannya sudah cukup matang, sampai memikirkan masa depan. Menurutnya, jarang orang yang seusia Putra, yang sudah memikirkan pekerjaan, bahkan sudah memiliki sebuah usaha. Ini menjadi nilai plus, untuk Putra.
*******
Hidup memang begitu. Kadang kita memandang orang berdasarkan penampilan, atau melihat isi berdasarkan wadah. Namun nyatanya, banyak wadah tanpa isi, tampilan lebih bagus daripada kenyataan, ataupun sebaliknya.
So... jangan suka memandang remeh, atau menyepelekan seseorang!
Sebesar apa kamu menghargai, maka sebesar itu pula, kamu dihargai.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
Salam cinta damai