
Setelah status Putra sebagai keturunan Wijaya terbongkar, mereka begitu serius, memikirkan rencana yang akan dijalankan. Karena mereka yakin, kalau Putra, pasti ada yang menjaganya.
"Apa loe yakin, kalau ada bodyguard khusus, yang menjaga Putra?" tanya Alex, pada Takiya.
"Iya. Gue yakin. Kejadian beberapa hari yang lalu, membuat gue curiga, kalau ada seseorang, yang slalu menjaga, tanpa sepengetahuan Putra. Hal itu, memang sudah terjadi, dari beberapa keturunan keluarga Wijaya, sebelum Putra. Mereka mempunyai bodyguard khusus, yang tidak orang lain ketahui, selain orang yang menugaskan," jawab Takiya.
"Memang benar, apa yang Lo katakan Jon. Gue pernah denger, kalau keturunan Wijaya, tidak akan menggunakan nama Wijaya, sebelum menjadi pewaris sah harta Wijaya. Seperti yang kita ketahui, kalau Putra, hanya menggunakan nama Aldi Putra, sebagai nama identitas, namun nyatanya, Putra Aldi Wijaya. Sang bodyguard pun dirahasiakan, tidak terkecuali terhadap keturunan Wijaya sendiri. Bodyguard mereka seperti Intel, selalu ada, mengikutinya, namun tidak ada yang mengetahui. Bodyguard itu, akan menjalankan tugasnya, saat keturunan Wijaya, sudah menginjak usia dewasa. Menurut informasi yang gue dapat, bodyguard mereka hanya berasal dari beberapa keluarga yang sama, dan diwariskan secara turun temurun," imbuh Anton, membenarkan ucapan Takiya.
"Heem.... seperti itu yah. Jadi, ini tidak akan mudah, seperti yang kita bayangkan. Rencana kita kali ini, harus benar benar matang," ucap Alex, sambil memikirkan sebuah rencana.
"Gimana kalau kita culik saja teman gadis nya, saat tidak bersama Putra. Dengan begitu, kita tidak perlu berhadapan langsung dengan bodyguard yang menjaga Putra. Jika kita berhasil menculik Erly, dan memancing Putra, untuk datang menemui kita, gue rasa, kita punya kesempatan untuk menghabisinya," usul Hendrik.
"Sang bodyguard, akan selalu mengikutinya. Apa kalian yakin, kita bisa menjebak nya?" ucap Alex bertanya.
"Serahkan kepada gue. Gue punya rencana untuk ini. Kalian hanya perlu berjaga, di tempat penyekapan," Takiya menatap teman teman nya, secara bergantian.
"Baiklah. Gue serahin ke elo. Awas! Jangan sampai mengecewakan!" Alex menatap tajam wajah Takiya, memberi isyarat, bahwa Takiya tidak boleh gagal.
"Kita lihat saja nanti," Takiya terlihat santai, menikmati rokok nya.
Dari diskusi yang mereka lakukan, hanya Riyo yang tidak membuka suara, meski lainnya sudah memberikan saran dan usulan.
Riyo, Pria dingin itu memang tidak suka banyak bicara, namun masalah tenaga, sudah tidak diragukan lagi. Riyo, menguasai ilmu beladiri yang mumpuni, termasuk tapak suci dan kera sakti. Ia lebih suka bertindak, daripada bicara. Itu sesuai dengan moto hidup nya, 'sedikit bicara banyak kerja'.
Setelah mendapatkan sebuah ide, mereka pun segera mengangkat gelas, untuk bersulang.
*******
Hari telah berganti malam. Hanya menyisakan beberapa jam saja, mereka akan memulai aksinya.
"Alex, Riyo. Lo cukup menunggu di dalam tempat eksekusi. Hendrik, dan Anton, loe berjaga di sekitar tempat eksekusi, berjarak 100 m, melingkari tempat tersebut, agar keamanan kita sulit untuk di tembus. Setelah kita mengurung Putra, kalian harus berada di tempat yang telah ditentukan, dengan selalu siap siaga, tidak boleh lengah. Kelengahan, adalah suatu kelemahan!" Ucap Takiya memberi arahan.
Biasanya, Alex yang akan memberi instruksi kepada mereka, untuk menjalankan aksi. Namun kali ini, ia menyuruh Takiya, mengambil alih, memimpin jalan nya rencana.
****
Di rumah Lily.
Setelah mengintrogasi Putra, Lily telah mendapat kesimpulan, untuk sebuah keyakinan. Lily merestui hubungan adiknya untuk menuju jenjang pernikahan. Dan malam ini, adalah malam lamaran mereka.
Setelah memasangkan cincin di jari manis Erly, Putra tersenyum, dengan senyuman yang belum pernah Erly lihat.
Dia emang tampan. gumam Erly dalam hati.
Sebelum acara lamaran, Erly sengaja memilihkan pakaian Putra, dan merubah penampilan nya. Erly juga meminta Putra, untuk tidak lagi memakai kaca mata.
__ADS_1
Dasar anak puber! batin Lily, saat menyaksikan pemandangan di depan nya.
Erly, tidak kalah bahagianya dengan Putra, ia pun membalas senyuman Putra, dengan senyum maksimal yang ia bisa.
Dia memang sangat cantik. puji Putra dalam hati.
Erly, dan Putra, duduk bersanding, di kursi yang sama. Mereka duduk saling berhadapan, Putra menggenggam jemari Erly, sambil menatapnya, Erly pun, menatap wajah Putra, tak berkedip, seakan tidak mau berpaling sedikitpun. Keduanya saling bertatapan, mengumbar senyum, makna penuh kebahagiaan.
Karena sangking bahagianya, mereka sampai melupakan sosok Lily, yang berada bersama mereka, seakan dunia ini, hanya milik mereka berdua.
Terlarut dengan kebahagiaan, mengacuhkan, siapapun dan apapun, mereka tidak bisa terlepas dengan posisinya saat ini. Membuat Lily, yang menyaksikan hal itu, mengumpat kesal dalam hati. Bagaimana tidak, Lily hanya seperti obat nyamuk yang tidak diperlukan, atau patung penghias ruangan.
Kampret nih bocah!
Lily membuang muka, ke sembarang arah.
"Biasa aja. Kalian masih berstatus tunangan, bukan suami istri,"
Ucapan Lily, membuat Erly dan Putra, melepaskan tautan tangan mereka, membenarkan posisi duduk, lalu menggeser tubuh, saling menjauhkan. Mereka terdiam, dengan posisi masing masing.
Mereka bertiga, berkumpul di ruang televisi, jadi pandangan mereka, kini tertuju pada televisi, di depan nya.
"Film apaan!" decak Lily, lalu me-nggonta ganti canel.
Lily sengaja tidak bekerja untuk malam ini, ia ingin menyempatkan diri, berada di rumah, karena malam ini adalah malam lamaran adiknya.
Lily berhenti me-nggonta ganti canel, saat melihat berita yang membuatnya tertarik.
"Berita mengejutkan, berasal dari keluarga Wijaya. Wijaya, keluarga bangsawan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Menghilangnya Adam Smith Wijaya, garis keturunan generasi ke tiga, dari keluarga Wijaya, telah menghebohkan beberapa negara tetangga, terutama dari para pengusaha. Menurut informasi yang beredar, keluarga Wijaya diculik dan dibunuh, oleh lawan bisnisnya. Ini mungkin akan memutus garis keturunan, dari keluarga bangsawan terkenal itu, karena selain Adam Semith Wijaya, Putra Aldi Wijaya, yang merupakan keturunan Wijaya ke empat, dikabarkan ikut menjadi korban. Putra Aldi Wijaya, anak dari Adam Semith Wijaya, atau dikenal dengan nama Aldi Putra, telah menghilang, tanpa kabar dan jejak. Aparat telah melakukan penyelidikan dalam kasus ini, namun sampai saat ini, masih belum menemukan informasi lebih lanjut mengenai kasus ini,"
Dalam berita tersebut, di tampilkan foto Putra, Smith, dan Lauren, yang diambil secara terpisah, dengan waktu yang berbeda beda, karena untuk mengambil gambar mereka tidak lah mudah, karena keluarga Wijaya, selalu tertutup untuk dunia eksport.
Berita tersebut, langsung menjadi tranding topik, di berbagai stasiun televisi, bahkan masuk dalam berita manca negara.
Erly, dan Lily, dikejutkan dengan berita kali ini. Karena orang yang dimaksud dalam berita, adalah orang yang kini tengah bersama mereka. Putra, yang merasa dirinya adalah orang yang bersangkutan, langsung mendadak bingung, wajahnya terlihat pucat seketika.
Setelah melihat berita tersebut, ada perubahan dari raut wajah Lily. Seketika ia meloncat dari tempatnya, berpindah tempat, di depan Putra.
"Jadi loe keturunan Wijaya?!" tanya Lily dengan nada tinggi. Kini, ia telah mencengkram kerah baju Putra.
Putra nampak terkejut, saat mendapati perubahan wajah Lily, wajah penuh amarah, dengan sorot mata yang tajam, penuh dendam.
Erly tidak kalah terkejut, dengan tindakan kakak nya, ia tidak mengerti, mengapa kakak nya berbuat demikian.
Putra menundukkan kepala, tubuhnya bergetar, karena merasa takut. Keringat dingin pun mulai keluar, dari pori pori kening nya.
__ADS_1
"Jawab! Apa benar kamu keturunan Wijaya?!" Lily menghentakkan cengkraman kerah baju Putra.
"I-iya. Sa-saya...."
"Bruak!"
Sebelum Putra menyelesaikan ucapan nya, Lily telah mengangkat, dan melempar tubuh Putra, hingga terlempar, dan tergelak di lantai.
"Kakak!" Erly berteriak histeris.
Belum sempat Putra bangkit, Lily telah berhasil mendaratkan kakinya, di dada Putra, lalu menindih tubuh pria itu. "Kamu harus bertanggung jawab, menebus dosa orang tuamu!"
"Bug! Bug! Bug! Bruak!"
Lily membogem wajah Putra berulang kali, lalu mengangkat dan melemparnya, layaknya bantal. Tubuh Putra terjatuh, membentur meja kaca, dan membuat meja tersebut pecah. Tubuh Putra pun tertimbun serpihan kaca.
Lily masih merasa belum puas, dia berjalan ke arah Putra, dengan sorot mata tajam penuh dendam, raut wajahnya memerah, menahan emosi, kedua telapak tangan nya terkepal rapat.
Melihat calon suaminya di aniaya, Erly tidak tinggal diam, ia menghadang langkah kakak nya, "Apa maksud semua ini? Kenapa kakak menghajarnya tanpa alasan? Apa kesalahan nya?" Eerly membentangkan kedua lengan, menghadang kakak nya, yang hendak kembali menghajar Putra.
"Lo anak kecil, nggak usah ikut campur! Lo tidak tahu apa apa!" Bentak Lily, penuh emosi.
"Tidak! Aku bukan anak kecil! Aku dan akak seumuran, dan kita besar bersama. Jadi aku berhak, mendapatkan penjelasan. Jangan lukai calon suamiku!" Erly tidak mau menyingkir, ia tidak rela, jika Putra tersakiti.
Sedih, bingung, dan marah, itulah yang Erly rasakan. Erly sedih, melihat Putra berulang kali dipukul oleh kakak nya, namun ia juga bingung, karena belum tahu, pokok permasalahan nya.
"Jangan membuatku semakin marah Erly! Kamu tidak tahu apa apa!" Bentak Lily, dengan nada yang semakin meninggi, rasa emosinya sudah berada di ujung kepala, bahkan darahnya, terasa panas, mengaliri seluruh jiwa, membangkitkan emosi dendam lama.
Putra hanya bisa menahan rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya. Ia tidak bisa berkutik, saat Lily menyerang nya, karena Putra, merupakan pria yang lemah.
Perlahan Putra bangkit, menyingkirkan serpihan kaca yang berantakan di sekujur tubuhnya, dan ada juga beberapa pecahan kecil, yang menancap dan menggores kulit nya.
"Lo menyingkir sekarang juga. Dia harus mati di tanganku! Dia harus menebus dosa orang tuanya!" Lily semakin mengeratkan kepalan tangannya.
Erly hanya bisa menggelengkan kepala, sambil tetap merentangkan tangan. Buliran air jernih, mulai menetes, membasahi pipi. Ia tidak tahu harus berbuat apa, yang ia rasakan hanya sedih, dan bingung.
Di tengah perdebatan antara kakak beradik itu, tiba-tiba, ada angin yang menerpa.
"Wussh.... prak!"
Lily terkejut, membulatkan mata tidak percaya. Setelah angin berhembus di dalam ruangan itu, tubuh Putra telah menghilang, bersama suara kaca jendela yang pecah.
Erly pun melihat ke arah jendela yang pecah, namun ia tidak menyadari, jika sosok Putra, sudah tidak ada lagi di dalam ruangan tersebut.
Erly, dan Lily, bergumul dengan pikiran masing masing, dan tanpa mereka sadari, kalau rumahnya, kini telah terkepung, oleh segerombolan orang.
__ADS_1
Puluhan orang, kini telah mengepung rumah tersebut, dan telah siap, melakukan penyerangan.
BERSAMBUNG...