
Lily terkejut, seakan tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Namun Erly, tidak menyadari, jika Putra, sudah tidak ada di antara mereka.
"Jangan sakiti dia lagi kak," ucap Erly, dengan nada memohon.
Rasa kesedihan berkecamuk dalam hati, sambil memejamkan mata, ia merentangkan tangan, menghalangi kakak nya, agar tidak lagi menyakiti calon suaminya. Matanya mulai mengeluarkan bulir benih, pertanda hati tak kuat lagi, menahan kesedihan. Erly tidak tahu, jika apa yang ia lakukan adalah hal sia sia, karena Putra telah hilang, tiada.
Lily, berjalan santai, lalu menghempaskan tubuhnya, di atas sofa, lalu menghela nafas. Sambil memijit keningnya, Lily masih tidak percaya, atas apa yang telah terjadi. Hal yang baru saja terjadi, baginya seperti mimpi.
Perlahan, Erly membuka matanya, saat Susana terasa hening. Setelah melihat kakak nya telah duduk, ia pun membalikkan badan, melihat ke tempat Putra jatuh sebelumnya.
Erly terkejut, saat tidak menemukan sosok Putra di sana, ia melihat ke seluruh ruangan, namun tidak juga menemukan.
"Putra?" Erly melihat arah kanan dan kiri, namun tetap sama, tidak menemukan Putra di manapun, dalam ruangan tersebut.
Setelah lama tidak menemukan sosok yang ia cari, Erly berbalik badan, berjalan mendekati Lily.
"Putra mana kak?" Erly menatap wajah Lily, dengan ekspresi kebingungan.
Lily hanya menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan adiknya.
"Jawab kak. Jangan cuman diam!" Erly tidak puas dengan pertanyaannya yang hanya dijawab, dengan gelengan kepala.
"Loe bisa diam nggak?!" bentak Lily, menatap tajam wajah adiknya.
Erly pun diam, dia tidak tahu apapun yang telah terjadi, meski hal itu terjadi di sekitarnya. Perlahan, tubuhnya melemas, dan jatuh secara perlahan, terduduk di lantai.
"Lupakan Putra," ucap Lily kemudian.
Erly mengangkat kepala, menatap wajah kakak nya.
"Jangan teruskan hubungan mu! Kamu tidak boleh, menikah dengan nya," ucap Lily pelan. Ada rasa bersalah dalam hatinya, karena mulanya, ia sendiri yang menyuruh mereka menikah, dan sekarang, malah tidak memperbolehkan adik nya, untuk melanjutkan hubungan tersebut.
Erly mengernyitkan dahi, mendengar ucapan kakak nya, "Apa maksud kakak? Kakak yang menyuruh kami untuk cepat menikah. Setelah kita tunangan, kakak malah menyuruhku melupakan nya?" Erly menggelengkan kepala, "Tidak kak. Aku tidak mau meninggalkan nya, aku tidak mau meninggalkan Putra. Aku harus menikah dengan Putra, apapun alasan nya,"
"Lyk. Kamu harus tahu, jika Putra, bukanlah pria yang pantas untukmu. Dia orang jahat lyk, dia jahat," Lily menekan setiap kalimat ucapan nya.
Erly menggelengkan kepala, "Tidak. Putra bukan orang jahat," ucap Erly dengan pandangan mata yang teduh.
Lily, berjalan mendekati Erly, lalu duduk berjongkok di depan adiknya, "Dengarkan aku baik baik Lyk," ia memegang pundak Erly, sambil menatapnya dengan lembut.
__ADS_1
Erly langsung menepis tangan kakak nya, sambil menggelengkan kepala.
"Dengarkan aku Lyk. Putra adalah keturunan Wijaya, dan asal kau tahu, keluarga Wijaya lah, yang menyebabkan kematian orang tua kita. Sehingga kita, harus hidup menderita, tanpa kasih sayang dan perlindungan orang tua," ucap Lily, dengan nada yang lembut.
Erly hanya diam, dengan tatapan mata kosong, pikiran nya sedang linglung. Bagaimana tidak, baru saja ia menerima lamaran, dan membayangkan kebahagian yang akan datang, namun kini harus menelan kepahitan, karena Lily, menyuruhnya untuk menyudahi hubungan mereka. Apakah ini lelucon di siang bolong? Kalau pada akhirnya tidak menyetujui, lantas mengapa, sebelumnya harus merestui? Hati bukan lah mainan, perasaan bukanlah percobaan. Jangan memberikan, kalau setelahnya meminta kembali. Ini bagaikan orang meludah, lalu dijilat kembali.
"Lyk, maafkan aku. gue Bukan bermaksud mau menghancurkan perasaan mu, tapi loe harus tahu, kalau Putra, bukanlah pria yang pantas untuk mu. Dia anak dari seorang pembunuh. Orang tua Putra lah, yang telah membunuh orang tua kita. Loe harus tahu itu. Apakah loe bodoh, membiarkan keturunan orang yang telah membunuh orang tua mu? Gue tidak mau itu terjadi. Pokoknya, loe tidak boleh, menikah dengan Putra," Lily kekeh, mencegah adiknya, agar tidak melanjutkan hubungan, yang baru saja berstatus tunangan. meski begitu, Lily mengucapkan nya dengan nada lembut dan berhati-hati, karena tidak ingin menyinggung hati adiknya.
Lily tidak rela, jika adiknya menikah dengan Putra, karena Putra adalah keturunan Wijaya, keluarga yang telah ia benci selama ini. Semula, ia memang setuju, jika adik nya menikah dengan Putra, namun setelah tahu identitas asli Putra, ia mencabut kembali restunya. Lily tidak mau adiknya dinikahi, oleh anak pembunuh, orang tuanya sendiri.
"Lyk. Orang tua kita bukan mati karena kecelakaan, melainkan mati karena dibunuh. Mereka mati, dibunuh oleh orang suruhan Adam Smith Wijaya, ayah Putra. Jadi, gue harap, loe bisa mengerti alasan gue, tidak merestui kalian,"
Erly hanya diam, mendengarkan setiap ucapan kakak nya, ia tidak membantah, tidak bicara, juga tidak merespon.
"Lyk.... kamu sayang kan, sama papa dan mama? Kalau kamu sayang mereka, kamu harus mengakhiri hubungan, sebelum kalian menikah. Anggap saja, loe tidak pernah dipinang. Lupakanlah Putra!" perlahan, Lily memegang kedua pundak adiknya, namun Erly, segera menepisnya.
"Stop!" Erly menatap tajam kakak nya, "Stop menjelek-jelekan Putra, di depanku!" bibirnya bergetar menahan sakit di hati, meski tidak ada suara tangisan, namun buliran air bening, telah berulang kali menetes, membasahi pipi.
"Lyk...." Lily mengangkat tangan, hendak menyentuh pundak adiknya, namun Erly dengan cepat menepisnya.
"Apa?!" bentak Erly.
Entah mengapa, namun kali ini, Erly benar - benar marah pada kakak nya. Ia juga tidak merasa takut sedikitpun. Hatinya telah hancur, karena setelah merasa terbang, langsung di jatuhkan hingga tertancap ke dalam perut bumi.
Karena merasa adiknya telah berani membentak, Lily pun marah. Ia menatap tajam wajah adiknya.
"Apa?! Ha?! Kakak mau apa lagi dariku? Apa aku harus menjadi semut, agar kakak puas menindasku?! Apa karena selama ini kakak yang mencari uang, lantas kakak bisa berbuat semena-mena menentukan jalan hidupku? Apa kakak pikir, aku tidak bisa bekerja? Apa kakak pikir, aku tidak bisa hidup tanpa kakak?! Ingat kak! Pekerjaan rumah ini, hanya aku yang mengerjakan. Padahal aku yakin, kakak juga tahu, kalau aku, bukan lah pembantu!" mungkin lantaran amarah dan kesedihan, yang membuatnya berbicara kasar pada Lily. Karena baru kali ini, Erly tidak takut, saat Lily membentaknya, malah justru balik marah pada kakak nya.
Plak!
Sebuah tamparan pun mendarat mulus di pipi, membuat Erly memegangi pipinya yang terasa perih.
"Lo udah mulai berani ya!" Lily merasa geram, emosinya pun ikut melonjak.
Erly menurunkan tangan, lalu menatap tajam wajah kakak nya.
"Kakak itu tidak pernah berpikir dewasa. Andai kakak berbicara baik baik kepada putra, semuanya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan marah, dan bicara kasar pada mu," ucap Erly dengan nada tinggi.
"Apa?! Apa semudah itu, melupakan kematian orang tua? Hah?! Gue akan membalaskan kematian orang tua kita. Putra harus mati di tangan gue!" Lily mengeratkan gigi, mengeraskan rahang, jari-jemari tangannya pun, telah terkepal rapat.
__ADS_1
"Terserah! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku bukanlah orang egois, yang harus membalas nyawa dengan nyawa. Karena yang bersangkutan pun bukan Putra, melainkan orang tuanya. Apapun yang terjadi, aku akan membela Putra," ucap Erly, tetap membela tunangan nya.
Merasa geram, karena adiknya semakin berani kepadanya, Lily mengangkat tangan, hendak kembali menampar. Namun sebelum tangan mendarat di pipi, Erly segera menahan tangan Lily, lalu mencengkram pergelangan tangan nya. "Kamu mau menamparku lagi? Kurang puas kau menamparku? Aku bukan binatang, yang hanya tinggal diam, meski sering diberlakukan kasar," baru kali ini, Erly tidak menyebut Lily dengan panggilan kakak, tetapi kamu.
Lily terkejut, karena baru kali ini, adiknya berani marah kepadanya. Biasanya, saat ia membentak, maka Erly akan minta maaf, dan tunduk kepadanya.
"Aku rasa, kita tidak lagi bisa, hidup bersama. Biarkan aku pergi. Aku bisa mengurus diri ku sendiri." Erly melepaskan cengkraman di lengan kakak nya, lalu beranjak pergi.
"Erly!" Bentak Lily, karena adiknya telah melangkah meninggalkan nya.
Erly berhenti melangkah, menoleh menatap kakak nya, "Apa? Stop ikut campur urusanku! Kau urus sendiri saja, hidup mu. Kita buktikan! Siapakah, yang akan hidup sukses," setelah tersenyum sinis, Erly pun melanjutkan langkahnya.
"Hah! Bangsat!" Lily menghentakkan kaki ke lantai, ia sangat kesal, karena adik nya sudah berani menentangnya.
Erly tidak lagi menoleh, ia terus berjalan, menuju pintu keluar rumah.
Kalau bukan adik nya, mungkin Lily telah menghajarnya. Karena meskipun gadis, Lily mempunyai ilmu beladiri, yang ia kuasai.
Lily tidak mengejar adiknya, ia memilih menghempaskan tubuh di atas sofa, duduk termenung, meratapi masalah.
****
"Aaarg!"
"Erly?" Lily beranjak berdiri, saat mendengar suara teriakan yang tidak asing lagi di telinganya. Lily yakin, kalau suara itu, adalah suara adiknya.
Lily segera beranjak dari tempatnya, lalu berlari ke arah pintu keluar rumah, hendak mencari sumber suara berasal.
****
Meskipun habis bertengkar keras, saling membentak dan berkata kasar. Namun Lily, merasa khawatir, saat mendengar teriakan histeris dari adiknya. Karena walau bagaimanapun, Erly masihlah tetap adiknya, bahkan saudara kembarnya.
Saudara memang demikian. Sering bertengkar, dan berselisih pendapat. Namun ada kalanya, mereka akan saling peduli dan saling mengkhawatirkan.
Sejelek-jeleknya saudara, tetaplah saudara. Mereka akan tetap terhubung, karena memiliki satu garis darah yang sama.
Tega sehatnya, tidak akan tega sakit nya. Tega sakit nya, tidak akan tega matinya. Itulah saudara.
Jika ada masalah, jangan selalu diselesaikan dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah.
__ADS_1
Jangan mengambil keputusan, saat sedang marah. Redakan amarah, bicarakan baik-baik, selesaikan dengan hati damai. Karena saat marah, otak tidak akan bisa berpikir jernih, dan selalu mengambil keputusan, tanpa memikirkan akibat nya.
BERSAMBUNG....