
"Prak!" karena kaget, ia sampai berjingkat hingga melemparkan foto tersebut. Alhasil, foto itu jatuh, dan bingkainya pun pecah berhamburan di lantai.
******
Karena kefikiran sama Putra, Erly pulang dengan segera, ia melewatkan mata pelajaran di akhir pertemuan hari ini.
Erly langsung menuju kamarnya untuk mengganti baju seragam lebih dulu, dan saat membuka pintu, Putra sedang berada di sana.
"Putra...." Erly mendekat ke arah Putra dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Masalahnya, Putra baru kali ini ke rumah Erly, dan dengan lancang memasuki kamarnya, tanpa sepengetahuan Erly, bahkan saat dia sedang tidak ada di rumah.
Putra diam tertunduk malu, wajahnya terasa kaku, seakan tebal dengan ribuan rasa penyesalan, namaun apa boleh dikata, saat bukti yang berbicara?
"Ka-kamu.... ngapain di kamar ku?! Apa yang kamu lakukan di sini?" jika beribu juta kecurigaan muncul, itu sangatlah wajar. Mungkin kalian akan merasakan hal yang sama, saat berada di posisinya, karena yang memasuki kamar adalah orang asing di rumah itu, meskipun ikatan terbilang sahabat, namun itu hanya sahabat, bukan saudara atau keluarga. Walaupun keluarga, kalian pasti curiga, saat mendapatinya di kamarmu sedang kamu tidak ada di rumah.
"A-aku...." lidah Putra terasa kaku tak bisa menjawab, entah apa yang harus ia katakan sebagai alasan, namun kenyataan menimbulkan rasa kecurigaan, dan membuat posisinya jadi terpojokkan.
"Keluar kamu!" usir Erly dengan nada penuh emosi, dalam hatinya telah terselimuti kecurigaan.
Menjawab pertanyaan atau mengelak, itu bukanlah keahlian Putra, karena dia sendiri sulit untuk berbicara dengan sesama. Putra beranjak dari ranjang Erly, ia berusaha berdiri menahan rasa sakit pada kaki kiri.
Putra mengernyitkan dahi, menahan rasa nyeri di kakinya, namun ia tidak mau terjatuh, dan dianggap sebagai kedok untuk menutupi kesalahannya. Walau perut terasa mual, kaki terasa berat, Putra tetap menjaga keseimbangannya, agar tetap bisa berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Kruuuk...." perut keroncongan berbunyi, pertanda minta diisi, namun Putra mengabaikan hal itu, dia mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari ruangan itu. Putra bernafas lega setelah berhasil keluar dari kamar Erly, dengan segera ia mendekat pada dinding dan bersandar, karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di kakinya.
*******
Erly memungut pecahan kaca bingkai fotonya yang berserakan di lantai, sebenarnya dia sempat mendengar lagu perut Putra yang keroncongan, namun ia enggan untuk mempedulikannya.
Setelah selesai membereskan serpihan kaca, Erly memasukkan foto tersebut kedalam laci, lalu memeriksa semua barang miliknya. Erly mengecek beberapa berkas penting miliknya, melihat perhiasan yang ia miliki, bahkan memeriksa tabungan pribadinya, dia curiga kalau Putra telah mengambil barang miliknya.
"Sepertinya semuanya aman," Erly menghela nafas lega, karena semuanya masih utuh, tanpa ada satupun barang miliknya yang hilang.
Erly segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan, karena seluruh tubuhnya terasa gerah.
*******
Karena merasa bersalah, Putra segera keluar dari rumah itu, dia tidak ingin lagi berlama-lama, meskipun kesalahannya tanpa ia sengaja.
Putra segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sopir pribadinya.
"Maaf, nomer yang anda tuju, sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan." Putra menghela nafas saat mendengar suara dari sang operator pada ponselnya. Putra mencoba kembali, namun hasilnya tetap sama, bang Ben tidak bisa dihubungi.
Setelah beberapa kali gagal, Putra mencoba nomor lain, dia coba hubungi nomer rumah, namun hasilnya juga sama, nomer rumahnya tidak dapat dihubungi. Mau tidak mau, Putra harus berusaha sendiri, karena tidak ada uang sepeserpun yang kini ia bawa, dia pun terpaksa menempuhnya dengan berjalan kaki. Putra bertekad pulang kerumah berjalan kaki, meski ini akan jadi pengalaman pertamanya.
Dahi Putra dipenuhi dengan cucuran keringat dingin, tubuhnya terasa menggigil, sementara perutnya terasa perih karena lapar, sedang tenggorokannya terasa kering karena haus.
Panasnya terik matahari tidak membuat Putra untuk menyerah, dia terpaksa berjalan karena tidak ada uang sepeserpun yang ia punya. Beruntung sebelum keluar dari halaman rumah Erly, Putra sempat melihat potongan kayu sebesar lengan, ia pun mengambilnya untuk dijadikan sebagai tongkat, membantu kakinya yang sakit.
Berjalan di panasan bukanlah hal yang mudah bagi Putra, karena ini pertama kali ia rasakan dari semasa kecil. Putra selalu diantar sopir pribadinya, kemanapun ia akan pergi, namun kali ini ia harus berjalan, karena keadaan yang memaksa.
Berjam-jam ia berjalan menuju rumahnya, karena jarak rumah Erly dan rumahnya sangat jauh. Haus dan dahaga sudah jangan di tanya, lebih baik kalian coba sendiri, jika ingin merasakannya.
Sudah puluhan kali Putra beristirahat untuk mengurangi rasa lelahnya, namun tujuannya masih belum sampai juga, padahal badan dan bajunya telah basah kuyub karena kringat.
Matahari yang semula berada tepat di atas kepalanya, kini telah Lingsir mengarah ke ufuk barat.
__ADS_1
******
Setelah membersihkan badan, Erly langsung merebahkan diri di atas ranjang, dia tertidur dengan lelap, melupakan semua kepenatan yang ada.
"Liyk! Bangun dah sore!" Lyli berteriak membangunkan adiknya. Erly pun kaget, dan langsung tersadar, seketika ia duduk bersamaan dengan matanya yang baru terbuka.
"Iya...." balas Erly dengan suara serak, khas bangun tidur. Setelah melihat adiknya bangun, Lyli pun keluar dari kamar Erly.
Erly segera mencuci muka, lalu memasak untuk makan malam.
Heeem.... Putra udah makan belum yah.
Erly mengambil nasi dan lauk, menaruhnya diatas nampan, lalu membawa ke kamar.
"Put.... makan dulu yah, biar cepet sehat." Erly berjalan memasuki sebuah ruangan sambil membawa makanan yang telah ia siapkan, lalu menaroh makanan tersebut di atas meja dalam ruangan itu.
"Putra!" Erly terkejut saat mengetahui ruangan tersebut kosong, ia tidak menemukan sosok Putra di tempat itu.
"Apa mungkin dia mandi." Erly segera berlari ke arah kamar mandi, lalu masuk, karena pintu tidak terkunci.
"Put.... Putra," Panggi Erly sambil memeriksa kamar mandi, namun ia tidak menemukan apa-apa di dalam.
Erly berbalik badan, dia berlari mencari Putra di seluruh ruangan rumah dan halaman, namun ia tidak juga menemukan.
"Kak! Lihat Putra enggak?" tanya Erly dengan nafas tersengal tidak beraturan. Erly berpapasan Lyli, saat hendak masuk dalam ruangan.
"Lah, bukannya dia loe suruh balik?" tanya Lyli heran.
"Balik? Kapan?" Erly masih bingung dengan ucapan kakanya.
"Apa?!"
Lyli langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat, karena suara teriakan Erly begitu keras, hingga menggema mengisi setiap sudut ruangan.
"Bisa pelan nggak sih, kalo bicara?!" Lyli nampak kesal dengan kelakuan adiknya.
"Aku harus cepet! Mana kontak motor Kaka?" Erly nampak panik, dia bermaksud meminjam motor Lyli, karena di rumahnya hanya ada satu motor, yaitu milik kakanya.
"Buat apa?" tanya Lyli.
"Aku mau cari Putra, dia itu sedang sakit,"
"Heeem... loe yakin?" tanya Lyli memastikan.
"Yakin kak!" Erly menjawab pertanyaan kakanya dengan segera, dia sangat bersemangat untuk mencari Putra.
"Nih! Hati-hati loe! Kalo ada apa-apa hubungi Kaka!" Lyli memberikan kontak motor pada Erly.
"Makasih kak." secepat kilat, Erly menyambar kontak dari tangan kakanya, lalu berlari ke garasi.
"Emang loe mau cari kemana?!"
Pertanyaan kakanya tidak lagi ia hiraukan, Erly menancap gas, melajukan kendaraannya menyusuri jalan raya.
Meski sudah menjelang sore, namun sinar mentari masih terasa terik, bahkan tubuh Erly sampai basah karena keringat. Erly terus menyusuri jalan, berharap dapat menemukan sahabatnya.
__ADS_1
********
Setelah berjam-jam ia menempuh perjalanan, akhirnya Putra bisa bernafas lega, saat melihat gerbang pagar pekarangan rumahnya.
Akhirnya sampai juga.
Putra sangat senang, karena rasa lelahnya akan terbayar, saat ia berhasil memasuki gerbang tersebut.
"Kreeek....." Putra membuka pintu gerbang.
"Tidak dikunci? Rumah juga terlihat sepi. Security pada kemana?" Putra melanjutkan langkah, menuju rumah mewah bertingkat lima di depan matanya.
Putra mengernyitkan dahinya saat melawati pos jaga yang berada tidak jauh dari pintu gerbang.
Darah?!
Putra semakin penasaran, saat melihat percikan darah di mana-mana. Putra langsung menuju rumah, saat dirasa ada yang tidak beres.
Kini Putra telah berdiri tepat di depan pintu, dia tidak jadi melanjutkan langkahnya, karena rumahnya telah dilingkari garis polisi.
"Kenapa rumahku di beri garis polisi?" jantung Putra terasa berdetak cepat, aliran darahnya terasa semakin panas, nafasnya terasa terhenti, ada ribuan pertanyaan yang tidak masuk akal pada otaknya.
Setelah cukup lama ia berdiri mematung di depan pintu, tiba-tiba ada suara berisik dari dalam rumah. Putra penasaran dengan suara tersebut, ia berinisiatif melanjutkan langkahnya untuk mengecek ke dalam ruangan.
Putra mengurungkan niatnya, saat pintu rumah tiba-tiba terbuka, Segerombolan orang berjalan menuju keluar.
"Ma-maf pak, apa yang terjadi di sini?" Putra memberanikan diri, bertanya pada segerombolan orang berseragam tersebut.
"Selamat sore! Apakah saudara adalah keluarga dari pemilik rumah ini?" tanya salah satu orang berseragam, mereka adalah polisi, petugas keamanan daerah.
"I-Iya pak," jawab Putra dengan segera, meski merasa gugup.
Petugas yang berbicara kepada Putra sepertinya pimpinan mereka. Setelah mendapat jawaban dari Putra, dia menoleh ke arah kawanannya, lalu berbicara pelan, seraya berbisik.
"Bisa serahkan kartu tanda pengenal diri anda?" tanya pihak kepolisian dengan ramah.
"Ba-barang-barang saya.... ada di dalam Pak," Putra tertunduk, tidak berani menatap wajah orang-orng di hadapannya.
Orang tersebut kembali berbisik pada orang-orang di belakangnya.
"Mari ikut kami ke kantor kepolisian, kita selesaikan msalah ini secara bersama."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...