
Setelah berhasil keluar dari markas Sinta, bang Ben memapah Putra menuju sebuah mobil yang sedang menunggunya.
"Ayo cepat!" Pintu mobil terbuka, seorang gadis telah membukakan pintu untuk mereka.
Bang Ben segera mendudukkan Putra di kursi belakang kemudi, kemudian beralih duduk di depan. Bang Ben menjalankan mobil, menjauh dari tempat tersebut.
Putra terkejut, saat melihat 2 gadis yang kini berada di sampingnya, sepertinya mereka ikut datang menyelamatkannya, "Kalian!...."
"Maaf.... kemaren aku nggak bermaksud," Ely menundukkan kepala, ia merasa bersalah pada sahabatnya.
"Aah...." Putra memekik kesakitan, kala roda mobil menggiles bebatuan terjal.
Jalur yang mereka lewati memang cukup Ekstrim, pendakian dan penurunan menjadi pelengkap di jalan bebatuan terjal tanpa aspal itu.
Sinta memang sengaja mencari tempat markas yang jauh dari keramaian dengan jalur lintas yang sulit, agar tempatnya tidak mudah ditemukan, dan aman untuk melakukan segala tindak kejahatan.
Putra memang terkejut saat memasuki mobil, telah berada 2 orang gadis yang ia kenal, yakni Erly dan Lyli, namun mulut nya enggan untuk bertanya, karena rasa sakitnya kini menjalar ke seluruh tubuh, akibat Medan jalan yang cukup ekstrim.
Lyli memang tidak tega, ketika melihat adiknya bersedih, dia berinisiatif membantu untuk mencari Putra, namu Lyli bingung harus meminta bantuan kepada siapa.
Lyli kemudian teringat pada sosok misterius yang pernah membawa Erly dan Putra ke rumahnya, ia pun segera mencari nomor di daftar kontack, karena teringat saat itu, orang tersebut memberikan nomor ponselnya kepada Lyli sebelum meninggalkan rumahnya. Lyli segera menghubungi nomor tanpa nama yang tersimpan di ponselnya, bermaksud meminta bantuan.
Lyli memang menghubungi orang yang tepat, karena keluhannya langsung mendapat respon positif. Orang misterius itu bersedia mencari Putra, dia pun langsung meluncur datang kerumah Lyli, bermaksud mengajaknya. Tidak terduga, ternyata pria itu membawa teman, yakni sopir pribadi Putra. Lyli mengetahui hal itu, setelah mereka mengobrol saat mobil sedang melaju mencari keberadaan Putra.
Keempat orang itu langsung bergegas, Lyli dan Erly hanya diam, karena tidak tahu tujuan mereka. Entah mendapat informasi dari mana, pria tersebut tanpa ragu mengarahkan kendaran, yang kemudian tiba di sebuah bangunan tua di sebuah bukit hutan lebat.
Setelah merundingkan agenda penyelamatan Putra, pria itu keluar dari mobil hanya mengajak bang Ben, melarang Erly dan Lyli untuk keluar. Kedua gadis itu ditugaskan menunggu di dalam kendaraan. Pria berjubah juga berpesan, jika mereka harus kabur setelah Putra berhasil di selamatkan, tanpa menunggu dirinya.
********
Karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh, akhirnya Putra terlelap, akibat rasa letih yang ia rasakan.
"Kenapa tidak antarkan Putra terlebih dahulu?" tanya Erly saat mengetahui jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju rumahnya.
"Emm.... anu...." bang Ben bingung harus menjawab pertanyaan tersebut.
"Kenapa pak? Apa kita bawa ke-rumah sakit aja? Kasiha Putra, sepertinya dia telah banyak kehilangan darah, dan tubuhnya pun penuh dengan luka," Erly menatap tubuh sahabatnya yang tengah terlelap menyandar pada sandaran kursi.
"Jangan.... " ucap bang Ben penuh ragu.
"Lah kenapa?!" Lyli yang semula diam pun bertanya, karean merasa ada yang mengganjal yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Rumah keluarga Putra telah diambil alih. Seluruh pekerja dirumahnya pun telah dibantai," bang Ben mengucapkan kalimatnya dengan nada penuh belas kasih, ia merasa iba atas apa yang menimpa keluarga majikannya.
Deg!
Jantung kedua gadis di dalam mobil tersebut, seperti sedang terpukul benda keras, mereka terkejut mendengar pernyataan bang Ben.
"Termasuk orang tua Putra?" tanya Lyli penasaran.
"Tidak. Orang tua Putra tidak mengetahui apa yang telah terjadi, atau mungkin.... Den Putra sendiri, tidak tahu apa yang telah terjadi kepada orang tuanya," bang Ben merasa sangat sedih, saat mengetahui hal yang sebenarnya.
"Memangnya apa yang tela terjadi?" Erly pun sangat antusias, dia ingin mengetahui apa yang terjadi pada keluarga sahabatnya.
"Ayah Putra disuruh datang ke Jepang oleh kakanya. Namun setelah sampai di sana, ia ditabrak lari oleh kendaraan berat, saat hendak menuju rumah kakanya. Setelah mendapat kabar, bahwa tuan semith kecelakaan, Nyonya Lauren pun langsung menyusul ke jepeng bersama 2irang pekerja rumahnya. Nyonya pergi ke Jepang, untuk menjenguk suaminya. Namun na'as.... mama Putra dibunuh oleh kelompok yakuzza yang belum diketahui secara jelas identitas dari pelaku,"
Cerita memilukan itu, seakan menjadi bawang bagi mereka, tanpa mereka sadari, air bening berhasil mengalir dari pelupuk mata.
"Setelah saya mendapatkan informasi tersebut, tiba-tiba sambungan telepon terputus dengan diakhiri sebuah suara teriakan dari mang Setto, lalu telepon pun benar-benar terputus, dan tidak bisa dihubungi kembali. Selepertinya, mang Setto juga telah mati."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Erly penasaran.
"Karen semua yang terjadi seperti telah direncanakan. Setelah telepon terputus, tiba-tiba ada segerombolan orang yang menyerangku, sepertinya mereka ingin membunuh semua orang yang berkaitan dengan keluarga tuan Semith. Beruntung kala itu, ada pria berjubah hitam yang menolongku, yang tadi bersama kita. Berkat dia, saya selamat dari maut, meski tangan kiriku telah tiada," bang Ben melihat lengan kirinya yang telah buntung, karena tragedi yang telah ia alami, kemudian kembali melanjutkan ceritanya.
"Kenapa tidak dilaporkan kepada polisi? Ini adalah kasus pembunuhan! Kita harus mengusut masalah ini!" Lyli merasa geram mendengar cerita bang Ben, ada rasa kebencian yang kini nampak di wajah gadis itu, Erly pun heran dengan ekspresi yang ditunjukkan kakanya.
"Kaka kenapa?"
Lyli hanya diam, lalu membuang muka melihat ke luar jendela kaca mobil, ada sesuatu yang sedang berusaha dia sembunyikan dari adiknya. Erly pun tidak bertanya lagi dan memperpanjang masalah, yang hanya semakin membuat kakanya marah, dia tidak mau hal itu terjadi. Erly pun beralih menatap wajah sahabatnya.
Kasihan sekali kamu Put.... aku tidak tahu, jika kamu tengah berada dalam kondisi yang sesulit ini. Erly menggenggam tangan Putra erat.
"Jika melaporkan ke polisi, masalah ini tidak akan bisa terbongkar atau terselesaikan, yang ada hanya semakin membuat masalah semakin besar. Kita belum tahu, siapa dalang di balik semua ini, mengingat semua kejadian ini beruntun. Masalah yang terjadi di sini, sepertinya masih berkaitan dengan apa yang terjadi di Jepang. Kita tidak boleh lengah!"
Bang Ben merasa jika nyawanya telah berada di ujung tanduk. Sedikit saja lengah, maka tubuh akan menjadi seonggok daging tanpa nyawa. Bang Ben tetap fokus menjalankan kendaraan dengan satu tangan, karena lengan kirinya hanya tinggal sebatas siku.
Setelah bercerita, suasana menjadi hening, mereka tengah bergumul dengan pikirannya masing-masing.
Bang Ben, menghentikan laju kendaraan, ketika sampai di tujuan, mereka telah berada di depan rumah Lyli.
"Bolehkah saya membawa Putra? Saya ingin merawatnya di rumah kami sampai ia sembuh," Sebelum turun dari mobil, Erly meminta Putra untuk tinggal bersamanya.
Bang Ben menghela nafas panjang, ada keraguan di dalam hatinya. Namun setelah dipertimbangkan, akhirnya bang Ben menyetujuinya, dia menitipkan tuan mudanya di rumah Lyli.
__ADS_1
"Baiklah! Saya titipkan keselamatan Den Putra kepada kalian, mohon menjaganya. Saya tidak akan datang mengunjunginya, agar keberadaan tuan muda tidak diketahui,"
"Terus kamu akan tinggal di mana?" tanya Lyli penasaran, karena ia telah tahu, jika bang Ben adalah sopir pribadi Putra. Bang Ben selama ini selalu tinggal di rumah Putra, karena ia tidak mempunyai keluarga di kota tersebut.
"Saya akan tinggal di villa Den Putra, karena di sana akan aman, saya rasa belum ada yang mengetahui tempat itu.
Bang Ben memang berencana tinggal di sana, sampai keadaanya kembali pulih, karena tidak ada tempat lain, selain tempat tersebut. Bang Ben memilih villa Putra, karena tempatnya yang jauh dari kota dan pedesaan, jadi ia yakin, di sana pasti aman. Untuk sampai ke tempat itu, dibutuhkan waktu berjam-jam.
"Baiklah, Kami akan menjaga Putra, kamu tidak perlu khawatir!" jawab Lyli tegas, seakan ia bersedia melindungi Putra.
"Terimakasih banyak." Bang Ben tersenyum ke arah Lyli dan Erly, dia keluar dari mobil, dan membuka pintu belakang, hendak memapah tubuh Putra.
"Tidak usah! Biar aku saja!" Lyli yang sudah berada di luar mobil, mencegah bang Ben. Kemudian dia mengambil tubuh Putra dan menggendongnya, layaknya bayi.
Bang Ben dan Erly saling menatatap keheranan, mereka tidak menyangka, jika Lyli kuat menggendong tubuh Putra. Bang Ben bergedek menatap punggung Lyli yang mulai memasuki halaman, kemudian lenyap setelah memasuki rumah.
"Ehem.... saya permisi dulu, mau nasuk," ucapan Lyli menyadarkan pikiran aneh bang Ben.
"Baiklah! Tolong jaga dan rawat Den Putra. Saya yakin, dia akan mengalami guncangan jiwa akibat semua peristiwa yang telah terjadi. Jangan biarkan dia keluar dari rumah, dan jangan biarkan ada orang asing masuk dalam rumahmu!" bang Ben sangat mewanti-wanti, karena dia khawatir dengan serangan mendadak, yang bisa datang kapan saja.
Bang Ben segera masuk dalam mobil, kemudian melajukan kendaran dengan kecepatan tinggi, dia masih merasa was-was, jika ada yang mengikuti. Bang Ben tidak khawatir jika telah sampai di villa, karena dia sering berkunjung kesana. Kunci vill pun selalu ia bawa, karena Putra yang memintanya. Bang Ben dipasrahi kunci, karena ia sering datang ke sana, untuk membersihkan villa.
******
Setelah memastikan aman dan tidak ada yang mencurigakan, Erly segera menutup pintu gerbang, lalu berlari dan cepat-cepat masuk kedalam rumah, pintu pun ia kunci rapat-rapat.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG....
__ADS_1