Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Perjuangan Seorang Kakak


__ADS_3

Hari ini, Erly berniat tidak sekolah, ia ingin menemani sahabatnya, Putra.


"Lyk!" Lily berteriak memanggil adiknya.


*Apaan sih kak! Pagi-pagi udah teriak-teriak!* decak Erly kesal. Ia kini sedang berada di kamarnya, menyisir rambut, merapikan diri.


"Lyk!"


"Iya kak! Bentar...." Erly segera beranjak berdiri, berniat menemui kakak nya.


"Kemana aja sih Lo! Gue panggilan nggak nyahut-nyahut?!" bentak Lily, saat Erly sudah ada di hadapannya.


"Aku tadi, lagi mandi kak," ucap Lily, sambil menundukkan kepala.


"Udah masak belum?"


"Udah kak,"


"Terus kenapa pakek baju begi ni? Seragam mu mana?" Lily heran, karena adiknya masih belum mengenakan seragam.


"Aku.... aku hari ini nggak masuk dulu kak. Kasihan Putra kalau sendirian," Erly memang ingin menjaga Putra di rumah, sampai keadaannya kembali membaik.


"Kasihan apa suka?"


Pertanyaan Lily membuat Erly bingung, ia tidak mengerti dengan ucapan kakak nya.


"Ya kasihan lah kak! Keadaannya kan, masih belum stabil. Aku khawatir, kalau terjadi sesuatu, saat dia sendirian di rumah," jawab Erly dengan tegas


"Bukannya.... Lo itu suka sama Putra!" Lily membalikkan badan, melihat bayangan dirinya dari kaca, ia sedang merapikan rambutnya.


Deg!


Pertanyaan Lily membuat Erly bingung seketika, ada perasaan aneh, saat kakaknya mengatakan demikian.


"Em.... maksud kakak?...." Erly ragu-ragu menjawab pertanyaan kakaknya.


Lily melirik adiknya, *Bingung kan loe! Bilang aja kalau suka! Nggak usah, sok nggak tahu.* ia pun tersenyum melihat respon adiknya, yang terlihat kelabakkan saat ditanya.


"Nggak maksud apa-apa. Ya udah! Gue mau sarapan dulu! Nih uang jajan loe! Hati-hati di rumah!" Lily memberi adiknya selembar uang kertas berwarna merah, lalu beranjak pergi.


Saat berada di depan pintu, tiba-tiba Lily membalikkan badan, menghadap adiknya, "Oh iya! Semalam gue cek, loe nggak ada di kamar! Putra udah siuman yah?" Lily kemudian melanjutkan langkahnya, keluar dari kamar, tanpa menunggu jawaban dari adiknya.

__ADS_1


"Em.... anu...." Erly tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena Lily langsung pergi.


*Dasar orang aneh! Tadi nanya, belum dijawab udah pergi aja!* decak Erly.


*Apa kakak semalam masuk kamar Putra? Terus dia lihat aku tidur bareng ama Putra. Waduh! Mati aku?* gumam Erly, sambil menggigit jari telunjuknya.


Erly masih berdiri terpaku di tempat, ia masih terpikirkan atas pertanyaan kakaknya. *Tadi pagi, aku bangun udah pakek selimut! Bukannya semalam.... aku tertidur tanpa selimut? Lagian, selimutnya kan di lantai. Jangan-jangan.....* Erly memukuli jidatnya sendiri.


Setelah cukup lama ia berada di tempat tersebut, akhirnya Erly beranjak pergi, menuju kamar Putra.


*Biarin aja lah! Masa bodoh, kakak tahu aku tidur dengan Putra atau tidak!* Erly pun menyudahi pikirannya tentang kalimat kakaknya, ia pun segera bergegas, menuju kamar Putra.


"Hai Put!" Sapa Erly saat memasuki kamar Putra.


"Kamu kenapa?" tanya Erly heran, saat melihat ke arah Putra.


Putra sedang duduk berjongkok di atas ranjang, membenamkan wajah, diantara ke-dua lututnya.


"Put..." Erly mendekat, duduk di samping Putra, lalu menepuk pundak Putra.


Putra mengangkat wajahnya, menatap Erly, "Enggak! A-aku nggak papa," lalu ia menggeser tubuhnya, duduk di tepi ranjang. "Ak-aku.... ingin menghirup udara segar," ucap Putra sambil melihat ke arah jendela kamar.


"Hem... baiklah! Ayok!" Erly merangkul pundak Putra, berinisiatif memapahnya. Putra tidak langsung beranjak, ia menatap wajah Erly, "Udah.... ayok!" Erly mengangkat tubuh Putra, hingga membuat Putra menuruti kemauan Erly.


Setelah sampai di taman, Erly membawa Putra ke salah satu kursi, yang memang sudah tersedia di tempat tersebut.


"Haaaaah!" Erly membuang nafas kasar, setelah mendudukkan tubuh Putra. Mereka duduk bersebelahan, di kursi taman. Lalu ke-duanya terdiam tanpa kata.


*******


"Put.... mungkin, apa yang terjadi padamu, adalah sebuah ujian hidup ini. Aku tahu, kamu pasti merasa sangat kehilangan, atas meninggalnya ke-dua orang tuamu. Tapi kamu harus kuat! Kamu harus sabar menghadapi ini semua! Tidak ada manusia yang lepas dari cobaan dan ujian, selama kita masih hidup di dunia," Erly membuka mulut, setelah saling diam, dalam waktu yang cukup lama. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"A-aku.... nggak papa kok," kilah Putra, ia tidak mau terlihat sedih dan gelisah, di mata sahabatnya.


"Kamu tidak usah membohongi dirimu sendiri Put..." Erly yakin, jika Putra berbohong dengan ucapannya.


"Ak-aku.... tidak berbohong. A-aku sudah terbiasa. Me-mereka juga.... udah terbiasa mengacuhkan dan mengasingkan ku. Ja-jadi... aku tidak merasa sedih, a-atas meninggalnya mereka," ungkapan Putra memang jujur. Ia sudah terbiasa terabaikan oleh ke-dua orang tuanya, ter-uatama ayahnya. Namun dalam hatinya, ia juga merasa sedih atas hilangnya sosok seorang ibu.


"Hem.... baiklah!" Erly menghela nafas, "Sebenarnya... aku pernah merasakan hal yang sama, seperti apa yang kamu rasakan saat ini," Erly memandang ke atas melihat birunya langit yang cerah.


"Aku dan kakakku, terpaksa hidup berdua tanpa ada orang tua, ataupun saudara dari orang tua. Orang tua kami meninggal, saat kami masih duduk di bangku dasar, karena sebuah kecelakaan. Waktu itu, aku sedih! Aku terpuruk! Karean tidak terbiasa hidup tanpa mereka,"

__ADS_1


Putra terkejut, ketika mendapat pengakuan sahabatnya, ia menatap wajah Erly.


"Di usia kami yang masih kecil, kami bisa apa? Ketika orang tua kami meninggal, hanya meninggalkan rumah, dan beberapa kendaraan saja, karena kedua orang tua kami hanyalah kariawan di sebuah perusahan, meski itu perusahaan terbesar di kota ini saat itu, hingga saat ini. Pada tahun ke-dua setelah meninggalnya orang tua, kakakku terpaksa menjual kendaraan yang ada, untuk biaya hidup kami. Karena kami tidak ada yang mencarikan uang, baik untuk makan, apalagi biaya sekolah. Uang hasil menjual kendaraan pun, ternyata cukup untuk biaya hidup kami, selama dua tahun. Setelah itu, kami bingung," Erly menjeda ucapannya, sambil kembali mengingat kejadian di masa lalu.


"Dua tahun pertama hidup tanpa orang tua, memang masa yang paling sulit! Setelah uang hasil penjualan kendaraan habis, kakakku memutuskan untuk menjual perabot rumah. Hasil dari penjualan tersebut, akhirnya cukup untuk kebutuhan hidup, sampai aku lulus dari bangku Sekolah Dasar, sedang kakakku baru naik kelas Vi. Karena aku dan kakaku, hanya terpaut satu kelas...."


"Bo-boleh, aku bertanya?" Putra menyela ucapan Erly.


"Em... silahkan! Aku akan jawab, jika aku bisa,"


"Be-beberapa waktu yang lalu.... a-aku, melihat photo anak kecil kembar, di kamarmu. Ka-kalau boleh tahu, mereka itu, siapa?"


Yups! Putra masih penasaran, dengan photo anak kembar, yang ada di kamar Erly, yang pernah ia lihat, saat dia berada di rumah Erly sebelumnya.


"Haaah...." Erly menghela nafas, sebelum menjawabnya, "Itu photo aku, dan kakakku!" lalu menatap wajah Putra.


"Ma-maksud kamu? ...." Putra pun menatap wajah sahabatnya.


Erly kembali melihat ke arah atas, menatap langit sambil tersenyum, "Sebenarnya.... Kami adalah saudara kembar. Kaka ku bernama Sherliyana, dan namaku Sherliyani. Orang tua kami memanggilku Erly, dan memanggil kakak ku Ana. Namun dia tidak mau dipanggil Ana, karena menurutnya, nama itu sangat jauh dengan nama panggilanku, sedangkan kita saudara kembar. Kakak ku lebih suka dipanggil Lily, dan nama tersebut, yang jadi nama panggilannya, sampai saat ini. Kakak ku memang beda denganku, sedari kecil, kami memang berbeda! Bukan hanya dari nama panggilan, tapi sifat dan prilaku pun berbeda. Kakak ku lebih cerdas dibanding aku, dia juga memiliki sifat yang tegas, serta keras kepala, hal itulah yang membuat orang tua kami membedakan aku dan kakak ku. Bahkan, orang tua kami, menyekolahkan kakak ku terlebih dahulu, selang setahun kemudian, barulah diriku. Sifat kaka ku juga berbeda denganku, meski seorang perempuan, dia sangat suka, dan jago berantem, layaknya seorang lelaki. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk belajar seni bela diri, saat ia duduk di bangku, Sekolah Menengah Pertama," Erly kembali menjeda ceritanya, lalu melanjutkan kembali.


"Kakak ku memang wanita yang tangguh! Berbeda dengan diriku. Sifatnya semakin menjadi temperamental, saat kami lagi-lagi kehabisan biaya untuk hidup. Sedangkan prabot rumah, sudah habis terjual. Kami pun bingung, harus menjual apalagi, untuk biaya menyambung hidup, terutama kakak ku. Entah mendapat keberanian dari mana, hingga membuat dia mengambil keputusan yang beresiko. Ia meminjam uang, dari seorang renternir berhati busuk, yang dikenal dengan nama Max," Erly menundukkan kepala, kala teringat kejadian waktu silam.


"Awalnya, aku dan kakak ku merasa senang, karena kami bisa menyambung hidup, dan masih bisa sekolah. Namun itu tidak berselang lama," wajah Erly kemudian nampak murung, ada kesedihan yang sangat mendalam, yang tengah ia rasakan.


Putra tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa menatap iba sahabatnya.


"Tuan Max, memang bersedia memberikan apa yang kakak ku minta, namun ada imbalan yang sangat merugikan, bagi kami, di balik itu semua. Max, memisahkan aku dan kakak ku, ia membawa kakak ku, untuk tinggal bersamanya. Yang bikin aku sedih, bukan karena aku yang harus hidup terpisah dengan kakak ku, tapi karena kakak ku yang harus membayar hutang tersebut seorang diri. Max, memaksa kakak ku untuk bekerja sebagai wanita malam! Dia menjual tubuh kakak ku, pada lelaki belang!" tidak ada suara isakan yang terdengar, namun entah sejak kapan, air mata Erly, telah deras berjatuhan, ia merasa sangat sedih, mengingat nasib kakak nya.


"Kakak ku harus kehilangan perawan nya, dan harus menjadi wanita sewahan, di usia yang masih sangat dini! Hiks.... hiks... hik...." perlahan, Erly menyandarkan kepalanya pada bahu Putra, ia pun mulai menangis tersedu-sedu, hatinya seperti teriris sembilu, ia merasa sangat sakit, mengingat pengorbanan kakak nya, demi hidup mereka.


"Setiap malam kakak ku harus melayani om-om! Jika tidak mau, maka ia akan dicambuki hingga terluka. Pernah ia mencoba kabur, namun akhirnya menyerahkan diri, setelah mereka menculik ku dan menawanku. Jika kakak ku tidak mau kembali dan menurut pada mereka, maka aku yang akan dijadikan korban, menggantikan posisi nya.... Hiks... hiks... hiks...." tangisan Erly semakin menjadi, air matanya mengalir deras, tiada henti. Perlahan, Putra merangkul tubuh Erly, mencoba menenangkan nya, namun ia juga bingung, harus berkata apa.


"Saat itu, aku dikurung dalam keadaan tangan dan kaki terikat, disebuah ruangan yang gelap! Mereka tidak memberiku makan ataupun minum! Hingga beberapa hari kemudian, kakak ku datang. Hiks.... hiks... hiks... dia memohon sampai bersujud-sujud! Hiks... hiks... hiks.... kakak ku memohon pada mereka, agar melepaskan ku, dia berjanji, akan menurut melakukan apa saja, asal mereka melepaskan ku, hiks.... hiks.... hiks.... saat itu, aku tahu, jika kakak ku, sangatlah menyayangi ku. Bahkan ia berkata, jika dia rela memberikan nyawa nya, asal mereka melepaskanku, hiks... hiks.... hiks...." Erly berulang kali mengusap air matanya yang jatuh, namun air matanya lebih deras lagi mengalir.


"Sa-sabar.... tenanglah! Itu kan... su-sudah berlalu...." sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya, Erly langsung memotongnya.


"Tidak!" Erly langsung menjauh dari tubuh Putra, memperbaiki posisi duduknya, " Itu semua belum berlalu! Sampai saat ini, kakak ku masih harus bekerja pada mereka, menjual tubuhnya pada lelaki ******* itu!" Erly menahan emoinya, ada kobaran amarah di matanya, dadanya terasa sesak, ia sangat menderita menahan kesedihan, atas nasib kakak nya.


"Ia melakukan ini semua, demi menghidupiku, demi aku! Agar aku tetap bisa melanjutkan sekolah, dan menjadi gadis baik, seperti pada umumnya," Erly memukuli dada nya sendiri, seakan menyalahkan dirinya.


Putra langsung meraih tangan Erly, lalu menarik tubuh Erly, ke dalam pelukannya. Awalnya Erly meronta, ingin melepaskan diri, namun akhirnya ia diam, membiarkan Putra memeluknya, karean ia juga butuh sandaran, untuk menenangkan pikiran nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2