
Erly merasa sedikit tenang, saat Putra mulai memeluknya, namun ia masih terlarut dalam kesedihan, menangisi masa lalu yang kelam.
"Aku kagum sama kakak ku. Dia perempuan tangguh, dia tegas, pemberani, dan penyayang," Erly memejamkan matanya, meringkuk dalam pelukan Putra.
Lily memang penyayang, bahkan ia menyayangi adik nya lebih dari menyayangi dirinya sendiri. Ia rela mengorbankan kebahagiaan nya, demi kehidupan adik nya yang lebih baik. Lily terpaksa, terus menjalani kehidup nya yang kelam, sebagai kupu-kupu malam, karena tidak ada pilihan lain, untuk menopang kebutuhan hidup mereka.
Putra tidak bisa berkata banyak, karena ia sendiri, sebenarnya masih merasa sedih, atas musibah yang bertubi-tubi menimpa hidup nya.
"Entah sampai kapan kakak ku harus menjalani pekerjaan kotornya, tapi kami tidak punya pilihan lain. Aku hanya tidak tega, saat ia mendapat cemooh an dari teman sekolahnya. Meski sering dipanggil wanita ******, namun ia mengabaikannya. Kakak ku hanya akan cuek, meski sering mendapat cacian dan makian. Selama tidak melukai fisik, kakak ku masih saja menerimanya," Erly membalas pelukan Putra. Ia merasa semakin tenang dan nyaman.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka masih saling berpelukan.
"Wuush..."
Erly dan Putra menguraikan pelukan, saat merasakan hembusan angin yang begitu kencang. Erly clingukkan melihat tempat sekitar, begitupun Putra, ia pun melakukan hal yang sama.
"Apa kamu merasakan ada yang aneh?" tanya Erly, ia masih mengawasi seluruh tempat di sekitarnya.
"I-Iya.... a-aku rasa.... ada seseorang yang mengintai kita," Putra mengatakan perasaan nya, yang sedari tadi memang merasakan hal itu.
Mereka terdiam beberapa saat, sambil tetap mengawasi tempat sekitar.
"Kita masuk yuk!" ajak Erly, karena merasa was-was. Ia takut, jika orang suruhan Sinta, menemukan tempat mereka.
"A-aku.... masih ingin di luar," ucap Putra menolak, karena ia merasa jenuh, saat berada di dalam.
"Aku takut Put...." Erly meremas lengan Putra, karena takut jika ada orang yang berniat jahat, mendatangi mereka.
"Ti-tidak ada.... yang perlu ditakutkan," Putra memang merasa ada seseorang, yang sedang mengintai mereka, namun ia tidak sedikitpun merasa takut, ataupun was-was, bahkan ia merasa sangat tenang.
Suasana pun jadi hening, mereka hanya diam, tidak ada yang bersuara, Erly pun telah berhenti menangis.
"Ja-jadi.... kakak mu, bekerja sebagai wanita malam?" setelah cukup lama terdiam, Putra akhirnya membuka mulut. Meski sedikit ragu, Putra menanyakan nya, ingin tahu lebih jelas tentang Lily. Erly hanya menjawabnya dengan anggukkan, ia kembali tenang, tidak lagi merasa was-was.
"Ak-ku.... sebelumnya pernah bertemu dengan kakak mu, sa-saat pertama, aku masuk sekolah,"
"Oh ya!" Erly menatap wajah Putra, karena penasaran.
Putra menganggukkan kepala, "I-iya! Ki-kita bertemu, secara tidak sengaja. Wak-wtu itu.... a-aku kebelet pipis, karena terburu-buru, a-aku langsung berlari ke WC umum, di sekolah, dan ternyata... a-aku salah masuk, ke dalam WC umum wanita. Sa-saat aku masuk, a-aku terkejut, karena di dalam, sudah ada seorang wanita. Sa-sat itu.... dia sedang berganti pakaian,"
"Apa?!" teriak Erly spontan, hingga membuat ucapan Putra Terhenti. Putra menatap Erly, ia terkejut dengan respon sahabatnya itu.
"Em... anu.... lanjutkan! Hehehe...." pinta Erly pada Putra. Ia kemudian cengingisan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jenapa aku tadi spontan teriak? Dasar nih mulut, suka aneh! cibir Erly dalam hati.
"Ka-kamu.... kenapa? Ka-kamu, baik-baik saja kan?" tanya Putra heran.
"A-aku... baik-baik saja kok! Lanjut gih, ceritanya!" Erly tersenyum menatap Putra.
"Hem.... be-begitulah ceritanya. A-aku.... cuman nggak nyangka, kalau ternyata... ka-kalian adalah saudara, bahkan saudara kembar. Pa-padahal, wajah kalian tidak mirip sedikitpun," ungkap Putra jujur.
__ADS_1
Erly dan Lily memang tidak memiliki kemiripan sedikitpun, baik dari segi fisik, maupun sifat. Ke-duanya, bagai jiwa yang bertolak belakang.
"Ooh... iya. Kami memang tidak mirip. Bisa dibilang .... kami itu kembar tidak identik. Meski terlahir sebagai saudara kembar, namun memiliki jiwa yang bertolak belakang! Hehehe....." Erly cengingisan, menatap wajah Putra.
"Oh iya! Setelah kamu masuk, kamu melihat kakak ku berganti baju. Terus?" Erly masih penasaran dengan cerita Putra, karena ceritanya terasa menggantung.
"Eng-enggak terus-terus...." jawab Putra.
"Cuman gitu aja?" Erly mengerutkan keningnya, menatap wajah Putra.
"I-iya,"
"Kamu nggak diapa-apain sama dia kan?" tanya Erly kepo.
"Mak-maksudnya...." tanya Putra tidak mengerti.
Erly memejamkan matanya, sadar dengan ucapannya. Kenapa aku jadi kepo banget sih!
"Enggak, enggak papa kok," Erly segera memalingkan wajah nya, membuang pandangan, ke sembarang arah.
Kenapa aku jadi nggak suka yah, kalau mendengar kakak dekat dengan Putra?
Erly lalu diam, ia tidak lagi bertanya. Sedang Putra menundukkan kepala, memainkan jari-jemari nya.
"U-udah nggak sedih lagi?" tanya Putra kemudian, karena melihat Erly yang sudah biasa-biasa saja.
Erly menggelengkan kepala, " Enggak! Aku tadi, cuman terbawa suasana kok. Seharusnya aku yang nanya kamu. Emang kamu nggak sedih, ditinggal pergi oleh ke-dua orang tua?" tanya Erly penasan, karena menurutnya, Putra bersikap biasa-biasa saja, seakan tidak sedikitpun merasa sedih, dengan musibah yang dialaminya.
Putra memang sudah terbiasa, hidup tanpa kehadiran orangtuanya, karean ia tidak pernah bertemu orang tua saat di rumah, terutama ayahnya. Rumah Putra, hanya seperti penginapan, kedua orang tuanya hanya akan pulang, saat akan tidur malam saja, terkadang malah tidak pulang, karean lembur, atau karena ada pekerjaan di luar kota.
"Kamu yang sabar yah Put... kamu boleh tinggal di rumah ini, salama yang kamu mau," Erly merangkul pundak Putra, lalu tersenyum menatap nya. Kalau bisa seumur hidupmu, kamu tinggal bersamaku. Aku ingin, kelak kau menjadi suamiku, gumam Erly, dalam hati.
Putra hanya menundukkan kepala, ia tidak tahu harus berkata apa. Perlahan putra mengangkat tangan, hendak membenarkan letak kacamatanya. Loh, kok nggak ada? Putra bingung, saat meraba di samping mata, namun tidak merasakan keberadaan kacamatanya.
Erly tersenyum, melihat Putra yang kebingungan.
"Mulai sekarang, kamu nggak usah pakek kaca mata lagi! Kamu lebih terlihat tampan, saat tidak memakainya," Erly engungkapkan penglihatan matanya, ia lebih suka melihat Putra, yang tidak berkaca mata.
Putra terdiam, ia baru sadar, ternyata tidak mengenakan kaca mata.
Erly tiba-tiba menarik pipi Putra, "Senyum dong..." ia tersenyum menatapnya, lalu melepaskan pipi Putra. Putra pun ikut tersenyum.
"Hem... udara di luar memang sangat segar yah," kemudian, Erly menyandarkan kepalanya, pada punggung sahabatnya, Putra pun mbiarkan Erly bersandar.
Angin siang bertiup semilir, udara segar menghembus terhirup hidung. Perlahan, keduanya merasakan kantuk mulai menyerang. Mereka terhipnotis suasana, lalu membiarkan jiwanya menikmati indahnya suasana, akhirnya mereka tertidur.
Erly tertidur, dengan kepala bersandar di bahu Putra, sedang Putra menyandarkan bahunya pada sandaran kursi, kedua tangannya melingkar pinggang sahabatnya, ia memegang lengan Erly, bertumpu di depan perut Erly.
*******
Waktu semakin larut, rindangnya pohon melindungi tubuh mereka dari panasnya matahari, sedang semilir angin, memberikan kenyamanan, membuat mereka betah tertidur dengan posisi yang sama.
__ADS_1
****
Sepulang dari sekolah, Lily menuju kamarnya, mengganti pakaian seragam, dengan baju santai, lalu ia berjalan menuju kamar Putra. Lily Yakin, kalau adiknya, pasti berada di kamar Putra.
"Liyk!" panggil Lily, saat ia sudah masuk dalam kamar putra, ia berjalan menghampiri ranjang, kemana nih anak? Kok nggak ada, Lily bingung, saat tidak menemukan adik nya di sana, bahkan, Putra pun tak ada.
Lily berjalan ke kamar mandi, berpikir, jika adiknya sedang membantu Putra, Tidak ada juga! Ke mana nih anak?
Lily berinisiatif keluar, mencari Erly di kamarnya, "Lah! Dikunci?" Lily berulang kalienarik kenop pintu, namun pintu tetap tidak bisa dibuk, "kan sih nih anak!"
Lily pun mengurungkan niatnya, ia berjalan menuju dapur, untuk mengecek makanan yang tersedia.
"Hem...." Lily mengurungkan niatnya, tidak jadi makan, karena merasa tidak selera makan.
Bikin rujak, enak kek nya nih! Lily kemudian berjalan menuju pintu keluar, hendak mencari buah-buahan. Kemudian Lily teringat, jika di samping rumah, ada pohon mangga yang sedang berbuah. Ia pun bergegas, pergi ke samping rumah.
Siapa tuh? gumam Lily, saat melihat sosok orang yang sedang duduk di kursi taman. Lily pun mendekat, karena penasaran, dengan sosok tersebut.
Eh, kampret! Nih bocah.... pantesan aja, gue keliling kampung kagak nemuin, ternyata malah di sini. Bener-bener nih bocah! Lily menggelengkan kepala, ketika tahu kalau orang tersebut, adalah adiknya yang tertidur bersama Putra.
Lily memijat hidung Erly, hingga beberapa saat lamanya. Erly yang merasa kesulitan bernafas pun, tidurnya merasa terusik, dia menepis kasar tangan kakak nya, namun belum terbangun.
Kampret nih bocah! Lily kembali memijit hidung Erly, dan kali ini membuat Erly terbangun.
"Kakak? Apaan sih. Sakit tauk!"
Erly mengucek matanya, ia merasa kesal, karena kakak nya, telah mengganggu tidur nya.
"Eh, malah membentak kamu yah! Dasar kecebong anyut. Eh lo tahu, gue udah nyariin lo, keliling kampung tau nggak! Malah asyik-asyikan pacaran di sini,"
Karena ada keributan, Putra pun terbangun dari tidurnya.
"Pacaran apaan sih!" gerutu Erly.
"Loe menjauh nggak?! Kalo nggak, kalian gue nikahin," Lily kesal, karena adiknya masih saja bersandar pada Putra.
"Nikahin aja! Wleek!" bukannya menjauh, Erly malah sengaja berbalik, memeluk tubuh Putra, lalu menjulurkan lidah pada kakak nya. Putra pun, membiarkan Erly memeluknya, ia juga bingung harus berbuat apa, berada di antara, kakak beradik yang sedang bertengkar.
"Dasar anak bandel! Berdiri nggak Lo!" Lily semakin marah, saat adiknya, tidak mau mendengarkan ucapannya.
Karena Erly tetap diam, akhirnya Lily bertindak, ia menjewer telinga adiknya, hingga membuat Erly memekik kesakitan, "Argh.... sakit tauk kak!" Erly menepis tangan kakaknya. Namun, karena Lily menjewer nya cukup kuat, tangannya tetap tidak bisa dilepaskan.
Lily menarik telinga adiknya, hingga Erly berdiri, mengikuti arah tangan kakaknya, sambil memegangi telinganya yang terasa sakit.
Lily melepaskan tangannya, saat Erly telah berdiri, mereka kini berdiri saling berhadapan, sedang Putra, tetap duduk pada kursi, karena tidak tahu harus berbuat apa.
Wuuush....
Tiba-tiba saja, sebuah angin kencang menerpa ketiganya, yang membuat mereka terdiam, dalam posisi masing-masing.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1