
Honda jazz berwarna silver berhenti saat memasuki area sebuah butik. Lauren keluar dari mobilnya, dia berjalan meliuk menuju gedung di hadapannya. Lauren memang sedang berkunjung ke-butik miliknya.
"Selamat pagi Nyonya." Sapa beberapa karyawan sambil sedikit membungkuk, saat mereka melihat Lauren memasuki gedung.
"Pagi." Lauren tersenyum menatap mereka sekilas, namun dia terus melangkah menuju lift, karena ruangan kerjanya ada di lantai tiga. Lauren segera masuk kedalam lift, lalu memencet angka 3, setelah pintu lift kembali tertutup.
"Dert... dert... " Bunyi ponsel Lauren berdering, dia segera mengambil dan menjawab panggilan di ponselnya.
"Assalamualaikum. Halo..." Lauren terlihat begitu antusias.
"......... "
"Kok mendadak pa?" Sepertinya dia sedang berbicara dengan suaminya.
"............ "
"Oh... gitu..."
"........... "
"Iya pa. Tapi... aku tidak bisa pulang juga, soalnya butik mama di kota A, sedang mengalami masalah, dan mengharuskan saya untuk turun tangan. Jadi, mama juga nggak bisa pulang.
".......... "
"Mungkin jika berjalan dengan lancar, dalam waktu sepekan udah kelar pa."
"......... "
"Iya pa. Papa juga hati-hati, nanti aku sampaikan ke bang Ben, biar dia yang menyampaikan ke Putra." Dalam percakapan, Yang terdengar hanya suara Lauren yang sedang berkomunikasi lewat ponselnya.
"......... "
"Wa'alaikumsalam."
"Ting."
Tepat, saat Lauren mengakhiri teleponnya, pintu lift terbuka, rupanya dia telah sampai di lantai tiga.
"Selamat pagi bu." Seseorang berdiri lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, ketika melihat siapa yang keluar dari pintu lift.
"Kamu siapkan berkasnya, bawa serta beberapa bahan yang diperlukan, kita akan berangkat sekarang. Jangan lupa bawa keperluan mu, Karena kita akan sedikit memakan waktu di sana." Lauren langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menyiapkan segala hal kebutuhan, baik mengenai pekerjaan maupun kebutuhan pribadi.
"Semuanya sudah siap bu. Kita berangkat kapan?" Sekretaris Lauren memang cekatan, dia tidak mau menunda segala urusan, sebelum bosnya memerintahkan, dia sudah lebih dulu mengerjakan. Maklum saja... karena sekretarisnya sering menggantikan posisi Lauren, mengingat Lauren bukan hanya mengurus butik, namun ada coffe shop juga yang membutuhkannya.
"Kita berangkat jam sembilan, sekarang juga kita kita menuju bandara." Ucap Lauren setelah melihat jarum jam yg melingkar di lengannya.
Lauren membalikkan badan dan segera beranjak pergi Sang sekretaris mengambil beberapa berkas dan sebuah tas ransel yag sudah ia siapkan, dia mengikuti langkah Lauren dari belakang.
__ADS_1
Lauren mengajak sekretarisnya untuk ikut berkunjung di salah satu cabang butik miliknya. Yups, butik Lauren memang berkembang pesat, hingga membuka beberapa cabang di berbagai kota, bahkan ada juga yang berbeda pulau, seperti yang akan ia kunjungi kali ini.
Kali ini, Lauren bukan hanya datang berkunjung, namun untuk menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi pada cabang butik miliknya. Sepertinya masalahnya cukup serius, hingga membuatnya turun tangan.
*******
Beberapa jam telah berlalu, sebuah pesawat berhasil mendarat sempurna, Lauren keluar dari dalam pesawat diikuti sekretarisnya. Setelah menempuh perjalan beberapa jam, mereka sampai ketempat tujuan.
Lauren segera duduk di sebuah kursi, dia menunggu sekretarisnya mengambil barang di tempat pengambilan barang.
"Ayo bu." Sang Sekretaris menghampiri bosnya, lalu mengajaknya pergi.
Lauren hanya tersenyum menatapnya, lalu beranjak untuk pergi, keduanya tengah menuju pintu keluar.
Lauren memang tipe wanita susah bicara, lebih tepatnya irit bicara. Lauren hanya berbicara, saat menurutnya penting untuk berbicara.
"Dert... dert... dert... " Lauren menghentikan langkahnya saat ponselnya berdering, sang sekretaris pun ikut berhenti menunggu bosnya.
"Halo," sapa Lauren setelah menerima panggilan tanpa nama itu.
"Kamu Lauren kan?" tanya orang di seberang telepon.
Orang itu berhasil membuat Lauren mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kamu siapa? Ada perlu apa?"
"Ini aku Ren. Malik. Apa kamu menghapus nomerku?" tanya si penelepon yang mengungkapkan identitasnya pada Lauren.
"Iya nggak papa. Saya hanya ingin memintamu datang ke-jepang sekarang juga." Malik memang kaka kandung suami Lauren tapi dia telah menetap di jepang, setelah istrinya meninggal.
"Apa?!" Permintaan Malik membuat Lauren terkejut. Masalahnya... ia baru sampai di tempat tujuan, bahkan dia masih berada di bandara.
"Maaf. Saya mohon kamu cepat datang. Smith mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang kritis." Malik tidak mau lagi bertele-tele, dia mengatakan langsung pada intinya.
"APA?!" Lauren berteriak cukup keras, hingga orang di sekeliling melihat kearahnya.
Lauren lebih terkejut dengan pernyataan Malik selanjutnya. Bagaimana tidak, Smith yang disebut barusan adalah orang yang tadi pagi memberinya kabar, bahwa ia telah pergi ke-jepang karena ada urusan mendadak. Smith adalah Suami Lauren, adik kandung Malik.
"Maaf... mungkin kabar ini membuatmu terkejut, tapi tolong segera datang, jika tidak ingin menyesalinya." Malik seperti memaksa Lauren untuk datang. Tapi, memang itu kenyataannya. Smith mangalami kecelakaan saat hendak mencari makan siang, mobil yang ia bawa tertabrak tronton pengangkut besi, dan terseret sangat jauh. Tubuh Smith terhimpit besi, karena mobilnya ringsek menipis layaknya kaleng ditumbuk batu.
"Papa... " Lauren seperti tidak percaya mendengar kabar tersebut. Ia masih mengingat dengan jelas, beberapa jam yang lalu, suaminya mengabari bahwa ia telah sampai di jepang. Smith memohon maaf, karena dia baru mengabarinya saat telah sampai di sana.
Sebenarnya Smith ingin memberi tahu istrinya tadi malam, namun saat ia datang, Lauren telah tertidur pulas, dan saat Smith akan berangkat, Lauren masih belum terjaga dari tidurnya, makanya dia baru mengabari, setelah sampai di jepang.
"Ren... " Panggil Malik dari seberang telepon, dia sedang mengkhawatirkan kondisi adek iparnya saat ini.
Tanpa tersadar, air mata Lauren menetes membasahi pipi, telepon yang di genggamnya pun langsung terjatuh, beruntung sekretarisnya segera menyahut handphon tersebut, dia melihat panggilan yang sudah berakhir. Malik yang memutuskan telepon tadi, karena dia masih ada urusan lain.
Tubuh Lauren bergetar hebat, tetesan air mata semakin deras mengalir di pipinya, dia pun tidak menghiraukan banyak orang yang kini sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Bu... " Panggil sang sekretaris dengan sopan, dia menepuk pelan pundak bosnya. Sang sekretaris tahu apa yang terjadi, karena dia mendengar dengan jelas, percakapan bosnya dengan orang yang dipanggil kaka.
"Bu... " Sang sekretaris menggoyang tubuh Lauren pelan, saat bosnya seperti tidak merespon panggilannya.
"Yang sabar bu, ini ujian. Saya berharap bos Smith masih bisa terselamatkan, yang terpenting anda sekarang memenuhi permintaan kakak nya, untuk datang ke jepang."
Lauren menyeka air matanya, kesedihannya sedikit berkurang, setelah mendengar ucapan sekretarisnya.
"Sinta... terima kasih. Tolong telepon kan orang rumah. Suruh mang Setto dan bik Inah untuk menunggu di bandara xxx, suruh mereka membawa barang keperluan saya selama satu bulan." Perintah Lauren pada sekretarisnya yang diketahui bernama Sinta.
"Baik bu." Tanpa menunggu waktu lama, Sinta langsung mencari nomor telepon rumah Lauren, lalu menyampaikan apa yang diperintahkan oleh bosnya.
"Sudah bu. Jadi... bu Ren akan pergi ke-jepang?" Tanya Sinta memastikan.
"Maaf Sin, keadaan yang mengharuskan demikian. Saya percayakan kepadamu semua urusan yang ada di sini. Jika sudah selesai, cepatlah kembali, Butik pusat dan coffe shoop sangat membutuhkanmu." Dengan Berat Hati, Lauren meminta Sinta untuk menfantikannya, ini bukan yang pertama kali.
Untung saja Sinta sudah terbiasa melakukannya, bahkan banyak yang mengira, jika Sinta lah, bos besarnya.
"Tidak apa-apa bu, saya bisa memahami anda. Kuatkan hati dan pikiran, segera temui suami anda." Ucap Sinta mencoba menenangkan.
"Iya terimakasih. Saya ingin segera berangkat." Ucap Lauren, air matanya sudah tidak menetes lagi.
"Semuanya sudah siap. Saya telah memesan penerbangan paling cepat. Anda akan terbang menggunakan Batik Air line, pesawat lepas landas tiga puluh menit kemudian, saru jam kemudian akan sampai di kota B, di sana orang pekerja anda telah menunggu. Setelah 15 menit, Anda akan melakukan penerbangan lagi menggunakan Citilink. Semoga anda selamat sampai tempat tujuan." Sinta memang orang cerdas, sebelum bosnya melakukan perintah, semuanya sudah ia kerjakan, seakan dia dapat membaca pikiran bosnya. Hal inilah yang membuat Lauren begitu percaya pada Sinta.
"Terimakasih." Lauren tersenyum mendengar penjelasan Sinta, dia sangat senang dengan kinerja sekretarisnya itu, selain pekerjaan inti, Sinta selalu mengerti pada kemauan Lauren.
"Iya bu. Maaf, ini Ponsel Anda." Sinta segera menyerahkan Ponsel Lauren.
Lauren segera menerima ponselnya. "Baiklah, silahkan melanjutkan perjalanan, petugas dari hotel akan segera datang menjemput. Saya akan berangkat.
Tanpa menunggu Sinta menjawabnya, Lauren langsung beranjak pergi, kembali memasuki gedung bandara, untuk menunggu jadwal pemberangkatan.
Sinta sedikit membungkukkan badan, mempersilahkan Lauren utuk pergi, dia menatap punggung Lauren sampai kemudian hilang di antara kerumunan orang.
Kasihan sekali, aku turut prihatin atas apa yang telah menimpamu. Gumam Sinta.
Sinta membalikkan badan, dia meneruskan langkahnya menuju tempat parkir kendaraan. Sinta menuju salah satu mobil setelah mendapat telepon dari seseorang, yang ternyata petugas dari hotel. Lagi - lagi Sinta harus menggantikan posisi bos nya.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Terimakasih untuk kalian yang telah sempat membaca cerita ini. Maaf, di awal masih banyak tokoh-tokoh yang bermunculan, saya akan mematikan karakter satu persatu, untuk menggabungkan masalah dan konflik. Semoga kalian sukan.😊
__ADS_1