
Satu minggu telah berlalu, penampilan Putra yang sangat katrok, jadi sorotan semua siswa. (Putra si culun), itulah julukannya, tak sedikit cacian dan makian serta aniaya yang Putra terima.
Siang hari di taman belakang sekolah.
"Ayo ikut gue!" segerombol siswa datang menghampiri Putra, mereka adalah Alex, Riyo, Anton, Hendrik dan Takiya.
Putra berjingkat mendengar teriakan itu, saat ini dia sedang duduk di taman sambil membaca buku. Putra menundukkan kepala saat beberapa orang tersebut mengelilingi nya, dia merasa sangat takut.
Plak!,
"Woy! kalo bos bicara tuh menyahut!" Takiya langsung saja memukul kepala Putra, jiwa aniayanya kambuh, saat melihat Putra hanya diam tidak menjawab ucapan Alex.
Badan Putra hampir saja ambruk, kalau tidak membentur tubuh Anton. Anton segera mendorong keras tubuh Putra. Tidak ada perlawanan atau bantahan, Putra hanya diam menundukkan kepala sambil menggenggam erat buku yang tadi dia bacanya.
"Bicara gak loe!" Riyo menjambak rambut Putra dan mendongakkan wajahnya, kemudian dia menghentakkan jambakkan nya.
"Nih anak nyebelin banget sih!" Hendrick menendang buku di tangan Putra, hingga buku tersebut melayang di udara dan mendarat tepat di tangan Alex." Putra spontan berdiri saat buku kesayangannya terlepas dari genggamannya, matanya mengikuti kemana arah buku itu melayang, kemudian dia tertunduk saat bukunya jatuh ke tangan Alex. Alex tersenyum sinis, ada ekspresi senang di wajahnya.
"Kak, mohon kembalikan buku itu." Putra meminta agar bukunya dikembalikan, namun Alex hanya tersenyum menanggapinya.
"Loe mau buku ini?" Alex berbasa basi. Putra hanya menganggukkan kepalanya pelan, dengan pandangan menunduk ke bawah.
"Kalo bos bertanya tuh di jawab!" Anton menarik kerah baju Putra dan menhentakkan kasar. Tubuh Putra terhuyung huyung akan jatuh, namun Riyo menahannya dan mendorong kasar, hingga tubuh Putra kembali tegap.
"Kalo loe mau buku ini, serahin dulu uang jajan loe buat kami." Alex memberikan syarat, jika Putra menginginkan bukunya kembali. Putra bukanlah tipe orang yang pelit, meski tidak dengan kekerasan, jika ada yang meminta uang padanya, dia pasti memberikan. Dengan tangan gemetaran, Putra merogoh saku kantongnya, dia mengeluarkan selembar kertas berwarna merah, di atasnya tertera angka 100.000, dia segera memberikan kepada Alex dengan wajah masih menunduk ketakutan. Tanpa basa basi, Alex langsung menyambar uang tersebut. "Anak pinter" Ucap Alex disertai senyuman puas.
Putra melirik buku yang ada di tangan Alex, dia menunggu buku itu dikembalikan. Alex menyodorkan buku tersebut, lalu dia menariknya kembali saat Putra akan menerimanya.
"Uangnya segini doang? buat beli anggur merah mana cukup, disini ada lima orang, jadi keluarkan semua uang jajan mu." Alex, menekan kata kata terakhirnya, dia menundukkan kepala mengarah tepat di depan mata Putra, Alex merapatkan tautan giginya dan mengeraskan rahangnya, dia memamerkan wajah beringasnya tepat di hadapan Putra.
Putra menggidik saat melihat keberingasan Alex.
"Tapi ... uang saya hanya itu." Ucap Putra sambil memalingkan wajahnya, dia tidak berani melihat wajah sangar Alex.
Alex menegakkan tubuhnya, dia tersenyum sinis mendengar perkataan Putra.
"Takiya." Alex mengedipkan sebelah matanya ke arah Takiya. Tanpa menunggu waktu, Takiya langsung merebut tas Putra, seakan sudah paham dengan kode yang diterima dari Alex.
__ADS_1
Takiya merebut tas tersebut dengan kasar, karena Putra berusaha menahannya, namun usahanya hanya akan sia-sia, Putra tidak akan bisa melawan seseorang pun dari mereka. "Jangan bandel napa!" Ucap Takiya sambil menarik kasar tas tersebut, sedangkan tubuh Putra dipegangi oleh Anton dan Hendrick, akhirnya Putra pasrah, dia hanya melihat tasnya diambil dan bongkar oleh Takiya.
"Apaan nih, seragam olahraga" Takiya mengodol semua isi tas Putra dan mengeluarkannya.
"Lex, kita dapat" Takiya tersenyum menatap Alex, saat dia menemukan sebuah dompet di dalam tas Putra, dia pun segera mengambil 4 lembar uang ratusan dari dompet tersebut
"Wiih, tajir juga nih anak" Ucap Alex saat melihat ke arah Takiya. Putra hanya terdiam menundukkan kepalanya, tidak ada perlawanan yang dpat dia lakukan, ataupun kata kata yang dapat dia ucapkan.
"Ooh, jadi tadi mau bohongin kami!?" Hendrik mengeraskan cengkraman di tangan Putra, dia merasa geram karena hampir kena tipu oleh anak culun. Takiya merubah ekspresi wajahnya saat menyadari mereka hampir kena tipu, Posisinya kini tengah berjongkok jarak tiga meter dari tubuh Putra. Dengan bantuan kedua tangan, Takiya menghempaskan tubuhnya, dia meloncat tinggi mengarah pada Putra, Anton dan Hendrick segera menjauh dari tubuh Putra saat melihatnya, mereka tahu apa yang akan Takiya lakukan.
Bruuug!.
Kedua kaki Takiya mendarat tepat di dada Putra, sedang tangan kanannya yang tadi telah tergepal rapat, menghantam keras wajah Putra, seketika tubuh Putra terjatuh kebelakang, kesadarannya menurun, semuanya terlihat gelap, karena efek pukulan Takiya yang menghantam tepat di pelipis matanya.
Takiya duduk berjongkok di atas tubuh Putra, tangan kanannya ditarik sejajar telinga, jari jari tangannya tergepal rapat, dia masih ingin melanjutkan serangannya.
"Takiya!"
Bentakan Alex menghentikan aksinya seketika, Takiya mengurungkan niatnya, kemudian dia turun dari tubuh Putra dan kembali berdiri diantara teman-temannya.
Di luar sekolah, Alex merupakan orang nomer 2 di kelompok preman yang menguasai daerahnya. sosok yang menyaksikan kejadian tersebut, banyak tahu tentang Alex, makanya dia memilih diam menyaksikan kejadian itu, meski dalam hatinya, dia ingin menolongnya.
"Kita cabut, keburu ada guru nanti, gue nggak mau berurusan sama tikus-tikus sekolah." Ucap Alex yang kemudian mengambil uang dari tangan Takiya, setelahnya dia melangkah pergi dari tempat itu.
"Nih buku loe, gue balikin." Alex melempar buku yang dibawanya dari tadi ke arah belakang, karena kini, posisinya telah membelakangi Putra dan ke-empat temannya.
Takiya tersenyum lebar kala melihat buku itu melayang di udara, dengan cepat dia mengambil posisi, kemudian meloncat tinggi, Takiya melakukan salto saat badannya telah melayang di udara, sedang kaki kanannya langsung menyambut buku itu dengan tendangan keras, dia mengarahkan buku tersebut ke arah tubuh Putra, sedang Putra, kini tengah terbaring telentang di atas tanah.
Breeg!.
Suaranya bersamaan, buku tersebut mendarat tepat di wajah Putra, bersamaan dengan kaki Takiya yang kembali berpijak di tanah, tubuhnya tetap berdiri tegap di tempatnya, dia tersenyum saat menoleh ke arah Putra.
"Heeem, tepat sasaran!" Ucap Hendrik, kemudian mereka tertawa bersama-sama, stelah itu, mereka lekas pergi menyusul langkah Alex yang semakin jauh meninggalkan mereka, beberapa saat kemudian, mereka pun telah lenyap dari pandangan sekitar.
Putra tersadar saat mencium aroma menyengat dari hidungnya, perlahan dia membuka mata, samar samar, dia melihat ada sosok orang yang kini berada di sampingnya, Putra mengucek kedua matanya.
"Udah sadar?." orang tersebut bertanya kepada Putra, kemudian dia membantu tubuh Putra untuk duduk. Putra tadi memang sudah pingsan, saat pelipis matanya terkena pukulan Takiya, dan setelah itu, Putra tidak tahu apa yang terjadi, bahkan dia tidak tahu, kapan Alex dan teman-temannya pergi.
__ADS_1
"Ka, ka, kamu siapa?" Putra bertanya pada orang yang berada di depannya, dia menatap orang tersebut dengan tatapan asing.
"Ooh, aku tadi melihatmu seperti tidak sadarkan diri, makanya aku menghampirimu dan mengoleskan minyak ini, biar kamu tersadar, kamu tadi pingsan." Orang itu menjelaskannya. ternyata yang menolong Putra adalah seorang gadis cantik jelita. gadis berambut panjang lurus berwarna hitam logam, wajahnya tirus berbentuk oval, sedang matanya sipit, alis tipis menggaris di atas pelupuk matanya, bibir kecil dan tipis menambah kemanisan saat sedang tersenyum. Imut, manis, cantik mempesona, itulah gambaran dari sosoknya.
"Namaku Erly, maaf saya tidak bisa berbuat apa apa saat kejadian tengah berlangsung." ucap gadis itu.
Memang benar, dialah orang yang menyaksikan kejadian tadi dari awal, namun dia tidak bisa berbuat apa apa.
Erly membantu Putra untuk berdiri, kemudian dia mendudukan Putra di sebuah kursi dekat mereka. Putra Hanya diam menundukkan kepalanya, dia tidak berkata apapun.
Erly adalah sosok yang baik hati, ramah dan suka menolong sesama, dia adalah gadis yatim piatu setelah kematian kedua orang tuanya, kini dia hanya tinggal berdua bersama kakaknya, dan sekolahpun, kakak nya lah yang menanggung biaya.
"Terimakasih, sudah menolongku." Ucap Putra sambil menundukkan kepalanya. Erly tersenyum mendengar kalimat tersebut, sekarang dia sedang memberesi barang-barang Putra yang berserakan di tanah.
Erly terdiam, dia mengernyitkan dahinya saat mengambil baju seragam olahraga milik Putra.
Baju ini seperti tidak asing. Gumam Erly dalam hati. Ah, seragam olahraga kan semuanya sama satu sekolah ini. Erly segera memasukkan baju itu ke dalam tas putra setelah melihatnya cukup lama.
"Ini barang mu" Erly menyerahkan semua barang Putra yang telah dia masukkan ke dalam tas. Putra hanya terdiam sambil tersenyum tipis.
"Wajahmu terluka" Erly terkejut saat melihat darah mulai mengalir di samping mata Putra, dengan cepat dia mengeluarkan kotak P3K dari dalam tasnya, Erly segera membersihkan darah di wajah Putra, kemudian dia mengoleskan obat merah dan menempelkan handsaplas di luka tersebut, Putra hanya terdiam mendapatkan perlakuan dari Erly, dia tidak banyak bicara, biasanya dia hanya memberikan respon mengangguk dan menggelengkan kepala kepada lawan bicaranya.
"Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana." Ucap Erly yang lalu pergi meninggalkan Putra di tempat itu sendirian.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Mohon dukungannya ya para riders, berikan saran dan kritiknya jika ada yang ingin kalian sampaikan.
__ADS_1