Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
Hutang yang menumpuk


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah mendapatkan kopi pahit dari seseorang.


"Terus kapan kamu mau bayar semua hutang-hutang mu ini. Hah !!!".


Suara Mbak Leni yang menggelegar bagai petir yang menyambar-nyambar membuat aku semakin ketakutan.


"Iya Mbak, nanti kalau Mas Alan ada uang . Pasti saya bayar". Jawab ku sambil menundukkan kepala dan tubuh yang gemetaran


"Iya tapi kapan Mas Alan mu itu punya uang. Tiap hari kerjaannya cuma tidur. Mana dia sekarang !!. Pasti masih tidur.


Ini sudah pukul sembilan pagi Renata!!". Mbak Leni sambil menunjukkan jam yang melingkar ditangannya.


"Heran aku. Kok kamu mau punya suami kayak dia. Tukang tidur.


Pokok nya satu minggu lagi saya kesini. Dan saya gak mau tau. Harus ada uang. Ngerti kamu !!!".


"iiiya Mbak. Saya ngerti".


Setelah itu Mbak Leni pergi dari hadapan ku. Dan Ia terlihat semakin menjauh dari pandangan ku.


Hutang ku memang banyak padanya, belum juga pada orang lain.


Kehidupan kami pas-pasan. Bisa makan saja kami sudah sangat bersyukur. Pekerjaan Mas Alan tidak tetap. Itu yang membuat kami harus berhutang kesana kemari. Awalnya untuk modal usaha, tapi lama kelamaan dagangan sepi. Entah kenapa. Aku pun tak tahu.


Aku selalu gelagapan kalau ditagih hutang oleh siapapun. Termasuk mbak Leni. Aku tak pernah berhutang pada siapapun sebelum menikah. Tapi setelah menikah hutang ku menumpuk.


Aku masuk ke rumah dan ku lihat Mas Alan masih tidur.


"Sudah pergi orang nya Dik ? ?". Tiba-tiba suara Mas Alan mengagetkan ku.


"Sudah Mas. Mas Alan tadi dengar ya ?". Aku berjalan mendekati Mas Alan di tempat tidurnya.


"Dengar kok. Kamu yang sabar ya. Maafin Mas. Karena Mas belum bisa buat kamu bahagia". Ucap Mas Alan pelan sambil mengelus kepalaku.


"Iya Mas. Gak apa-apa. Aku udah seneng kok kalau kepala ku di elus kaya gini". Jawab ku dengan senyuman kecil.


"Ya sudah. Kamu beres-beres gih".

__ADS_1


"Loh.. Emang kita mau kemana Mas ?". Tanyaku penasaran.


"Kita ketempat Yanguti, Alfan kayaknya sudah kangen sama Yanguti. Sudah lama juga kita gak kesana".


"Ya sudah. Aku siap-siap dulu ya". Aku hendak bangkit dari samping Mas Alan tapi Ia menarik tangan ku.


"Cium nya mana ?". Pinta Mas Alan sambil mengarahkan pipinya padaku.


"Muah muah muah ". Ku cium ke dua pipinya yang lembut itu dan juga bibirnya. Itu adalah hal sederhana yang membuat kami bahagia.


Lalu aku bergegas meninggalkan Mas Alan di kamar bersama Alfan dan Sahil.


Aku menikah enam tahun yang lalu. Dan telah di karuniai dua orang putra. Yang memang aku belum menginginkan anak perempuan. Meskipun Mas Alan menginginkannya.


"Bu, kita mau kemana ? Kok sudah rapi gini?". Tanya Alfan dengan heran sambil mengucek matanya.


"Kita mau ketempat Yanguti." Jawab Mas Alan yang keluar dari kamar mandi.


"Beneran bu ??". Seolah Alfan tidak yakin dengan perkataan ayahnya.


"Horeeeee.....". Alfan melompat kagirangan yang membuat adiknya terbangun.


Aku menghentikan aktivitas ku lalu menghampiri Sahil didalam kamar.


Alfan saat ini berusia lima tahun. Harusnya dia sudah sekolah Paud. Tapi karena ekonomi kami yang belum mencukupi. Jadi kami belum menyekolahkannya.


Setiap kami kehabisan uang rumah Yanguti adalah jalan terakhir. Mas Alan sangat di sayang oleh Umi nya. Apa yang dia pinta pasti dituruti. Sekalipun itu uang. Namun Abi Mas Alan sangat keras. Beliau sering memukul Umi, menampar bahkan menendangnya. Hanya Umi lah yang sabar menghadapi sikap keras Abi.


Selama menempuh perjalan lebih kurang satu jam. Tibalah kami di rumah Yanguti. Satu-satunya rumah yang memberi kami kenyamanan.


"Assalamualaikum". Alfan mengucapkan salam sebelum masuk rumah Yangutinya.


"Waalaikum salam..".Terdengar suara dari kejauhan. Sepertinya Umi dari belakang.


"Loh.... Cucu Yanguti. Kok gak nelpon dulu kalau mau kesini ?". Sambut umi dengan penuh ceria sambil mencium Alfan dan Sahil.


"Iya Yangti, bangun tidur Alfan minta ke sini, Sahil juga rewel saja dari kemarin, mungkin kangen Yanguti nya." Jawab suamiku sambil melepas jaket monyetnya.

__ADS_1


Ku toleh tiap sudut ruangan namun aku tidak melihat Abi.


"Abi kemana Yangti". Tanyaku sambil mencium punggung tangan mertuaku.


"Abi keluar, mungkin ke tempat Luna. Dari pagi Luna gak kesini."


Yeah, Luna adalah anak dari Mbak nya suamiku. Lebih tepat nya Luna adalah keponakan suamiku. Anak-anak dari Mbak Iren sangat di sayang oleh Abi. Tapi Mas Alan tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya itu adalah hal biasa.


"Kalau nelpon dulu kan Yanguti masak banyak". Yanguti berjalan kearah dapur sambil menyiapkan makanan untuk kami.


"Makan Nduk. Yangti cuma masak sambal udang. Kesukaan Abi mu."


"Nggih Mi". Jawab ku pelan. Sebenarnya perut ini memang lapar sejak tadi. Kami semua tidak ada yang sarapan, bukannya aku tidak mau memasak, tapi lembaran yang dipakai untuk membeli makanan tidak ada.


Seolah Umi tahu kalau kami memang belum sarapan. Karena uang tinggal Rp. 10.000. Dan itu di belikan bensin oleh Mas Alan.


Bukannya suami ku tak pandai mencari uang, aku merasa sebagai istri yang tak pandai memberi semangat pada suami. Dan yang paling penting adalah aku tak bisa membantunya mencari uang.


Dulu mas Alan berharap memperoleh istri yang soleha,manut sama suami,sayang sama suami, dan juga mampu membuat hari-harinya indah. Tapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan.


Awal menikah aku beradaptasi dengan keluarga Mas Alan. Cukup sulit untuk mengimbangi mereka yang semuanya adalah pengusaha. Sedangkan aku terlahir dari keluarga sederhana yang keahliannya hanya bertani.


Didikkan Abi yang sangat keras kepada istri dan anak-anaknya, membuat aku merasa tak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Sampai sekarang aku masih berfikir kenapa Tuhan menitipkan aku pada keluarga yang sangat keras ini.


"Ya Allah, dekatkanlah aku dengan orang-orang yang dekat dengan-Mu. Dan jatuhkanlah cintaku pada orang yang melabuhkan cintanya pada-Mu".


Itulah sepenggal doa yang pernah aku ucapkan sewaktu aku masih lajang. Aku ingin sekali tinggal dikeluarga yang memiliki nilai religius yang tinggi. Agar aku bisa menambah iman ku.


Dan Tuhan telah mengabulkan doa-doa ku. Aku mendapat suami yang taat ibadah. Satu lagi yang membuat aku suka padanya yaitu ketampanannya. Pasha Ungu kalah tampannya dengan suamiku. Itu menurutku.


Begitu banyaknya kesulitan-kesulitan yang aku hadapi, membuat aku kuat. Menepis rasa minder dan tidak percaya diri yang selama ini mengendap dalam diriku.


Aku wanita yang tak bisa apa-apa dan selalu mengandalkan suami. Bermimpi bahwa hidup setelah pernikahan ini akan bahagia seperti cerita dongeng ataupun novel.


Namun kenyataannya tidak. Terus mengikuti alur kehidupan membuat aku paham akan suatu hal, yaitu berusaha, menghadapi batu-batu besar yang menghalangi, ataupun harus terjun ke jurang yang curam.


Bangkit dan berusaha untuk naik ke atas namun masih terpeleset dan jatuh kembali.

__ADS_1


__ADS_2