Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
devina kesal.....


__ADS_3

Disini....


Dikafe ini....


Tepat dua hari yang lalu Devina dan Alan bertemu. Dan hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Devina, yaitu menanti sebuah kejutan dari Alan.


Penampilannya kali ini lebih cantik dari pertemuan sebelumnya. Ia terlihat anggun dengan gaun yang dipakainya. Berwarna merah dengan payet-payet indah di bawahnya bag seorang ratu.


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa Sudah tiga puluh menit Devina menunggu. Namun tak ada kabar dari Alan.


"apa jangan-jangan Alan lupa ya ?.


telpon, tidak, telpon, tidak ". Devina menghitung jemarinya.


"Devina .....". Tiba-tiba seorang pria berparas tampan, berkulit sawo matang, berbadan tinggi memakai setelas jas hitam yang bermerek. Itu mencirikan bahwa dia bukan orang dari kalangan biasa memanggil namanya dan menghampirinya. Devina mencari sumber suara itu berasal. Ia terkejut karena yang datang bukan Alan melainkan pria lain.


Devina hanya terdiam.


"boleh saya duduk ?". Pria itu bertanya pada Devina.


"silahkan tuan .". Devina mempersilahkan pria tampan itu duduk satu meja dengannya.


"oh ya.. Sebelumnya perkenalkan.. Saya Anton. Saya adalah teman dekat Alan". Anton memulai perbincangan.


"Alan ?". Devina terkejut mendengar nama Alan.

__ADS_1


"iya. Dia meminta saya jauh-jauh datang ke Bali untuk menemui nona cantik yang saat ini ada dihadapan saya". Anton tersenyum memandang wajah devina yang sedari tadi hanya terdiam.


"jadi ini kejutan dari Alan. Sialan !!. Tahu begini aku tidak akan membeli gaun baru kalau hanya untuk bertemu dengannya. Dan ternyata Alan mau ngenalin aku sama temannya. Sayangnya aku gak tertarik. Alan jauh lebih tampan dari mu". Gumam Devina dalam hati.


"hello ..... Nona.... Are you okay ???". Anton menyadarkan Devina dari lamunannya sambil melambaikan tangan di depan Devina.


"oh ..ya .. Sorry.. Sorry..". Devina tersadar dan mengambil minuman yang ada di depannya.


"ternyata Alan gak bohong. Kamu memang cantik. Belum pernah aku menemui wanita secantik kamu". Anton mulai ngegombal.


"ahh... Biasa saja.. Banyak kok di dunia".


"bye the way.... Alan sering cerita tentang kamu. Dia bilang kamu baik, ramah, dan cantik".


Devina masih terdiam. Dia heran dengan maksud Alan.


"baru dua tahun". Devina menjawab singkat.


"gak pengen pulang ke Lampung ?".


"untuk saat ini belum. Masih ada yang aku cari disini. Kamu kerja di Bali ?". Devina bertanya pada Anton.


"oh.. Tidak. Saya punya usaha sendiri di Palembang. Dan alhamdulillah ".


"waw.... Pengusaha dong.". Devina kagum.

__ADS_1


"iya ... Bisa di katakan seperti itu. Kalau kamu mau... Kita bisa pulang bareng ke Sumatera. Kata Alan... kontrak kamu sudah selesai ?".


"itu bisa di atur. Berapa lama di sini ?".


"gak lama kok... Mungkin lusa aku balik ke Palembang".


"sepertinya aku masih pengen di sini. Kamu balik duluan aja". Devina menolak ajakan anton.


"its okay.. No problem..". Anton berkata sambil mengangkat bahunya.


Mereka berdua melanjutkan perbincangan dan makan malam. Lalu diakhiri dengan perpisahan.


Sesampai di rumah, Devina melempar tas cantiknya ke sembarang arah. Ia kecewa dan kesal dengan Alan.


"Alannnnn..... Apa sih maksud kamu.........!!!". Devina teriak sambil marah-marah.


Ia membanting tubuhnya pada sofa yang berada dekat dengannya.


"kamu tau gak sih kalau aku suka kamu... Aku cinta kamu.... Aku sayang kamu Alan.... Kamu tega...!!!. Lihat saja nanti.. ". Devina merasa sangat-sangat kecewa.. Ia merencanakan sesuatu agar Alan bisa jatuh di pelukannya.


*****


Aku teringat akan sesuatu. Dulu sebelum tidur, mas Alan pasti menceritakan tentang mantan-mantannya. Mulai dari Maya, Lila, Savia dan masih banyak lagi yang terekam oleh memori ku.


Hal itu Ia lakukan selama tiga tahun setelah pernikahan. Awalnya aku berfikir bahwa mas Alan belum bisa move on dari mantan-mantannya. Dan kami menikah bukan karena cinta, melainkan takdir.

__ADS_1


Aku seperti mendengarkan radio saja, tanpa bertanya. Saat itu tidak ada rasa cemburu dihati ku. Sedikitpun. Ku akui awal menikah aku belum ada rasa apapun, begitu pula dengan mas Alan.


Namun setelah kelahiran putra kedua kami Sahil, aku mulai merasakan cemburu ketika mas Alan akan bercerita lagi.


__ADS_2