
Setelah puas memadu kasih. Kami terlelap satu sama lain. Begitu sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang telah lama tak kami rasakan.
Bagaikan melayang-layang diudara bersama indahnya warna langit biru yang mempesona.
"triingg".
Tiba-tiba aku terhempas ke bumi dan terbangun. Meraba-raba mencari suara ponsel ku. Mata ini rasanya enggan untuk terbuka. Belum puas dengan adegan beberapa saat tadi.
Kutemukan benda pipih itu diatas meja. Ku raih dan ku buka pesan didalamnya.
"Ren. Besok pukul enam pagi kita terbang ke Indonesia. Aku sudah pesan tiketnya". Rupanya Anton mengirim pesan.
Mungkinkah ini perpisahan yang kedua kalinya. Oh.. Tidak.. Kenapa aku harus selalu bertemu dengan perpisahan. Itu sangat menyakitkan, mnyebalkan, dan memuakkan.
Kuletakkan ponselku. Pandanganku beralih pada wajah tampan suami ku. Ia terlelap sangat lama. Mungkin dia juga merindukan sentuhan ku.
Ku usap rambutnya. Ku pegang hidungnya yang mancung bagaikan belalai gajah.. Oh tidak. Itu sangat jahat. Istri macam apa aku ini.
Aku hanya tersenyum sendiri melihatnya.
"Kamu kenapa ren ?".
Aku terkejut dan mas Alan mengenggam tangan ku.
"senyum-senyum sendiri. Gak ajak-ajak suaminya". Mas alan membenarkan posisi tidurnya dan menghadapku.
__ADS_1
"tak ada kata bosan ketika memandang wajah suami ku ini. Sehingga membuat ku seperti orang gila. Pantas saja Devina menyukaimu mas. Mungkin diluaran sana banyak wanita-wanita yang menyimpan rasa cintanya untuk mu".
"gombal kamu dik.. Ntar aku terbang loh ..".
"kalau mau terbang aku ikut.... Kita mendarat di atas patung Liberti".
"emang bisa ?".
"ya bisa lah mas... ".
"kamu ini ada ada saja dik. istri ku emang lucu..".
"oh ya mas.Tadi Anton kirim pesan. Besok pagi pukul enam kami pulang ke Indonesia".
"iya mas.. Kenapa ??. Masih pengen aku disini ?".
"iya......". Suara manja mas alan akhirnya meluncur juga.
"Aku harus pulang mas. Kasihan anak-anak. Toko juga gak ada yang nunggu. Terpaksa aku tutup. Demi suami ku yang ter ter pokoknya". Sambil melingkarkan tangan ku pada pinggang mas Alan. Dan Ia pun membalasnya.
"iya... Mas titip anak-anak.. Dan juga hati mas".
"pasti itu sayang".
***
__ADS_1
Dikediamannya. Devina sedang menyusun rencana. Kini ia bekerja pada salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang fashion.
Cukup lama Ia tak menemui Alan setelah pertemuannya dengan Renata. Hari itu juga Ia memutuskan untuk meninggalkan Alan. Namun hanya untuk sementara waktu.
Cintanya pada Alan melebihi cinta Juliet pada Romeo. Bahkan lebih besar dari itu.
Ia memang sangat ingin bekerja diperusahaan itu. Kabarnya sih pemiliknya mempunyai putra yang sangat tampan, yang nantinya akan menjadi Ceo. Asli orang Saudi.
Mungkin jika orang itu ada di Indonesia bisa-bisa jadi rebutan setiap umat..
Pria dengan postur tubuh yang tinggi tegap. hidung mancung kedepan. Kalau di Indonesia kebanyakan mancung ke dalam. Hihihi.. Bisa gila membayangkannya.
Hari ini adalah hari pertama Devina bekerja. Ia memilah dan memilih baju yang akan Ia kenakan. Diambilnya setelan warna coklat, di lihatnya didepan cermin.
"oh no..". Ia melemparkannya.
Begitulah seterusnya sampai habis baju di lemarinya, namun Ia tak menemukan baju yang cocok. Tampak berserakan seisi lemari keluar memenuhi kamar yang sebelumnya tertata rapi.
"ya Tuhan.. Kenapa tidak ada satu bajupun yang bisa aku pakai".
Ia mondar mandir dan lalu terdiam.
"ada satu baju yang baru aku beli. Kenapa aku melupakannya ".
Dia baru teringat dengan setelan abu-abu yang masih tersimpan rapi didalam kopernya.
__ADS_1