Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
mungkinkah menikah dua


__ADS_3

(assalamualaikum.. Bu Indah. Maaf pagi-pagi saya menggangu. Pagi ini saya ada urusan dengan teman saya Tika. Anak-anak belum bangun. Tolong ibu kesini sekarang. Saya pergi dulu. Assalamualaikum). Pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah Tika. Rasanya tak puas hati ini kalau belum bercerita dengan sahabat ku itu.


Butuh waktu satu jam perjalanan untuk sampai ke rumah Tika. Pukul 06.00 Wib. Aku berangkat. Karena jika siang sedikit saja jalanan sangat ramai. Maklum ini jalan lintas, banyak kendaraan besar bermuatan berat lewat sini. Karena memang ini adalah jalan satu-satunya.


"assalamualaikum....". Tidak ada sahutan.


"assalamualaikum.... Tika... Ini aku Rena..". Masih saja sepi. Seperti tidak ada orang.


Lebih baik aku duduk saja di sini. Mungkin dia tidak mendengarku. Ku amati suasana sekitar. Rumah Tika tidak berubah. Masih sama seperti enam tahun yang lalu. Bunga-bunga yang tertata rapi. Ada pula yang digantung menjuntai-juntai bagaikan selendang seorang permaisuri.


Tika memang orangnya rajin. Beda jauh dengan ku. Hampir tidak ada bunga di teras rumahku. Hanya mas Alan yang rajin berkebun. Dia laki-laki tapi menyukai bunga juga tanaman lainnya.


Tiba-tiba ada suara pintu terbuka.


"ceklek.. Ya Allah Rena... Kapan kamu datang.. Kenapa diam saja..?". Tika terkejut melihat ku duduk di teras rumahnya.


"Tadi sudah salam banyak kali. Kamunya yang gak denger". Jawab ku sambil cemberut.


"jelek tau kalau cemberut gitu. Nanti mas Alan cari yang baru". Tika menggoda ku sambil menggandeng tangan ku masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"duduk yukk.. Tumben pagi-pagi kesini. Gak buka toko ?".


"hari ini libur dulu Tik.. Lagi pusing kepala ku". Ku jawab sambil memijat kepala.


"pusing kenapa lagi ?. Oya , mau minum apa ?". Tika melangkah berjalan menuju dapur dan aku mengikutinya dari belakang.


"Rehan mana ?. Kok sepi amat?". aku mencari Rehan putra Tika yang tidak terlihat sama sekali.


"Rehan ikut tantenya kemarin. Mungkin besok dia pulang. Jawab dong pertanyaan ku. Gak usah ganti topik".


"siapa juga yang ganti topik. Aku kan tanya anak kamu".


"oke .. oke.. Aku cerita".


Tika duduk di sampingku bersiap mendengarkan cerita ku.


"gini Tik. Kemarin siang mas Alan kirim video ke aku. Katanya itu kiriman dari mbak iren".


"video ? Coba aku lihat".

__ADS_1


"mana ya video nya. Ini dia ketemu". Aku memberikan handphone ku pada Tika.


"what !!! Apa ini Ren ?". Tika terkejut sambil memperlihatkan handphone itu pada ku.


Aku hanya mengangkat kedua bahu ku sebagai isyarat 'aku tidak tahu'.


"karena video itu sekarang hubungan ku dengan mas Alan jadi renggang. Biasanya kami bertanya kabar sebelum aku tidur. Setelah adanya video itu semuanya berubah". Aku perlahan menceritakan masalah ku dengan mas Alan sambil menahan air mata.


"dan disana mas Alan bertemu dengan seorang perempuan, Ia berasal dari Lampung. Namanya Devina. Ada rasa takut di hatiku Tik. Aku takut mas Alan haus belaian seorang wanita".


"huss..... Jangan ngawur kamu kalau ngomong. Aku tau siapa mas Alan. Dia tidak akan segila itu". Tika berusaha mengingatkan ku.


"bukannya gitu Tik. Sebelum berangkat ke Bali mas Alan sempet ngomong sama aku kalau dia mau nikah lagi di sana. Dan aku takut Devina akan menggantikan posisiku selama mas Alan di Bali".


"tapi menurutku. Tidak mungkin mas Alan menikah dua. Percaya deh sama aku".


Aku hanya terdiam mendengar perkataan Tika. Di dalam hatiku berkata


"Semoga yang di katakan Tika benar".

__ADS_1


Meyakinkan hati ini ternyata tak mudah. Harus mampu melawan angin yang kuat untuk merobohkan ku.


__ADS_2