Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
terima kasih umi


__ADS_3

Ku lihat di dapur Mas Alan sedang ngobrol serius dengan Umi. Yeah.. Itu pasti tentang uang. Tiba-tiba terdengar suara motor di depan rumah. Siapa lagi kalau bukan Abi. Dan ada anak perempuan di depannya. Itu Aluna. Aluna dan Alfan usianya selisih dua bulan. Lebih tua Alfan. Ketika aku hamil Alfan, entah mengapa Mbak Iren gak mau kalah. Padahal selama ini ia menunda kehamilannya. Dan setelah tahu aku hamil, ia tiba-tiba ikutan hamil. Mungkin biar ramai saja jika banyak suara anak kecil.


"Hai Aluna.. Cantiknya keponakan tante?". Ku belai rambutnya yang lurus dan berwarna hitam itu. Aluna memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, hanya satu yang disayangkan. Hidungnya pesek


"Loh Alfan kapan datangnya ?". Abi masuk rumah dan aku beranjak dari tempat ku duduk lalu menghampiri Abi.


"Barusan Bi". Jawabku sambil mencium punggung tangan Abi.


"Al. Tadi Bibi Anita nelfon. Dia bilang lagi cari orang yang mau kerja ke Bali. Katanya dia lagi butuh tenaga bagian therapist. Nanti kamu dapat bagian."


"Beneran Bi ? Bibi Anita bilang gitu?


Ya udah nanti aku cari orang yang mau kerja ke sana". Mas Alan sangat bersemangat ketika mendengar kabar baik ini.


"Gimana dek ? Aku bisa kan cari orang. Aku kan mantan sales. Masak sih gini saja tidak bisa".


"Iya. Sampean bisa Mas. Sampean kan pintar ngerayu". Jawab ku sembari memberi semangat Mas Alan.


Hari sudah hampir sore. Aku masih menyusui Sahil di kamar tamu. Tiba-tiba Mas Alan menghampiriku.


"Dek, ayo kita pulang. Ini ada uang dua ratus ribu dari Umi. Terus kita cari orang yang mau kerja ke Bali". Mas Alan berbisik di telinga ku.


"Baik Mas. Mungkin ini jalan keluar untuk permasalahan kita dari Allah". Aku menatap wajah suamiku seraya memberinya senyuman.

__ADS_1


"Amin Dek".


Aku keluar kamar untuk memanggil Alfan yang sedang asik bermain dengan Aluna. Dan seperti biasa Alfan selalu menangis ketika di ajak pulang. Berbagai macam rayuan di berikan oleh Mas Alan pada Alfan dan akhirnya luluh juga.


"Alfan ini bagi dua sama adiknya ya".


Kulihat Abi memberikan uang lima puluh ribuan dua lembar pada Alfan.


"Alhamdulillah". Aku mengucap syukur didalam hati.


"Alfan pamit Yangkung, Alfan pamit Yangti". Alfan mencium tangan Eyangnya bergantian.


"Iya.. Hati-hati di jalan ya."


"Waalaikum salam".


Seharusnya anaklah yang membawa oleh-oleh ketika berkunjung kerumah orang tuanya. Tapi kami tidak. Datang tangan kosong, kalau pulang pasti ada saja yang dibawa.


Satu jam kemudian kami pun sampai rumah. Sebenarnya itu bukan rumah kami. Kami ngontrak di rumah Mbak ku. Kebetulan dia beli rumah di propinsi sebelah. Jadi rumah di sini mereka tinggalkan. Awalnya Mbak Puput tidak mau rumahnya di kontrak. Cukup di tempati dan di rawat saja dia sudah senang. Tapi karena orang tuaku yang tidak suka melihat suamiku setiap hari hanya tidur terus. Beliau marah dan kesal. Lalu suami ku memutuskan untuk mengontrak saja.


Diruang tamu, ku lihat Mas Alan sedang memiikirkan sesuatu. Aku mendekatinya dan duduk disebelahnya.


"Dek, kamu sudah dapat orang belum? Kira-kira siapa ya yang mau kerja di Bali?".

__ADS_1


"Mas, mencari orang untuk kerja di Bali itu tidak mudah loh. Kita harus bisa meyakinkan mereka. Terus ada orang yang pernah sampean bawa apa belum. Pasti nanti banyak pertanyaan-pertanyaan yang mereka berikan. Kita ini orang miskin Mas. Tidak akan ada orang yang percaya sama kita". Jawab ku panjang kali lebar. Dan memang itu yang harus di fikirkan.


"Kamu benar juga Dek. Bagaimana kalau Mas saja yang berangkat ke Bali. Nanti kamu di sini yang cari orang."


Aku sontak terkejut mendengar ucapan Mas Alan suami ku.


"Mas. Sampean lagi gak ngelanturkan ?".


"Dek. Tatap mata Mas. Mas ini serius. Dua rius malah". Mas Alan mencoba meyakinkan aku sambil memegang kedua pundak ku.


"Kamu gak liat kehidupan kita sekarang. Untuk beli jajannya anak-anak saja kita gak mampu. Kamu gak kasihan melihat mereka? Belum lagi berbagai macam angsuran yang harus kita bayar tiap bulan. Seharusnya tahun ini Alfan sekolah. Tapi lihat dia". Pandangan Mas Alan diarahkan pada Alfan.


" Mumpung anak-anak masih kecil. Biarkan Mas pergi kerja di Bali".


Aku terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Mas Alan. Rasanya tidak mungkin aku berpisah dengan suami ku. Aku benar-benar gak sanggup.


"Tapi apakah aku sanggup berpisah dengan mu Mas. Selama menikah kita belum pernah pisah sama sekali. Mana jauh lagi. Bagaimana nanti kalau anak-anak mencari ayahnya ?".


"Dek. . Kita berpisah hanya sementara. Bukan untuk selamanya. Kita masih bisa video call. Kalau anak-anak tanya jawab saja ayah lagi kerja.


Mas mohon Dek, mengertilah. Ini untuk kebaikan kita semua. Dua tahun itu bukan waktu yang lama. Percayalah sama mas".


Aku menangis dipelukan suamiku yang sebentar lagi tak bisa aku rasakan dekapannya, kehangatan pada tubuhnya dan juga sentuhan mesranya.

__ADS_1


"Ya Allah. Engkau lebih mengetahui dari apa yang telah hamba ketahui. Dan Engkau telah mengetahui dari apa yang belum hamba ketahui. Mungkinkan ini semua harus terjadi. Haruskah hamba berpisah dengan suami hamba. Rasanya ini sangat-sangat sakit ya Allah. Jika ini memang jalan yang harus kami lalui. Kuatkanlah kami". Aku berdoa di ujung malam untuk mengadukan masalah ku pada yang maha kuasa.


__ADS_2