
Di tempat kerja Alan. Begitu banyak pelanggan yang menyukainya. Ia selalu memberikan pelayanan yang baik pada semua pelanggan. Oleh sebab itu, Alan juga disayang oleh bos nya. Bibi Anita.
Setiap hari Alan selalu dapat tips dari para pelanggan karena mereka merasa puas dengan pelayanan yang di berikan.
***
Hari ini Devina habis kontrak dengan majikannya. Ia ingin mencari pekerjaan yang lain. Sepertinya ia juga haus dengan pengalaman.
"lebih baik aku telfon Alan. Sebentar lagi dia pulang kerja". Devina mengambil handphone nya dan langsung menghubungi alan. Tapi Devina mengurungkan niatnya.
"eiitthh.... Jangan deh.. sebaiknya kirim pesan saja".
(Al. Ku tunggu di cafe tempat biasa ya...).
Setelah pesan terkirim Devina mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol.
"drrrtttt". Alan membalas pesan devina.
( mau ngapain ?).
( gak ada. Sekedar ngobrol saja).
( baiklah. Setengah jam lagi aku sampai).
Waktu menunjukkan pukul 16.00. Tak berapa lama Alan sampai juga di tempat yang di janjikan Devina.
" hayyy Alan ". Devina melambaikan tangan dengan bersuara pelan.
"hayy ". Alan pun membalas lambaian Devina.
Alan melangkahkan kakinya menuju Devina. Bagaimana hati Devina tidak dag dig dug setiap bertemu dengan pria tampan ini. Alan selalu berpenampilan rapi dan menarik.
Menggunakan kemeja abu-abu dan celana berwarna hitam polos dengan wajah yang selalu tersenyum.
"senyuman yang manis. I like it". Gumam Devina dalam hati sambil memandangi Alan dari kejauhan.
"sudah lama nunggunya ?". Alan menarik kursi berwarna hitam tepat di hadapan Devina.
__ADS_1
"ohhhh ..... Gak kok. Kalau nungguin kamu sampai besok pun aku mau". goda Devina.
"ahh.. Bisa saja kamu. Oya. Kamu jadi pindah kerja ?".
"jadi dong. Jauh-jauh dari Lampung ke Bali masa cuma dua tahun saja. Rugilah".
"waww... Aku suka orang seperti kamu. Punya semangat tinggi untuk hiasi hidup". Alan memuji Devina.
"apa lagi ada kamu di sini. Aku makin betah". Lanjut gumam Devina dalam hatinya.
"oh ya.. Kamu mau minum apa ?". Tanya Devina.
"oh tidak.. aku tadi sudah beli air mineral. Istri ku selalu berpesan jangan lupa minum air putih".
"masa sih ?". Devina tidak percaya.
"iya. Kamu tau gak ?. Tiap hari dia selalu ngomong 'jangan lupa minum air putih'. Sampai hafal aku Dev". Alan menceritakan istrinya sambil tertawa kecil.
" apakah kamu sangat sangat sangat mencintai istri mu ?". Devina mulai bertanya tentang istri alan.
"yeah.. Aku sangat sangat sangat mencintainya. Di hatiku cuma ada dia. Renata". Alan kembali tersenyum setelah menyebut nama istrinya.
"beruntung sekali dia dapat suami seperti kamu Al. Sudah baik, tampan, sopan, ramah. Pokoknya semua yang baik-baik ada pada kamu". Devina selalu memuji Alan.
"ah .. Kamu berlebihan Dev.. Aku cuma manusia biasa. By the way.. Kamu sendiri gimana ?. Kamu sudah punya keluarga ?". Alan balik tanya pada Devina.
Devina terdiam. Matanya memandang jauh keseberang jalan. Seperti sedang mengingat sesuatu.
"ceritanya panjang Al. Panjangnya rel kereta api masih kalah panjang dengan ceritaku". Devina menghentikan ceritanya lalu menyeruput orange jus miliknya.
" sudah.. Cerita saja Dev. Gak usah sungkan gitu ah. Kayak baru kenal saja".
"dulu... sekitar tiga tahun yang lalu. Aku punya pacar. Bahkan kita hampir tunangan dalam waktu dekat. Kami saling mencintai. Awalnya ayah ku tidak menyetujui hubungan kami dengan berbagai macam alasan. Terutama dia pengangguran. Tapi kami tidak pantang menyerah. Aku membantu mas Ikbal mencari lowongan pekerjaan di berbagai media. Dan aku menemukannya".
Devina diam sejenak.
"Dev ?. Kenapa ?". Alan menyadarkan lamunan Devina.
__ADS_1
"oh.. Sorry.
setelah itu dia melamar pekerjaan di sebuah supermarket dan dia diterima. Kami sangat bahagia. Begitu juga dengan ayah ku. Setelah beberapa bulan bekerja. Aku merasa jarak kami semakin hari semakin jauh. tiap kali ku tanya apa ada masalah. dia bilang gak ada apa-apa.
Dua hari kemudian aku tidak sengaja melihat dia sedang berdiri didepan toko percetakan.
"mas Ikbal ?. sedang apa di sini ?". Tanyaku padanya.
Dia terkejut dan seperti orang kebingungan melihat aku.
"ee.. eee.. Aku.. Aku di sini...". suaranya terputus putus.
Tiba-tiba ada seorang perempuan datang menghampiri mas Ikbal.
"sayang..ini undangannya sudah jadi". Itu yang dikatakannya pada mas Ikbal.
Bagai petir disiang bolong. Hatiku hancur.
"sayang ? Undangan ? Maksudnya ini apa ?". Aku bertanya pada mereka sambil badanku gemetaran.
"iya Dev. Maafin aku. Ini calon istriku. Dua minggu lagi kami akan menikah".
"kamu tau Al ?. bagaimana perasaan ku saat itu ?". Devina bertanya pada alan.
Alan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata Al". Devina tak sengaja meneteskan air matanya.
" setelah kejadian itu. aku menutup hati ku untuk siapapun. Dan memutuskan untuk mengadu nasib ke sini".
"maaf Dev. Aku gak bermaksud mengungkit masa lalu mu". Alan merasa bersalah.
"iya .. Gak apa-apa Al. Tapi sebelumnya terima kasih kamu mau dengerin curhatan ku.
"it's ok. Bye the way ... Sudah masuk waktu maghrib. Kita lanjut besok ya". Alan melihat jam ditangannya dan bermaksud untuk pamit.
"ok.. Pokoknya makasih banyak ya". Devina terus mengucap terima kasih pada Alan.
__ADS_1
Alan berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Devina. Sedangkan Devina masih duduk dikursinya sambil melihat punggung Alan yang semakin menjauh.
"Andai kamu tau Al.. Semakin kita sering bertemu semakin besar rasa cintaku padamu. Aku tau perasaan ku ini salah. Kamu memang milik Renata. Tapi di sini kamu milikku". Devina berbicara sendiri sambil mengaduk-aduk minumannya.