Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
hari ke 3


__ADS_3

Ini adalah hari sabtu. Semua perkantoran tutup. Para karyawan menikmati hari libur selama dua hari, sabtu dan minggu. Begitu juga dengan Devina dan Alan. Tapi hari ini Devina tak menemui Alan ataupun memberi kejutan untuknya seperti biasa. Bahkan menghubunginya pun tidak. Karena penasaran, Alan langsung mengambil ponselnya dan menekan tombol-tombol pada layar ponselnya.


( Dev, kamu dimana ?


( aku dikontrakan. Sakit)


(sakit apa ?. Aku kesana sekarang ).


Dengan cepat Alan mengambil kendaraannya dan pergi menuju rumah Teman yang mencintainya itu. Ia berkendara dengan kecepatan tinggi membelah jalan. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Mungkin Ia melupakan tentang kecelakaan yang pernah menimpanya sepulang dari rumah Devina.


Begitu sampai di depan dikontrakan Devina. Alan langsung turun dari kuda besinya lalu membuka helm dan merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Lalu berjalan mendekati pintu dan mengetuknya.


Tok.. Tok..


"Masuk saja Al, gak di kunci ". Terdengar suara Devina dari dalam rumah.


Tanpa rasa sungkan Alan melangkahkan kaki panjangnya mencari keberadaan Devina. Terlihat disebuah kamar yang tak begitu luas namun barang-barang tersusun rapi. Devina terbaring berbalut selimut sepertinya Dia demam.


"Dev. Kamu sakit apa ?"


Alan mendekati Devina dan duduk tepi ranjang.


"Gak tau Al. Badan ku rasanya lemes banget. Mau berdiri saja gak kuat".


Suara Devina terdengar sayu. Sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Yang cerewet ala emak-emak, yang ceria ala kanak-kanak, dan gak tau malu.


"ya sudah. Aku pijit mau ? Tapi tahan ya soalnya agak sakit". Alan mencoba menawarkan jasanya pada Devina.


"kamu yakin Al ?". Devina nampak ragu dengan tawaran Alan meskipun didalam hatinya sangat berharap bahkan lebih dari sebuah pijattan.


"yakin. bagaimanapun juga aku gak tega lihat kamu kaya' gini".


"ya udah gak apa-apa. Tapi pelan-pelan saja ya. Soalnya badan ku sakit semua".


"iya bawel. Kamu tengkurap sekarang".


Devina menuruti perintah Alan.


Tangan kekar Alan mulai membuka selimut yang menutupi kaki mulus nan putih milik Devina. Seketika itu juga yang 'di bawah sana ' pun ikut bergerak. Tak bisa di pungkiri Devina adalah perempuan pertama yang Alan pijat selama di Saudi. Ia sama sekali tak menerima pelanggan perempuan. Karena Ia telah berjanji pada Renata untuk tidak melayani pelanggan wanita.


Alan langsung menghentikan tangannya. Sialnya lagi Devina hanya memakai celana pendek ketat pula dan atasan kaos berwarna putih yang tipis sehingga terlihat jelas tali br* belakangnya.

__ADS_1


"gawat ini. Ada apa dengan 'kamu' ". Batin Alan yang tengah heran dengan sesuatu 'dibawah sana'.


Ia mencoba untuk tenang dan berkali-kali menarik napas dalam-dalam.


"Al. Kenapa ?. Kok berhenti mijatnya ? Ada masalah ". Devina sebenarnya tau apa yang sedang dirasakan oleh Alan. Namun dia hanya diam dan menunggu reaksi Alan berikutnya.


"Gak ada apa-apa Dev. Boleh aku lanjutkan ".


"Silakan Al. Ternyata pijatan mu enak ya. Bahkan sangat terasa. Pasti banyak pelanggan kamu yang puas".


Devina sangat menikmati pijatan demi pijatan yang langsung dari ahlinya.


Tapi berbeda dengan Alan. Ia saat ini sangat kewalahan pada area 'bawah' yang makin lama makin sulit untuk dikendalikan.


"ini benar-benar tidak beres". Gumam Alan dalam hati.


Kini saatnya Alan memijat bagian punggung Devina. Untuk kali ini Ia tak bisa mengendalikan pikirannya. begitu pula dengan Devina, yang tadinya merasakan pijatan kini Ia malah menikmati sentuhan lembut dari jemari Alan. Semakin lama sentuhan itu terasa semakin nikmat ketika tangan nakal Alan menarik keatas bagian belakang baju Devina dan menyelinap masuk mendekati gundukan kenyal itu.


Seketika Alan tersadar dari pikiran gilanya dan menarik kembali tangan yang hampir menjelajahi tubuh Devina.


"Sorry Dev. Aku pulang dulu, sepertinya ini ada yang tidak beres".


Sementara Devina masih terbaring diatas kasurnya.


"Alan kenapa ya .... Padahal aku sangat menikmatu sentuhan itu. Berharap hari aku bisa memberikan hal itu pada Alan. Dengan begitu tak mudah baginya untuk melepaskan aku. Mungkin aku belum beruntung hari ini. Tapi lain kali harus berhasil".


Devina sangat menyesalkan keputusan Alan yang memilih pergi meninggalkannya.


Sedangkan Alan yang kebingungan dengan area 'bawahnya' yang semakin mengeras.


"please ..... Ku mohon jangan sekarang ya....ini bukan waktunya dan itu bukan milik mu. Milik mu hanyalah Renata".


Alan berbicara pada 'anak laki-lakinya' yang kali ini tidak bisa diajak kompromi. Lalu Ia memilih untuk tidur dan berharap semya berakhir dalam mimpi.


Keesokan harinya, Alan merasakan badannya terasa lemas dan 'anak laki-lakinya' masih terasa menegang. Semalam Ia tidak bermimpi apapun. Badannya panas dingin , kepalanya sangat pusing.


Terdengar suara ketukan pintu di luar.


Tok tok tok


"Al. Kamu belum bangun ?. Aku Devina..."

__ADS_1


Alan berusaha bangkit dari tidurnya dan mencoba berjalan membukakan pintu.


"Alan.. Kamu kenapa ?.. Wajah mu pucat ?". Devina menempelkan punggung tangannya pada kening Alan.


"Ya Allah Alan.. Badan kamu panas banget.. Sekarang kamu rebahan saja di kamar. Ini aku bawakan capcay kesukaan kamu. Kamu pasti belum makan".


Devina berjalan ke arah dapur dan mengambilkan nasi untuk Alan. Sedanglan Alan kembali membaringkan badannya.


"Al, ayo makan... Aku suapin ya ".


"aaa... .". Devina hendak menyuapi Alan namun tangan Alan tiba-tiba meraih tangan Devina dan meletakkannya pada 'anak laki-lakinya'.


Devina sontak terkejut dan menarik tangannya namun tangan Alan menariknya kembali.


"Dev, bisa bantu aku "


"dengan senang hati. Apapun akan aku lakukan demi pangeranku". Devina berbisik didekat telinga Alan dengan suara manjanya yang membuat Alan semakin bergairah.


Permintaan Alan kali ini tidak masuk akal. Ia meminta Devina naik diatas tubuhnya berharap 'anak laki-lakinya' sedikit mengendur.


Dengan senang hati Devina menuruti kemauan Alan dan memang hal itu yang Ia tunggu-tunggu. Devina bangkit dari duduknya dan perlahan naik diatas tubuh Alan.


Aroma wangi tubuh Devina membuat Alan semakin bergairah. Mereka perlahan menggoyangkan pinggul satu sama lain.Lalu menyatukan kedua bibir dan terus memperdalam ciuman itu.


Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi panas, menimbulkan hawa panas dan menginginkan lebih dari ini.


Aahhkkhhhhh......


Ahhkkhhhhhhh


Alan sangat menikmati goyangan Devina. Disaat Ia hendak melepas pakaiannya. Alan menahan dengan tangannya dan menggelengkan kepala. Memberi tanda penolakan.


"terima kasih Dev. Sudah membantuku". Bisik suara Alan yang tepat didekat telinga Devina.


"Al.. Kamu tidak mau lebih dari ini ?? Aku bisa memberimu semuaanga". Devina balas membisikkan ditelinga Alan dengan suara khas manjanya.


"tidak perlu. Ini sudah lebih dari cukup Dev. Sekarang kamu bisa turun dari tubuh ku".


Tapi Devina seolah tidak mendengarkan perintah Alan. Ia malah meraba dada bidang Alan dan menciuminya.


"hentikan Dev. Kau bisa turun". Suara Alan sangat lemas setelah proses itu selesai. Ia perlahan memejamkan matanya dan tak mempedulikan Devina yang masih berada diatas tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2