
Hari ini adalah tanggal satu Desember. Merupakan hari pertama perjanjian Alan dan Devina. Alan sama sekali tak menganggap istimewa pada satu bulan ini, meskipun ini adalah awal dari polemik dirumah tangganya.
Mencintai wanita lain yang sama sekali tak pernah terbesit di pikirannya. Semua ini hanyalah permainan gila yang akan membuang waktu saja.
Menyetujui keinginan Devina menurutnya tak akan mempengaruhi cintanya pada Renata. Teringat Ia adalah istri yang pernah diajaknya hidup susah. Merantau kesana kemari. Hutang disana sini. Sampai dibentak-bentak debcolector. Apalagi hanya menahan lapar. Itu hal biasa baginya.
Satu bulan penuh Rena hanya memasak sayur bening kelor dengan lauk tempe goreng dan sambal orek. Ketika itu bulan ramadhan. Orang-orang selalu sahur dan berbuka dengan berbagai macam menu yang istimewa. Tapi tidak dengan Alan.
Tidak ada satupun tetangga yang bersedia sedekah makanan untuk mereka. Sangat memilukan.
Jika teringat semua itu, tak ingin rasanya meninggalkan orang yang selama ini rela menemani suka maupun duka.
Bahkan ketika Alan masih berada di penampungan. Rena banting tulang mencari uang kesana kemari untuk biaya hidup dan juga untuk membayar tagihan-tagihan yang sudah menunggak. Semua barang yang bisa dijualpun Rena jual. Itupun masih belum cukup.
Mencoba minta bantuan pada mbak Iren, berharap Ia bisa membantu dan mengurangi bebannya bulan ini. Tapi yang didapatnya tak seberapa. Bahkan tak cukup untuk membayar tagihan listrik.
__ADS_1
Menunggu Alan dapat gaji masih lama dan entah itu kapan. Harus sabar.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Berharap itu pesan dari Rena. Sebab beberapa hari ini istri tercintanya itu tak menghubunginya.
Alan membuka dan membaca pesan itu lalu menyerngitkan alis kananya.
"pagi sayang.... Hari ini aku masak spesial buat kamu. Tunggu aku ya...". Ternyata Devina. Ia melempar benda pipih itu keatas kasur lalu bergegas kekamar mandi.
Benar saja, beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu didepan.
"waalaikum salam.. Iya sebentar ".
"Ehhh.... Pangeran ku sudah mandi.. Makin ganteng aja..". Devina merapikan rambut Alan dengan tangannya yang lembut.
"ini aku bawain rendang daging sapi... Disini gak ada jualannya. Kamu makan ya. Tapi maaf aku gak bisa nemenin kamu makan. Sebab kantor ku jauh. Jadi aku harus berangkat sekarang.".
__ADS_1
Alan hanya diam mematung. Tak berkata sepatah katapun. Bahkan pandangannya biasa saja. Hanya saja perutnya mulai terganggu setelah mencium aroma masakan itu.
"kamu makan yang banyak loh.. Di habisin. Aku berangkat ya sayang. Assalamualikum ?".
Devina langsung menghilang dari hadapan Alan. Seperti memberi ruang bagi Alan untuk memakan makanan yang Ia bawa.
Alan duduk dan bingung makanan itu mau diapakan. Selama Ia menikah dengan Rena, Ia sama sekali tak pernah dimasakkan daging. Karena dia tak suka. Melihatnya pun Ia tak tahan. Pasti seluruh isi perutnya akan keluar. Entah dari planet mana dia berasal.
"Tapi apa salahnya dengan makanan ini. Jika kubiarkan itu mubazir namanya". Alan mengambil sendok dan mencicipinya. Jika tak enak akan dipastikan masuk tempat sampah.
Tapi sialnya
"gila !!!.... Enak juga.. Pintar Devina merayuku. Eitssss.... Alan... Kamu harus tetap hati-hati. Jangan sampai tergoda. Hati mu hanya untuk Renata seorang". Alan berusaha mengingatkan dirinya pada Renata.
"Tak apalah.. Ini hanya makanan. Tidak akan mengganggu hatiku".
__ADS_1
Alan menghabiskan nasi yang diambilnya keatas piring beserta makanan yang diberi oleh Devina. Sisanya Ia masukkan kedalam lemari makanan untuk makan nanti malam.