Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
menemui mas alan


__ADS_3

"assalamualaikum..".


Aku membuka pintu ruangan mas alan. Ku lihat dia sedang tidur. Tapi ada seorang perempuan yang juga tertidur pulas di sofa tunggu pasien.


"siapa dia ?". Tanya ku pada Anton.


"Devina". Anton berbisik pada ku.


Ku pandangi wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Ternyata ini wanita yang diam diam menyukai mas alan.


Ku cegah anton yang hendak melangkahkan kakinya untuk membangunkan devina.


"jangan bangunkan dia. Biarkan dia bangun sendiri".


Aku berjalan mendekati mas alan. Orang selama ini yang ku tunggu kepulangannya. Satu tahun kami tak bertemu. Ingin hati ini memeluknya, melampiaskan rasa kangen yang mendalam.


Ku cium kening dan kedua pipinya. Mengingat masa-masa saat bersama dulu. Bercanda, tertawa , marah, saling cubit, saling ejek. Andai anak-anak ku bawa ke sini. Pasti mereka bahagia bisa melihat dan memeluk ayahnya. Tapi itu tidak mungkin. Aku kemari bukan untuk jalan-jalan.


Tak terasa air mata ini jatuh tepat pada kelopak matanya. Perlahan ku usap. Namun mas alan terbangun.


Ia membuka mata tepat didepan wajah ku.

__ADS_1


"dikk.... Apakah aku mimpi ?. Apa aku sudah mati ?".


"tidak mas. Mas gak mimpi. ini aku istri mu".


"kenapa kamu bisa ada disini ?".


"anton memberitahu ku mas. Maaf, Aku tidak minta izin pada mu".


Senyuman pada wajah mas alan tanda bahwa ia memaafkan ku.


Mas alan melihat kesana kemari seperti sedang mencari seseorang.


"anak-anak mana ?".


Mas alan mengangguk pelan. pandangannya saat ini mengarah pada devina dan anton.


"mereka cocok ya dik ?".


"iya mas. Sangat cocok. Tadi pas aku datang devina sudah tertidur. Jadi tidak ku bangunkan. Sepertinya dia lelah. Mas tidur saja".


Devina sangat pandai menyimpan perasaannya. Aku salut padanya. Aku hanya takut suatu saat nanti jika mas alan tau isi hati devina. Apakah mas alan akan menduakan ku. Atau bahkan meninggalkan ku.

__ADS_1


Dia wanita yang pandai merawat diri. Itu sangat terlihat dari penampilannya. Cantik pula. Jika dibandingkan dengan ku. Sangat beda jauh. Aku tak pernah mementingkan penampilan. Terkadang mas alan malu kalau mengajak aku untuk berkumpul dengan keluarganya. Bukan hanya itu, ia pun malu memperkenalkan aku dengan teman-remannya apalagi mantannya. Dulu aku tidak mempedulikan hal itu. Tapi tidak untuk saat ini.


Mungkin ini saatnya bagiku untuk merubah semuanya sebelum semua terjadi lebih jauh. Aku tak mau kehilangan mas alan.


Devina mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Meluruskan kaki dan merentangkan tangannya. Wajah cantiknya kini terlihat jelas.


Tatapan ku terus tertuju padanya. Sambil tangan ku mengenggem jemari mas alan. Aku ingin tau bagaimana reaksinya setelah melihat aku ada di samping mas alan.


Pandanganku teralihkan ketika mas alan menggerakkan tangannya.


"kenapa mas ?".


"biarkan mereka berdua. Jangan kamu lihatin terus. Nanti mereka malu".


"Ingin rasa hati ini selalu di samping mu mas ".


mas alan menggelengkan kepalanya pelan.


"aku baik baik saja. Besok aku sudah bisa pulang. Ini hanya luka kecil di tangan ku. Kamu tak perlu khawatir".


Entah apa yang terjadi pada devina. Mungkinkah ia terkejut. Atau ia melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti yang ku lakukan padanya. Aku fokus pada suami ku.

__ADS_1


Aku harus menghadapinya dengan sikap dingin. Jangan sampai aku melakukan sikap yang bar bar. Lambat laun mas alan akan tau perasaan devina padanya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga keluargaku tetap utuh dan baik-baik saja.


__ADS_2