Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
janji setia


__ADS_3

"emangnya aku kenapa ?. Kok harus pake janji segala. Kamu gak percaya sama suami sendiri ?".


"bukannya gitu mas".


Apakah aku harus memberitahu mas alan tentang devina. Sebaiknya iya. Sebelum aku pulang.


"gini mas...


Sebenarnya devina ....".


Entah mengapa. Tiba-tiba bibir ku terkunci. Tak ingin mengatakan yang sebenarnya.


Ketika menatap kedua bola mata mas Alan membuat hati ku lemah. Semakin dalam aku menatapnya semakin aku tak memiliki kemampuan untuk berbicara.


"dik... Heloo... Kok melamun ?"


Cubitan mas Alan terasa geli di pipiku. Hal itu membuat aku tersadar dari lamunanku.


"emangnya devina kenapa ?". Lanjut mas Alan dengan pertanyaannya.


Menarik napas dalam-dalam ku lakukan untuk menenangkan fikiran ku.


"sebenarnya ... Sebenarnya Devina mencintai mu mas".

__ADS_1


Ku percepat ucapan ku meskipun bibir ini masih terasa berat untuk mengatakannya.


"heyy... Kamu bilang apa sayang.. Mana mungkin Devina cinta sama aku".


Mas Alan masih gak percaya dengan ucapan ku. Wajar saja. Karena Devina pasti menutupinya dengan baik.


"tapi itulah faktanya mas. Dia suka suami ku. Dia mencintai suami ku. Sebenarnya tadi aku menemui dia di restoran dekat sini".


"terus ?". Tiba-tiba mas Alan memasang wajah seriusnya.


"iya... Dia mengakui perasaannya. Awalnya Anton yang memberitahuku. Ketika mas Alan dirumah sakit, aku berbicara dengan Devina via telpon. Keesokan paginya, aku berangkat ke sini".


"dik.. Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini ?".


Aku tak kuasa menahan semua ini. Kulabuhkan tubuh ku memeluk tubuh kekar mas Alan yang dulu tiap malam aku menyentuhnya. Butiran bening terus membasahi pipiku. Ku pejamkan mata dan semakin erat memeluk suami ku.


"dik.. Kamu jangan khawatir. Cinta mas hanya untuk mu, bahkan semua yang ada pada diri mas, adalah milikmu.


Kalau memang Devina gak mau menjauhi mas. Mas yang akan menjauhi Devina".


Degg... Perkataan mas Alan menghentikan isakan ku. Ku lepas pelukan ku dan menangkup kedua pipi nya.


"really ??.. Mas akan melakukannya untuk ku ?".

__ADS_1


"tentu sayang... ". Mas Alan memindahkan kedua tangannya dari pundak ku lalu menangkup kedua pipi ku.


"itu sudah kewajiban ku. Aku tak mau melukai hati wanita yang selama ini menemaniku. Suka duka kita lewati bersama. Mana mungkin aku tega menduakan cinta mu. Percayalah ".


Kecupan di kening ku pun mas Alan lakukan. Itu membuat hati ku semakin tenang.


"aku percaya. Aku sangat percaya dengan semua yang suami ku katakan. Begitupun juga aku. Aku akan selalu setia menunggu mu".


Dengan tanpa di sadari, kembali ku teteskan air mata ini. Berharap dalam hati bahwa kami tidak akan mengingkari satu sama lain.


"mas, besok aku pulang ke Indonesia bersama Anton. Mas gak apa-apakan aku tinggal ?".


"emangnya suami mu ini anak kecil". Dicubitnya hidungku lalu dia tertawa.


Sementara Alan dan Renata sedang melepas kerinduannya yang berakhir di atas ranjang. Devina pun sibuk berfikir keras mencari cara untuk menaklukkan hati alan.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah lemari dekat dengan tempat tidurnya. Lalu membuka salah satu laci dan ia menemukan sesuatu didalamnya.


"ketemu".


Yeah. . Itu adalah serbuk obat perangsang.


"haruskah aku menjeratmu dengan cara ini Alan ?". Senyum kecil terlihat dari wajah Devina Amalia.

__ADS_1


__ADS_2