
Waktu bergulir begitu cepat. Sudah enam bulan mas Alan tinggal di rantau orang. aku dan anak-anak sudah mulai terbiasa dengan tiadanya sosok seorang ayah.
Hingga suatu ketika hal yang aku takutkan terjadi.
"tringg...". Ku ambil gawai ku dan berharap itu pesan dari mas Alan.
(Dik, mas disini ketemu dengan orang Lampung. Orangnya baik. Dia kerja di Bali sudah dua tahun. Dan rencananya dia mau tambah satu tahun lagi).
Itulah pesan yang di tulis oleh mas Alan. Sedikitpun aku tidak ada curiga.
(iya alhamdulillah mas. Jadi sampean ada teman ngobrol di sana)". Ku balas pesan mas Alan.
(iya dik. Namanya Devina. Dia juga mengajari mas tentang memijat disini. Dan dia adalah orang kepercayaan bibi Anita).
Degg.. Hatiku mulai sedikit terganggu setelah tau teman baru mas Alan adalah seorang perempuan dan orang kepercayaan Bibi Anita. Itu artinya mereka akan sering bertemu.
(hati-hati ya mas. Hatinya dijaga hehehe.....). Ku goda sekaligus mengingatkan mas Alan.
Mas Alan tak membalas pesan ku. Mungkin dia sudah tertidur. Terlalu lelah mengikuti pelatihan memijatnya.
Ku awali hari-hari ku seperti biasa. Membereskan rumah, memasak dan menjaga anak-anak. Layaknya ibu rumah tangga lainnya.
Ku cari kesibukkan lainnya dengan membuka toko baju. Karena sebentar lagi bulan puasa, pasti banyak ibu-ibu yang mencari pernak-pernik lebaran.
Ku lihat ada sepeda motor berhenti di depan toko ku.
"assalamualaikum.. Rena..".
__ADS_1
"waalaikum salam.. Hai Tika.... Apa kabar ...?". Ku peluk Tika dengan rasa haru bahagia.
"aduh lepasin dong... Sakit tau..".
"oh iya sorry sorry....". Aku melerai pelukan ku dan ku persilahkan sahabat terbaikku itu duduk. Sudah empat tahun aku tidak bertemu dengannya.
"wahh ... Besar toko mu.. Senang aku liatnya Ren." Tika kagum melihat toko ku. Yah, memang setiap mas Alan kirim uang pasti aku belanjakan baju, jilbab juga barang-barang lainnya.
"iya Tik, alhamdulillah".
"oh iya, mana mas Alan. Lama aku gak liat dia".
"loh.. Emang nya kamu gak tau Tik ?".
"tau apa Ren? Please deh jangan buat aku penasaran."
"ya Allah ya Rosulullah.. Aku beneran gak tau Renata???".
"mas Alan kerja ke Bali. Sudah enam bulan ini". Ku jawab dengan santai sambil merapikan jilbab-jilbab.
"serius Ren ?. Jadi selama ini kamu sendirian ???".
"ya iyalah. Makanya aku bisa punya toko sebesar ini. Tiap mas Alan gajian selalu ku belikan barang-barang ini semua. Yahh... itung-itung biar dirumah gak ngangur".
"tapi kok lo izinin mas Alan ke Bali? Jauh loh Ren.... Gak takut ??? Emang mau berapa tahun disana?".
Aku berjalan mendekati sofa berwarna hijau tepat di samping Tika.
__ADS_1
"aku gak mau di katakan istri egois. Selama aku bersama mas Alan. Aku tidak pernah membantunya dalam hal apapun, termasuk mencari uang".
"kok gitu ?". Tika mulai penasaran.
"kamu kan tau sendiri aku gak bisa cari uang. Inipun aku masih belajar jualan baju. Ya mungkin disana mas Alan bisa menemukan kebahagiaan tersendiri".
"gak boleh ngomong gitu Ren".
"tapi aku takut Tik. Tadi pagi mas Alan kirim pesan. Katanya dia disana ketemu orang Lampung".
"terus apa yang kamu takutkan ?".
"soalnya temannya itu perempuan. Ya aku gak tau sih dia umuran berapa".
"jangan fikir aneh-aneh ah Ren. Doakan saja semoga yang kamu takutkan gak kejadian".
"amin".
Tika paham betul dengan keadaan ku saat ini. Hanya dia orang yang bisa ku ajak ngobrol. Dia mau mendengarkan keluh kesah ku. Padahal dia sendiri punya masalah yang menurut ku lebih rumit dari masalah ku.
"oh iya ti, gimana suami mu ?". ku beranikan bertanya tentang rumah tangganya.
"masih sama". jawab Tika sangat singkat.
"maksudnya ?". Aku pun kepo.
"mas Adi jarang pulang ke rumah. Yah... bisa dikatakan tidak pernah pulang ke rumah. Dia lebih suka tinggal bersama orang tuanya. Bukannya aku mau jadi istri durhaka. Tapi mas Adi tidak pernah memikirkan perasaan ku. Dia masih suka nongkrong sama teman-temannya. Bahkan pas Rio sakit pun dia tidak peduli". Tika menceritakan masalahnya panjang lebar.
__ADS_1
"maaf Tika. Aku tidak bisa membantu masalah mu". Ku peluk erat tubuh Tika dan kami meneteskan air mata bersama.