Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
hari pertama part 2


__ADS_3

Hari ini entah kenapa suasana hati Alan sangat bahagia. Ia terlihat sumringah, senyum-senyum sendiri. Seperti orang lagi jatuh cinta saja. Mungkin karena tadi pagi sarapan rendang daging sapi. Makanan yang tak pernah Ia temui selama menikah dengan Renata.


Sepulang dari kerjanya, Alan merasakan perutnya keroncongan. Cacing-cacing didalamnya seperti demonya para buruh didepan gedung DPR saja yang minta kenaikan upah.


Ia berjalan menuju dapur dan rona bahagia terpancar dari wajahnya ketika melihat makanan yang ada didalam lemari. Yeah.. Apalagi kalau bukan rendang buatan Devina. Ia langsung menyantapnya tanpa menggunakan nasi. Ia terlihat seperti singa yang kelaparan.


"Terima kasih Dev.. Makanan mu aku terima. Tapi tidak dengan hatiku". Alan berbicara sambil memasukkan potongan-potongan daging kedalan mulutnya. Sedap memang rasanya. Apalagi kalau makanan favorit.


Terdengar suara getaran dari ponsel Alan yang Ia letakkan diatas meja. Tertulis nama Devina pada layar ponsel yang sedikit redup itu. Alan memang tak suka dengan cahaya latar ponsel yang sangat terang.


"Hallo... Ada apa Dev ?".


"Hallo baby.... Makanannya sudah habis belum ???". Terdengar jelas suara Devina yang sangat ceria.


"Iya.. Ini lagi ku makan".


"dihabisin ya... Besok ada kejutan lagi dari ku... Bye sayang....". Devina langsung menutup telponnya dan tak memberikan waktu pada Alan untuk menjawabnya.


Alan hanya menggelengkan kepala dan meletakkan kembali ponselnya. Lalu melanjutkan prosesi makan besarnya itu. Ia sama sekali tak menyisakan sedikitpun tertinggal diatas piring meskipun hanya bumbunya.

__ADS_1


Tiba-tiba suara getaran ponsel terdengar untuk yang kedua kalinya. Alan langsung mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Ada apa lagi Dev ?".


"Apa ??? Dev ???". Suasana Hatiku remuk seketika setelah mendengar nama yang disebutkan mas Alan.


Alan menghentikan aktivitas makannya setelah mendengar pemilik suara itu. Yeah.. Itu adalah istrinya. Istri yang Ia cintai dan bangga-banggakan selama ini.


"Ee .... iya sayang.. Ini lagi baca buku jadinya mas gak fokus. Maaf ya..". Sepertinya mas Alan berbohong. Terlihat dari cara bicaranya.


"ohh .... Lagi baca buku toh...". Aku sedikit curiga. Pasti ada yang sedang disembunyikan mas Alan dari ku.


"Alhamdulillah sehat semua mas. Oh ya mas.. Aku mau cerita sedikit".


"tentang apa Dik. Cerita saja ".


"tentang poligami".


"apa ??". Sepertinya mas Alan terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"iya mas. Dulu kan aku pernah tanya soal poligami. Mas gak ada niatan untuk hal itu kan ??".


"kamu ini ngomong apa sih Dik.. Mas gak ada niatan sama sekali. Udah ah.. Jangan bahas itu lagi..".


"Ya udah deh.. Disini sudah malem banget mas.. Aku tidur dulu ya.. Dada sayang.. Muahh". Aku menutup telponku dan terus memikirkan tentang poligami.


Sementara Alan, ada dua perempuan yang memanggilnya sayang hari ini. Dan Ia pun memikirkan perkataan istrinya. Mungkinkah Rena mau mengizinkan ku menikah lagi. Tapi itu tidak mungkin.


Ya Allah,,, pertanda apa ini. Apakah aku nanti akan menikahi Devina juga. Tapi bagaimana dengan Renata, pasti hatinya akan sakit dengan semua ini. Memang sih dulu dia pernah memberiku izin. Tapi itu hanya bercanda.


Bagaimana kalau nantinya aku beneran jatuh cinta pada Devina. Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menikahinya.


"hahhhhh....... Pusing..". Alan mengacak-acak rambutnya sembari menuju kekamar mandi.


Setelah menyegarkan tubuhnya, Alan menuju ke tempat tidur. Hanya untuk sekedar rebahkan. Mengangkat kedua tangannya dan diletakkan diatas keningnya.


"Baru satu hari saja aku sudah merasakan ada yang gak beres dengan hatiku. Apa jangan-jangan makanan tadi ada pelet nya ya..


Ini gawat... Itu artinya kalau besok Devina bawa makanan lagi lebih baik gak usah dimakan.

__ADS_1


Sepertinya itu ide yang bagus".


__ADS_2