Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
firasat seorang istri


__ADS_3

Tiba-tiba dokter menghampiri mereka berdua. Sepertinya Alan telah selesai ditangani.


"excuse me, sir ?".


Pandangan Anton dan Devina beralih pada seorang dokter yang berdiri di depan mereka.


"currently, the patient can be visited ".


"okay doctor, thank you ".


Anton dan Devina beranjak dari duduknya dan berjalan mnenuju ruangan Alan.


Didalam ruangan terlihat seorang suster yang sedang merapikan selang infus pada tangan Alan.


"sorry sir, the patient currently in need of rest. Don't talk first".


Setelah mengatakan hal itu suster pun keluar ruangan.


"Al... Gimana keadaan mu. Maafin aku.. Hiikkkssss...... Ini semua salah ku..". Devina menangis dan menyesal.


"aku gak apa-apa Dev". Alan menjawab dengan suara lirih dan pelan.


"kamu jangan banyak bicara dulu Al.. Tadi suster sudah bilang. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja". Anton merapikan selimut alan dan Alan mengedipkan mata sebagai isyarat lalu perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


"lebih baik kita keluar Dev. Alan butuh istirahat". Anton mengajak Devina keluar. Devina mengangguk dan mengikutinya dari belakang.


"sebaiknya kamu pulang saja Dev. Biar aku yang menunggu Alan di sini. Aku akan menunda kepulangan ku ke Indonesia sampai Alan pulih". Anton berkata pelan dan tak memandang wajah Devina. Sepertinya Anton masih marah pada nya.


Devina hanya tertunduk menangisi kesalahannya.


"mana mungkin aku bisa pulang kalau keadaan Alan masih seperti ini". Ia mengangkat kepalanya dan tertunduk kembali.


"kamu tidak usah terlalu mengkhawatirkan dia. Kamu hanyalah temannya. Dan tak berarti apa-apa untuknya. Kamu perlu ingat itu !!. Kamu pergi pun ia tak akan merasa kehilangan". Anton memberikan penekanan pada Devina.


"apa kamu bilang ?". Devina kembali mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya.


"jika kamu spesial bagi Alan, gak mungkin dia kenalin kamu ke aku".


"setelah tau watak asli mu, aku pun tak mau". anton pun menolak Devina.


***


Hari ini perasaan ku sangat tak enak. Ada apa ini ?. Apa yang sedang terjadi ?. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mas Alan. Saat ini di Saudi sedang tengah malam. Daripada penasaran lebih baik aku menelfonnya saja.


Namun berkali-kali mas Alan ku telfon, nomornya tak bisa di hubungi.


"ya Allah.. Ada apa ini ?. Kenapa nomor mas Alan tidak bisa di hubungi ?. Aku mulai cemas dan fikiran yang tak karuan.

__ADS_1


"Anton.. Iya Anton.. Dia sekarang sedang berada di Saudi. Semoga saja dia belum pulang ke Indonesia. Lebih baik aku telfon dia".


Dengan cepat aku mencari kontak Anton dan langsung menghubunginya.


"tutt ... Tuttt.... Tuuttt....".


"Anton kemana sih.. Kok gak di angkat-angkat.. Gak tau orang lagi panik apa !". Aku ngomel-ngomel sendiri sambil terus menelfon Anton.


Anton melihat nama Renata di layar ponselnya membuat dia ragu.


"haruskah aku mengatakan hal ini pada Rena ?". Anton bergumam sendiri. Namun rena terus menghubunginya.


"hallo , assalamualaikum Ren ?". Terdengar suara anton di ujung telepon.


"waalaikum salam Ton. Kamu sekarang dimana ?".


"aku. ... Aku lagi di rumah sakit Ren". Anton menjawab dengan gugup.


"rumah sakit ?. Siapa yang sakit Ton. Kamu sekarang di Saudi apa Indonesia ?". Aku terus bertanya pada Anton.


"Alan Ren....". Anton menghentikan ucapannya.


"mas Alan kenapa Ton ?. Yang jelas dong kalau ngomong. Jangan buat aku khawatir. Dari kemarin fikiran ku gak tenang". Aku berkata sambil badan ku gemetaran.

__ADS_1


"Alan semalam mengalami kecelakaan tunggal. Sekarang dia di rawat di rumah sakit". Anton terpaksa mengatakan yang sebenarnya padaku karena aku terus mendesakknya.


__ADS_2