
Mas Alan masih sibuk berbicara lewat telepon dengan orang kepercayaan bibi Anita. Ku lihat wajah bahagia Mas Alan seakan-akan telah siap untuk berpisah dengan kami.
Ku menjauh dari Mas Alan sambil meneteskan air mata. Hati ku selalu berkata
"Ya Allah , kuatkan hamba , ini terlalu sakit untuk dirasakan".
"Dek". Mas Alan memanggilku. Dengan cepat ku usap air mata ku. Jangan sampai Mas Alan tau rapuhnya aku saat ini.
"iya Mas. Ada apa ?". Aku menghampirinya dengan senyuman terindah ku.
"Mas mau tanya". Mas Alan mulai bertanya
"Iya tanya apa ?". Jawab ku singkat.
"Nanti misalnya di Bali nanti Mas ketemu orang yang sayang sama mas terus minta di nikahin gimana ? Boleh gak ?".
"ya Allah, pertanyaan macam apa ini. Belum apa-apa Mas Alan sudah memberikan pertanyaan yang membuat hatiku sakit." Gumam ku dalam hati.
Aku hanya terdiam. Aku tak menjawab sepatah katapun. Tiba-tiba handphone Mas Alan berbunyi, seperti nya itu telepon dari Umi.
"Assalamualaikum Umi".
"Waalaikum salam Al".
"Ada apa Mi ?".
"Begini Al. Ini saran dari Abi dan Umi. Bagaimana kalau kamu pas di Bali nanti istri dan anak-anak mu tinggal disini saja. ".
"Kalau masalah itu nanti biar Alan rundingan dulu sama Rena Mi. Alan gak bisa ngasih keputusan sekarang".
"Iya gak apa-apa. Itu cuma saran dari Abi. Nanti Alfan biar sekolah disini saja bareng sama Aluna. Nah istrimu biar belajar jualan di pasar. Nanti Abi yang ngajarin".
__ADS_1
"Iya Mi. Nanti Alan telfon balik kalau sudah ada jawabannya".
"Ya sudah. Assalamualaikum ".
"Waalaikum salam".
"Bagaimana Dek, kamu tadi dengar kan ?".
Aku hanya terdiam. Masih memikirkan Pertanyaan tadi yang belum ku jawab.
"Sepertinya aku gak bisa kalau tinggal di rumah Umi Mas. Jujur saja aku gak kuat sama Abi".
"Ya sudah gak apa-apa. Kamu disini saja sama anak-anak. Jangan lupa di ajarin ngaji. Anak ku harus pintar. Oke ".
Untuk kesekian kalinya Mas Alan tidak pernah memintaku untuk melakukan hal yang sekiranya aku tak mampu.
Melihat senyuman yang terukir di wajah suamiku membuat ku takut untuk kehilangan dirinya.
"ngeng... ngeng... ngeng... ngeng...". Itu adalah rengekan Sahil yang minta jalan-jalan. Sudah lama Sahil tidak di ajak jalan-jalan sama ayahnya.
"Dek, Sahil tuh minta ngeng ngeng katanya".
"Ayo". Jawab ku cepat. Karena mungkin ini adalah jalan-jalan terakhir kami.
Aku langsung bersiap-siap dan mencarikan baju tebal untuk anak-anak ku. Karena sudah bisa dipastikan udara diluar sangat dingin.
Butuh waktu satu jam untuk ke rumah Aziz. Aziz adalah teman Mas Alan. Dinginnya angin malam yang menusuk hingga ke tulang namun aku sangat nikmatinya. Rasanya tak ingin sampai tujuan dengan cepat. Tapi akhirnya sampai juga.
"Yah ... ..Yah ....., aku mau pisang keju". Alfan suka sekali dengan pisang keju buatan Aziz.
"Hay bro.. Tumben main kesini ?". Sapa Aziz pada Mas Alan.
__ADS_1
"iya Ziz, ini sekalian aku mau pamit".
"Pamit kemana ?". Aziz penasaran.
"Aku mau ke Bali. Cari pengalaman.
Sekalian pengen liat turis cantik. Kamu mau ikut gak ?".
Aziz masih sibuk dengan roti bakarnya dan hanya tersenyum mendengar ajakan Mas Alan.
"Terus anak istri mau di kemanain bro ?". Pandangan Aziz mengarah pada Alfan dan Sahil yang asik makan pisang keju dan bibirnya belepotan terkena coklat.
"Gini loh Ziz, aku kan kerja dua tahun. Nah tiap bulan uangnya aku kirim ke istriku. Dia cukup diam aja di rumah ngurus anak-anak".
"Tapi gak segampang itu Mas. Praktik itu tidak semudah membalikkan telapak tangan".
"Puasa dulu dua tahun Ziz".
"Terserah kamu aja Mas bro. Saya mah disini saja. Istri saya sekarang lagi hamil. Gak berani ninggalin".
"Ya sudah Ziz, aku duluan. Ntar kamu hubungi aku saja kalau pengen nyusul".
"Gampang itu Mas bro. Hati-hati aja ya".
Tak terasa hari sudah malam. Mas Alan pun berpamitan pada Aziz untuk pulang.
"Oke. Kita pulang dulu ya. Sampai bertemu dua tahun lagi...".
"Da .. Da.. Om Aziz". Alfan melambaikan tangannya pada Aziz.
"Da .. Da.. Juga Alfan.."
__ADS_1