Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
ikhlas tapi tak rela


__ADS_3

Butiran bening jatuh tak tau malu membasahi pipi. Tak bisa berhenti. Melihat orang yang amat aku cintai menghilang dari pandangan ku.


"Rena,, sadar ayolah... Dia pergi untuk kembali. Bukan untuk selamanya.. Ayolah Rena.. Kamu harus tetap semangat.. Demi anak-anak mu.. Kamu harus buktikan pada suami dan mertua mu kalau kamu bisa cari uang sendiri tidak terus bergantung pada suami".


Yeah, itulah suara hatiku yang menyadarkan ku untuk bangkit dari keterpurukan selama ini. Aku yang tak bisa apa-apa dan selalu mengandalkan suami.


"Ia. Aku harus bangkit". Ku usap kasar air mata ku dengan hati yang penuh semangat. Berharap bisa melewati ini semua.


"Bu,, Ayah mau kemana ?". Alfan lari menghampiri ku.


"Ayah kerja nak". Sambil ku peluk anak ku dan kembali meneteskan air mata.


"Ayah kerja untuk beli mainan Alfan dan adik ya bu ?".


"Iya nak. Ayah perginya lama. Alfan doain ayah ya, biar ayah disana mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan ayah".


"Amin bu".


Dari kejauhan ku lihat Sahil juga berlari menghampiri ku. Ia berlari sambil tertawa riang seperti tak ada beban. Indah sekali melihatnya.


"Anak-anak Ibu pintar semua". Ku peluk kedua anak ku. Berbeda dengan Sahil, saat ini dia masih berusia dua puluh bulan, jadi dia belum paham dengan semua ini.


"Sudah sore, ayo mandi."


"Bentar lagi ya Bu, please . Alfan masih ingin main?". Rayu Alfan sambil menangkupkan tangannya memohon padaku.


"hemmmm .... Baiklah.. Jangan lama-lama ya".


"Siap bu... Ayo Dik kita main lagi.".


Aku masuk ke kamar dan melanjutkan tangisan ku.

__ADS_1


Mengingat kepergian Mas Alan sore tadi. Dan aku belum menjawab pertanyaannya tentang menikah lagi. Melihat ia pergi saja aku tak sanggup apa lagi harus membayangkan Ia menikah lagi.


Sebenarnya Mas Alan sangat ingin pergi ke tanah suci. Yeah, mungkin ini adalah jalan Mas Alan dari Allah untuk mewujudkan keinginannya. Dengan bekerja di sana Ia bisa menyisihkan gajinya untuk pergi haji.


Tapi jika untuk menikah lagi. Entahlah rasanya masih sangat berat untuk memikirkannya saat ini.


"ya Allah. Apakah hamba sanggup menjalani hidup tanpa Mas Alan. Hamba sangat mencintainya. Apakah tidak ada jalan lain lagi?".


Terkadang aku seperti wanita pada umumnya. Cengeng. Banyak protes dengan kehendak Tuhan. Mungkin malaikat bingung dengan sikap dan kemauan ku. Tidak pernah berfikir tapi ingin di fikirkan. Tidak pernah mengerti tapi selalu ingin dimengerti. Lebih tepatnya egois.


"triingg..". ku lihat handphoneku berbunyi. Dan benar saja itu pesan dari Mas Alan.


(Dek. Mas sudah naik bis. Mas berangkat ya... Jaga kedua jagoan ku. I love you).


Yeah... Mas Alan menunggu bis di loket tak jauh dari rumah, sekitar sepuluh menit perjalanan.


Namun aku tak kuasa menahan air mata ini, dan lagi-lagi aku berdoa.


(iya mas, hati-hati di jalan ya.


Kami semua akan merindukan mu. I love you to).


Ternyata lebih sakit di tinggal pergi suami dari pada putus dari pacar. Bibirku sanggup berkata dan tersenyum. Tapi hati tidak bisa bohong. Jujur, aku kecewa dengan kehendak Tuhan.


Selesai makan malam aku masih menangis. Biasanya kami makan malam berempat. Kali ini hanya bertiga. Ada yang kurang di mata dan hatiku.


"Ibu , Ayah kapan pulang ?". Alfan kembali bertanya.


"Sayang,,, ayah pulangnya masih lamaaaaaa sekali. Jangan nungguin Ayah ya". Ku genggam tangan anak ku dan aku menangis lagi.


"Iya Bu. Ibu jangan nangis. Alfan gak nakal kok".

__ADS_1


"Iya sayang, Sepertinya adik sudah ngantuk. Kita bobo yuk". Ku ajak anak-anak masuk kamar lalu tertidur.


Teringat pertama kali aku bertemu dengan Mas Alan. Pagi itu Tia sahabatku memberikan nomor ponsel ku pada kakak temannya. Yaitu Mas Alan.


"Rena ......". Tia memanggilku dari kejauhan.


"Ada apa sih teriak-teriak ". Tanyaku heran sambil menunggu tia di depan gerbang kampus.


"Sebelumnya gue minta maaf. Lo boleh marah sama gue". Tia mencoba menjelaskan sambil berjalan menuju kelas.


"Maksud Lo itu apa sih. Kok gue gak ngerti".


"Gini gue ceritain ya.


semalem kakaknya temen gua minta nomor cewe. Terus dia cari yang siap di ajak nikah. Lah temen gue kan cuma Elu. Jadi ya dengan terpaksa dan senang hati gua kasih nomor elu. heheheheheeh". Wajah Tia nyengir seperti tidak bersalah.


"Lo lagi gak mimpi kan ?


maksud Lo apa coba ?


Lo nyuruh gue nikah sama orang yang sama sekali gak gue kenal ? Gila Lo ?".


"Bukan gitu maksud nya Ren. Gue paham banget hubungan Lo dengan Arya itu kaya apa. Bokap Lo saja kaga setuju. Sedangkan dia saja sekarang ntah dimana. Masih hidup apa sudah mati. Terus apa yang Lo harapin dari dia. Coba deh kamu fikir ?."


"Tia stop !!! Jangan bahas itu !".


"Kenapa gue gak boleh bahas ini.


Gue kasian liat lo di permainkan sama cowo brengsek kaya dia. Pokoknya ntar kalau ada nomor baru telfon. Harus Lo angkat. Wajib !". baru kali ini aku lihat Tia semarah ini sama gue.


Mungkin omongan Tia ada benarnya. Dan tidak ada salahnya untuk dicoba. Karena meninggalkan yang tak pantas dan memantaskan diri untuk yang pantas adalah pilihan yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2