Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
hilangnya kepercayaan mas alan


__ADS_3

Ku lihat mas Alan belum membuka pesan ku. Jika aku menelponnya. Aku tidak akan diberi kesempatan untuk bicara.


(mas. aku pernah bilang ditinggal mati pun aku tidak akan menikah lagi. Kok dengan video yang tak nampak wajahnya pun mas Alan percaya. Maaf !! aku tidak serendah itu. Aku tidak akan mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat).


Entah pukul berapa mas Alan membuka pesan ku. Rasanya hati ini sungguh kecewa dituduh yang tidak-tidak oleh orang yang kita sayang. Sangat menyakitkan.


Haripun sudah sore. Matahari terlihat lebih condong ke arah barat. Langitpun berwarna oren. Menandakan perjalanan hari ini telah usai. Aku menutup toko dan bersiap untuk pulang ke rumah. Bermain dengan anak-anak itu akan membuat suasana hati ku menjadi lebih baik.


Tak butuh waktu lama aku pun sampai didepan rumah. Terlihat Bu Indah sedang duduk diteras rumah berwarna hijau daun yang tak lain adalah rumah ku.


"baru pulang nak Rena ?". Bu Indah menyapa ku. Beliau adalah tetangga sekaligus pengasuh untuk anak-anak ku. Ia tak memiliki anak, jadi Dia tidak keberatan jika mengurus anak-anak.


"iya bu. Anak-anak dimana ?". Aku mematikan motor Vario ku dan mendekati Bu Indah.


"ada di dalam. Baru selesai mandi. Sepertinya nak Rena sedang ada masalah. Ibu sih gak keberatan kalau nak rena mau cerita". Bu Indah bisa membaca raut wajah ku yang memang sedang ada masalah.


"iya bu". Aku duduk di kursi kuning tepat di samping bu indah. Dia sangat baik dengan ku.


"ceritakan saja nak. Nak Rena sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri". Bu Indah mengelus pundak ku.


"mas Alan bu". Ku diam sejenak. Ku tarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


"ada apa dengan suami mu nak ?".


"mbak Iren mengirim video seorang perempuan berhijab sedang bermeseraan dengan seorang pria. Dan baju yang di gunakan oleh perempuan itu sama dengan baju ku". Aku menceritakan dengan suara terbata-bata.


"astaghfirrullah.... Kok bisa nak ?". Bu indah sangat kaget.


"aku juga tidak tau bu. Itu kebetulan atau setingan. Dan mas Alan sangat marah". aku memeluk bu Indah sambil menangis di pelukannya.


"yang sabar ya nduk. Ini cobaan. Kamu jangan suudzon dulu. Pasrahkan pada yang maha kuasa. buktikan pada suami mu kalau kamu gak salah". Bu Indah menasehatiku sambil tangannya mengelus kepala ku.


"iya bu". Ku melerai pelukan ku dan ku usap air mata ku.


"terima kasih ya bu. Sekarang hati ku sedikit lebih lega. Berkat nasihat ibu".


"iya nduk. besok-besok kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan cerita sama ibu. Ibu pamit pulang. Tadi anak-anak juga sudah makan".


"iya. Sebelumnya rena ucapkan terima kasih banyak. Selama ini ibu sudah banyak membantu Rena".


"sama-sama nduk. Assalamualaikum".


"waalaikum salam".

__ADS_1


Rumah bu Indah tidak begitu jauh. Sekitar sepuluh meter dari rumah. Terkadang anak-anak dibawa pulang ke rumahnya ketika aku sibuk di toko.


Setelah bu Indah tak terlihat lagi. Aku berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ku lihat anak-anak sedang bermain dengan robotnya masing-masing. Setelah mas Alan bekerja di Bali, aku membelikan mainan untuk anak-anak ku, sehingga anak-anak tidak pernah berebut mainan lagi. Mereka memiliki mainan masing-masing.


Mempunyai dua pangeran kecil membuat hati ku bisa tersenyum meskipun hati ini terasa perih.


"hufff.... Gerah sekali. Lebih baik aku segera mandi". Ku berkata dalam hati sambil melepas hijab favorit ku berwarna pink dengan hiasan bunga di ujungnya.


***


Di rumah mbak Iren. Mas Riyan sibuk melayani pembeli. Yah, memang toko mereka lumayan besar sehingga setiap hari tak pernah sepi pembeli. Awalnya mbak Iren diberi modal oleh Abi. Lambat laun mbak Iren pinjam modal di bank. Jadilah seperti sekarang. Memiliki dua orang karyawan. Tapi tidak jarang mereka berdua bertengkar. Mas Riyanlah yang sering membuat ulah. Meskipun sudah memiliki tiga orang anak dan istri yang cantik juga smart,mas Riyan masih saja mengonsumsi obat obatan terlarang.


"bugghh... Dasar bajingan !!! Teganya kamu hianati mbak ,Iren !!". Mas Alan memergoki mas Riyan sedang berduaan dengan seorang perempuan dalam keadaan mabuk.


Perempuan itu langsung lari ketika mas Alan memukul mas Riyan dan akhirnya mereka adu tinju.


"apa urusan mu !. Kamu itu anak kecil. Gak tau apa-apa. Urus saja kuliah mu itu". Jawab mas Riyan sambil memegangi pipinya yang memar.


Yeah... Saat itu mas Alan masih kuliah. Ia pulang sebentar ke Palembang atas permintaan Abi. Setelah kejadian itu mas Alan dan mas Riyan memiliki masalah tersendiri. Dan mas Alan juga memilih diam dan pergi ke Jakarta.


Tinggal bersama keluarga yang terlalu banyak sandiwara sungguh hal yang memuakkan baginya. Bertemu dengan orang-orang baru lebih menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2