Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
hari ke dua


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua sejak dimulainya perjanjian antara Alan dan Devina. Devina sangat optimis sekali bahwa dengan cara-caranya yang sederhana mampu membuat Alan terpesona. Ia merencanakan hal ini sejak tahu Alan telah beristri. Pasti tidak mudah dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan cintanya.


"Setelah tiga puluh satu hari nanti aku yakin Alan akan mengejarku dan pada malam harinya Alan akan melamar ku. Membayangkannya saja aku sudah bahagia apalagi kalau kejadian beneran". Devina senyum-senyum sendiri sambil memikirkan menu untuk besok.


Pergedel kentang. Ini adalah menu makanan kedua yang disukai Alan. Devina akan membuatnya dengan penuh cinta dan percikan-percikan api asmara yang akan membuat Alan menjadi kasmaran.


Setelah prosesi pembuatan pergedel kentang selesai, Ia memasukkannya pada box yang telah disiapkan. Lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor dan sebelumnya mampir ke tempat Alan.


Untuk hari ini Devina sengaja tidak memberi kabar pada Alan jika Ia mau mampir. Tentunya ini adalah kejutan dari Devina.


"tok tok tok..!". Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Alan sudah bisa menebak siapa lagi kalau bukan Devina.


"ya.. ". Alan menuju ke pintu depan dan membuka pintunya.


"ceklek...". Alan membuka pintu sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna biru tua pembelian Renata.


Alan menoleh kesana kemari mencari seseorang yang mengetuk pintunya. Namun Ia tak menemukan siapapun. Pandangannya mengarah pada box berwarna pink diatas meja, dan ada tulisan pada selembar kertas dibawahnya. Alan lalu mengambil kertas itu dan membacanya.


"sayanggg .....


maaf ya hari ini aku gak ngasih langsung ke kamu makanannya. Soalnya aku harus berangkat pagi. Dihabisin ya... Semoga kamu suka.. Muahh...".


Itulah isi pesan dari Devina. Alan membawa box makanan itu masuk lantas membukanya. Dan...


"Pergedel kentang ????".

__ADS_1


Ia baru ingat kalau dulu pernah bercerita tentang hal-hal yang disukainya pada Devina. Dan ternyata itu malah dijadikan jurus olehnya.


Alan belum berani memakan pergedel itu. Ia takut kalau saja nanti ada pelet lagi seperti rendang kemarin. Tapi cacing - cacing didalam perut tidak bisa diajak kompromi. Mereka meronta-ronta seperti tak pernah makan pergedel saja. Tapi memang benar. Selama menikah dengan Renata, Alan tak pernah dibuatkan pergedel kentang seperti ini. Ada saja alasan kalau Alan minta ini dan itu. Alasan yang utama adalah tak ada uang untuk membeli bahan-bahannya.


"Makan. Tidak. Makan. Tidak. Makan.". Alan menghitung jarinya sambil berfikir untuk memakannya atau membiarkannya.


Namun sialnya hitungan ke lima berhenti pada kata 'makan'.


"Sekali lagi mubazir namanya kalau menyia-nyiakan sesuatu apalagi makanan. Tak baik juga menolak rezeki".


Alan mengambil satu potong dan memakannya.


"Astaga... Kok enak ???.


Sering-sering saja Devina bawa makanan. Aku bisa hemat satu bulan ini".


Hari-hari Alan kini terasa bahagia, lebih bahagia dari hari sebelumnya. Itu dikarenakan kejutan-kejutan yang diberikan oleh Devina. Masih ada dua puluh sembilan hari untuk menerima kejutan itu.


Sepertinya Alan mulai melupakan Renata. Ia bahkan tak menghubunginya sama sekali. Fikirannya saat ini hanya terfokus pada Devina seorang.


Makanan-makanan yang dibawakannya memiliki rasa yang khas dan sangat nikmat, jauh berbeda dengan Renata. Kali ini otak nakal Alan hanya membandingkan dua perempuan itu. Semua yang tidak ada pada Renata ternyata dimiliki oleh Devina.


Pada jam istirahat, Alan mengambil ponsel yang Ia simpan pada tas yang kemudian Ia masukkan kedalam loker. Entah mengapa kali ini Ia sangat berharap Devina yang menghubunginya. Tapi sialnya tak ada satu pesan pun dari Devina maupun istrinya, Renata. Hanya beberapa pesan dari operator yang setia mengirim pesan namun tak mengharap balasan.


Jari nakal Alan tiba-tiba menekan tombol 'call' pada kontak Devina.


Tut... Tut...

__ADS_1


Suara dering menunggu panggilan.


"ahk.. Sial !.. Kenapa aku menelpon Devina". Ia mengumpat karena ulahnya sendiri.


"hallo sayang.... Ada apa ?". Terdengar suara bahagia Devina diujung telpon.


"Gak ada apa-apa. Cuma mau bilang pergedelnya enak". Alanpun tak menyadari dengan apa yang diucapkannya, seolah otaknya tak mampu mengendalikan bibirnya yang lancang itu.


"oh iya.. Terima kasih sayang... Besok masih ada sureprice lagi loh, tak kalah enak dengan yang sebelumnya. Bye.. Sayang.. Mmuuahh". Untuk kesekian kalinya Devina selalu menutup telpon lebih dulu, berharap pangerannya itu semakin penasaran.


Devina memang sengaja tak menemui Alan, karena itu belum waktunya. Ini adalah sebagian dari rencananya dan ternyata dua puluh persen sudah berhasil. Devina pun tahu kalau Alan menyukai kucing, itu alasannya kenapa dia memilih bekerja di 'Petoya Spa & Lounge' atau disebut juga tempat penitipan kucing. Setiap hari Ia selalu memandikan dan memanjakan kucing-kucing yang ada disana. Bermain-main dengan hewan imut itu adalah hal yang menyenangkan baginya.


Jam istirahat Alan telah usai. Ia kembali menyapa pelanggannya dengan jemarinya yang profesional membuat orang-orang disana merasakan fresh setelah dipijat oleh Alan. Bahkan Ia juga berencana setelah pulang ke Indonesia akan membuka Therapist dirumahnya, tentunya khusus untuk pria.


*******


"Sudah pukul empat sore. Waktunya aku menutup toko. Lelah sekali rasanya badan ini, kalau ada Mas Alan pasti langsung dipijat. Tapi alhamdulillah usaha ku lancar. Jadi gak perlu jualan ayam potong seperti saran Abi".


Sebelum pulang, aku mengambil ponsel berharap mas Alan memberi kabar. Karena banyaknya pelanggan membuat aku tak menghiraukannya.


Namun tak ada kabar sama sekali. Sebenarnya aku sedikit curiga dengan sikap mas Alan ketika salah memanggil ku. Kenapa harus 'Dev'. Ada apa dengan Devina.


"Apa mereka masih berhubungan di belakangku setelah aku pulang ke Indonesia. Bukan kah waktu itu Mas Alan ngomong kalau Devina tak pernah menghubunginya lagi. Apakah Mas Alan berbohong pada ku. Apa sebenarnya yang mas Alan tutupi dari ku. Apakah Mas Alan setega itu. Apakah mas Alan juga menyukai perempuan itu setelah tau kalau Devina menyimpan rasa untuknya.


Hahhhh...... Kenapa kepala ku semakin pusing. Apakah aku harus memikirkan hal itu. Ini membuat ku gila. Lebih baik sekarang aku pulang saja dari pada disini fikiran ku gak karuan".


Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dibenak ku. Dengan perubahan sikap mas Alan yang sepertinya menjauhi ku membuat aku semakin penasaran. Mencoba berfikir bahwa semua baik-baik saja. Tapi itu sangat sulit untuk dilakukan. Andai aku punya kaca benggala yang dimiliki oleh ratu kidul, mungkin aku bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh suami ku diluar sana.

__ADS_1


__ADS_2