
Aku sangat terkejut mendengar kabar dari anton.
"sekarang bagaimana keadaan mas alan ?".
"dia masih di rawat ren. untuk berapa lamanya aku belum tau pasti".
"emangnya mas alan dari mana ton ?. Bukannya tempat kerja mas alan dan mess nya dekat ?. Cukup dengan berjalan kaki sudah sampai ?".
"dia... Dia... Tadi ...".
"kamu kenapa sih ton.. Malah jadi gugup gitu".
Tiba-tiba devina merebut ponsel anton.
"maafin aku ren, sepulang dari nganterin aku .....".
"kamu siapa ?". Rena bertanya.
"aku devina. Maafin aku ren. Andai saja aku tidak memintanya untuk mengantarku pulang. Mungkin ini semua tak akan terjadi. Sekali lagi maafin aku .. Hikss".
"tolong jauhi suami saya. Saya tidak mengizinkan wanita manapun mendekati suami saya".
"tapi ren ...".
"saya rasa perkataan saya sudah sangat sangat jelas. Dan saya tidak mau mendengar penjelasan apapun dari anda. kembalikan ponsel ini pada pemiliknya !".
Devina mengembalikan ponsel anton tanpa menoleh padanya. Ia sangat tidak terima dengan perkataan rena dan merasa ini tidak adil.
"bagaimana devina ?. Apakah kamu masih mau disini ?".
__ADS_1
"aku akan tetap memperjuangkan cinta ku".
Devina berdiri lalu meninggalkan anton. Ia bukanlah orang yang mudah putus asa. Meskipun banyak pria yang mendekatinya, namun cintanya hanya untuk alan.
Ia tidak akan merubah arahnya, bagaimanapun juga harus memiliki alan.
Berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan ke depan dan tanpa mempedulikan orang didepannya. Mereka harus minggir.
Kalaupun nantinya ia harus menyandang status PELAKOR. Ia tidak peduli.
***
Meskipun aku sangat percaya dengan mas alan. Tapi tetap harus melihat hal yang sebenarnya ke Saudi.
Pagi-pagi sekali aku bersiap-siap untuk berangkat. Anak-anak untuk sementara waktu aku titipkan pada umi dan abi sampai urusan ku selesai.
Tepat pukul delapan pagi aku terbang. Aku tak bisa membayangkan sama sekali apa yang akan terjadi nanti. Akupun tak memberi kabar pada anton jika aku menyusul mas alan.
Meskipun dalam agama islam dijelaskan bahwa akan dibukakan pintu surga bagi istri-istri yang mengizinkan suaminya untuk mempunyai istri lebih dari satu.
Tapi aku tidak mampu jika harus berbagi suami. Untuk membayangkan saja aku tak sanggup.
Berjam jam aku berbicara dalam diam sambil menikmati dengungan suara pesawat.
Akhirnya aku sampai di bandara. Satu persatu ku turuni anak tangga pesawat.
Aku meraih ponsel ku dan megirim pesan pada Anton.
(assalamualaikum anton. Bisa jemput aku di bandara. Sekarang).
__ADS_1
(oke).
Aku berjalan menuju pintu keluar dan mencari tempat untuk duduk. Lelah rasa tubuh ini, belum lagi fikiran yang tak menentu.
Ku letakkan koper kecil ku berwarna hitam dengan garis kuning di atasnya.
" hayy ren .. Sudah lama ?". Anton menghampiri ku juga mengagetkan ku.
"lumayan".
"alan gak apa-apa kok ren.. Kan di sini ada aku". Anton mengurangi rasa khawatir ku sambil membawa koper ku.
"bukan itu ton. Tapi devina yang membuat aku harus kesini".
"maaf ren. terpaksa aku harus memberitahu mu".
"terima kasih".
Anton membawa ku menuju mobil nya. Berwarna putih kecil mungil tapi sangat nyaman saat menaikinya. Ia sempat terkejut ketika nendapat pesan dari ku. Tapi sepertinya anton memahaminya.
"bagaimana keadaan mas alan saat ini ton ?".
"dia sudah membaik".
"devina ?. Apa dia masih sering menemui mas alan ?".
"hari ini dia tidak datang".
"baguslah. Apa mas alan tau tentang perasaan devina padanya ?".
__ADS_1
"kata devina, alan belum tau".
Aku tak menyangka jika dirumah tanggaku ada pelakor. Ku harap mas alan tetap setia dengan semua janji-janjinya.