
Setelah menunaikan sholat maghrib berjamaah dengan kedua putra ku. Lalu aku mengangkat kedua tangan ku dan bermunajat pada Allah SWT.
Ya Illahi Robbi, hamba limpahkan semua kebimbangan hati hamba pada Mu. Hamba tak sanggup menghadapinya tanpa kekuatan dari Mu. Ini sangat sulit bagi hamba. Air mata ini menjadi saksi ketidakmampuan hamba. Berat bagi hamba jika harus memiliki madu. Hamba tak ingin berbagi suami dengan siapapun. Termasuk Devina. Tolong jauhkan mereka ya Allah. Amin.
Aku mengakhiri doa ku dengan mengusapkan kedua tangan ku pada wajah ku yang basah dengan air mata. Entah sejak kapan aku menjadi lemah dan cengeng seperti ini. Aku adalah tipe wanita yang mudah move on. Yeah, mungkin cinta yang membuat ku seperti ini.
Itulah yang aku rasakan saat ini. Sedih yang tiada henti. Berusaha mengikhlaskan tapi sulit. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi aku tetap memiliki keyakinan Tuhan tidak akan menguji seorang hamba melebihi batas kemampuannya.
Perubahan pada sikap mas Alan membuat aku semakin gelisah. Apa yang disembunyikannya dan hati ini pun selalu bertanya. Mengapa cinta ini justru membuat ku menjadi lemah.
Setelah aku mengadukan keluh kesah ku pada sang pemilik kehidupan. Aku beralih menuju ruang keluarga menemui dua pangeran kecil ku. Bercanda denga mereka sangat menyenangkan, bisa membawaku tersenyum bahkan tertawa saat tangan mungil Sahil menggelitik pinggul ku. Tiba-tiba terdengar suara
Tarrrr......
Kami berlari mencari sumber suara berasal. Ada apa ini ya Allah. Apa arti dari semua ini. Aku memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan di atas lantai.
Aw...
Jari manisku terkena pecahan kaca dan mengeluarkan tetesan darah.
"ibu.. Tangan ibu berdarah..". Alfan terkejut saat melihat darah mengalir dari tanganku.
"kenapa potonya bisa jatuh Bu ?"
"Ibu juga tidak tahu, mungkin ada cicak yang lagi kejar-kejaran terus tersenggol potonya. Lalu jatuh..".
Setelah membersihkan serpihan itu, aku dan anak-anak kembali melanjutkan momen bahagia kami. Poto pernikahan itu ku letakkan diatas nakas. Hati ini terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Apa ada hubungannya dengan mas Alan.
Malam semakin larut. Anak-anak mulai mengantuk dan memintaku untuk mengantarkan mereka ke kamarnya. Karena rasa kantuk yang tak tertahan lagi mereka terlelap begitu cepat.
__ADS_1
Aku beranjak dan berjalan menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamar anak-anak.
"lebih baik aku menghubungi mas Alan". Lantas aku mengambil ponsel ku dan menelpon mas Alan via whatsApp.
Tut...tut.... Tut....
"assalamualaikum ..hallo.. Ren.. Ada apa ?"
"walaikum salam . mas. Mas baik-baik saja ?"
"iya.. Emang kenapa kok kamu tiba-tiba tanya seperti itu ?"
"gak apa-apa mas. Tadi habis maghrib poto pernikahan kita jatuh".
"aku gak apa-apa Ren. Kamu tenang saja. Gak usah khawatir. Di Indonesia bukannya ini sudah larut malam ?"
"iya mas.. Aku belum bisa tidur memikirkan hal itu. Tiba-tiba hati ini gak tenang. Syukurlah kalau gak ada apa-apa".
"iya mas. Assalamualaikum"
"walaikum salam".
Lega hati ini setelah mendengar kabar bahwa semua baik-baik saja. Semoga mas Alan tidak berdusta. Tapi mengapa sikap mas Alan dingin ke aku. Mungkin dia kecapean.
* * * * *
Alan masih terbaring diatas kasurnya. Badannya kini terasa lebih fresh. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi.
"astaghfirullah .. Apa yang sudah aku lakukan. Aku meminta Devina naik ke .....
__ADS_1
bodoh kamu Alan. Kamu gila ". Alan memukul kepalanga berkali-kali karena telah melakukan hal bodoh itu.
"Ren, ternyata firasat mu benar. Semua tidak baik-baik saja. Maafkan aku".
Ia melihat pakiannya masih melekat pada tubuhnya termasuk ikatan sarung di pinggang yang dengan mudah Devina untuk membukanya.
"untunglah aku tidak melakulan hal itu. Jangan sampai terjadi".
Sementara Devina masih terus dan terus berfikir mencari cara untuk menjerat Alan. Tapi sayangnya sampai detik ini juga Ia belum menemukannya.
"kenapa kemarin aku tidak meneruskannya saja. Alan pasti tidak akan menyadarinya, justru dia akan menikmati sentuhan lembut ku.
Sabar Dev... Ayo pikirkan sesuatu. Kamu pasti bisa. Kejar terus cinta mu". Ia memberi semangat pada dirinya sendiri.
Ia juga belum menemukan kejutan apa yang akan diberikan kepada Alan. Pikirannya buntu setelah kejadian kemarin, memalukan tapi menyenangkan.
"Astaga... Kenapa aku ingin mengulangi hal bodoh itu lagi. Seharusnya aku malu dan menghindarinya.
Tapi apa salahnya jika aku mencobanya lagi".
Nampak matahari pagi bersinar condong dari arah timur, menandakan perjalanan hari ini akan segera dimulai. Kota yang damai, terlihat orang-orang bersemangat untuk memulai hari mereka. Begitu juga dengan Alan.
"Pagi yang indah. Semoga hari ku seindah pagi ini". Alan penuh harap.
Ketika hendak berangkat ketempat kerjanya, Ia melihat sosok wanita cantik berjalan ke arahnya. Wanita itu memakai kaca mata hitam yang membuat Alan penasaran.
Wanita itu kini berdiri tepat di hadapan Alan. Ia memakai parfum yang bagi Alan tidak asing lagi. Sejenak Ia terdiam, sepertinya dia sedang mengingat seseorang.
Mungkinkah dia ...
__ADS_1
Wanita itu membuka kaca mata nya dan betapa terkejutnya Alan.
Yeah.. Wanita itu adalah masa lalu Alan. Ia pernah mengisi hati Alan. Singgah begitu lama dan meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya. Mungkin bukan jodoh.