Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
hari yang tak biasa


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi aku selalu di sibukkan dengan riuhnya anak-anak.


Tangisan Sahil yang membuat Mas Alan terbangun dari tidurnya. Ia sangat marah jika tidur paginya terganggu.


"Dek, itu kenapa anaknya nangis. Aku masih ngantuk ini !". Mas Alan mulai marah pada ku. Jika Sahil tidak segera menghentikan tangisannya, mas Alan akan ngomel-ngomel sampai kiamat kurang dua hari.


"Iya Mas". Ku tinggalkan aktifitas memasak ku dan beralih pada anak-anak ku.


"Kenapa sayang ? Berebut mainan lagi ya ? Besok kita beli yang baru. Sudah jangan nangis". Aku menggendong Sahil lalu menyusuinya sebelum ayahnya marah lagi.


Sedih rasanya melihat anak-anak seperti ini. Mungkinkah ini waktu yang tepat jika Mas Alan ke Bali. Mumpung anak masih kecil. Tapi hati ini sungguh tak rela. Enam tahun bersama tapi sekarang harus berpisah.


"Ya Allah. Kuat kan hamba yang lemah ini. Jika Mas Alan harus pergi merantau, bantu hamba untuk merelakannya". Dalam diam aku selalu berdoa dan memohon pada yang maha kuasa.


***


Abi sedang duduk santai diruang tamu. Sambil menikmati langit sore yang sedikit mendung. Umi membawakan secangkir kopi hitam kesukaan Abi dan diletakkannya di meja. Lalu ikut duduk disebelah Abi.


"Mi, bagaimana kalau Rena dan anak-anaknya tinggal bersama kita selama Alan merantau di Bali". Abi memulai pembicaraan.


"Umi sih manut saja Bi, kalau mereka mau. Umi gak berani maksa.


Nanti biar Umi telfon Alan saja".


"Kalau di sini Rena bisa belajar dagang. Jadi uang kiriman dari Alan bisa utuh".


"Kalau sekarang alan pasti masih tidur". Dugaan Umi tak pernah salah pada anaknya yang satu ini.


"Anak itu sudah punya dua anak masih saja tukang tidur. Abi dulu selesai solat subuh sudah keluar rumah cari uang. Punya anak kok gak mau tiru Abinya. Di suruh kuliah malah jualan roti bakar". Abi mulai kesal dengan anak laki-lakinya itu.


"Sabar Bi. Sebenarnya Alan itu anak yang pintar. Hanya saja dia salah bergaul pas kuliah di Surabaya. Dan itu tertanam pada dirinya sampai saat ini". Umi selalu membela Mas Alan meskipun ujung-ujungnya mereka ribut.


"Apa yang bisa di banggakan dari anak itu !". Abi tambah emosi jika membicarakan Mas Alan.


"Hush, gak boleh ngomong gitu Bi. Kita sebagai orang tua cukup mendoakan saja. Semoga Alan nanti bisa sukses sepulang dari Bali".


"Amin". Abi menyeruput kopi yang dibuat oleh Umi.


Sementara itu, aku masih berusaha membangunkan suami ku. Ku goyang sedikit kakinya.

__ADS_1


"Mas, sudah pukul sepuluh lewat loh, sudah lewat banyak malah. Ayo bangun".


"Iya bentar lagi Dek. Pijit kaki ku dulu. Cenut-cenut rasanya".


"Iya Mas". Ku ambil salah satu kaki Mas Alan dan mulai memijatnya. Meskipun aku tak pandai memijat tapi Mas Alan suka dengan pijatanku. Entah hanya sekedar membuat aku senang atau bagaimana.


"Anak-anak kemana ?". Tanya mas Alan.


"Tempat Ibu". Jawab ku singkat, sambil menahan air mata yang hampir tumpah membasahi pipi ku.


"Kamu kenapa Dek ? Kayak ada yang beda. Ngomong aja". Sepertinya Mas Alan tau kalau aku hampir menangis.


"Gak apa-apa kok Mas". Suara ku mulai terdengar pelan.


"Sini tidur disamping Mas". Pinta Mas Alan sambil merentangkan tangan kanannya.


"Dek. . Mas tau kamu sedih. Mas juga sedih ninggalin kalian semua. Tapi mas tetap harus pergi. Mas gak bisa lihat kalian seperti ini terus. Mas gak tega".


"mas, aku bayangin kalau kamu gak ada di sini saja sudah gak sanggup. Apalagi kalau harus pergi beneran". Air mata ku pun mulai berjatuhan.


"Dek, kamu di sini ada anak-anak. Lah aku disana sendirian. Coba deh kamu bayangin. Harusnya aku yang yang lebih sedih".


"Heyy... Kenapa melamun ?


Dek, kita puasa dulu dua tahun. Dua tahun itu sebentar kok. ".


"Iya Mas. Aku cuma butuh waktu aja. Apakah aku kuat menjalani semua ini tanpa kamu ? Dan aku tidak yakin".


"triing.. ". Suara pesan whatsapp dari hp mas Alan.


ku buka dan betapa terkejutnya aku.


( Al, hari Rabu Bibi tunggu dirumah bibi. besok kamu berangkat ke sini. Karena kamu harus mengikuti pelatihan dulu ).


Itulah pesan yang tertulis dan ini hari sabtu.


"Dek, pesan dari siapa ?".


"Ini Mas, hari Rabu Mas Alan harus sudah sampai di Bali, di rumah bibi Anita, katanya ada pelatihan gitu."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Lebih cepat lebih baik. Iya kan ?".


Aku hanya menjawab dengan senyuman.


"ya Tuhan secepat inikah kami harus berpisah. Tolong beri kami waktu lebih lama lagi untuk bersama. Ini terlalu cepat untuk hamba. Ku mohon". Aku tiada henti-hentinya berdoa seolah tak mau ada perpisahan.


Apakah setia hanya bisa di uji dengan perpisahan


Apakah rasa cemburu saja tidak cukup


Apakah kebersamaan tidak bisa menjamin


Jika memang harus berpisah


Apa harus di kata


Tak bisa melawan kehendak yang Kuasa


Pasrah namun tak rela


Suatu saat nanti akan ada kerinduan


Yang teramat merindukan


Membiasakan hati sendiri


Melawan ombak sendiri


Melawan badai sendiri


Tanpa ada yang menemani


Lelah,


Terasa lelah jiwa ini


Merindukan seseorang nan jauh disana


Penuh harap untuk berjumpa

__ADS_1


__ADS_2