
Masih tak percaya dengan semua yang dikatakan Mas Alan. Sungguh ini membuat aku tak bisa berkata. Badan ku terasa sangat lemas.
Ku dengar Mas Alan sedang berbicara dengan seseorang di telefon.
"Baik Bi, saya akan berangkat ke Bali kapanpun Bibi pinta. Saya selalu siap.
Untuk sementara istri dan anak-anak ku tinggal di kampung dulu".
"Mas. Siapa ?". Tanyaku padanya sambil berbisik.
"sshhtt bentar". Balasnya padaku.
" Lebih cepat kan lebih baik".
"Baik bi, terima kasih. Assalamualaikum".
"Bagaimana Mas ?". Tanyaku penasaran.
"Bisa Dek. Mas beneran berangkat ke Bali, tapi nunggu kabar dari bi Anita dulu. Soalnya ada karyawannya yang mau keluar. Jadi yaa harus sabar menunggu.
"Sudahlah Dek. Pasti nanti ada jalan. Niat Mas ini baik loh. Mas gak mau neko-neko. Mas mau kerja. Nanti mas coba ngomong sama Abi. Abi pasti kasih izin.
Kelihatannya Mas Alan sangat bersemangat untuk berangkat ke Bali. Tapi hati ini masih ragu dan tidak percaya.
"Bu, Alfan hari ini belum jajan. Ayo Bu beli jajan". Alfan mulai merengek dan itu akan berlanjut kalau belum terpenuhi keinginannya. Hal ini lah yang membuat Mas Alan bertekad untuk kerja ke luar negeri.
"Alfan mau es krim ?? Besok malam sama ayah ya ?". Mas Alan mencoba merayu Alfan padahal Ia sendiri tak tahu uang dari mana untuk membelikan jajan anaknya.
"Beneran Yah ? Alfan mau yang rasa coklat dan stroberi".
__ADS_1
"Iya dong. Alfan bebas pilih yang mana saja.
Sekarang Alfan tidur ya".
"siap Ayah".
Tak bisa ku bayangkan jika nanti Mas Alan akan pergi. Bagaimana dengan anak-anak.
Apa lagi Sahil yang suka sekali minta ngeng-ngeng sama ayahnya.
"Dek, nasinya masih ada ?".
"Masih Mas. Mas lapar ?". Kulihat mas Alan memegangi perut nya.
"Iya, nasi goreng kayak nya enak". Ia mendekati ku sambil mencium pipi ku.
"Baiklah akan ku buatkan. Tunggu ya".
"taaraa .... Nasi goreng khas rumah tangga sudah siap. Selamat menikmati".
"waww seperti nya lezat ..".
Ku tatap wajah Mas Alan yang sedang lahap makan nasi gorengnya. Sebenarnya aku tak pandai memasak. Terkadang Mas Alan ngomel-ngomel kalau masakan ku tak enak.
"Laper banget ya Mas. Apa kelaparan ? Kok sudah habis hehe".
"Lapar sih iya. Tapi nanti kalau Mas sudah di Bali pasti tidak merasakan masakan kamu lagi. Hehe".
"Tuh kan ngeledek". Aku cemberut sambil mengambil piring yang di pegang Mas Alan.
__ADS_1
"Gak gitu sayang ku. Ayo tidur".
"Hah ini masih jam berapa mas. Biasanya adzan subuh baru tidur.Gak biasanya banget loh". Seolah aku tak paham maksud Mas Alan.
"Ayo dooong..". Mas Alan memeluk ku dari belakang dan aku mulai paham apa maunya.
Kami berjalan ke arah kamar. Dan ku lihat anak-anak sudah tidur pulas.
Lalu aku merebahkan tubuhku disamping mas Alan.
"Apa tekad Mas udah bulat mau ke Bali?". Ku coba bertanya sekali lagi sambil ku dekatkan wajah ku dengan wajah Mas Alan.
"Dek, kapan Mas main-main. Tekad mas sudah sangat-sangat bulat. Sebulat bola dunia.
Sudahlah Dek, kita lupakan semua malam ini. Mas sudah gak tahan".
Ia mulai ******* bibir ku terus dan terus hingga aku kesulitan untuk bernapas. Sesekali aku melepaskan ciumannya untuk menarik napas. Kali ini Ia sangat ganas, tak seperti biasanya.
Sentuhan demi sentuhan Ia menikmatinya. Namun hati ini terlintas gelisah jika teringat akan kepergian mas Alan nanti.
Yeah.. baru kali ini aku melakukan kewajiban ku dengan deraian air mata. Mungkinkah ini deraian air mata perpisahan. Lalu bagaimana rasanya menjadi istri Anggota TNI atau aparat negara lainnya yang selalu ditinggal suaminya untuk melaksanakan tugas dari negara. Tak bisa ku bayangkan sakitnya seperti apa. Mungkin lebih sakit dari apa yang kurasakan saat ini.
Ku hapus air mata ku sebelum Mas Alan tahu. Karena memang lampu kamar lagi putus. Dan tak punya uang untuk membeli.
"Haahhh " ku dengar suara ******* Mas Alan sepertinya sudah menyelesaikan tembakannya. Dan berbeda dengan aku. Aku sama sekali tak menikmatinya. Pikiran ku selalu tertuju pada perpisahan.
"Terima kasih sayang. Muachh". di kecupnya kedua pipi dan bibir ku. Lalu ia terlelap tidur. Sedangkan aku keluar kamar dan melanjutkan tangisanku.
Aku menangis sambil ku tutup wajah ku dengan selimut agar tidak ada yang mendengarnya. Membayangkannya saja aku sudah tak sanggup, apa lagi kalau hal ini beneran terjadi. Pasti akan sangat sakit rasanya.
__ADS_1
Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Semua ini pasti sudah digariskan oleh Tuhan. Aku tak bisa apa-apa. Aku hanya yakin semua akan baik-baik saja.
Aku sadar jika aku bukanlah istri yang pandai besyukur, tidak pernah memikirkan keinginan suami dan tidak pernah membuat suami bahagia. Tetapi aku terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk suami dan anak-anak ku. Meskipun belum ada hasilnya. Malah keadaan yang membuat mas Alan harus kerja jauh dengan keluarga.