
Pukul enam pagi aku dan Anton sudah berada di bandara. Dan ternyata penerbangan ke Indonesia delay selama satu jam kedepan. Satu jam bagiku bukanlah waktu yang cukup lama.
"Ren.. Kamu yakin ninggalin Alan disini ?". Anton memulai pembicaraan.
Aku terdiam sesaat. Menarik napas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan. Pandangan ku mengarah pada orang-orang yang berlalu lalang di hadapan ku.
"aku tak yakin itu. Cinta yang terjadi karena Allah tidak akan pernah berakhir. Begitu pepatah mengatakan. Dan aku mencintai mas Alan bukan karena dirinya, tapi karena pemiliknya".
"baiklah. Semoga kamu kuat menghadapi semua ini. Dan aku yakin perempuan itu tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan terus memperjuangkan cintanya".
"Diam bagiku saat ini adalah pilihan yang terbaik. Tuhan tidak akan menguji hamaba-Nya melebihi kemampuannya. Dan aku yakin dengan apa yang menjadi milikku akan kembali padaku".
"kamu memang wanita tegar Ren. Aku salut sama kamu".
Aku tersenyum tipis.
"terima kasih Ton.
Kamu sendiri bagaimana ?".
"bagaimana apanya Ren ?".
"apa kamu menyukai Devina ?".
"kamu lucu Ren. Dia bukan tipe ku". Anton tertawa kecil.
"tapi dia cantik".
"cantik itu relatif. Semua wanita pasti cantik.
Entahlah Ren, mungkin aku harus bersabar lebih lama lagi".
__ADS_1
"Menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif itu bisa membuat hari-hari lebih bermakna. Meneruskan hidup yang singkat ini adalah lebih baik dari pada terus menyesalinya".
"benar tidak ?".
"iya.. Sangat benar". Anton kembali memainkan ponselnya dan sepertinya sedang menghubungi seseorang.
Kulihat waktu telah menunjukkan pukul tujuh. Dan kami beranjak dari kursi berwana hitam menuju pesawat yang akan membawa kami pulang ke Indonesia.
Didalam pesawat, kami duduk dikursi yang sedikit jauh.
Sepertinya Anton sedang berbicara dengan seorang wanita. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Mungkinkah mereka saling mengenal. Tapi Anton tak pernah bercerita tentang wanita itu. Atau jangan-jangan .... Akh.. Tak baik menduga-duga. Lebih baik kutanya nanti saja.
Penerbangan dari Saudi - Indonesia membutuhkan waktu lebih kurang delapan jam. Lebih baik aku memejamkan mata ini walaupun hanya sekejab. Mungkin itu bisa mengurangi beban fikiran ku.
Sementara Anton sedang asyik berbincang dengan teman barunya.
"pulang kemana nona ?".
"ke Medan bang".
"saya Nadila. Panggil saja Dila". Dila membalas uluran tangan Anton.
"kamu kerja ke Saudi ?".
"iya bang, mengadu nasib. Kata orang-orang sih cari uang besar". Dila sambil tersenyum malu.
"sorry, masih singel ?".
Dila tersenyum tipis. Ia menarik napas dalam, itu terlihat dari bahunya yang terangkat keatas.
"saya singel parent bang".
__ADS_1
"sorry.. Kalau boleh tau kemana suamimu..".
Dila hanya diam. Seakan sedang mengingat sesuatu yang sangat jauh untuk ia ceritakan.
"kalau tak mau bercerita tak apa. Sekali lagi maaf".
"suamiku meninggal".
"meninggal ?. Kecelakaan ?". Anton penasaran.
Dila melanjutkan ucapannya.
"meninggalkan ku demi perempuan lain".
Anton melongo setelah mendengarkan jawaban dari Dila.
"oh tidak. Jangan sampai Rena bernasib sama dengan Nadila". Gumam Anton dalam hati.
Tak terasa pesawat telah landing. Seluruh penumpang melepas tali pengaman dan bersiap-siap untuk turun memijakkan kaki ke tanah air.
Begitupun dengan Renata, ia merasa tubuh dan fikirannya lebih fresh setelah beristiahat sejenak.
"Ren, kamu pulang bareng aku saja. Sopir ku sudah menunggu di luar".
"baiklah. Tapi apa itu tidak merepotkan mu. Bukannya siang ini kamu ada meeting sama klien".
"biasa saja Renata. Aku ini bos. Aku bebas berbuat aesuka hati ku". Anton menunjukkan sikap sombongnya.
"iya aku tau Anton Nugroho, tapi ini masalahnya klien.. Kalau dia tidak mau bekerjasama dengan perusahaan mu gimana. Setelah mengetahui pimpinannya seperti ini".
"ternyata istri sahabatku ini cerewet juga. Sudah.. Ayo masuk".
__ADS_1
Anton membukakan pintu mobil untukku. Seperti ratu saja.
"Mas Alan saja tak pernah memperlakulanku seperti ini". Aku berbicara sendiri dengan suara pelan.